GETAR 08 Eksis Awasi Pembangunan dan Siap Kawal Pilpres 2029

GETAR 08 Eksis Awasi Pembangunan dan Siap Kawal Pilpres 2029

GETAR 08 Eksis Awasi Pembangunan dan Siap Kawal Pilpres 2029

August 27, 2025
Jimmy Rol Torar saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Jimmy Rol Torar saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

JakartaKetua DPN GETAR 08 Prabowo-Gibran, Jimmy Rol Toral menegaskan aktivitas organisasi besutannya tetap berjalan hingga sekarang meski Pilpres 2024 telah berlalu. Menurutnya, Organisasi Masyarakat (Ormas) relawan Prabowo-Gibran ditugaskan berkontribusi dalam kemajuan pembangunan di Indonesia.

“Karena berbadan hukum, dia (GETAR 08) tetap eksis, jalan terus. Tugasnya apa? sudah diperintah kita, awasi pembangunan, kamu mengabdi untuk bangsa dan negara, berbuat yang baik, membuat ide-ide dan gagasan, sampaikan kepada pemerintah,” kata Jimmy. “Seperti kepengurusan nasional jalan, kabupaten/kota, provinsi jalan, pasukan kita ada semuanya,” ucapnya menambahkan.

Jimmy Rol Torar saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Jimmy Rol Torar saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Politisi kelahiran Manado, 29 Januari 1962 itu menjelaskan, GETAR 08 tidak hanya aktif dalam pembangunan negara melainkan juga setia terhadap Presiden Prabowo. “Inikan sustainable, berkelanjutan kan. Nanti 5 tahun ke depan ada pemilihan presiden ya GETAR 08 dukung lagi Pak Prabowo,” ucapnya.

Jimmy menambahkan, GETAR 08 tidak hanya terbentuk di dalam negeri bahkan merambah ke luar negeri yang banyak memiliki penduduk asal Indonesia. “Yang saya lihat sendiri di Australia, banyak negara bagian dan di Amerika (GETAR 08 luar negeri), dan mereka melaporkan apa yang dibikin GETAR 08 di luar negeri,” kata Jimmy.

Jimmy Rol Torar saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Jimmy Rol Torar saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

GETAR 08 pertama kali dikukuhkan di rumah pemenangan relawan Prabowo, Jalan Imam Bonjol Nomor 25, Menteng Jakarta Pusat, pada Kamis, 28 September 2023.  GETAR 08 menghimpun kekuatan relawan hingga ke daerah-daerah untuk mengkampanyekan program-program Prabowo-Gibran.

Siapa Eddy Wijaya Sebenarnya, Begini Profilnya

Sosok Eddy Wijaya adalah seorang podcaster kelahiran 17 Agustus 1972. Melalui akun YouTube @EdShareOn, Eddy mewawancarai banyak tokoh bangsa mulai dari pejabat negara, pakar hukum, pakar politik, politisi nasional, hingga selebritas Tanah Air. Pria dengan khas lesung pipi bagian kanan tersebut juga seorang nasionalis yang merupakan aktivis perjuangan kalangan terdiskriminasi dan pemerhati sosial dengan membantu masyarakat lewat yayasan Wijaya Peduli Bangsa. Ia juga aktif di bidang olahraga dengan menjabat Ketua Harian Persatuan Olahraga Berkuda Seluruh Indonesia (Pordasi) Pacu dan juga pernah menjabat Wakil Ketua Umum Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PBSI) Jakarta Timur. Eddy juga menjabat sebagai Dewan Penasehat Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia, masa bakti 2022-2026. Gagasan-gagasannya terbentuk karena kerja kerasnya untuk mandiri sejak usia 13 tahun hingga sukses seperti sekarang. Bagi Eddy, dunia kerja tidak semulus yang dibayangkan, kegagalan dan penolakan menjadi hal biasa. Hal itulah yang membuatnya memegang teguh tagline “Sukses itu hanya masalah waktu”.

Tags : #EdShareOn #JimmyRolTorar #siapaeddywijaya #sosokeddywijaya #profileeddywijaya

Recent Posts

Sutiyoso Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Sutiyoso Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Jimmy Rol Torar: Amnesti Hasto dan Abolisi Tom Lembong Bukan Soal Rangkul Merangkul

Jimmy Rol Torar: Amnesti Hasto dan Abolisi Tom Lembong Bukan Soal Rangkul Merangkul

Jimmy Rol Torar: Amnesti Hasto dan Abolisi Tom Lembong Bukan Soal Rangkul Merangkul

August 27, 2025
Jimmy Rol Torar saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Jimmy Rol Torar saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

JakartaKetua Umum Dewan Pimpinan Nasional (DPN) Gugus Tugas Indonesia Raya (GETAR 08) Prabowo-Gibran, Jimmy Rol Torar menampik pendapat yang menyebut pemberian amnesti kepada Hasto Kristiyanto dan abolisi untuk Tom Lembong merupakan intrik politik Presiden Prabowo Subianto. Ia menilai amnesti dan abolisi merupakan keputusan presiden untuk menebar kebahagiaan menyambut peringatan Hari Ulang Tahun ke-80 Kemerdekaan Republik Indonesia .

“Bukan soal merangkul atau tidak merangkul. Kan, lebih enak (tujuan amnesti dan abolisi) menuju kepada hari ulang tahun proklamasi Republik Indonesia yang ke-80 ini. Kita senang-senang, happy, sejuk kan. Lihat aja di sana, Pak Prabowo jogging-jogging (senang) juga,” kata Jimmy saat berbincang dengan Eddy Wijaya dalam podcast EdShareOn yang tayang pada Rabu, 27 Agustus 2025.

Jimmy Rol Torar saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Jimmy Rol Torar saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Menurut Jimmy, pemberian amnesti maupun abolisi merupakan hak istimewa seorang presiden. Sehingga menjadi wajar dilakukan sesuai aturan yang berlaku. “Para penerima sudah kena hukuman. Sehingga menjelang 17 Agustus 2025, 80 tahun Indonesia merdeka, ada yang mendapatkan amnesti dan abolisi,” katanya.

