EdShareOn

Surono: Kita Harus Mengerti Karakter Tiap Gunung Berapi

September 24, 2026
Mbah Rono saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Mbah Rono saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Jakarta – Geolog yang juga Kepala Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) 2014-2015, Surono menilai wajar bila sejumlah gunung berapi di Indonesia meletus di rentang waktu yang berdekatan. Misalnya awal September 2026 ini, saat Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda mengalami erupsi hampir bersamaan dengan Gunung Ibu di Maluku Utara, Gunung Semeru di Jawa Timur, Gunung Lewotobi Laki dan Gunung Ili Lewotolok di Nusa Tenggara Timur, serta Sinabung di Sumatera Utara.

Hal itu disebut Surono lumrah karena Indonesia punya 127 gunung berapi aktif, terbanyak di dunia. “Sekitar 13 persen gunung api di dunia ada di Indonesia. Wajarlah kalau ada gunung api meletus bersamaan. Tidak hanya September ini, tapi dulu juga sering. Gunung Ibu sejak 2000-an sudah sering meletus. Gunung Semeru tiap hari bisa meletus 15 kali, jadi ya biasa-biasa saja,” ujar dia yang akrab disapa Mbah Rono ini saat berbincang dengan Eddy Wijaya dalam podcast EdShareOn yang tayang pada Rabu, 23 September 2026.

Seperti diketahui, fenomena vulkanik Anak Krakatau yang dimulai Jumat petang, 4 September 2026, sempat mencemaskan warga. Di antaranya karena waktu erupsinya berdekatan dengan meletusnya gunung berapi lain di Indonesia. Selain itu, juga karena erupsinya dikhawatirkan menyebabkan tsunami. Surono menjelaskan, justru baik bila Gunung Anak Krakatau sering meletus. Dengan begitu, gunung justru melepaskan tekanannya secara bertahap. Letusannya sendiri tidak berbahaya untuk tsunami, melainkan longsorannya. Karena secara geologi, Anak Krakatau berada di wilayah bekas letusan lamanya yang labil karena dipotong sesar. “Sehingga suatu saat bisa longsor dan menimbulkan tsunami, tapi tidak bisa diprediksi waktunya,” kata dia.

Mbah Rono saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Mbah Rono saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Yang justru harus dipersiapkan, menurut Surono adalah edukasi dan mitigasi bencana untuk pemerintah dan masyarakat. Tujuannya, agar kita sebagai masyarakat yang tinggal di wilayah gunung berapi bisa bersikap bijak dalam mengelolanya. Surono mencontohkan pembaruan Peta Rawan Bencana dan penggunaannya oleh pemerintah daerah dalam penataan ruang kota yang lebih tanggap bencana. “Jadi misalnya terjadi letusan gunung berapi dan longsor, tidak menimbulkan bencana karena sudah diantisipasi. Kalau tata ruang dikelola berdasarkan peta itu dan pertumbuhan ekonomi, maka masyarakat akan terlindungi dan sejahtera. Pembangunannya juga bisa berkelanjutan,” ujarnya.

Tak hanya itu, Indonesia juga idealnya punya ahli profesional yang spesifik meneliti dan memahami lebih dalam fenomena vulkanik maupun potensi setiap gunung berapi. Karena, beda gunung api, karakteristik dan mitigasinya pun berbeda. Gunung Anak Krakatau dan Gunung Semeru, misalnya, setiap hari meletus. Namun Gunung Kelud, baru mengeluarkan tiga gempa saja, status bahayanya sudah langsung dinaikkan.

Surono mencontohkan Jepang, yang setiap gunung apinya punya pos pengamatan. Pos Gunung Api Sakurajima, misalnya, dipimpin seorang profesor, dengan tim beranggotakan para magister. Sementara Indonesia, belum mendudukkan ilmu kebumian menjadi sesuatu yang kuat. “Padahal apa yang kita hadapi dan dapat tiap hari itu semua dari bumi dan air kita. Tapi sampai sekarang perhatian ke sana belum maksimal. Saat pembahasan anggaran pun dianggapnya gunung api tidak meletus setiap hari. Padahal kan kita justru bersiap sebelum meletus,” kata doktor Geofisika lulusan Universitas Savoie, Chambery, Prancis ini.

