Todung Mulya Lubis, Kekhawatiran atas Koalisi Gemuk dan Ketiadaan Oposisi dalam Demokrasi Indonesia

Todung Mulya Lubis, Kekhawatiran atas Koalisi Gemuk dan Ketiadaan Oposisi dalam Demokrasi Indonesia

Todung Mulya Lubis, Kekhawatiran atas Koalisi Gemuk dan Ketiadaan Oposisi dalam Demokrasi Indonesia

June 4, 2024
Todung Mulya Lubis Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Todung Mulya Lubis. (Foto: EdShareOn.com)

JAKARTA – Dalam episode terbaru podcast EdShareOn, Eddy Wijaya berbincang dengan Todung Mulya Lubis mengenai dinamika politik terkini di Indonesia. Percakapan tersebut menyentuh isu koalisi politik yang semakin gemuk dan dampaknya terhadap demokrasi Indonesia.

Todung Mulya Lubis menyoroti pertemuan antara Prabowo Subianto dengan Surya Paloh dan Muhaimin Iskandar sebagai indikasi semakin menguatnya koalisi pendukung pemerintah. “Kelihatannya seperti itu, ya,” ujar Todung. “Tapi yang buat saya tidak menyenangkan adalah ketika koalisi gemuk itu terbentuk, dia akan bisa membuat apapun yang mereka kehendaki, termasuk membuat undang-undang dan kebijakan,” lanjutnya.

Todung Mulya Lubis Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Todung Mulya Lubis Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Kekhawatiran utama Todung adalah hilangnya check and balance dalam pemerintahan jika oposisi tidak ada. “Tanpa oposisi itu bukan demokrasi. Jadi itu pemerintahan yang tidak ada check and balance,” tegasnya. Menurutnya, demokrasi yang berkelanjutan membutuhkan oposisi yang kuat sebagai kekuatan penyeimbang. Tanpa oposisi, kekuasaan bisa berjalan tanpa kontrol yang memadai, yang berpotensi merusak sistem demokrasi itu sendiri.

Ketika ditanya apakah PDI-P cukup sebagai oposisi, Todung menjawab bahwa meskipun PDI-P adalah partai terbesar, keberadaannya saja tidak cukup untuk menjadi oposisi yang efektif. “Menurut saya sih perlu ada kekuatan oposisi yang meaningful. Kalau kekuatan oposisinya hanya sekedar oposisi tanpa didukung oleh jumlah suara yang memadai, itu tidak akan efektif,” ujarnya.

Todung Mulya Lubis Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Todung Mulya Lubis Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Todung juga mengungkapkan kekhawatirannya mengenai semua partai yang ingin bergabung dengan pemerintahan. “Kalau itu yang terjadi, kita akan menghadapi masa depan yang sulit kalau tidak ada oposisi sama sekali,” ungkap Todung Mulya Lubis.

Tags :

Recent Posts

Sutiyoso Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Sutiyoso Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Alasan Sutiyoso Membuat Museum Bang Yos

Alasan Sutiyoso Membuat Museum Bang Yos

Alasan Sutiyoso Membuat Museum Bang Yos

May 31, 2024
Sutiyoso Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Sutiyoso. (Foto: EdShareOn.com)

JAKARTA – Sutiyoso, mantan Gubernur DKI Jakarta yang kini aktif di Partai NasDem, baru-baru ini menjadi bintang tamu di podcast EdShareOn yang dipandu oleh Eddy Wijaya. Dalam wawancara tersebut, Sutiyoso berbagi cerita tentang perjalanan politiknya, pembuatan museum pribadi, dan pesan moral untuk generasi muda.

Sutiyoso mengungkapkan bahwa meskipun telah meninggalkan politik, semangatnya untuk berkontribusi masih kuat. Ia bergabung dengan Partai NasDem atas ajakan Pak Siswono Yudo Husodo dan setelah bertemu dengan Ketua Umum NasDem, Surya Paloh. “Saya merasa nyaman di situ,” kata Sutiyoso, yang kini menjabat sebagai anggota Dewan Pertimbangan Partai.

Sutiyoso Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Sutiyoso Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Sutiyoso juga menceritakan alasan di balik pendirian Museum Bang Yos. Ia ingin mewariskan pengalamannya kepada generasi berikutnya melalui medium yang lebih mudah dipahami dan menarik. “Pengalaman adalah guru terbaik,” tegasnya, menjelaskan bahwa museum tersebut dilengkapi dengan visual dan foto-foto untuk memberikan bukti autentik dari kisah-kisahnya.