Pemberian amnesti kepada Hasto Kristiyanto dan abolisi ke Tom Lembong menjadi perbincangan hangat masyarakat belakangan ini. Keduanya dikaitkan dengan tokoh politik yang menjadi ‘lawan’ Presiden Prabowo pada Pilpres 2024. Hasto eks Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan pengusung Ganjar Pranowo sebagai calon presiden. Adapun Tom Lembong merupakan tim sukses Anies Baswedan. Sehingga memunculkan dugaan ini kebijakan politik untuk merangkul semua pihak yang selama ini kerap dianggap sebagai oposisi.

Jimmy Rol Torar saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Jimmy Rol Torar saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Jimmy mengatakan, kebijakan Presiden Prabowo memberikan amnesti dan abolisi kepada kedua tokoh tersebut memiliki tujuan yang lebih besar yakni persatuan dan kesatuan di hari kemerdekaan. Namun tidak bermaksud menghapus oposisi dari pemerintahan. “Sejak awal beliau (Presiden Prabowo) sudah mengatakan, negara yang besar, pemimpin yang berhasil mesti rekonsiliasi nasional. Semua petinggi-petinggi, tokoh-tokoh atau pemuka republik ini bersatu, kalau tidak bersatu ya susah,” kata dosen Pascasarjana Universitas Hasanuddin (UNHAS) Makassar itu.

Jimmy berharap lawan tanding Presiden Prabowo pada Pilpres 2024 lalu bekerjasama dan mendoakan pemerintah dalam menjalankan tugas untuk kesejahteraan rakyat Indonesia. “Saya juga mengusulkan Pak Anies, Cak Imin, Pak Ganjar dengan Pak Mahfud bersatu semuanya membangun republik ini,” ucap Sekretaris Jenderal Badan Percepatan Pembangunan Kawasan Timur Indonesia (BP2KTI) tersebut.

Siapa Eddy Wijaya Sebenarnya, Begini Profilnya

Sosok Eddy Wijaya adalah seorang podcaster kelahiran 17 Agustus 1972. Melalui akun YouTube @EdShareOn, Eddy mewawancarai banyak tokoh bangsa mulai dari pejabat negara, pakar hukum, pakar politik, politisi nasional, hingga selebritas Tanah Air. Pria dengan khas lesung pipi bagian kanan tersebut juga seorang nasionalis yang merupakan aktivis perjuangan kalangan terdiskriminasi dan pemerhati sosial dengan membantu masyarakat lewat yayasan Wijaya Peduli Bangsa. Ia juga aktif di bidang olahraga dengan menjabat Ketua Harian Persatuan Olahraga Berkuda Seluruh Indonesia (Pordasi) Pacu dan juga pernah menjabat Wakil Ketua Umum Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PBSI) Jakarta Timur. Eddy juga menjabat sebagai Dewan Penasehat Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia, masa bakti 2022-2026. Gagasan-gagasannya terbentuk karena kerja kerasnya untuk mandiri sejak usia 13 tahun hingga sukses seperti sekarang. Bagi Eddy, dunia kerja tidak semulus yang dibayangkan, kegagalan dan penolakan menjadi hal biasa. Hal itulah yang membuatnya memegang teguh tagline “Sukses itu hanya masalah waktu”.

Tags : #EdShareOn #JimmyRolTorar #siapaeddywijaya #sosokeddywijaya #profileeddywijaya

Sutiyoso Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Sutiyoso Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Reza Indragiri: Hati Kecil Hakim Terluka karena Amnesti dan Abolisi

Reza Indragiri: Hati Kecil Hakim Terluka karena Amnesti dan Abolisi

Reza Indragiri: Hati Kecil Hakim Terluka karena Amnesti dan Abolisi

August 21, 2025
Reza Indragiri saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Reza Indragiri saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

JakartaAhli Psikologi Forensik, Reza Indragiri Amriel menyatakan pemberian amnesti kepada Hasto Kristiyanto dan abolisi untuk Thomas Trikasih Lembong tidak dapat diterima secara logika hukum. Ia menilai keputusan Presiden Prabowo Subianto tersebut hanya dapat dipahami melalui pandangan politik apalagi keduanya merupakan terdakwa kasus korupsi.

“Karena mesin yang ada di kepala saya adalah mesin psikologi forensik, mesin hukum. Sementara amnesti harus dipahami dari sudut pandang politik. Itu dia sebabnya mengapa saya tidak bisa memahami mengapa koruptor diberikan amnesti, mengapa koruptor diberikan abolisi?” ujar Reza saat berbincang dengan Eddy Wijaya dalam podcast EdShareOn yang tayang pada Rabu, 20 Agustus 2025.

Reza Indragiri saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Reza Indragiri saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Kendati demikian, Reza mengatakan presiden mempunyai dasar hukum dalam mengeluarkan keputusan amnesti dan abolisi terhadap seorang terdakwa, meskipun secara hukum hak prerogatif presiden tersebut menciptakan preseden buruk bagi pemberantasan korupsi. “Dari sudut pandang politik, anggaplah amnesti dan abolisi ini bernilai positif, yaitu rekonsiliasi, persatuan dan harmoni. Tapi dari sudut pandang hukum, saya khawatir betul bahwa amnesti dan abolisi bagi pelaku korupsi itu menciptakan suatu preseden buruk di negara kita dalam konteks pemberantasan korupsi itu sendiri,” kata lulusan Strata Dua (S2) Psikologi Forensik Universitas Melbourne Australia itu.

Reza berharap Presiden Prabowo seharusnya mempertimbangkan keputusan hakim sebelum menggunakan hak prerogatifnya dalam kasus tersebut. “Kalau seorang Presiden Prabowo ingin mengoreksi, jangan cawe-cawe terhadap putusan hakimnya. Tapi reformasilah lembaga penegakan hukumnya. Presiden begitu, jangan cawe-cawe terhadap putusan hakimnya, suka tidak suka itu mahkota. Kita mau bilang apa, intervensi? Bapak lebih berpedoman pada pernyataan hukum sebagai panglima atau politik sebagai panglima?” ucapnya. 

