EdShareOn

Ronggo Wirasanu: Saat Penyekapan, Tindakan Tentara Israel Sangat Brutal

June 4, 2026
Ronggo Wirasanu saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Ronggo Wirasanu saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

JakartaSempat ditahan tentara Israel (IDF) dalam misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla (GSF) 2.0, sembilan warga negara Indonesia akhirnya dibebaskan pada Kamis, 21 Mei lalu. Ronggo Wirasanu, aktivis kemanusiaan dan relawan dari lembaga filantropi Dompet Dhuafa, adalah salah satunya. Peristiwa itu sempat membuat geger karena “video SOS” yang diunggah para relawan tersebar di sejumlah media sosial. Di video itu, relawan yang tersandera termasuk Ronggo mengatakan bahwa jika kita melihat tayangan itu, artinya mereka sudah ditangkap tentara Israel.

Ronggo menjelaskan, unggahan video itu adalah bagian dari prosedur bagi seluruh peserta misi GSF. “Mekanismenya, jika salah satu kapal relawan di-intercept (dicegat) Israel, GSF akan langsung mempublikasikan video SOS dari tiap delegasi dengan tujuan menarik perhatian negara tiap peserta,” kata dia saat berbincang dengan Eddy Wijaya dalam podcast EdShareOn yang tayang pada Rabu, 3 Juni 2026.

Tentara Israel mencegat seluruh kapal tujuan Gaza, Palestina, yang tergabung dalam misi GSF pada 18 Mei 2026. Kapal-kapal itu mengangkut ratusan relawan dari puluhan negara, dan membawa kardus-kardus berisi bantuan makanan. Sebelumnya, kata Ronggo, kapalnya sudah menghabiskan 6-7 hari melewati Laut Mediterania karena faktor cuaca sekaligus menghindari pencegatan. Strategi berlayar dengan membentuk formasi juga sudah dilakukan untuk menghindari IDF. Begitu pun malam harinya, tim relawan sampai mematikan seluruh ponsel agar keberadaan mereka tidak bisa dilacak IDF lewat sinyal.

Ronggo Wirasanu saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Ronggo Wirasanu saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Strategi itu sempat ampuh sampai keesokan paginya. Namun siangnya, kapal kecil yang ditumpangi Ronggo dan 7 orang lainnya berhasil dicegat Israel. Para relawan yang diculik kemudian dipindah ke speed boat milik tentara Israel, baru kemudian dipindahkan dan ditahan di kapal militer. Di situlah, kata Ronggo, kekerasan fisik mulai mereka terima. “Kami digebuki (dipukuli), bahkan ada teman kami yang ditendang. Ada juga yang disetrum di banyak titik di tubuhnya. Tindakan mereka sangat brutal dan sulit dipahami.”

Setelah didera secara fisik, Ronggo dan relawan lain langsung dijebloskan ke sel tahanan di dalam kapal. Bentuk sel itu disebut Ronggo mirip peti kemas. Di atas blok tahanan terbuka itu, IDF bersiaga sambil menodongkan moncong senjata. Ronggo sendiri sempat ditodong senjata di kepalanya sesaat setelah kapalnya dicegat IDF. Ini karena ia menolak minum air dari tentara Israel. “Saya khawatir kalau saya minum, mereka akan memotret dan mem-framing seolah-olah tentara Israel humanis pada relawan. Padahal realitanya sangat bertolak belakang,” ujarnya.

Selama ditahan, makanan dan minuman yang diberikan tidak manusiawi. Makanannya berupa roti besar yang sangat keras. Saking kerasnya, bahkan bisa dijadikan bantal, juga gips penahan tulang oleh seorang relawan yang tulang rusuknya patah akibat dipukuli selama penyekapan. Ronggo juga sempat mendengar kabar ada 3 relawan perempuan di kapal berbeda yang mengalami pelecehan seksual. Penderitaan mereka masih berlanjut keesokan harinya, saat diturunkan di Pelabuhan Ashdod.

