EdShareOn

Ismail Amin: Iran Sudah Siap Perang Sejak Lama

April 23, 2026
Ismail Amin saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Ismail Amin saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

JakartaGencatan senjata antara Amerika Serikat-Israel dengan Iran bisa dibilang rapuh. Negosiasi bilateral pun sering buntu, yang berujung pada belum berhentinya serangan dari kedua belah pihak sejak 28 Februari 2026 atau lebih dari 50 hari lalu. Diaspora Indonesia yang sudah 20-an tahun tinggal di Qom, Iran, Ismail Amin, menyebut Iran tak gentar bila ketegangan geopolitik dengan AS-Israel masih akan berlanjut, bahkan berujung perang. “Iran ini sudah siap perang sejak lama,” kata dia kepada Eddy Wijaya dalam podcast EdShareOn yang tayang pada Rabu, 22 April 2026.

Ismail menceritakan, masyarakat Iran semacam anomali bila dibandingkan dengan warga negara lain untuk urusan perang. Di tengah ketegangan politik dengan AS-Israel saat ini, masyarakat Iran disebut Ismail tetap tenang, tidak mencari perlindungan, dan tidak mencemaskan serangan militer yang bisa saja tiba-tiba meluluhlantakkan rumah dan keluarga mereka. Bahkan setiap malam, warga secara rutin melakukan aksi turun ke jalan maupun konvoi kendaraan untuk memberi motivasi kepada pemerintahnya untuk melawan AS-Israel. Mereka membawa bendera nasional dan poster pemimpin tertinggi Iran sebagai bentuk dukungan.

Ismail Amin saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Ismail Amin saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Dari aksi itu, warga tidak lagi menginginkan pemerintah untuk bernegosiasi dengan pihak lawan, maupun menerima gencatan senjata. Sebab bagi warga Iran, AS-Israel sudah tidak bisa dipercaya untuk mematuhi hasil perundingan. Dari dua kali negosiasi saja, pihak AS masih tetap melancarkan dua kali serangan. “Memang ada kelompok yang gembira dengan kematian Ayatollah Ali Khamenei dan ingin rezim ini diganti. Namun massa yang turun ke jalan ini ingin menutup suara-suara itu. Mereka mendukung pemerintah untuk menolak gencatan senjata,” kata Ismail.

Menurut mahasiswa doktoral Universitas Internasional Al Mustafa Iran ini, warga setempat tidak takut menjadi korban perang. Justru sebagai muslim, warga Iran menganggap korban yang terbunuh di perang melawan AS-Israel akan mati syahid, alias meninggal dalam kondisi berjuang di jalan Allah. Ini karena Israel dan AS adalah musuh yang sudah melakukan penindasan dan kezaliman. “Jadi logika mereka, kalau kena (terbunuh dalam serangan AS-Israel) itu artinya dipilih Tuhan untuk mendapat kemuliaan,” ujarnya. Bahkan jika ada kerabat yang meninggal karena serangan AS-Israel, ucapan untuknya tidak hanya berisi belasungkawa, tapi juga diberi selamat karena mati syahid.

Sedangkan pemerintah Iran, disebut Ismail bertanggung jawab menangani dampak serangan AS. Rumah korban yang hancur akibat bom AS, misalnya, akan diperbaiki oleh pemerintah. Sedangkan warga yang menjadi korban akan diungsikan sementara oleh pemerintah ke hotel-hotel, dan ditanggung biaya hidupnya. Di Teheran, ibukota Iran, setidaknya ada 100 hotel yang disiapkan untuk menampung para korban sebelum bisa kembali ke rumahnya mereka pascarenovasi. “Lemari kulkas yang rusak saja diganti oleh pemerintah,” Ismail menjelaskan.