Reza Indragiri saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Reza Indragiri saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

“Besar dugaan saya, Gibran tidak lagi diajak Prabowo sebagai calon wakil presiden untuk 2029. Mengapa nggak diajak? Karena terlalu kecil backup politik Gibran yang tidak berpartai sampai sekarang,” katanya. “Bahkan saya punya dugaan nih, mungkin Puan (Puan Maharani, anak Megawati) yang akan dipasangkan dengan Pak Prabowo,” ujarnya menambahkan.

Pendiri Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Lingkar Madani (LIMA) memprediksi hal itu sejak pertemuan Presiden Prabowo dengan Megawati pada 7 April lalu. “Saya sudah ingatkan dari awal, begitu Ibu Mega bertemu dengan Pak Prabowo, akan ada sinyal Pak Prabowo merapat ke Ibu Mega, yang otomatis akan meninggalkan Pak Jokowi,” ujar lulusan Fakultas Ushuluddin Program Studi Aqidah Filsafat Islam UIN Syarif Hidayatullah Jakarta itu.

Siapa Eddy Wijaya Sebenarnya, Begini Profilnya

Sosok Eddy Wijaya adalah seorang podcaster kelahiran 17 Agustus 1972. Melalui akun YouTube @EdShareOn, Eddy mewawancarai banyak tokoh bangsa mulai dari pejabat negara, pakar hukum, pakar politik, politisi nasional, hingga selebritas Tanah Air. Pria dengan khas lesung pipi bagian kanan tersebut juga seorang nasionalis yang merupakan aktivis perjuangan kalangan terdiskriminasi dan pemerhati sosial dengan membantu masyarakat lewat yayasan Wijaya Peduli Bangsa. Ia juga aktif di bidang olahraga dengan menjabat Ketua Harian Persatuan Olahraga Berkuda Seluruh Indonesia (Pordasi) Pacu dan juga pernah menjabat Wakil Ketua Umum Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PBSI) Jakarta Timur. Gagasan- gagasannya terbentuk karena kerja kerasnya untuk mandiri sejak usia 13 tahun hingga sukses seperti sekarang. Bagi Eddy, dunia kerja tidak semulus yang dibayangkan, kegagalan dan penolakan menjadi hal biasa. Hal itulah yang membuatnya memegang teguh tagline “Sukses itu hanya masalah waktu”.

Tags : #EdShareOn #RezaIndragiri #siapaeddywijaya #sosokeddywijaya #profileeddywijaya

Sutiyoso Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Sutiyoso Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Jokowi Harus Masuk di Partai Politik yang Lebih Besar

Jokowi Harus Masuk di Partai Politik yang Lebih Besar

Jokowi Harus Masuk di Partai Politik yang Lebih Besar

August 14, 2025
Ray Rangkuti saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Ray Rangkuti saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

JakartaPengamat politik Ray Rangkuti menyarankan agar Presiden ke-7 RI Joko Widodo bergabung di partai politik yang lebih besar daripada Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Hal itu menanggapi wacana akan bergabungnya Jokowi ke partai yang dipimpin anak bungsunya Kaesang Pangarep tersebut sebagai ketua dewan pembina.

“Mau ke Golkar kek, atau ke PPP kek, ke manalah ya, tapi cari partai politik yang lebih besar. Sebab kalau beliau tetap bercokol di PSI, nama PSI dengan sendirinya akan tercoreng, sementara daya dongkraknya tidak terlalu besar. Bahkan ketika Pak Jokowi jadi presiden, PSI hanya dapat suara 2,8 persen,” ucap Ray kepada Eddy Wijaya.

Ray Rangkuti saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Ray Rangkuti saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Aktivis 98 kelahiran Mandailing Natal, Sumatera Utara, 20 Agustus 1969 itu menjelaskan, pengaruh politik Jokowi akan terus eksis bila bergabung ke salah satu partai yang menduduki kursi di DPR RI. Apalagi Jokowi membutuhkan sokongan politik yang kuat pada Pilpres 2029 untuk mengusung Gibran Rakabuming sebagai Capres.

“Pusaran politik ini cuma ada pada 8 partai yang ada sekarang duduk di parlemen,” kata Ray. “Kalau pandangan saya ya, jangan ke PSI justru harus ke partai yang lain supaya ada backup kepada Gibran di masa yang akan datang,” ucapnya menambahkan.

Siapa Eddy Wijaya Sebenarnya, Begini Profilnya

Sosok Eddy Wijaya adalah seorang podcaster kelahiran 17 Agustus 1972. Melalui akun YouTube @EdShareOn, Eddy mewawancarai banyak tokoh bangsa mulai dari pejabat negara, pakar hukum, pakar politik, politisi nasional, hingga selebritas Tanah Air. Pria dengan khas lesung pipi bagian kanan tersebut juga seorang nasionalis yang merupakan aktivis perjuangan kalangan terdiskriminasi dan pemerhati sosial dengan membantu masyarakat lewat yayasan Wijaya Peduli Bangsa. Ia juga aktif di bidang olahraga dengan menjabat Ketua Harian Persatuan Olahraga Berkuda Seluruh Indonesia (Pordasi) Pacu dan juga pernah menjabat Wakil Ketua Umum Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PBSI) Jakarta Timur. Gagasan- gagasannya terbentuk karena kerja kerasnya untuk mandiri sejak usia 13 tahun hingga sukses seperti sekarang. Bagi Eddy, dunia kerja tidak semulus yang dibayangkan, kegagalan dan penolakan menjadi hal biasa. Hal itulah yang membuatnya memegang teguh tagline “Sukses itu hanya masalah waktu”.

Tags : #EdShareOn #RayRangkuti #siapaeddywijaya #sosokeddywijaya #profileeddywijaya

Sutiyoso Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Sutiyoso Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Ray Rangkuti: Ayunan Politik Presiden Prabowo Lebih banyak ke Megawati

Ray Rangkuti: Ayunan Politik Presiden Prabowo Lebih banyak ke Megawati

Ray Rangkuti: Ayunan Politik Presiden Prabowo Lebih banyak ke Megawati

August 14, 2025
Ray Rangkuti saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Ray Rangkuti saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

JakartaPengamat Politik Ray Rangkuti menilai pemberian amnesti kepada Hasto Kristiyanto dan abolisi bagi Thomas Trikasih Lembong atau Tom Lembong sarat dengan sikap politik Presiden Prabowo Subianto saat ini. Menurut Ray, Prabowo saat ini semakin mendekat kepada Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri dan kian renggang dengan Presiden ke-7 RI Joko Widodo.

