Mengungkap Dampak Lingkungan dan Upaya Penanganan Pemborosan Pangan

Mengungkap Dampak Lingkungan dan Upaya Penanganan Pemborosan Pangan

Mengungkap Dampak Lingkungan dan Upaya Penanganan Pemborosan Pangan

May 13, 2024
Nita Yulianis Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Nita Yulianis. (Foto: EdShareOn.com)

JAKARTA – Dalam podcast EdShareOn bersama Eddy Wijaya, Nita Yulianis mengungkapkan tentang ketahanan pangan Indonesia dan dampaknya terhadap lingkungan. Dari podcast EdShareOn ini, terungkap berbagai informasi penting yang menyoroti perubahan signifikan dalam ketahanan pangan serta tantangan yang dihadapi.

Menurut Nita Yulianis, ketahanan pangan Indonesia telah mengalami peningkatan yang signifikan. Data dari Food Security and Vulnerability Atlas (FSVA) menunjukkan penurunan jumlah kabupaten dan kota yang rentan terhadap masalah pangan. Selain itu, prevalensi kurang gizi juga mengalami penurunan, menandakan adanya perbaikan dalam akses pangan dan gizi masyarakat.

“Alhamdulillah memang capaian kita membaik. Jadi karena memang dari data peta ketahanan dan kerentanan pangan atau FSVA kita sudah ada penurunan. Jadi ada sebelumnya di 2022 itu ada 74 kabupaten kota yang rentan rawan pangan. Pada tahun ini sudah tinggal 68 kabupaten kota, jadi sudah ada penurunan di jumlah kabupaten kota rawan pangannya,” jelas Nita.

Nita Yulianis Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Nita Yulianis Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Namun tantangan tidak berhenti di situ. Perubahan iklim ekstrem menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi ketahanan pangan, dengan banyak panen gagal akibat kondisi cuaca yang tidak menentu. Selain itu, Nita Yulianis juga menyoroti masalah pemborosan pangan yang masih menjadi persoalan serius.

“Jadi kita harus bijak makanya tadi kita dalam kerangka selamatkan pangan ini yang menarik adalah data menurut FAO jadi sepertiga dari pangan yang diproduksi itu terbuang,” tuturnya.

Dengan mengadopsi gerakan ‘Selamatkan Pangan’, masyarakat dapat berkontribusi pada pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) terutama dalam mengurangi kelaparan (SDGs 2) dan meminimalkan food waste (SDGs 12).

Nita Yulianis Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Nita Yulianis Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

“Jangan sampai ada lagi yang kelaparan. Jadi kita mengawinkan dua SDGs ini, SDGs 12 sama SDGs 2. Jadi melalui zero waste kita enhunger gitu karena kita juga perlu memahami zero waste itu bukan limbah,” lanjutnya.

Pentingnya kesadaran individu dalam mengurangi pemborosan pangan juga disoroti dalam percakapan ini. Nita Yulianis menekankan pentingnya bijak dalam berbelanja dan mengelola persediaan pangan di rumah. “Jadi tanpa kita sadari barangkali mungkin bukan maksud kita membuang pangan tapi kita beli dengan tidak bijak sehingga akhirnya terbuang sia-sia,” ungkap Nita Yulianis.

Tags :

Recent Posts

Sutiyoso Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Sutiyoso Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Harapan Sutiyoso Jika Ibukota Pindah ke IKN

Harapan Sutiyoso Jika Ibukota Pindah ke IKN

Harapan Sutiyoso Jika Ibukota Pindah ke IKN

May 10, 2024
Sutiyoso Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Sutiyoso. (Foto: EdShareOn.com)

JAKARTA – Dalam podcast EdShareOn bersama Eddy Wijaya, mantan Gubernur DKI Jakarta, Sutiyoso menguraikan tantangan dan visi transformasinya dalam menghadapi beragam permasalahan di Jakarta. Salah satu isu utama yang dibahas adalah banjir, yang telah menjadi momok bagi Jakarta selama bertahun-tahun.

Sutiyoso mengungkapkan kompleksitas geografis Jakarta, dengan 13 sungai yang melintas dan 30% permukaan tanahnya berada di bawah permukaan laut. Namun ia tidak hanya sekadar mengidentifikasi masalah, tetapi juga menawarkan solusi komprehensif, termasuk pembangunan waduk-waduk raksasa di hulu sungai untuk mengurangi risiko banjir.