Museum ini dirancang untuk menginspirasi anak-anak dari berbagai latar belakang, khususnya mereka yang kurang beruntung. Sutiyoso berharap bahwa dengan melihat pencapaiannya, anak-anak ini akan termotivasi untuk meraih kesuksesan meskipun berasal dari latar belakang yang sederhana. “Miskin bukanlah malapetaka, itu adalah tantangan,” ujarnya.

Sutiyoso Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Sutiyoso Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Dalam wawancara tersebut, Sutiyoso juga menekankan pentingnya keyakinan dan tekad kuat bagi generasi muda. Ia berbagi kisah masa kecilnya yang penuh tantangan, dari harus berpindah-pindah sekolah hingga menjalani kehidupan dengan fasilitas yang minim. Namun, semangatnya yang pantang menyerah membawanya pada kesuksesan.

Tags :

OC Kaligis Cerita Soal Produktivitas Menulis dan Pengalaman Karier Internasional

OC Kaligis Cerita Soal Produktivitas Menulis dan Pengalaman Karier Internasional

OC Kaligis Cerita Soal Produktivitas Menulis dan Pengalaman Karier Internasional

May 27, 2024
OC Kaligis Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

OC Kaligis. (Foto: EdShareOn.com)

JAKARTA – Dalam sebuah episode terbaru di podcast EdShareOn yang dipandu Eddy Wijaya, OC Kaligis berbagi kisah tentang produktivitasnya dalam menulis buku dan pengalaman karier internasionalnya. Dalam wawancara bersama Eddy Wijaya, pengacara kelahiran 19 Juni 1942 ini mengungkapkan bahwa hingga saat ini ia telah menulis 125 buku dan masih berencana untuk menulis lebih banyak lagi.

“Saya lagi bikin buku tentang pedofilia karena saya orang pertama yang membela dan membongkar kasus pedofilia JIS,” kata Kaligis. Ia menjelaskan bahwa proses penulisan buku menjadi lebih mudah karena didasarkan pada pengalaman nyata, analisis hukum, dan keputusan pengadilan yang pernah dihadapinya.

OC Kaligis Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
OC Kaligis Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Meskipun berada di penjara, Kaligis tetap produktif, menulis 17 buku selama masa tahanannya. “Gampang sih karena kan saya buat pengalaman jadi matter of fact, legal basis, legal analisis dan keputusan. Sudah ada bahannya khan,” ungkapnya. Dengan disiplin dan dedikasi, OC Kaligis mampu memanfaatkan setiap kesempatan untuk menulis.

Kaligis juga dikenal sebagai pengacara yang sering melakukan pembelaan di luar negeri. Ia menceritakan pengalaman menangani kasus Hendra Rahardja di Australia serta berbagai kasus lain yang melibatkan penanaman modal asing. “Kebanyakan kalau saya, sehubungan dengan penanaman modal asing karena kebanyakan mereka tanam modal di sini,” jelasnya.

OC Kaligis Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
OC Kaligis Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Pengalaman lainnya termasuk bertemu dengan Presiden Obama di Gedung Putih. “Saya terharu setengah mati enggak sangka seorang pengacara yang mungkin nggak ada apa-apanya bisa diterima,” kenangnya. Pertemuan ini terjadi setelah Kaligis mengirimkan buku-bukunya untuk studi perbandingan hukum Asia di Amerika Serikat.

Dalam podcast EdShareOn, OC Kaligis juga membahas berbagai kasus menarik yang pernah ditanganinya, termasuk kasus Luna Maya dan Lukas Enembe. Ia menyatakan bahwa banyak masalah hukum yang bercampur dengan politik, yang menambah kompleksitas kasus-kasus yang ditanganinya. OC Kaligis juga menekankan pentingnya integritas dalam profesi hukum. “Bagi saya uang bukan segalanya. Saya bahagia tanpa duit, tanpa cincin juga saya bahagia,” tuturnya.

Tags :

Cerita OC Kaligis Membela Tokoh-Tokoh Besar, Mulai dari Presiden Soeharto Hingga Prabowo

Cerita OC Kaligis Membela Tokoh-Tokoh Besar, Mulai dari Presiden Soeharto Hingga Prabowo

Cerita OC Kaligis Membela Tokoh-Tokoh Besar, Mulai dari Presiden Soeharto Hingga Prabowo

May 22, 2024
OC Kaligis Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

OC Kaligis. (Foto: EdShareOn.com)

JAKARTA – Dalam episode terbaru podcast EdShareOn, Eddy Wijaya berbincang dengan OC Kaligis, seorang pengacara senior yang tetap aktif membela klien di usia 82 tahun. Kaligis berbagi kisahnya tentang pengalaman di dunia hukum, termasuk saat menjalani hukuman penjara dan tetap aktif dalam berbagai kegiatan advokasi hukum.