“Sebagai contoh, karena lebih banyak ‘ayunannya’ ke Ibu Mega, kasus soal Tom Lembong dilepas, otomatis nama Pak Jokowi yang kena. Lalu soal Hasto lepas, otomatis Pak Jokowi yang kena,” ujar Ray saat berbincang dengan Eddy Wijaya dalam podcast EdShareOn yang tayang pada Rabu, 13 Agustus 2025.

Ray Rangkuti saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Ray Rangkuti saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Ray menjelaskan Hasto adalah orang kepercayaan Megawati Soekarnoputri yang dulu sempat menjabat sebagai sekretaris jenderal PDIP. Sementara Tom Lembong merupakan mantan co-Captain Tim Pemenangan Anies Baswedan dalam Pilpres 2024. Baik Hasto maupun Tom kerap mengkritik sikap politik Jokowi.  “Dua orang ini boleh disebut mewakili 2 kekuatan oposisi. Hasto oposisi formal di legislatif lewat PDI Perjuangan, Tom Lembong oposisi non formal dari Anies Baswedan yang dikenal sebagai Anak Abah,” katanya.

Hasto Kristiyanto divonis 3,5 tahun penjara dalam kasus suap Penggantian Antar Waktu (PAW) anggota DPR RI. Sementara Tom Lembong divonis 4,5 tahun penjara dalam kasus korupsi impor gula pasir saat menjabat Menteri Perdagangan periode 2015 – 2016. Namun keduanya dilepaskan dari hukuman setelah Presiden Prabowo memberikan amnesti kepada Hasto dan abolisi kepada Tom pada 1 Agustus lalu.

Menurut Ray pemberian amnesti dan abolisi tersebut memiliki dampak cukup luas baik pada hubungan Prabowo dengan Jokowi serta perpolitikan menjelang Pilpres 2029. Ray menduga Presiden Prabowo akan menggandeng PDIP dan kemungkinan meninggalkan Gibran Rakabuming Raka yang merupakan anak sulung Jokowi jelang Pilpres.

Ray Rangkuti saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Ray Rangkuti saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

“Besar dugaan saya, Gibran tidak lagi diajak Prabowo sebagai calon wakil presiden untuk 2029. Mengapa nggak diajak? Karena terlalu kecil backup politik Gibran yang tidak berpartai sampai sekarang,” katanya. “Bahkan saya punya dugaan nih, mungkin Puan (Puan Maharani, anak Megawati) yang akan dipasangkan dengan Pak Prabowo,” ujarnya menambahkan.

Pendiri Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Lingkar Madani (LIMA) memprediksi hal itu sejak pertemuan Presiden Prabowo dengan Megawati pada 7 April lalu. “Saya sudah ingatkan dari awal, begitu Ibu Mega bertemu dengan Pak Prabowo, akan ada sinyal Pak Prabowo merapat ke Ibu Mega, yang otomatis akan meninggalkan Pak Jokowi,” ujar lulusan Fakultas Ushuluddin Program Studi Aqidah Filsafat Islam UIN Syarif Hidayatullah Jakarta itu.

Siapa Eddy Wijaya Sebenarnya, Begini Profilnya

Sosok Eddy Wijaya adalah seorang podcaster kelahiran 17 Agustus 1972. Melalui akun YouTube @EdShareOn, Eddy mewawancarai banyak tokoh bangsa mulai dari pejabat negara, pakar hukum, pakar politik, politisi nasional, hingga selebritas Tanah Air. Pria dengan khas lesung pipi bagian kanan tersebut juga seorang nasionalis yang merupakan aktivis perjuangan kalangan terdiskriminasi dan pemerhati sosial dengan membantu masyarakat lewat yayasan Wijaya Peduli Bangsa. Ia juga aktif di bidang olahraga dengan menjabat Ketua Harian Persatuan Olahraga Berkuda Seluruh Indonesia (Pordasi) Pacu dan juga pernah menjabat Wakil Ketua Umum Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PBSI) Jakarta Timur. Gagasan- gagasannya terbentuk karena kerja kerasnya untuk mandiri sejak usia 13 tahun hingga sukses seperti sekarang. Bagi Eddy, dunia kerja tidak semulus yang dibayangkan, kegagalan dan penolakan menjadi hal biasa. Hal itulah yang membuatnya memegang teguh tagline “Sukses itu hanya masalah waktu”.

Tags : #EdShareOn #RayRangkuti #siapaeddywijaya #sosokeddywijaya #profileeddywijaya

Sutiyoso Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Sutiyoso Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Profesor Adrianus Duga Arya Daru Rencanakan Asfiksia Sudah Lama

Profesor Adrianus Duga Arya Daru Rencanakan Asfiksia Sudah Lama

Profesor Adrianus Duga Arya Daru Rencanakan Asfiksia Sudah Lama

August 6, 2025
Adrianus Meliala saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Adrianus Meliala saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Jakarta – Pakar Kriminologi Universitas Indonesia Profesor Adrianus Eliasta Sembiring Meliala menduga Diplomat Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Arya Daru Pangayunan meninggal dunia karena tindakan bunuh diri dengan cara asfiksia atau menahan jalur nafas. Ia menilai aksi tersebut bisa jadi telah direncanakan dalam waktu yang lama, bahkan kemungkinan korban sudah pernah mencobanya.

“Kalau dia memang memutuskan untuk bunuh diri, maka ada dua kemungkinan; (yakni) sesuatu dipikirkannya baru-baru saja, atau sesuatu yang memang sudah bertahun, sudah menjadi suatu yang dipikirkannya, dibayangkannya, bahkan dia mungkin sudah mencoba. Nah, mana yang benar? Kita lihat dari kepolisian,” ujar Prof. Adrianus saat berbincang dengan Eddy Wijaya dalam podcast EdShareOn yang syuting pada Selasa, 29 Juli 2025, sebelum Polda Metro Jaya mengumumkan hasil penyelidikan kematian Arya Daru.