Sutiyoso Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Sutiyoso Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

“Jakarta ini dilalui 13 sungai. Lalu 30% permukaan tanah Jakarta itu di bawah permukaan laut. Itu dipasang pompa air disedot dibuang ke sungai yang terdekat. Zaman saya sudah ada 72 pompa air sekarang mungkin sudah ratusan ditambah gubernur-gubernur berikutnya. Terus yang di sungai ini kan dibikin namanya kanal. Di sana dibikin waduk-waduk raksasa gitu untuk membelokkan sungai itu ke waduk dulu. Itu yang 13 ini kita belokkan ke tiga atau empat waduk raksasa gitu. Pada saat musim hujan deras itu penampungan air, pada saat musim kemarau dia bisa jadi irigasi ya untuk rekreasi untuk sport bisa gitu jadi multifungsi sebenarnya,” jelasnya.

Namun, transformasi Jakarta tidak hanya berkutat pada masalah banjir. Sutiyoso juga membahas konsep megapolitan yang mencakup integrasi Jakarta dengan kota-kota satelit di sekitarnya, seperti Depok, Tangerang, Bogor, dan Bekasi. Konsep ini, menurutnya, bukan hanya tentang pengalihan fungsi ibu kota, tetapi juga mengatasi masalah kepadatan penduduk dan kemacetan yang semakin parah.

“Aku meniru konsep megapolitan itu antar itu menggabungkan Jakarta dengan kota-kota kecil di sekitarnya seperti Depok, Tangerang, Bogor dan Bekasi secara tata ruang. Ingat secara tata ruang bukan secara administrasi,” tuturnya.

Sutiyoso Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Sutiyoso Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Di tengah wacana tentang pemindahan ibu kota ke Ibu Kota Nusantara (IKN), Sutiyoso menekankan pentingnya menjaga Jakarta sebagai pusat kegiatan ekonomi, pendidikan, dan perdagangan. Ia menyoroti multifungsinya Jakarta sebagai magnet bagi orang-orang dari berbagai daerah, yang akan sulit tergantikan jika fungsi-fungsi tersebut dipindahkan ke tempat lain.

“Saya berharap ya kalaupun ibukota pindah IKN itu hanya membawa satu fungsi saja yaitu fungsi pusat pemerintahan. Jangan lagi membawa pusat pendidikan, pusat ekonomi dan perdagangan. Menurut pikiran saya itu keliru. Kenapa? Karena mengemban multifungsi sehingga menjadi padat dan jadi magnet karena fungsi itu adalah kehidupan,” jelasnya.

Tags :

Kisah Perjuangan Sutiyoso dalam Menyelesaikan Kemacetan di Jakarta

Kisah Perjuangan Sutiyoso dalam Menyelesaikan Kemacetan di Jakarta

Kisah Perjuangan Sutiyoso dalam Menyelesaikan Kemacetan di Jakarta

May 7, 2024
Sutiyoso Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Sutiyoso. (Foto: EdShareOn.com)

JAKARTA – Dalam podcast EdShareOn bersama dengan Eddy Wijaya, terungkap Sutiyoso, mantan Gubernur DKI Jakarta, menjadi salah satu tokoh utama dalam penciptaan sistem transportasi massal di Jakarta. Pria yang akrab disapa Bang Yos ini menceritakan tentang perjuangannya mengatasi kemacetan di Jakarta.

Sebagai Gubernur pada periode pertamanya (1997-2002), Sutiyoso dihadapkan pada tantangan besar dalam menjaga ibu kota tetap berfungsi di tengah kondisi krisis yang melanda. Dan ia pun berhasil bertahan. Setelah masa-masa kritis berhasil dilewati, Sutiyoso kembali memikirkan masalah-masalah krusial, termasuk kemacetan yang menjadi momok utama.

Sutiyoso Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Sutiyoso Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Eddy Wijaya memperkuat pandangan tersebut dengan menyoroti kepiawaiannya dalam menghadapi tantangan tersebut. Dalam pembicaraannya, Sutiyoso menegaskan bahwa untuk menyelesaikan masalah kemacetan, tidak cukup hanya dengan keahlian militer. Oleh karena itu, ia membentuk tim yang terdiri dari para ahli transportasi, doktor, dan profesor dari berbagai universitas. Tim ini bekerja keras dalam melakukan penelitian mendalam tentang penyebab kemacetan Jakarta.