Ismail Amin saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Ismail Amin saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Perspektif mati syahid, berikut kesiapan mitigasi oleh pemerintah, membuat warga Iran relatif tenang dalam menyikapi serangan militer. Ismail menyebut, selama ini pun tidak ada kelangkaan komoditas maupun kepanikan massal atau panic buying dari warga Iran akibat serangan militer AS. Supermarket, pusat perbelanjaan, dan pasar tetap buka seperti biasa. Kenaikan harga sejumlah barang pun sudah diantisipasi pemerintah dengan bantuan tunai ke rekening warga dan mengadakan bazar barang murah. Begitu pun di sektor medis, pemerintah sudah bersiaga dengan menyiapkan fasilitas kesehatan darurat sebagaimana saat pandemi.

Lain halnya di sektor siber. Menurut Ismail, Iran memiliki aplikasi obrolan sendiri seperti Rubika dan Eitaa. Pemerintah juga membuat jaringan internet lokal, agar warga Iran tidak bergantung pada sistem global. “Jadi mereka berusaha untuk mencegah peretasan dengan cara ini. Karena aplikasi seperti Whatsapp, Zoom, begitu kan bisa terpantau oleh intelijen asing. Sehingga Iran mencegahnya dengan membuat jaringan internet dan aplikasi sendiri yang pengamanannya lebih ketat,” kata dia.

Ismail Amin: Masyarakat Iran Respek pada Warga Indonesia

Sejarah hubungan baik antara Indonesia dengan Iran dirasakan Ismail Amin selama lebih dari 20 tahun tinggal di Negeri Para Mullah ini. Pria yang sedang menempuh studi doktoral di Universitas Internasional Al Mustafa Iran ini mengatakan, setiap mengetahui dirinya berasal dari Indonesia, warga Iran biasanya menunjukkan sikap respek. Salah satu sebabnya karena warga Iran tahu, Indonesia adalah negeri dengan penduduk muslim terbesar di dunia dengan 242 juta jiwa (riset Pew Research Center, 2026).

Alasan lainnya adalah karena banyak warga Iran yang mengenal presiden pertama Indonesia, Sukarno. Ismail menjelaskan, Sukarno di sana dikenal sebagai tokoh Gerakan Nonblok, pembela Palestina, dan antipenjajahan –cocok dengan ideologi Iran. “Kalau kita pakai kopiah, pasti sudah diidentifikasi sebagai orang Indonesia. Dan orang Indonesia itu dianggap sebagai Sukarnois yang antipenindasan,” kata Ismail saat berbincang dengan Eddy Wijaya dalam podcast EdShareOn yang tayang pada Rabu, 22 April 2026.

Ismail Amin saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Ismail Amin saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Selama di Iran pun, ia sebagai warga negara asing terus mendapat perlakuan baik. Ismail bahkan mendapat bantuan tunai, sumbangan-sumbangan, dan sembako. Ia mengaku, sejak awal serangan AS-Iran, ia terus mendapat limpahan bantuan dari tetangganya. “Dari awal perang sampai sekarang saya belum beli beras karena terus diberi oleh tetangga. Betul-betul orang Iran itu gemar bersedekah dan membantu orang, juga ramah terhadap tamu seperti saya.”

Menurut Ismail, warga Indonesia di Iran juga menumbuhkan solidaritas dengan membuat posko dengan fasilitas makanan-minuman ringan. Posko ini biasa didatangi oleh masyarakat yang mengikuti aksi dukungan terhadap pemerintah Iran. Sedangkan dukungan di Tanah Air tercermin dari jumlah donasi untuk renovasi Iran yang digalang Kedutaan Besar Iran untuk Indonesia. Per 11 April 2026, tercatat ada bantuan senilai Rp9,06 miliar dari lebih dari 24 ribu orang Indonesia untuk Iran. Tingginya angka partisipasi warga Indonesia dinilai Kedubes Iran untuk Indonesia sebagai bentuk solidaritas dan eratnya hubungan emosional antar-dua bangsa.

Tags : #EdShareOn #IsmailAmin #siapaeddywijaya #sosokeddywijaya #profileeddywijaya

Recent Posts

Sutiyoso Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Sutiyoso Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)