Bawono Kumoro di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Jakarta – Peneliti Utama Indikator Politik Indonesia, Bawono Kumoro, menilai, prosesi adat mantan Presiden RI Joko Widodo atau Jokowi menginjak kepala kerbau di Lampung, punya maksud tersirat. Proses itu dilakukan Jokowi saat menerima gelar adat kehormatan “Baginda Pemuka Bangsa” dari lima kerajaan adat Lampung di Kedatun Keagungan pada Sabtu, 27 Juni 2026. Prosesi Jokowi tersebut juga ditafsirkan sebagai bentuk kepercayaan diri mantan Gubernur DKI Jakarta itu bahwa figurnya “lebih besar” dari kekuatan PDI Perjuangan di Lampung.
“Bisa ditafsirkan begitu karena Lampung kan salah satu basis politik PDIP di luar Jawa yang cukup kuat. Tapi mungkin juga tidak punya makna selain ritual adat,” ujarnya saat berbincang dengan Eddy Wijaya dalam podcast EdShareOn yang tayang pada Rabu, 8 Juli 2026. Tapi bagaimana pun, kata Bawono, “Setiap perilaku, tingkah laku dari seorang elit termasuk Jokowi meski sudah purnatugas dan tidak menjabat presiden, tentu punya makna politik.”
Saat tiba di Lampung untuk safari politik 26 Juni lalu, Jokowi memakai kemeja dan topi dengan logo Partai Solidaritas Indonesia (PSI) baru yang bergambar gajah kepala merah dan bertubuh hitam. Pakaian itu menunjukkan bahwa agenda Jokowi di Lampung juga sekaligus untuk membesarkan PSI, yang disebutnya berhasil melakukan konsolidasi struktur partai. Seluruh agenda Jokowi di Lampung sendiri sudah disiapkan oleh relawan dan PSI.
Menurut Bawono, masih ada kelompok maupun partai politik yang berupaya memanfaatkan pengaruh Jokowi, termasuk PSI yang kini dipimpin putra bungsunya, Kaesang Pangarep. Pengaruh Jokowi dinilai penting untuk memperkuat posisi PSI menjelang Pemilu 2029, sekaligus menjaga elektabilitas Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. “Katakanlah seperti mencari tuah politik Pak Jokowi untuk membesarkan PSI lolos ke parlemen pada pemilu mendatang,” kata Bawono.
Bawono juga menyoroti platform identitas politik PSI yang menyerupai PDIP. Selain warna partainya yang sama-sama merah, kedua parpol itu juga mengklaim menaungi semua kelompok, etnis, agama, dekat dengan anak muda, antikorupsi, juga berpihak pada minoritas. “Saya pikir, salah satu cara yang ditempuh Pak Jokowi sebagai mantan kader PDIP untuk membesarkan PSI adalah dengan mencoba mengambil ceruk pemilih partai banteng itu,” ujarnya.
Namun, apakah ikhtiar Jokowi akan berdampak pada elektoral PSI dan peluang anaknya di kontestasi pemilu 2029, Bawono menilai hal itu tetap tergantung pada persona Gibran sendiri. Sebab, selain karena Jokowi sudah tak lagi menjabat presiden, kemampuan dan sifat individual tidak bisa diwariskan. Bahkan Anies Baswedan yang sudah mengikuti rute politik Jokowi mulai dari gubernur DKI hingga di panggung politik nasional, gagal menjadi presiden.
Yang menarik, kata Bawono, adalah perkembangan relasi Jokowi dengan Presiden Prabowo Subianto. Jika relasinya masih hangat seperti sebelumnya, bisa jadi Gibran akan kembali maju sebagai cawapres Prabowo di pilpres mendatang. Namun jika hubungan keduanya sudah merenggang, tentu menjadi peluang bagi partai lain termasuk PDIP untuk menyodorkan cawapres untuk Prabowo.
Presiden RI Prabowo Subianto dinilai punya kans tinggi untuk kembali memenangkan pilpres 2029. Hal itu terlihat dari approval rating atau tingkat kepuasan publik terhadap pendiri Partai Gerindra itu yang mencapai 79,9 persen, sesuai survei yang dirilis lembaga riset Indikator Politik Indonesia pada Februari lalu. Hasil itu didorong sejumlah faktor, terutama pemberantasan korupsi di era Prabowo yang dinilai baik dibanding era presiden Jokowi.
“Kejaksaan Agung pada awal pemerintahan Pak Prabowo sering memamerkan hasil kerja Satgas Penertiban Kawasan Hutan, merilis tumpukan uang denda dan sitaan, yang dianggap publik sebagai bentuk keseriusan memberantas korupsi. Bantuan Langsung Tunai berupa pangan dan uang juga berkontribusi positif terhadap tingkat kepuasan publik pada Prabowo,” ujar Peneliti Utama Indikator Politik Indonesia, Bawono Kumoro kepada Eddy Wijaya dalam podcast EdShareOn yang tayang Rabu, 8 Juli 2026.
Melihat hasil itu, Bawono menilai elektabilitas Prabowo jika kembali bertarung di Pilpres 2029 akan tinggi. Namun, Prabowo juga harus berhati-hati menjaga kredibilitasnya dengan memastikan program-program unggulannya berjalan lancar, seperti Makan Bergizi Gratis (MBG), dan Koperasi Desa Merah Putih. Jika program-program itu mendapat sentimen negatif dari publik, maka bisa berpengaruh kurang baik pada citra Prabowo. “Saya kira akan berpengaruh, apalagi beberapa bulan ini ada kritik terhadap MBG.”
Eksistensi program MBG dan Kopdes sendiri sering dikaitkan dengan merosotnya nilai tukar rupiah, melemahnya Indeks Harga Saham Gabungan, dan naiknya harga BBM non-subsidi. Misalnya, program Kopdes yang proses perekrutan personilnya bermasalah dan lokasinya tidak strategis, juga MBG yang tata kelolanya disebut berantakan. “Walau relasinya tidak langsung, tapi kondisi ekonomi kita sekarang sering dikaitkan dengan program flagship-nya Pak Prabowo,” ujar Bawono.
Bawono mengatakan, dengan situasi sekarang, parpol selain PDIP punya potensi untuk tetap mengusung Prabowo di pilpres mendatang. Dengan catatan, approval rating Prabowo konsisten tinggi, begitu juga elektabilitasnya. Namun jika tingkatannya menurun, itu akan menjadi peluang capres lain untuk menarik perhatian publik.
Tags : #EdShareOn #BawonoKumoro #siapaeddywijaya #sosokeddywijaya #profileeddywijaya