“Saya latar belakangnya adalah militer. Jangan merasa jadi pemimpin itu kita tahu semuanya. Jangan pernah merasa begitu, saya mungkin kalau strategi pertempuran mungkin saya menguasainya tetapi masalah macet ini ada orang yang lebih ngerti. Siapa itu? Orang-orang seperti doktor profesor yang punya latar belakang transpotasi. Oleh karena itu saya kumpulkan dari berbagai universitas terus saya bikin tim,” jelas Sutiyoso.

Sutiyoso Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Sutiyoso Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Sutiyoso menjelaskan bahwa pemimpin sejati tidak boleh menghindari tanggung jawab atau menyerahkan masalah kepada penerusnya. Dalam kasus kemacetan Jakarta, ia menyadari bahwa jika tidak segera ditangani, masalah tersebut akan menjadi semakin parah. Oleh karena itu, Sutiyoso dan timnya merancang sebuah konsep yang komprehensif untuk mengatasi kemacetan, yang meliputi integrasi berbagai moda transportasi, seperti MRT, busway, LRT, dan bahkan transportasi air.

“Jadi satu harus yang kita harus punya kendaraan jenis yang makro sifatnya. Artinya sekali angkut banyak diangkut. Oleh karena itu kita berencana membuat MRT, busway, LRT dan waterway, Semua moda ini akan saling mengakses. Saya janjikan kendaraan harus representatif. Apa kriteria representatif? Satu kendaraan harus nyaman, kendaraan ini harus aman, yang ketiga kendaraan ini harus tepat waktu dan yang keempat harus terjangkau tiketnya,” ungkap Sutiyoso.

Tags :

Sutiyoso, dari Militer hingga Gubernur DKI Jakarta

Sutiyoso, dari Militer hingga Gubernur DKI Jakarta

Sutiyoso, dari Militer hingga Gubernur DKI Jakarta

May 6, 2024
Sutiyoso Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Sutiyoso. (Foto: EdShareOn.com)

JAKARTA – Dalam podcast EdShareOn bersama Eddy Wijaya, Sutiyoso membagikan cerita menarik tentang perjalanan kariernya yang penuh dengan tantangan. Salah satu momen menarik adalah saat ia ditawari posisi Gubernur DKI Jakarta.

Pria yang akrab disapa Bang Yos ini awalnya ditujukan untuk menempati sebuah promosi. Namun ternyata keputusan itu beralih kepada orang lain. Suatu ketika, Panglima Angkatan Darat mengajukan namanya untuk menjadi calon Gubernur DKI Jakarta.

Sutiyoso Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Sutiyoso Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

“Saya dipanggil 06.30 pagi di kantor Pangab Merdeka Barat. Saya rumah dinas di Menteng jadi dekat sekali. Saya disuruh untuk menggantikan Suryadi Sudirja,” jelas Bang Yos.

Meskipun sempat merasa tidak cocok dengan posisi tersebut, Bang Yos akhirnya menerima tawaran tersebut. Namun, ia tetap melakukan pertimbangan yang matang sebelum menerima tawaran tersebut.

Sutiyoso Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Sutiyoso Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

“Aku akhirnya terbang ke Semarang untuk minta pendapat kakak saya nomor satu. Beliau punya pengalaman sebagai wakil gubernur dua kali di Jawa Tengah. Kenapa dua kali? Karena yang kedua, beliau dipromosikan jadi gubernur di Kalimantan Barat tapi keberatan karena anaknya sudah pindah semua ke Semarang,” cerita Bang Yos.

Setelah pertimbangan yang matang, Bang Yos akhirnya menerima tawaran tersebut. Namun, ia menghadapi berbagai tantangan dan dinamika dalam menjalankan tugasnya sebagai Gubernur DKI Jakarta. “Akhirnya saya mencalonkan tanpa promosi dan kampanye. Aku jadi gubernur pasca kerusuhan 5 Mei, itu khan kocar-kacir menghadapi orang yang liar dan itu khan masa transisi,” jelasnya.

