Berton Panjaitan saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Jakarta – Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Berton S.P. Panjaitan mengklaim, pihaknya sudah berupaya secara intens menanggulangi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sejak dini, bahkan mulai awal tahun ini. Salah satunya, dengan berkoordinasi dengan pemerintah daerah soal mitigasi karhutla yang skalanya diprediksi meningkat akibat fenomena El Nino Godzilla. “Saat api masih kecil dan belum menyebar, mestinya pemda sudah all out. Tapi kita tidak perlu menyalahkan siapa-siapa karena indeks El Nino kali ini di luar prediksi,” ujarnya saat berbincang dengan Eddy Wijaya dalam podcast EdShareOn yang tayang pada Rabu, 4 November 2026.
El Nino Godzilla, fenomena ekstrem pemanasan suhu permukaan laut di wilayah Samudera Pasifik bagian tengah dan timur, punya efek domino menimbulkan kemarau panjang dan melumpuhkan curah hujan tropis. Berton mengungkapkan, indeks El Nino tahun ini ada di angka 3,08, sementara angka 2 saja sebenarnya sudah tergolong berat. Hal ini disebut Berton membuat BNPB kewalahan dalam menangani karhutla. Karhutla di Indonesia sendiri diperkirakan merambah sedikitnya 1,1 juta hektar area di berbagai pulau, dan menyebabkan kerugian sebesar Rp 565 triliun. Selain karena fenomena panas ekstrem, karhutla di Indonesia ditengarai juga disulut upaya pembersihan untuk membuka lahan sawit.
Per 2 November 2026, BNPB mencatat kenaikan jumlah karhutla di Indonesia menjadi 1.043 kasus. Untuk menanganinya, ada 69 unit helikopter yang dikerahkan, di antaranya dari BNPB, juga dari TNI, Pemda, maupun pelaku bisnis. Berton menjelaskan, untuk penanganan karhutla, Satuan Tugas (Satgas) Udara BNPB bekerja sama dengan Satgas Darat. “Katakanlah ada kobaran lidah api setinggi 2 meter, itu bisa padam seketika jika di-water bombing dari udara. Setelah apinya padam, Satgas Darat bisa masuk bekerja. Karena tidak mungkin Satgas Darat bisa mendekat area api yang panasnya setengah mati,” kata dia.
Satgas Udara disebut Berton juga efektif untuk memadamkan api yang lokasinya sulit dijangkau Satgas Darat, sekaligus memodifikasi cuaca dan melakukan patroli pemantauan: di mana saja sebaran titik apinya, berapa luasnya, serta seberapa besar dampaknya. Sedangkan Satgas Darat ibarat garda terdepan yang memadamkan api secara tuntas hingga ke bagian dalam lahan gambut. Jika pasokan airnya banyak, Satgas Darat memanfaatkan nozzle dan selang pipa yang ditusukkan langsung ke dalam tanah agar airnya bisa memancar ke rongga dalam gambut. “Ini efektif, dan berbeda dampaknya dengan penyiraman dari udara,” ujarnya.
Menurutnya, saat ini BNPB menggunakan teknologi penyemaian menggunakan dry ice atau biang es, bentuk padat dari gas karbon dioksida yang suhunya mencapai -78°C. Biang es ini ditaburkan dari udara bukan untuk memadamkan api, melainkan untuk membuka lapisan atmosfer. “Ketika asap sangat tebal, ada lapisan di atas yang membuat asap terjebak dan tidak bisa pergi ke mana-mana, atau disebut asap inversi. Nah, dry ice inilah yang memecah konsentrasi gumpalan asap tebal itu sehingga pesawat atau helikopter water bombing bisa bermanuver,” jelas Berton. Setelah proses dengan biang es ini, ia melanjutkan, barulah Satgas melakukan operasi Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC).
Meski hingga kini pemerintah tidak menyatakan karhutla sebagai bencana nasional, tetapi BNPB diklaim Berton sudah mengerahkan sumber dayanya untuk menangani dampaknya. Ihwal kebakaran yang terjadi dalam rentang waktu yang panjang, Berton menyebut bahwa tak mudah untuk melawan fenomena alam super ekstrem. Selain sulit untuk memadamkan api di lahan gambut yang baranya bisa merambat cepat di kedalaman 4-5 meter, air di lokasi kejadian juga sulit dicari. Belum lagi hembusan angin kemarau yang membuat kobaran api sulit terkendali dan atmosfer udara yang minim uap air.
Penanganan karhutla ekstrem ini, disebut Berton punya tingkat kerumitan operasi yang sangat kompleks. “Berbagai teknologi sudah kami eksekusi, kekuatan pasukan darat dan udara pun sudah diterjunkan. Menurut hitung-hitungan teknis, pengerahannya di lapangan sudah sangat optimal. Pantang bagi prajurit kemanusiaan kami untuk bekerja setengah-setengah,” kata dia. “Karhutla ini jadi pukulan telak yang membuat pemerintah dan masyarakat sama-sama babak-belur menanggung imbas polusi asapnya.”
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menggunakan teknologi baru dari Brasil, Realiza Antichamas, untuk memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di berbagai wilayah di Indonesia. Inovasi itu diklaim bisa memadamkan api 10 kali lebih efektif dibandingkan air biasa. Adapun materialnya disebut dapat terurai sendiri 72 jam setelah digunakan. “Hasilnya memang terbukti bisa memadamkan api. Tapi penggunaannya belum masif kami lakukan,” ujar Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Berton S.P. Panjaitan kepada Eddy Wijaya dalam podcast EdShareOn yang tayang pada Rabu, 4 November 2026.
Realiza Antichamas berbentuk serbuk. Untuk menggunakannya, serbuk itu harus dilarutkan ke air sampai berbentuk gel. Jika disemprotkan ke area kebakaran, gel itu bisa membantu menghambat penyebaran api dan mempertahankan kelembaban. Menurut Berton, kondisi minim air di lokasi kebakaran menyulitkan petugas BNPB dalam memadamkan api. Walau sudah membuat embung portabel untuk memudahkan tim Satgas Darat mengambil air, tetapi pemadaman tetap bisa terhambat jika sungai kering akibat kemarau.
Di sisi lain, takaran gelas gel Realiza Antichamas bisa mengembang 20-30 kali lipat dari ukurannya. Sehingga, kata Berton, dengan bahan air yang sedikit dan ditambahkan gel, berpotensi lebih efektif memadamkan api dan masuk ke rongga-rongga tanah gambut. “Kita kan tahu api butuh oksigen. Nah bagaimana caranya kita menutupi akses oksigen itu dengan air maupun dengan gel ini,” jelasnya.
Penggunaan sejumlah teknologi dilakukan BNPB demi mencegah karhutla semakin parah. Artikel di media Al Jazeera yang mengutip riset Centre for Research on Energy and Clean Air (CREA), menyebut jumlah korban meninggal akibat karhutla di Indonesia diprediksi mencapai 3.560 orang. Angka itu didapat dari prediksi statistik yang mengolah data harian paparan konsentrasi polutan, yang dikombinasikan dengan angka kepadatan penduduk dan kemungkinan risiko kesehatan.
Tags : #EdShareOn #BertonPanjaitan #siapaeddywijaya #sosokeddywijaya #profileeddywijaya