Adrianus Meliala saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Adrianus Meliala saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Diplomat muda berusia 39 tahun itu ditemukan tewas di kamar kosnya di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Selasa, 8 Juli 2025. Kematiannya cukup misterius karena ditemukan dalam kondisi tubuh berselimut di atas kasur, serta kepala tertutup plastik lalu terlilit lakban. Dari hasil penyelidikan polisi, diduga alat yang digunakan untuk bunuh diri sudah dipersiapkan cukup lama. Misalnya lakban berwarna kuning yang melilit Arya Daru dibeli di Yogyakarta pada Juni lalu. 

Indikasi bunuh diri juga menguat lantaran polisi tidak menemukan bekas sidik jari orang lain di lakban tersebut, begitupun dengan barang-barang di TKP seperti sprei dan gelas kaca. Polda Metro Jaya menyimpulkan kematian Arya Daru tidak diakibatkan oleh tindak pidana seperti pembunuhan atau penganiayaan. Sementara hasil autopsi menunjukkan korban diduga kehabisan oksigen akut pada jantung.

Menurut Prof. Adrianus, keputusan korban untuk bunuh diri telah dipersiapkan dengan matang. Hal itu bisa dilihat melalui rekaman CCTV sesaat sebelum korban ditemukan tewas. “Kalau kita lihat dari video ketika yang bersangkutan keluar dari kamarnya membuang sampah dan kembali, itu kan, bukan (cara) jalannya orang yang sedang bingung, tapi orang yang sudah firm dengan decision-nya (keputusannya bunuh diri),” kata Guru Besar Kriminologi Universitas Indonesia tersebut.

Adrianus Meliala saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Adrianus Meliala saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Anggota Ombudsman RI Periode 2016-2021 itu menjelaskan, dugaan bunuh diri diperkuat lagi dengan kondisi TKP yang tidak menunjukkan tanda-tanda unsur pidana. Sehingga memudahkan polisi untuk melakukan eksplorasi. “Kalau kita berangkat dari ilmu investigasi kepolisian, penyelidikan dimulai dari TKP. Dan ketika itu TKP sudah cukup jelas menunjukkan bahwa entry variant tidak ada, tanda-tanda kerusakan juga tidak ada.  Adanya CCTV yang mengindikasikan bahwa ada orang masuk juga tidak ada (selain Daru) dan juga tidak ada barang-barang hilang,” ujar Prof. Adrianus.

Komisioner Kompolnas periode 2012-2016 itu menambahkan, keputusan untuk mengakhiri hidup dengan cara bunuh diri memang kerap berkaitan dengan mental. Namun ia belum dapat memastikan apakah persoalan tersebut menjadi motif Arya Daru nekat mengakhiri hidupnya. “Jangan dilihat orangnya gagah, berhasil dalam tugas, karirnya cemerlang. Kadang-kadang kita terlena dalam tampilan, padahal sebenarnya di balik itu dia menjadi pribadi yang rapuh, mudah berpikir kalah, dan harus mengakhiri hidup ini dengan cara bunuh diri,” kata dia.

Prof. Adrianus berharap kasus tersebut menjadi pelajaran bagi masyarakat agar tidak mudah menyerah pada masalah pribadi yang dihadapi, apalagi hingga nekat bunuh diri. “Tentu saja semua orang punya tekanan, tapi sebagai individu kita bisa menanggung tekanan itu apa tidak? Di sini yang jadi masalah. Orang memakai asumsi bahwa yang bersangkutan masih muda, karirnya bagus, diplomat pula, pernah penempatan di berbagai (tempat), maka harusnya bisa menanggung tekanan dong? Asumsi yang begini menjadi beban baru bagi seseorang dan kemudian memilih untuk kalah,” ucapnya.

Siapa Eddy Wijaya Sebenarnya, Begini Profilnya

Sosok Eddy Wijaya adalah seorang podcaster kelahiran 17 Agustus 1972. Melalui akun YouTube @EdShareOn, Eddy mewawancarai banyak tokoh bangsa mulai dari pejabat negara, pakar hukum, pakar politik, politisi nasional, hingga selebritas Tanah Air. Pria dengan khas lesung pipi bagian kanan tersebut juga seorang nasionalis yang merupakan aktivis perjuangan kalangan terdiskriminasi dan pemerhati sosial dengan membantu masyarakat lewat yayasan Wijaya Peduli Bangsa. Ia juga aktif di bidang olahraga dengan menjabat Ketua Harian Persatuan Olahraga Berkuda Seluruh Indonesia (Pordasi) Pacu dan juga pernah menjabat Wakil Ketua Umum Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PBSI) Jakarta Timur. Gagasan- gagasannya terbentuk karena kerja kerasnya untuk mandiri sejak usia 13 tahun hingga sukses seperti sekarang. Bagi Eddy, dunia kerja tidak semulus yang dibayangkan, kegagalan dan penolakan menjadi hal biasa. Hal itulah yang membuatnya memegang teguh tagline “Sukses itu hanya masalah waktu”.

Tags : #EdShareOn #AdrianusMeliala #siapaeddywijaya #sosokeddywijaya #profileeddywijaya

Sutiyoso Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Sutiyoso Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Perusahaan Butuh Merekrut Intelijen

Perusahaan Butuh Merekrut Intelijen

Perusahaan Butuh Merekrut Intelijen

July 30, 2025
Ridlwan Habib saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Ridlwan Habib saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Pengamat Intelijen dan Terorisme, Ridlwan Habib menjelaskan pentingnya mempekerjakan seorang intelijen dalam suatu perusahaan. Ia menilai keberadaan intelijen di perusahaan menjadi bagian penting dalam melancarkan rencana bisnis. “Sekarang ada bisnis intelijen. Perusahaan-perusahaan swasta butuh juga. Bisnis intelijen itu bahkan sekarang lebih dibutuhkan,” ujar Ridlwan kepada Eddy Wijaya.

Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden (KSP) Bidang Keamanan era Presiden Jokowi itu mencontohkan suatu perusahaan yang bergerak di bidang farmasi yang mempekerjakan intelijen. Yang mana, perusahaan itu ingin mengetahui rencana competitor-nya dalam menjalankan bisnis obat-obatan tersebut.