Tags :

Strategi Damai Saat Menghadapi Pergerakan GAM Din Minimi

Strategi Damai Saat Menghadapi Pergerakan GAM Din Minimi

Strategi Damai Saat Menghadapi Pergerakan GAM Din Minimi

May 6, 2024
Sutiyoso Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Sutiyoso. (Foto: EdShareOn.com)

JAKARTA – Ketika berbincang-bincang dengan Eddy Wijaya di podcast EdShareOn, Sutiyoso membagikan pengalaman uniknya dalam menghadapi Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Sebagai seorang perwira militer, pria yang akrab disapa Bang Yos ini memperlihatkan bahwa tidak selalu diperlukan kekerasan untuk menangkap buronan.

Saat itu, pria kelahiran Semarang ini menjabat sebagai Kepala Badan Intelijen. Ia dipercaya untuk mengatasi pergerakan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) Din Minimi di Aceh.

Dalam menjalankan tugasnya, Bang Yos tidak pernah melepaskan peluru. Pendekatan yang digunakannya adalah melalui komunikasi dan negosiasi. “Saya tekniknya selalu soft approach. Saya lakukan pendekatan damai dulu kecuali saya tidak berhasil,” ujarnya.

Sutiyoso Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Sutiyoso Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Melalui serangkaian percakapan telepon, Bang Yos berhasil membangun hubungan yang kuat dengan Din Minimi. “Setiap kali telepon, saya tidak hanya sekedar ngomong, tapi untuk menggali soal kondisi dia. Kondisi fisiknya, kondisi psikologisnya seperti apa, untuk saya kenali secara utuh,” ungkap Bang Yos.

Setelah serangkaian percakapan yang panjang, Bang Yos berhasil mengajak Din Minimi untuk bertemu secara langsung. Pertemuan tersebut berlangsung di sebuah gubuk kecil di hutan belantara. Dengan keberanian dan kesabaran, Bang Yos berhasil meyakinkan Den Minimi untuk kembali ke Republik dan menyerahkan senjata.

Sutiyoso Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Sutiyoso Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Proses tersebut tidaklah mudah dan penuh dengan tantangan. Namun, akhirnya, segala usaha Bang Yos membuahkan hasil. GAM studio untuk berunding dan menerima amnesti yang ditawarkan oleh pemerintah.

“Ketika pagi ia baru final menyerah. Dengan berat hati akhirnya saya yakinkan dia dan kemudian dia setuju. Kemudian saat pagi semuanya cerah dan anak-anak saya suruh kembali sekolah. Ada yang kembali membantu orangtuanya di sawah,” ungkapnya.

Tags :

Kisah Unik di Balik Kesuksesan Sutiyoso, Sempat ‘Kucing-Kucingan’ dengan Sang Ibu

Kisah Unik di Balik Kesuksesan Sutiyoso, Sempat ‘Kucing-Kucingan’ dengan Sang Ibu

Kisah Unik di Balik Kesuksesan Sutiyoso, Sempat ‘Kucing-Kucingan’ dengan Sang Ibu

May 2, 2024
Sutiyoso Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Sutiyoso. (Foto: EdShareOn.com)

JAKARTA – Dalam percakapan di podcast EdShareOn bersama Eddy Wijaya, Sutiyoso yang lebih akrab disapa Bang Yos menceritakan tentang perjalanan kariernya yang membawanya menuju kesuksesan. Sutiyoso menceritakan bagaimana ia berhasil melewati ujian-ujian hidupnya, termasuk saat ia berusaha lolos masuk Akademi Militer. Bahkan untuk masuk ke Akademi Militer, Bang Yos harus ‘kucing-kucingan’ dengan sang ibu.

“Caranya gimana supaya nggak ketahuan ibu saya? Saya pakai alamat teman aku. Jadi kalau saya ada panggilan itu ibuku saya nggak ngerti,” katanya.

Bang Yos berhasil lolos ujian dan dirinya berhak mengikuti tahap tes selanjutnya. “Saat tes pertama di Kodam Semarang nggak ada masalah. Tapi tes berikutnya harus ke Bandung. Waktu pergi ke Bandung, aku bilang kalau aku lagi vakansi liburan dan saya mau jalan-jalan main ke Bandung sama teman-teman dan akhirnya lolos,” jelasnya.

Sutiyoso Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Sutiyoso Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Namun, perjalanan Bang Yos tidaklah mudah. Pasalnya ketika lolos tes terakhir, ia harus pergi ke Magelang. “Waktu tes saringan yang ketiga, tes terakhir ini di Bandung lagi tapi dengan catatan yang lulus tes terakhir tidak dipulangkan lagi tapi ke Magelang,” lanjutnya.

