EdShareOn

Dirjen PEN Kemendag RI: Transaksi Ekspor UMKM Tahun Ini Mencapai Rp 5,824 Triliun, Ditargetkan Tumbuh Lagi

September 17, 2026
Fajarini Puntodewi saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Fajarini Puntodewi di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

JakartaDirektur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional (Dirjen PEN) Kementerian Perdagangan Fajarini Puntodewi mengatakan, program “UMKM Bisa Ekspor” mencatat peningkatan transaksi perdagangan yang signifikan. Pada semester pertama tahun ini, nilai ekspor dari Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) mencapai US$ 330 juta, atau sekitar Rp 5,824 triliun. Jumlah itu melonjak lebih dari dua kali lipat dari tahun 2025 yang sebesar US$ 134,8 juta, atau sekira Rp 2,35 triliun. “Nilainya meningkat karena kita sudah memiliki pengalaman dari tahun lalu,” kata dia saat berbincang dengan Eddy Wijaya dalam podcast EdShareOn yang tayang pada Rabu, 16 September 2026.

Program “UMKM Bisa Ekspor” bertumpu pada jejaring Kemendag di luar negeri. Indonesia sendiri punya 46 perwakilan perdagangan dan Indonesia Trade Promotion Center (ITPC) di 33 negara sebagai agen pemasaran produk Indonesia. Bila tahun lalu pelaku UMKM mempresentasikan usahanya secara daring, tahun ini promosinya lebih fokus di pameran luring untuk memperbesar peluang transaksi. “Pesertanya (pelaku UMKM) kami bawa pameran ke luar negeri, dan hasilnya (nilai transaksi) bisa lebih besar. Jadi tidak hanya business matching secara online, tapi juga bertemu langsung,” ujar Fajarini.

Fajarini Puntodewi saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Fajarini Puntodewi saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Ia menyebut kolaborasi sebagai kunci tumbuhnya nilai transaksi ekspor UMKM. Tercatat pelaku usaha sejumlah negara menjadi pengimpor produk non-migas Indonesia, seperti negara-negara Amerika Latin, Saudi Arabia, Cile, juga Jepang. Mereka meminati produk UMKM seperti keripik tempe, herbal, durian, manggis, kopi, dan lainnya. “Saya sendiri cukup takjub melihat dalam dua tahun terakhir ini keripik tempe kita mendunia. Ke Amerika Latin ternyata bisa masuk, ke Saudi Arabia juga. Cile dan Jepang juga sangat antusias,” kata dia.

Walau ada peningkatan nilai transaksi dari tahun ke tahun, namun Kemendag masih mendorong pelaku usaha UMKM dan Usaha Kecil Menengah (UKM) untuk memperbesar peluang ekspornya. Berdasarkan data Kementerian UMKM, kontribusi UMKM terhadap nilai ekspor Indonesia berada di kisaran 15 persen. Di sisi lain, target pertumbuhan ekspor juga relatif tinggi, mencapai 9,6 persen pada 2029, atau menembus US$ 405 miliar.

Namun, melihat dinamika kondisi global, baik secara sosio-politik maupun ekonomi, proyeksi pertumbuhan ekspor tahun ini disebut Fajarini lebih konservatif. Pemerintah menargetkan total nilai ekspor sebesar US$298,02 miliar hingga US$ 302,55 miliar. “Dengan mempertimbangkan kondisi sekarang, perkiraan (pertumbuhan ekspor tahun ini) mungkin sekitar 5-6,9 persen. Agak pesimistis karena kondisi global tahun ini lebih menantang dibanding tahun sebelumnya,” ujarnya.

Fajarini Puntodewi saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Fajarini Puntodewi saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Untuk mendorong kontribusi UMKM, pemerintah memfasilitasi dengan sejumlah program, salah satunya “Dari Lokal untuk Global” yang dikembangkan dari “UMKM Bisa Ekspor”. Fajarini menjelaskan, program ini terdiri atas sejumlah inisiatif, salah satunya membantu mengenalkan pelaku usaha soal tahapan masuk ke pasar ekspor. Ada juga program “Desa Bisa Ekspor” yang menyasar pelaku usaha di desa, agar terhubung dengan rantai pasok ekspor. “Di program ini kami bersinergi dengan kementerian lain termasuk Kementerian Pertanian untuk menggerakkan petani di desa-desa,” kata dia.

Tak hanya membekali dengan pelatihan dan pengetahuan awal soal ekspor, pemerintah disebut Fajarini juga memberi penguatan kapasitas pada UMKM lewat “Export Coaching”. Program yang berlangsung selama delapan bulan ini melatih pelaku UMKM untuk siap memasarkan produknya ke luar negeri, dan memahami prosedur ekspor yang berbeda antara negara satu dengan lainnya.

Trade Corporate University (CorpU) Diharapkan Bentuk Negosiator Ekspor yang Tangguh

Dinamika geopolitik dan ekonomi melahirkan tantangan baru dalam perdagangan global. Terlebih lagi pengaruh kecerdasan buatan atau AI dan digitalisasi relatif besar dalam pola transaksi dan mekanisme pasar. Karena itulah Kementerian Perdagangan menginisiasi program Trade Corporate University untuk para aparatus sipil negara (ASN). CorpU yang diluncurkan awal September 2026 menyediakan metode pembelajaran kompetensi yang memberatkan pada praktik langsung di lapangan.

“Porsi metode praktik untuk pembelajaran di CorpU mencapai 70%, sedangkan 20%-nya adalah kolaborasi tim dan arahan mentor, dan 10%-nya kelas konvensional. Dengan model ini, kementerian menjadi semacam kampus atau inkubasi pembelajaran,” ujar Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional (Dirjen PEN) Kementerian Perdagangan Fajarini Puntodewi kepada Eddy Wijaya dalam podcast EdShareOn yang tayang pada Rabu, 16 September 2026.

Fajarini Puntodewi saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Fajarini Puntodewi saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Di Kementerian Perdagangan, CorpU memungkinkan ASN untuk turun langsung ke pabrik, melihat proses produksi UMKM, juga mendampingi proses negosiasi ekspor. “Dari pengalaman nyata itulah, insight ilmu dan keterampilan negosiasi mereka terasah. Karena di CorpU ini kami memberdayakan semua sumber daya riil yang ada demi meningkatkan kompetensi keahlian dan wawasan pasar dari ASN Kemendag,” kata Fajarini.

Fajarini menambahkan, di CorpU, ASN ditargetkan untuk menguasai keahlian produk secara spesifik. Hal ini diperkuat dengan forum diskusi pertukaran pengetahuan yang rutin dilakukan di Kemendag. Nantinya jika program CorpU sudah berkelanjutan, para ASN diharapkan lebih kompeten dalam mentransfer ilmunya untuk para pelaku usaha sektor riil.

Tags : #EdShareOn #FajariniPuntodewi #siapaeddywijaya #sosokeddywijaya #profileeddywijaya

Recent Posts

Sutiyoso Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Sutiyoso Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)