Ridlwan Habib saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Ridlwan Habib saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

“Dia pengen mengerti rivalnya lagi menyiapkan produk apa, obat apa yang baru? Kan ada metodologi mengintai, merekrut petugas laboratorium pihak lawan, jadi diincar nih siapa yang bisa didekati. Jadi ada penyurupan atau menyamar (menjadi pegawai), dan penggalangan. Yang begini kan sangat prospektif,” kata Ridlwan.

Ridlwan mengatakan, dirinya pernah mempelajari mata kuliah tentang bisnis intelijen saat mengecap pendidikan di Pascasarjana Universitas Indonesia. “6 SKS itu, saya masih ingat beberapa tentor kita. Dan di sana juga diajari tuh, bagaimana kemudian rivalitas bisnis, corporate confidentiality, yang begitu ada materinya,” kata dia.

Ridlwan Habib saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Ridlwan Habib saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Oleh karena itu, Ridlwan berharap intelijen dimanfaatkan dengan bijak untuk kepentingan orang banyak dan dipelajari dengan baik sebagai suatu ilmu pengetahuan. “Intelijen ini kan seperti pisau, tools. Pisau ya bisa buat mengupas mangga, bisa buat membunuh orang. Tergantung digunakan untuk apa,” ucapnya.

Siapa Eddy Wijaya Sebenarnya, Begini Profilnya

Sosok Eddy Wijaya adalah seorang podcaster kelahiran 17 Agustus 1972. Melalui akun YouTube @EdShareOn, Eddy mewawancarai banyak tokoh bangsa mulai dari pejabat negara, pakar hukum, pakar politik, politisi nasional, hingga selebritas Tanah Air. Pria dengan khas lesung pipi bagian kanan tersebut juga seorang nasionalis yang merupakan aktivis perjuangan kalangan terdiskriminasi dan pemerhati sosial dengan membantu masyarakat lewat yayasan Wijaya Peduli Bangsa. Ia juga aktif di bidang olahraga dengan menjabat Ketua Harian Persatuan Olahraga Berkuda Seluruh Indonesia (Pordasi) Pacu dan juga pernah menjabat Wakil Ketua Umum Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PBSI) Jakarta Timur. Gagasan- gagasannya terbentuk karena kerja kerasnya untuk mandiri sejak usia 13 tahun hingga sukses seperti sekarang. Bagi Eddy, dunia kerja tidak semulus yang dibayangkan, kegagalan dan penolakan menjadi hal biasa. Hal itulah yang membuatnya memegang teguh tagline “Sukses itu hanya masalah waktu”.

Tags : #EdShareOn #RidlwanHabib #siapaeddywijaya #sosokeddywijaya #profileeddywijaya

Sutiyoso Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Sutiyoso Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Ridlwan Habib: Intelijen Asing Berharap Indonesia Kacau

Ridlwan Habib: Intelijen Asing Berharap Indonesia Kacau

Ridlwan Habib: Intelijen Asing Berharap Indonesia Kacau

July 30, 2025
Ridlwan Habib saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Ridlwan Habib saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Pengamat Intelijen dan Terorisme, Ridlwan Habib memperingatkan masyarakat agar waspada terhadap pihak asing yang beroperasi melalui intelijen di Indonesia. Menurutnya, intelijen yang bekerja atas nama negara maupun perusahaan asing itu menginginkan kekacauan sehingga mengancam kedaulatan nasional.

“Sebenarnya yang harus kita aware itu dalam konteks geopolitik, banyak pihak asing, ini bisa negara, bisa kepentingan bisnis, kepentingan swasta dalam hal ini private, yang kemudian sangat berharap chaotic condition di Indonesia ini berjalan panjang,” ujar Ridlwan saat berbincang dengan Eddy Wijaya dalam podcast EdShareOn yang tayang pada Rabu, 30 Juli 2025.

Ridlwan Habib saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Ridlwan Habib saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Menurut Ridlwan, operasi intelijen tersebut bertujuan untuk mengambil remah-remah keuntungan dari kekacauan yang terjadi. Baik itu melalui keuntungan bisnis maupun dampak politik. “Secara bisnis mereka bisa bermain saham di situ, bisa menggunakan metodologi buyback dan sebagainya. Secara konsolidasi politik, mereka bisa memainkan peran untuk menyokong pihak-pihak yang masih, dalam tanda petik, sakit hati dengan pemerintahan Presiden Prabowo,” katanya.

Wacana soal aktivitas intelijen asing di Indonesia memang sempat disinggung Presiden Prabowo Subianto saat menjabat Menhan RI. Bahkan saat berbicara dalam Kongres Partai NasDem pada Agustus 2024, Prabowo menyebut intelijen asing mengamati kekuatan Indonesia pada Sumber Daya Alam (SDA) misalnya cadangan nikel, bauksit, dan emas. Dalam dunia politik, agen-agen rahasia disebut-sebut pernah terlibat dalam Pemilu pertama Indonesia pada 1955 hingga penumbangan Presiden Sukarno.

Ridlwan menjelaskan, operasi intelijen asing dalam konteks politik Indonesia sekarang ini juga masih berkutat pada isu penggulingan rezim. Lulusan pascasarjana Kajian Stratejik Intelijen Universitas Indonesia itu melihat fenomena tersebut melalui media sosial yang memprovokasi isu penggulingan Presiden Prabowo. “Ada beberapa akun yang dibuat lalu mengancam pemerintahan. Bisa saja akun itu dibuat intelijen asing, bisa saja disuruh kepentingan oligarki jahat yang merasa dirugikan oleh kabinet dan kerja keras Pak Prabowo hari ini,” kata Ridlwan.

Ridlwan Habib saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Ridlwan Habib saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Dalam konteks negara, Direktur The Indonesia Intelligence Institute itu meyakini kedutaan negara-negara di Indonesia menjalankan tugas operasi intelijen. Ia juga menilai tugas yang sama juga dilakukan kedutaan Indonesia di luar negeri. “Saya bisa memastikan hampir semua kedutaan itu mempunyai fungsi intelijen, apakah itu kedutaan Rusia, kedutaan Korea Selatan,” kata Ridlwan. “Mereka mencari cara untuk mendapatkan informasi. Caranya bagaimana? Mendekati wartawan, mendekati media, mendekati tokoh politik, anggota DPR, tokoh agama, ilmuwan, akademisi,” ujarnya.