Bang Yos pun mengaku jika dirinya harus membuat pilihan yang sulit. “Iya langsung ke Magelang. Wah itu terjadi gejolak pikirannya dan pilihannya cuma dua saja. Aku pamit nanti nggak boleh, udah saringan yang terakhir nih. Kalau aku nggak pamit, aku nggak dapat uang sama sekali tapi aku pilih ini,” tutur pria kelahiran 6 Desember 1944 ini.

Pada podcast EdShareOn ini, Bang Yos juga mengungkap alasannya mengapa sang ibu tidak mengijinkannya untuk terjun ke dunia militer. “Kakak saya yang pertama itu mahasiswa agama, pasca kemerdekaan itu kan terjadi revolusi. Kemudian Belanda masuk lagi dengan sekutu segala macam. Nah Kakak saya ini jadi tentara pelajar otomatis sehingga ia kuliah sambil membawa senjata,” tutur Sutiyoso.

Sutiyoso Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Sutiyoso Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

“Nah kakak saya gitu, jadi ibu saya itu dua kali tahlilan. Kakak saya namanya khan Suparto dan tiba-tiba ada berita Suparto mati gitu dari mulut ke mulut. Dia khan gerilnya di daerah mana Ambarawa dan Klaten. Ibu saya sudah nangis-nangis, ternyata dia pulang lagi. Ternyata Suparto lain. Nah itu terjadi hingga dua kali gitu. Nah gara-gara itu trauma lah,” ungkapnya.

Meskipun telah mencapai puncak karirnya sebagai Pangdam Jaya, Bang Yos tetap merendah dan mengakui bahwa kesuksesannya berkat kesempatan yang diberikan kepadanya. “Saya ingin mengatakan kalau orang lain mendapatkan kesempatan juga, mungkin mereka akan mengerjakannya dan menghasilkan yang lebih baik dari saya. Ini kan hanya masalah kesempatan saja, saya hanya ingin mengatakan saya nggak bisa mengklaim saya itu orangnya hebat, ini karena kesempatan,” ujarnya.

Tags :

Perjalanan Inspiratif Sutiyoso, dari Keterbatasan Menuju Kesuksesan

Perjalanan Inspiratif Sutiyoso, dari Keterbatasan Menuju Kesuksesan

Perjalanan Inspiratif Sutiyoso, dari Keterbatasan Menuju Kesuksesan

April 30, 2024
Sutiyoso Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Sutiyoso. (Foto: EdShareOn.com)

JAKARTA – Dalam sebuah perbincangan di podcast EdShareOn, Eddy Wijaya, ketua umum dari Yayasan Wijaya Peduli Bangsa, duduk bersama mantan Gubernur DKI Jakarta, Sutiyoso, yang akrab dipanggil Bang Yos. Pembicaraan mereka bukan hanya sekedar retrospeksi hidup, tetapi juga cerminan perjuangan dari kehidupan yang keras menuju kesuksesan.

Siapa yang menyangka jika Sutiyoso mempunyai cerita hidup yang menginspirasi, berbagi pengalaman tentang masa kecilnya yang penuh perjuangan. Sebagai anak keenam dari delapan bersaudara, Bang Yos menceritakan tentang masa-masa sulit di keluarganya. Meskipun dari keluarga yang sederhana, semangat dan kegigihan orangtuanya dalam mencari nafkah mengilhami perjalanan hidupnya.

Sutiyoso Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Sutiyoso Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

“Masa kecil saya penuh dengan perjuangan. Orangtua saya adalah seorang guru yang juga merangkap kepala sekolah di desa. Meskipun hidup dalam keterbatasan, orangtua saya tetap gigih bekerja untuk menyekolahkan kami semua,” ungkap Sutiyoso.

Dalam perbincangan tersebut, Sutiyoso juga mengungkapkan bahwa saat kecilnya, daging kambing menjadi sesuatu yang langka. Meskipun orangtuanya punya hewan ternak, namun Bang Yos dan keluarganya jarang sekali menikmati daging kambing karena kebutuhan ekonomi yang mengharuskan mereka menjual hasil ternak.

Sutiyoso Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Sutiyoso Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Namun dari kesulitan itu, Sutiyoso belajar untuk bersyukur dan menghargai setiap nikmat yang diberikan. “Saya dari kecil selalu bersyukur. Melihat ke bawah, saya menyadari masih banyak yang lebih kurang dari saya. Kondisi saya mengajarkan saya untuk selalu bersyukur,” tutur Bang Yos.