Mbah Rono saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Mbah Rono saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) 2006-2013 itu menambahkan, masyarakat Indonesia mestinya bisa hidup bersama dengan gunung berapi secara harmonis. Tak hanya mengurangi risiko dampak erupsi dengan mitigasi yang sistematik, tapi juga lewat kearifan lokal seperti yang sudah diterapkan selama ini. “Kita harus bisa menggandengkan ilmu pengetahuan dengan kearifan lokal,” ujar Surono.

Misalnya saat memberi pelatihan mitigasi bencana ke masyarakat sekitar Gunung Merapi. Di sana, warga dulunya memakai kentongan bambu untuk mengabarkan bahaya awan panas saat erupsi. Namun kemudian, warga bersedia untuk beradaptasi memakai sirine. Ada juga mitos yang melarang pendaki memakai baju merah. “Tidak ada untungnya melanggar kearifan lokal, kita ikuti saja. Yang penting bagaimana kita bisa mengajak mereka (warga setempat) memahami gunungnya dan memahami bahayanya,” kata dia.

Secara bersamaan, masyarakat juga mesti terus mendapat edukasi atau pelatihan agar cakap menghadapi bencana. Surono mengibaratkan masyarakat sebagai tamu yang harus memahami dan menghormati tuan rumah, dalam hal ini gunung berapi. “Kita harus mengerti karakter gunung api karena kita sudah mengambil banyak darinya. Baik itu panas buminya, juga potensi wisata dan airnya,” ujarnya. Ia mencontohkan Gunung Slamet di Jawa Tengah yang “menghidupi” lima kabupaten yang mengelilinginya, yakni Banyumas, Purbalingga, Pemalang, Tegal, dan Brebes. Sedangkan Merapi menghidupi Magelang, Klaten, Boyolali, dan Sleman.

Punya 127 Gunung Api Aktif, Indonesia Harus Perkuat Keilmuan Vulkanologi

Wacana peleburan tiga lembaga, yakni Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), dan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menjadi satu kementerian sempat dibahas di Dewan Perwakilan Rakyat. Usulan itu sebelumnya datang dari Presiden Prabowo Subianto. Salah satu latar belakangnya adalah untuk memudahkan koordinasi dan menyelesaikan problem sumber daya teknis.

Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) 2006-2013 Surono mengatakan, fungsi spesifik tiap lembaga harus dipertimbangkan. Ia menyebut lembaga pusat vulkanologi yang kali pertama dibangun di Indonesia pada 1920 oleh pemerintah Belanda. Lain halnya dengan BMKG, maupun dengan Badan Geologi yang di bawah naungan Kementerian ESDM. “Pikirkanlah fungsinya masing-masing secara matang,” kata dia kepada Eddy Wijaya dalam podcast EdShareOn yang tayang pada Rabu, 23 September 2026.

Mbah Rono saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Mbah Rono saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Dalam perkembangannya, Ilmu Geologi disebut Surono menjawab seluruh kebutuhan manusia. Mulai dari lingkungan, tata ruang, kebutuhan air, energi, tak sekadar tambang maupun energi fosil. “Tak heran kalau negara-negara besar punya institusi geologi atau geosains yang sangat kuat. Seperti di Amerika Serikat, Australia, juga Inggris,” ujarnya.

Ia pun berharap Indonesia juga memperkuat keilmuan vulkanologinya. Salah satunya dengan membuat jurusan studi di kampus untuk Vulkanologi. Ini penting mengingat Indonesia adalah negara pemilik gunung api terbanyak di dunia. “Ilmu gunung api harus di-support dari geologi. Bukan hanya letusannya, tapi juga sumber daya alamnya. Suburnya tanah, potensi wisata, itu semua harus didukung ilmu vulkanologi yang utuh,” kata dia.

Tags : #EdShareOn #Surono #siapaeddywijaya #sosokeddywijaya #profileeddywijaya

Recent Posts

Sutiyoso Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Sutiyoso Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)