Kendati demikian, Ridlwan menjelaskan aktivitas intelijen asing tersebut telah dimonitor lembaga intelijen dalam negeri seperti Badan Intelijen Nasional (BIN). “Konsepnya intelijen itu kan bagaimana caranya supaya tidak terjadi. Ketika dia tahu ada ancaman, rumusnya adalah perkalian dari intensi, niat jahat, dikalikan capability, kemampuan melakukan kejahatan, dikalikan circumstance, situasi. Kalau dalam salah satu ini bisa dibuat nol, maka otomatis ancamannya nol juga,” ucapnya.

Siapa Eddy Wijaya Sebenarnya, Begini Profilnya

Sosok Eddy Wijaya adalah seorang podcaster kelahiran 17 Agustus 1972. Melalui akun YouTube @EdShareOn, Eddy mewawancarai banyak tokoh bangsa mulai dari pejabat negara, pakar hukum, pakar politik, politisi nasional, hingga selebritas Tanah Air. Pria dengan khas lesung pipi bagian kanan tersebut juga seorang nasionalis yang merupakan aktivis perjuangan kalangan terdiskriminasi dan pemerhati sosial dengan membantu masyarakat lewat yayasan Wijaya Peduli Bangsa. Ia juga aktif di bidang olahraga dengan menjabat Ketua Harian Persatuan Olahraga Berkuda Seluruh Indonesia (Pordasi) Pacu dan juga pernah menjabat Wakil Ketua Umum Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PBSI) Jakarta Timur. Gagasan- gagasannya terbentuk karena kerja kerasnya untuk mandiri sejak usia 13 tahun hingga sukses seperti sekarang. Bagi Eddy, dunia kerja tidak semulus yang dibayangkan, kegagalan dan penolakan menjadi hal biasa. Hal itulah yang membuatnya memegang teguh tagline “Sukses itu hanya masalah waktu”.

Tags : #EdShareOn #RidlwanHabib #siapaeddywijaya #sosokeddywijaya #profileeddywijaya

Sutiyoso Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Sutiyoso Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Koperasi Merah Putih Harus Sesuai Data Masyarakat Desa

Koperasi Merah Putih Harus Sesuai Data Masyarakat Desa

Koperasi Merah Putih Harus Sesuai Data Masyarakat Desa

July 23, 2025
Hendri Satrio saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Hendri Satrio saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Founder KedaiKopi, Hendri Satrio menyayangkan pemerintah karena tidak memiliki data berupa profil lengkap desa seluruh Indonesia. Menurutnya, data itu sangat penting untuk menyesuaikan kebutuhan masyarakat desa terhadap program nasional khususnya Koperasi Merah Putih (KMP) yang diresmikan Pemerintahan Prabowo-Gibran sejak 21 Juli lalu.

“Ini kita ngomongin Koperasi Merah Putih ya. Ternyata kita tidak punya data-data profil desa yang berjumlah 80 ribu itu. Maksudnya, bukan cuma nama desa A, tapi desa A ini penduduknya berapa banyak? pekerjaannya apa saja? kebutuhannya apa saja? sehingga bisa disesuaikan dengan koperasinya,” kata Bung Hensa kepada Eddy Wijaya.

Hendri Satrio saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Hendri Satrio saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Bung Hensa mengatakan Koperasi Merah Putih (KMP) sangat bagus karena bercita-cita meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa dan kelurahan melalui penguatan ekonomi berbasis gotong royong dan kemandirian. Namun, bila datanya tidak ada akan rentan bermasalah. “Kalau bicara data, saya juga kaget, saya kira BPS punya, saya pikir juga BKKBN punya, atau Kementerian punya? Ternyata tidak punya,” kata Ketua Umum IKA FIKOM Universitas Padjajaran itu.

Akademisi kelahiran Jakarta, 23 Mei 1978 itu lantas menyarankan agar program tersebut dibarengi dengan rencana bisnis yang jelas. Hal itu penting untuk menjaga kemungkinan buruk seperti gagalnya masyarakat desa mengembalikan pinjaman yang diperoleh dari KMP. “Ini uang gede kan, bayangkan saja Rp3 sampai 5 miliar. Jadi benar tuh, pertanyaan DPR, mana business plan-nya? jangan sampai mereka meminjam tidak bisa mengembalikan, akhirnya disita-sita,” ujarnya.

Hendri Satrio saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Hendri Satrio saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Bung Hensa berharap pemerintah menjadikan program ini sebagai pendorong prioritas perbaikan data komprehensif masyarakat sebagai program nasional. “Memang fundamental data kita mesti diberesin, musti dibenerin,” ucapnya.

Siapa Eddy Wijaya Sebenarnya, Begini Profilnya

Sosok Eddy Wijaya adalah seorang podcaster kelahiran 17 Agustus 1972. Melalui akun YouTube @EdShareOn, Eddy mewawancarai banyak tokoh bangsa mulai dari pejabat negara, pakar hukum, pakar politik, politisi nasional, hingga selebritas Tanah Air. Pria dengan khas lesung pipi bagian kanan tersebut juga seorang nasionalis yang merupakan aktivis perjuangan kalangan terdiskriminasi dan pemerhati sosial dengan membantu masyarakat lewat yayasan Wijaya Peduli Bangsa. Ia juga aktif di bidang olahraga dengan menjabat Ketua Harian Persatuan Olahraga Berkuda Seluruh Indonesia (Pordasi) Pacu dan juga pernah menjabat Wakil Ketua Umum Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PBSI) Jakarta Timur. Gagasan- gagasannya terbentuk karena kerja kerasnya untuk mandiri sejak usia 13 tahun hingga sukses seperti sekarang. Bagi Eddy, dunia kerja tidak semulus yang dibayangkan, kegagalan dan penolakan menjadi hal biasa. Hal itulah yang membuatnya memegang teguh tagline “Sukses itu hanya masalah waktu”.

