Masdalina Pane saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Jakarta – Profesor Riset Kepakaran Kedaruratan Kesehatan Masyarakat Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof. Dr. Masdalina Pane mengatakan, Hantavirus jenis HFRS dengan tingkat kematian (case fatality rate) sebesar 13% di Indonesia tergolong rendah. “Risiko tentu ada, tapi untuk mewabah, itu (peluangnya) rendah. Namun bukan berarti kita harus terlena. Kewaspadaan tentu harus dilakukan. Karena yang menarik dari Hantavirus ini, gejala awalnya tidak khas,” jelasnya saat berbincang dengan Eddy Wijaya dalam podcast EdShareOn yang tayang pada Rabu, 20 Mei 2026.
Kementerian Kesehatan mencatat sepanjang 2024-2026 ada 23 kasus Hantavirus di Indonesia. Dari angka itu, 20 orang sembuh dan 3 pasien meninggal dunia. Kecemasan masyarakat mulai muncul setelah ada laporan kematian penumpang kapal pesiar MV Hondius akibat infeksi Hantavirus jenis Andes. Sampai pertengahan Mei 2026, Dinas Kesehatan DKI mencatat ada enam suspek Hantavirus yang masih dipantau hingga saat ini. Di Indonesia, virus ini ditularkan melalui tikus ke manusia.
Sejumlah gejala Hantavirus disebut-sebut mirip tanda penyakit Influenza, seperti demam. Pada orang dewasa, Masdalina menyebut tanda demamnya tidak terlalu khas. Beda dengan gejala demam pada anak-anak yang suhunya mencapai 38,5° Celcius. Sedangkan gejala lainnya adalah nyeri otot dan sendi, kadang juga disertai mual dan muntah –mirip gejala sejumlah penyakit infeksi. Gejala khas Hantavirus muncul ketika terjadi perburukan cepat dalam hitungan jam, yang mirip simptom demam berdarah, ada infiltrasi plasma ke jaringan luar dan gagal ginjal akut. “Di situlah insting klinis dokter berjalan, karena perburukannya cepat, sementara gagal ginjal kan bukan penyakit dadakan,” kata Masdalina.
Itulah mengapa, Masdalina menilai tantangan awal bagi tenaga medis adalah mendeteksi gejala awal Hantavirus. Khususnya untuk varian atau strain yang ditemukan di Indonesia, yang menular dari hewan ke manusia. Varian ini gejalanya lebih ringan dari strain Andes dari Amerika Selatan, yang mematikan dan sudah menular antarmanusia. Di Argentina, penyebaran Hantavirus varian HPS atau HCPS yang menyerang jantung dan sistem pernapasan tercatat 70 kasus per tahun. Sedangkan di Cina dan Korea Selatan, Hantavirus mencapai ribuan kasus per tahun.
Masdalina menjelaskan, sejumlah referensi medis menyatakan strain HPS atau HCPS lebih banyak menyebabkan komplikasi gagal jantung fatal. Penderitanya juga termasuk kelompok risiko rentan, yakni lansia dan punya penyakit komorbid atau penyerta. Namun, Masdalina menyarankan agar masyarakat tidak panik soal Hantavirus karena tingkat kematiannya jauh lebih rendah dari jenis di Amerika Selatan. Yang terpenting adalah, tetap waspada terhadap pencetus virus, yakni tikus liar—seperti tikus got (Rattus norvegicus) atau tikus rumah (Rattus rattus).
Selain itu, kita juga harus menghindari paparan kotoran, urin, dan liur tikus yang memungkinkan partikel virusnya terhirup pernapasan. Langkah selanjutnya adalah menutup rapat wadah makanan agar tidak diendus tikus. Sedangkan yang paling penting adalah menerapkan perilaku hidup bersih, dan mengkonsumsi makanan sehat. “Kalau berkontak dengan pelancong dari Amerika Selatan dan bergejala, segera datangi fasilitas kesehatan terdekat agar bisa ditangani medis sejak dini. Jangan anggap remeh karena fase perburukan gejalanya sangat cepat,” ujar Masdalina.
Hantavirus sendiri sebenarnya bukan virus baru. Virus ini sudah diidentifikasi sejak tahun 1950-an saat perang antara Jepang dan Korea. Ketika itu, ada 3 ribu tentara PBB yang terinfeksi Hantavirus jenis Seoul Virus (SEOV). Jenis ini pun tingkat kematiannya tidak sebesar varian Andes. Masdalina menyebutkan, Hantavirus memiliki lebih dari 300 strain, yang 41 di antaranya menginfeksi manusia. Adapun di Indonesia, Hantavirus sudah ada sejak ada sejak 1978 yang diidentifikasi pada tikus. Sedangkan Hantavirus yang menjangkiti manusia ditemukan kali pertama di Indonesia pada 1991.
Berkaca pada masa pandemi Covid-19, Indonesia dinilai perlu untuk memiliki laboratorium penelitian dengan level yang tinggi. Dari empat level laboratorium yang disebut BSL (Bio-Safety Level), Indonesia baru memiliki level ke-3. “Menurut saya kita sudah membutuhkan BSL-4. Setidaknya bukan untuk merekayasa virus. Tapi bagaimana mempercepat produksi vaksin dan obat, jika terjadi sesuatu,” ujar Masdalina kepada Eddy Wijaya dalam podcast EdShareOn yang tayang pada Rabu, 20 Mei 2026.
Penjelasan Masdalina ini terkait Hantavirus yang keluar-masuk dari biovirus kategori A, atau level tinggi. Hal itu dinilai Masdalina mesti diwaspadai. “Mikroorganisme yang masuk di level A sangat rentan dijadikan senjata biologi (biological weapon). Walau sudah ada regulasi soal itu, tapi banyak negara tetap melakukan riset. Seperti saat pandemi Covid-19, banyak yang mempertanyakan apakah rekayasa virusnya dilakukan di laboratorium di Wuhan?” kata dia.
Masdalina menuturkan, negara tetangga Indonesia pada umumnya sudah memiliki laboratorium BSL-4, seperti Singapura dan Australia. Ia menyebut, pada satu kali ada koleganya dari Singapura yang bertanya apakah Indonesia merekayasa virus. Masdalina menjawab diplomatis. Katanya, Indonesia tak mungkin melakukan itu karena tidak punya laboratorium BSL-4. Justru Singapura yang mungkin melakukannya karena punya laboratorium level tinggi.
“Walau kami pada epidemiolog tidak banyak bekerja di laboratorium, tapi kami terus mendorong agar kolega kami bisa bekerja baik. Terutama untuk menjaga negara kita dari ancaman senjata biologis dan perubahan karakter penyakit,” kata Masdalina. Sebab, seperti halnya manusia, virus dan bakteri juga bisa beradaptasi dengan iklim.
Tags : #EdShareOn #MasdalinaPane #siapaeddywijaya #sosokeddywijaya #profileeddywijaya