Dwikorita Karnawati saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Jakarta – Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) 2017-2025 Dwikorita Karnawati mengingatkan soal dampak fenomena alam El Nino yang memicu cuaca ekstrem. Fenomena yang diprediksi bakal bercokol hingga awal tahun depan itu menyebabkan musim kemarau yang sangat panjang dan kering, penurunan curah hujan, yang memicu krisis lingkungan dan ekonomi. Perkiraan cuaca memprediksi fenomena ini bisa menjadi yang terberat, hingga dijuluki El Nino Godzilla.
Dwikorita menjelaskan, El Nino kali ini berlevel moderat dan bisa mencapai level kuat dengan probabilitas sekitar 60 persen. Di waktu bersamaan, juga diprediksi terjadi Indian Ocean Dipole (IOD) Positif, fenomena penyimpangan suhu muka air laut di Samudera Pasifik yang memicu musim kemarau yang sangat kering di Indonesia. “Maka level kekeringannya dikhawatirkan menjadi lebih kuat dari El Nino yang biasanya, dan disebutlah dengan istilah Godzilla (monster fiksi asal Jepang),” kata Dwikorita kepada Eddy Wijaya dalam podcast EdShareOn yang tayang pada Rabu, 17 Juni 2026.
Menurut prediksi BMKG, wilayah di Indonesia yang terdampak utamanya di wilayah Indonesia bagian selatan dan barat. Misalnya di Sumatera, sebagian Jawa dan Sulawesi, Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, dan Bali. Sedangkan di wilayah Indonesia timur dan tengah, dampaknya disebut Dwikorita sporadis. “Dampak langsung El Nino adalah krisis air dan pangan. Belum lagi urusan kesehatan dan polusi. Pangan langka, harganya jadi mahal, lalu memicu inflasi. Kalau semua tekanan itu terakumulasi, suasana batin masyarakat tentu jadi tidak tenang,” terangnya.
Karena itu, Dwikorita berharap pemerintah dan masyarakat sudah siap untuk mengantisipasi dampaknya dengan langkah-langkah mitigasi. Di sektor pertanian, misalnya, pemerintah dan petani harus menyesuaikan pola dan jenis tumbuhan yang ditanam. Yakni dengan menanam varian tumbuhan yang saat kemarau lebih tahan banting terhadap kondisi minim air.
Langkah lain yang bisa dipersiapkan adalah dengan rekayasa cuaca berupa hujan buatan sebelum memasuki musim kemarau dan mengisi waduk-waduk. Dwikorita menjelaskan, Direktorat Jenderal Sumber Daya Air Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat bersama BMKG melakukan modifikasi cuaca agar awan-awan hujan buatan bisa diturunkan di waduk-waduk, terutama di NTT dan NTB yang sangat kering. Untuk persiapan, Kementerian Pertanian juga memberikan pompa air pada petani. Pompa itu menyedot air bawah tanah untuk dinaikkan ke permukaan dan disalurkan ke irigasi.
Sektor lain yang harus dimitigasi adalah kesehatan. Menurut Dwikorita, kondisi kekeringan dan kemungkinan krisis pangan enam bulan ke depan bisa memicu penyakit diare, infeksi saluran pernapasan (ISPA), dan kurang gizi pada anak. Harga pangan yang diprediksi melonjak, disebut Dwikorita bisa merembet ke pasokan menu Makan Bergizi Gratis (MBG). “Logikanya, kalau petaninya gagal panen atau harga bahan pangan naik, apakah program MBG tidak terganggu? Ujung-ujungnya asupan gizi untuk kaum rentan, yaitu anak-anak dan lansia, akan terancam,” ujarnya.
Belum lagi dampak psikologis yang disebut Dwikorita rentan dihadapi masyarakat yang mengalami tekanan ekonomi dan kesehatan akibat cuaca panas. Yang juga mesti diperhatikan adalah daerah yang baru terkena bencana tanah longsor seperti Sumatera Utara, Barat, dan Aceh. Pemda di wilayah yang baru pulih dari bencana itu mesti ekstrawaspada menghadapi El Nino. “Dalam kondisi normal saja masyarakat sudah kesusahan, apalagi di masa pemulihan bencana seperti di Sumatera; bagaimana sanitasi dan ketersediaan air bersihnya? Apakah sudah siap kembali?” kata Rektor Universitas Gadjah Mada periode 2014-2017 ini.
Senin, 8 Juni 2026 wilayah pantai selatan Mindanao, Filipina, diguncang gempa tektonik dengan magnitudo 7,7 skala Richter pada kedalaman 47 kilometer. Episenter gempa terletak di laut pada jarak 244 km arah barat laut Pulau Karatung, Sulawesi Utara, yang menyebabkan kerusakan bangunan rumah hingga fasilitas umum di Kabupaten Kepulauan Sangihe dan Talaud. Guncangan itu dicatat Stasiun Geofisika Manado menyebabkan 278 gempa susulan.
Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) 2017-2025 Dwikorita Karnawati mengatakan, kecil kemungkinan gempa Filipina itu bisa memicu atau mengaktivasi Sesar Palu-Koro. “Walau kemungkinan itu selalu ada, tapi secara probabilitas cukup kecil karena jaraknya 244-350 km dari area patahan di Filipina. Namun ini tetap harus dimonitor ketat oleh BMKG,” ujarnya saat berbincang dengan Eddy Wijaya dalam podcast EdShareOn yang tayang Rabu, 17 Juni 2026.
Patahan Palu-Koro ditemukan oleh peneliti Yang Ting Wei dari Institute of Geology and Geophysics di Chinese Academy of Science. Dijelaskan Dwikorita, sesar yang sudah ada sejak jutaan tahun lalu ini adalah patahan yang memicu gempa bumi hebat di Palu, Sulawesi Tengah, pada 2018. Dari teknologi OBS atau Ocean Bottom Seismometer yang dipakai Yang Ting Wei, ditemukan bahwa sesar Palu-Koro yang membelah kota Palu itu benar-benar menyambung, memanjang masuk ke dasar Laut Sulawesi.
Bahayanya, kata Dwikorita, karena pergerakan patahan itu ada di dasar laut, hal itu berpotensi membangkitkan tsunami bawah laut yang signifikan. “Patahan ini masih sangat aktif. Yang dikhawatirkan adalah jika terjadi pergerakan tiba-tiba yang membangkitkan energi raksasa,” jelasnya.
Tags : #EdShareOn #DwikoritaKarnawati #siapaeddywijaya #sosokeddywijaya #profileeddywijaya