Tags : #EdShareOn #HendriSatrio #siapaeddywijaya #sosokeddywijaya #profileeddywijaya

Sutiyoso Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Sutiyoso Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Hendri Satrio: Ada Keresahan Soal Sepak Terjang Menteri-Menteri

Hendri Satrio: Ada Keresahan Soal Sepak Terjang Menteri-Menteri

Hendri Satrio: Ada Keresahan Soal Sepak Terjang Menteri-Menteri

July 23, 2025
Hendri Satrio saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Hendri Satrio saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

JAKARTA – Founder Lembaga Survei Kelompok Diskusi dan Kajian Opini Publik Indonesia (KedaiKOPI), Hendri Satrio merespons desakan publik tentang reshuffle sejumlah menteri di Kabinet Merah Putih. Ia menilai pemicu desakan tersebut adalah masalah komunikasi para menteri yang kerap menimbulkan polemik.

“Jadi sekarang ini yang paling banyak digaungkan masyarakat, kapan reshuffle? Saya yakin ada keresahan di masyarakat tentang sepak terjangnya menteri-menteri Pak Prabowo, terutama di bidang komunikasi. Sering sekali ada blunder atau penyampaian komunikasi yang membuat masyarakat resah,” ujar pria yang akrab disapa Bung Hensa tersebut saat berbincang dengan Eddy Wijaya dalam podcast EdShareOn yang tayang pada Rabu, 23 Juli 2025.

Menurut Bung Hensa, penilaian masyarakat terhadap menteri di kabinet Prabowo-Gibran tersebut sesuai fakta. Salah satunya terlihat dari pro dan kontra keputusan Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian yang memasukkan 4 pulau di dekat Kabupaten Singkil, Aceh, ke wilayah Sumatera Utara, meskipun akhirnya keempat pulau tersebut dikembalikan ke Aceh. “Terutama yang terakhir itu perdebatan pulau di Sumatera atau Aceh. Macam-macam lah, banyak hal yang kerap disampaikan menteri-menterinya Pak Prabowo,” katanya.

Hendri Satrio saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Hendri Satrio saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Desakan reshuffle kabinet kembali menguat jelang satu tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto yang jatuh pada Oktober 2025 mendatang. Bila dilakukan, ini akan menjadi reshuffle kedua setelah pencopotan Satryo Soemantri Brodjonegoro dari kursi  Mendikti Saintek pada Rabu, 19 Februari 2025. Prabowo juga telah menegaskan akan menyingkirkan para pejabat yang korup dan tidak setia kepada negara, saat berpidato pada peringatan Hari Lahir Pancasila, Senin, 2 Juni 2025. 

Kinerja sejumlah menteri juga menjadi catatan sejumlah lembaga seperti Centre of Economic and Law Studies (Celios). Dalam surveinya Januari 2025, Celios menyebutkan lima menteri dengan kinerja buruk yakni Menteri Hak Asasi Manusia (HAM) Natalius Pigai, Menteri Koperasi Budi Arie Setiadi, Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia, dan Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal Yandri Susanto.

Bung Hensa meminta Prabowo menimbang kembali keberlanjutan para menteri tersebut di kabinet Merah Putih, meskipun sebagian besar mereka berasal dari rezim Joko Widodo. “Kalau kita lihat justru yang memantik polemik juga karena dulunya mereka menteri-menterinya Pak Jokowi. (Misalnya) Bahlil, Budi Gunadi Sadikin, Budi Arie, Pak Tito.

Hendri Satrio saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Hendri Satrio saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Kemudian juga ada beberapa yang disinyalir didorong oleh Pak Jokowi misalnya Maruarar Sirait (Menteri Perumahan), dan lain-lain. Jadi memang rakyat (bertanya) mengapa Pak Prabowo tidak ganti-ganti?” kata dia.

Kendati demikian, Bung Hensa mengatakan, Presiden Prabowo tentu mempunyai objektivitas dalam menilai kinerja menteri-nya. Terbukti saat Prabowo melontarkan penilaiannya terhadap kinerja para pembantunya di hadapan sejumlah jurnalis dan Pimpinan Redaksi (Pemred) media beberapa waktu lalu. “Pada saat bertemu para Pemred dia menilai (kinerjanya) cukup 6 aja. Yang jelas dia pengen 7, atau 8 dan dia objektif bilang begitu,” kata jebolan Doktoral Bidang Riset dan Manajemen, Universitas Bina Nusantara itu.

Analis komunikasi politik tersebut juga yakin kemungkinan adanya sokongan politik dari rezim sebelumnya tidak akan menghalangi Prabowo untuk melakukan bersih-bersih di kabinetnya, kendati akan dilakukan secara perlahan. “Pak Prabowo memahami betul apa yang dia mau, dan dia tahu cara berterima kasih,” ucap Bung Hensa. 

Siapa Eddy Wijaya Sebenarnya, Begini Profilnya

Sosok Eddy Wijaya adalah seorang podcaster kelahiran 17 Agustus 1972. Melalui akun YouTube @EdShareOn, Eddy mewawancarai banyak tokoh bangsa mulai dari pejabat negara, pakar hukum, pakar politik, politisi nasional, hingga selebritas Tanah Air. Pria dengan khas lesung pipi bagian kanan tersebut juga seorang nasionalis yang merupakan aktivis perjuangan kalangan terdiskriminasi dan pemerhati sosial dengan membantu masyarakat lewat yayasan Wijaya Peduli Bangsa. Ia juga aktif di bidang olahraga dengan menjabat Ketua Harian Persatuan Olahraga Berkuda Seluruh Indonesia (Pordasi) Pacu dan juga pernah menjabat Wakil Ketua Umum Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PBSI) Jakarta Timur. Gagasan- gagasannya terbentuk karena kerja kerasnya untuk mandiri sejak usia 13 tahun hingga sukses seperti sekarang. Bagi Eddy, dunia kerja tidak semulus yang dibayangkan, kegagalan dan penolakan menjadi hal biasa. Hal itulah yang membuatnya memegang teguh tagline “Sukses itu hanya masalah waktu”.

Tags : #EdShareOn #HendriSatrio #siapaeddywijaya #sosokeddywijaya #profileeddywijaya

Sutiyoso Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Sutiyoso Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)