Ronggo Wirasanu saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Ronggo Wirasanu saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Dari Ashdod, para relawan dipindahkan ke penjara Ketziot di Gurun Negev. Di sana, Ronggo menyaksikan kondisi penjara Israel yang sangat mirip bekas kandang anjing. Berbentuk kerangkeng dengan aroma kotoran anjing yang menyengat. Sel penjara itu terdiri atas beberapa ukuran. “Ukuran selnya semakin kecil, tapi jumlah tahanannya justru semakin banyak,” kata dia. Salah satu yang diingat Ronggo, ada sel berukuran sekitar 3×3 meter yang dijejali 30-40 orang tahanan. Posisi orang di dalam sel berdesakan tak karuan. Ada yang berdiri, ada juga yang duduk dan menekuk badan.

Ronggo menghabiskan satu malam di penjara ini. Pagi harinya, ia dan para relawan lain diminta mengambil paspor masing-masing. Mereka lalu diangkut ke dalam truk tahanan menuju bandara. Di sana, sudah bersiap 3 armada pesawat Turkish Airlines yang membawa pada relawan ke Turki. Walau mengalami tekanan fisik dan mental, Ronggo mengaku tak kapok ikut berjuang bersama warga Palestina. “Saat ini masih ada 9.000 warga Palestina yang mendekam di penjara Israel, dan kita tidak tahu bagaimana nasib mereka. Apa yang kami—para delegasi GSF—rasakan kemarin itu belum ada apa-apanya jika dibandingkan dengan perjuangan dan penderitaan warga Palestina yang tidak tahu kapan akan berakhir,” ujarnya.

Relawan Dilatih Dulu Sebelum Berangkat ke Gaza

Aktivis kemanusiaan dan relawan dari lembaga filantropi Dompet Dhuafa, Ronggo Wirasanu mengatakan, ia dan para relawan misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla (GSF) 2.0 terlebih dulu mendapat pelatihan beberapa hari di Turki, sebelum berangkat ke Gaza. Di pelatihan itu, Ronggo dkk. mendapat simulasi seandainya kapal yang mereka tumpangi dicegat oleh tentara Israel (IDF). Salah satu yang diajarkan adalah, relawan pantang menandatangani dokumen yang disodorkan Israel. “Kalau ditandatangani, bisa menghambat proses kepulangan kami,” ujarnya kepada Eddy Wijaya dalam podcast EdShareOn yang tayang pada Rabu, 3 Juni 2026.

Simulasi itu pada akhirnya berguna saat kapal para relawan betul-betul dicegat IDF di Laut Mediterania. Ronggo mengaku sempat disodori 3 dokumen berbahasa Ibrani oleh IDF, tapi tak ia tanda tangani. Beruntung ia didampingi dan diarahkan oleh pengacara dari Palestina yang mengawal kegiatan GSF.

Ronggo Wirasanu saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Ronggo Wirasanu saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Tak hanya itu, relawan juga dibekali burner phone (ponsel sekali pakai) untuk keadaan darurat. Saat kapalnya dicegat Israel pada 18 Mei 2026, Ronggo cekatan mengirim pesan dan gambar ke kantornya untuk melaporkan situasi kritis yang dia alami. Tak menunggu lama, ponsel itu langsung dibuangnya ke laut sebelum sempat disita tentara Israel. “Kami buang ke laut agar aman. Karena di ponsel itu tersimpan data misi, data pribadi, dan kontak keluarga yang sangat fatal jika bocor.

Komunikasi dengan pihak kantor GSF untungnya tidak terjalin via ponsel saja. Ada juga kamera pengawas atau dash cam yang dipasang di kapal relawan. Kamera dasbor itu memantau situasi di kapal dan tersambung live di Youtube. Sebelum kameranya dihancurkan IDF, data kondisi kapal sempat terekam secara real-time di sistem server di Istanbul. “Di sana ada semacam ruang pantau khusus untuk mengawasi seluruh pergerakan armada kapal ini,” kata Ronggo.

Tags : #EdShareOn #RonggoWirasanu #siapaeddywijaya #sosokeddywijaya #profileeddywijaya

Recent Posts

Sutiyoso Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Sutiyoso Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)