Kisah perjuangan Sutiyoso juga mencapai puncaknya saat ia memutuskan untuk mendaftar di Akademi Militer. “Setelah lulus SMA akhirnya saya kuliah. Kuliah yang dipaksakanlah gitu, hati saya nggak di situ. Akhirnya saya diam-diam mencari sekolah yang gratis saja ya nggak bayar. Diam-diam saya daftar di Akademi Militer,” ungkapnya.

Tags :

Tanggapan Bijak Ustaz Zacky Mirza Soal Kemajuan Teknologi

Tanggapan Bijak Ustaz Zacky Mirza Soal Kemajuan Teknologi

Tanggapan Bijak Ustaz Zacky Mirza Soal Kemajuan Teknologi

April 25, 2024
Ustaz Zacky Mirza di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Ustaz Zacky Mirza. (Foto: EdShareOn.com)

JAKARTA – Dalam podcast EdShareOn, Eddy Wijaya dan Ustaz Zacky Mirza membahas tentang kemajuan teknologi dalam menjalankan peran dakwahnya. Sebagai seorang pendakwah yang dikenal luas, Ustaz Zacky Mirza menggambarkan betapa pentingnya untuk tetap terhubung dengan perkembangan zaman, terutama dalam era digital yang semakin maju.

Menanggapi pertanyaan Eddy Wijaya tentang upaya Ustaz Zacky Mirza dalam mengikuti perkembangan zaman dengan teknologi. “Saya termasuk Ustaz yang update. AI saya pahamlah gitu. Jadi kalau untuk zoom itu saya sudah nggak gaptek,” jelas Ustaz Zacky Mirza.

Ustaz Zacky Mirza di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Ustaz Zacky Mirza di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Ustaz kelahiran 8 November 1979 ini juga berbagi pengalamannya dalam mengadopsi teknologi sejak dulu. “Saya ingat dulu masa transisi dari satu handphone yang konvensional ke handphone BlackBerry Messenger. Itu ada masa transisi kan? Itu ustaz-ustaz belum ada yang pakai BlackBerry saat itu saya sudah pakai duluan,” ungkapnya.

Selain itu, Ustaz Zacky Mirza juga membagikan pandangannya tentang kemungkinan dakwah melalui platform digital yang lebih canggih di masa depan. “Saya pernah ngisi acara zoom hologram. Waktu di Malaysia jadi seolah-olah tapi dia memang masih pecah-pecah dan masih patah-patah,” ujarnya.

Ustaz Zacky Mirza di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Ketika ditanya tentang pesan untuk generasi muda menghadapi teknologi, Ustaz Zacky Mirza memberikan pesan yang bijak. “Manfaatkanlah teknologi untuk kebaikan dan mengedukasi diri kita. Belajarlah dari siapapun, kebaikan itu enggak boleh kita pilah-pilih,” ungkapnya.

Tags :

Pandangan Ustaz Zacky Mirza tentang Peran Dakwah dan Sertifikasi

Pandangan Ustaz Zacky Mirza tentang Peran Dakwah dan Sertifikasi

Pandangan Ustaz Zacky Mirza tentang Peran Dakwah dan Sertifikasi

April 25, 2024
Ustaz Zacky Mirza di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Ustaz Zacky Mirza. (Foto: EdShareOn.com)

JAKARTA – Dalam podcast EdShareOn antara Eddy Wijaya dan Ustaz Zacky Mirza, telihat pandangan tentang peran dakwah dalam masyarakat. Sebagai seorang ustaz yang dikagumi, Ustaz Zacky Mirza menunjukkan bahwa dakwah tidak selalu harus dilakukan dalam konteks formal.

“Be yourself aja. Dakwah itu bisa ringan banget. Dakwah itu bisa di mana aja dan paling penting, dakwah dimulai dari diri sendiri. Jadi mulailah berdakwah dari diri kita sendiri dan kalangan terdekat. Berdakwahlah ketika ada teman-teman kita contohin minum sambil duduk itu kan sunahnya Rasul,” kata Ustaz Zacky Mirza, menekankan pentingnya menjadi diri sendiri dalam berdakwah.

Ustaz Zacky Mirza di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Ustaz Zacky Mirza di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Pembahasan tentang sertifikasi untuk pendakwah pun terangkum dalam percakapan ini. Ustaz Zacky Mirza menjelaskan bahwa ia merupakan salah satu dari golongan pertama yang menerima sertifikat. Proses sertifikasi tidak semata-mata menguji keilmuan, tetapi juga perilaku dan pandangan yang diemban oleh pendakwah.

“Saya sih sudah Alhamdulillah sudah ya. Saya termasuk golongan pertama yang dikasih sertifikat. Ditesnya seperti baca Al-Quran, dites terus ujian dan ujiannya itu bukan lebih kepada ujian intelek. Tapi ujian pilihan-pilihan ketika contoh ketika anda salat di masjid yang rata-rata jemahnya Muhammadiyah terus bagaimana sikap anda,” tutur Ustaz Zacky Mirza.

Ustaz Zacky Mirza di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Namun, ia juga menyoroti bahwa label ‘Ustaz’ seringkali diberikan oleh masyarakat tanpa mempertimbangkan kualifikasi yang sebenarnya. Ustaz Zacky Mirza juga menyampaikan pandangannya tentang konsep ‘Ustaz’ dalam konteks Mesir, di mana istilah tersebut sebenarnya merujuk pada profesor.

“Sekarang pun ya kalau ada wacana sertifikasi agak susah ya karena Ustaz ini kan labelingnya dari masyarakat. Bahkan ada Ustaz yang baru lulus Pesantren ngajarin TPA kita manggilnya udah Ustaz. Padahal di Mesir sendiri, Ustaz itu artinnya profesor,” ungkap Ustaz Zacky Mirza.

Tags :

Tanggapan Ustaz Zacky Mirza Soal Ustaz Flexing

Tanggapan Ustaz Zacky Mirza Soal Ustaz Flexing

Tanggapan Ustaz Zacky Mirza Soal Ustaz Flexing

April 24, 2024
Ustaz Zacky Mirza di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Ustaz Zacky Mirza. (Foto: EdShareOn.com)

JAKARTA – Dalam podcast EdShareOn bersama Eddy Wijaya, Ustaz Zacky Mirza berbagi pandangannya tentang fenomena ‘Ustaz flexing’. Bagi Ustaz Zacky, hal ini adalah sebuah pilihan yang masing-masing individu, dan ia yakin jika ustaz tersebut mempunyai pertimbangan masing-masing.

“Itu pilihan ya. Masalah kita mau ke politik sebagai pendakwah itu pilihan. Kita ingin menunjukkan eksposur ke masyarakat bahwa kita Alhamdulillah dikasih rumah itu juga pilihan. Masing-masing saya yakin punya alasan yang tidak sama,” kata Ustaz Zacky Mirza.

Ustaz Zacky Mirza di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Ustaz Zacky Mirza di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Ustaz Zacky Mirza mengungkapkan bahwa dia lebih memilih untuk tidak terlalu mengekspos kehidupan pribadinya di media sosial. Sebagai contoh, dia menceritakan bagaimana dia dan istrinya memiliki pendapat yang berbeda tentang kaca di rumah mereka.

“Guru saya pernah bilang nggak selamanya orang yang iri itu dosa, bisa jadi yang lebih berdosa tuh yang bikin iri. Jadi sebaik-baiknya harta itu harta yang disedekahkan bukan yang kita tunjukkan ke orang,” papar Ustaz Zacky.

Ustaz Zacky Mirza di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Bagi Ustaz Zacky, kekayaan yang sejati adalah yang diberikan untuk kebaikan, bukan yang dipamerkan di media sosial. Dia mengutip kisah tentang Rasulullah yang memilih menjadi rasul dan hamba, daripada menjadi raja yang kaya raya.

“Saat didatangi oleh malaikat Jibril, Rasulullah disuruh antara menjadi Rasul sekaligus raja atau Rasul sekaligus hamba. Kalau Rasul sekaligus raja, ini jauh lebih nikmat karena akan dijadikan Raja lebih kaya dari Nabi Sulaiman. Lebih kaya dari raja di Romawi dan Persia tapi Rasul meneteskan air mata dan beliau menyampaikan lebih memilih untuk menjadi rasul dan hamba. Jadi itu yang mejadi prinsip hidup saya,” tambahnya.

Tags :