OC Kaligis menceritakan bagaimana ia tetap berjuang di balik jeruji besi. “Saya bikin gugatan macam-macam kemudian yang di penjara saya bikinin PK (Peninjauan Kembali) kan terdaftar di pengadilan. Mesti dipanggil sidang kan? Kalau saya gugat sendiri saya enggak mau pakai kuasa jadi yang dipanggil saya. Mau enggak mau mesti saya datang,” ujarnya.

OC Kaligis Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
OC Kaligis Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Selain itu, OC Kaligis juga bercerita tentang pengalamannya membela tokoh-tokoh besar seperti Prabowo. Kaligis menggambarkan bagaimana ia menggunakan keahliannya dalam berbagai bidang hukum, termasuk hukum bisnis dan HAM. “Jadi waktu kasusnya Abilio itu saya membela karena Prabowo mau tahu apakah namanya ada di kasus itu atau tidak. Akhirnya di PK (Peninjauan Kembali), Abilo kan bebas itu saya yang keluarin. Jadi untuk undang-undang nomor 26 tahun 2000, nama Prabowo bersih” tambahnya.

OC Kaligis juga mengungkapkan pengalaman menarik saat diminta oleh mantan Presiden Soeharto untuk menjadi pengacaranya. “Pak Harto telepon saya pada waktu itu saya membela Joko Ramiaji jalan tol. Pertanyaan pertama Pak ‘Apakah Pak OC bersedia jadi pengacara saya?’ Kebanggaan, Pak. Saya bilang kehormatan bahwa saya dipercaya oleh Bapak untuk itu,” kenangnya.

OC Kaligis Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
OC Kaligis Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

“Bagaimana caranya supaya Pak Harto panggil saya di sebelahnya. Saya kan Manado, saya pukul meja ya tiga jaksa agung yang periksa sama dia kan? Yang angkat anda jadi jadi jaksa agung siapa? kliennya saya presiden Soeharto saya bilang. Terus bendahara Yayasan saya bilang siapa? bos anda, hukum dia dulu kenapa Pak Harto dipanggil sebagai tersangka,” lanjutnya.

Pengalaman lainnya termasuk membela Presiden BJ Habibie dalam kasus komisi pembelian kapal terbang yang berhasil diselesaikannya dalam waktu tiga minggu tanpa biaya sepeser pun. “Saya selesai dalam waktu 3 minggu, beres. Dia nggak usah bayar satu sen,” cerita OC Kaligis. “Saya ini enggak terlalu pintar mungkin nasib baik kali ya dapat perkara-perkara besar,” tutupnya dengan rendah hati.

Tags :

Perjuangan OC Kaligis dari Awal Karier Hingga Jadi Mentor untuk Banyak Pengacara Terkenal

Perjuangan OC Kaligis dari Awal Karier Hingga Jadi Mentor untuk Banyak Pengacara Terkenal

Perjuangan OC Kaligis dari Awal Karier Hingga Jadi Mentor untuk Banyak Pengacara Terkenal

May 21, 2024
OC Kaligis Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

OC Kaligis. (Foto: EdShareOn.com)

JAKARTA – Dalam episode terbaru podcast EdShareOn, Eddy Wijaya berbincang dengan OC Kaligis, seorang pengacara senior yang tetap aktif di usia 82 tahun. Kaligis membagikan kisahnya tentang perjalanan karier dan pengalamannya dalam dunia hukum, termasuk membela Prabowo dan Gibran.

OC Kaligis memulai kariernya dengan kondisi sulit, datang ke Jakarta hanya dengan dua celana dan dua kemeja. “Saya datang dengan membawa dua celana dan dua kemeja. Naik PPD (Pengangkutan Penumpang Djakarta) nggak pernah bayar. Oleh karena itu, ketika ada urusan 60 pegawai PPD nggak dibayar saya bela cuma-cuma,” tuturnya.

OC Kaligis Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
OC Kaligis Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Berkat dedikasi dan kerja keras, ia berhasil membuka kantor pengacara meski awalnya hanya bermodal mesin tik bekas. Kaligis selalu berpegang pada prinsip membela kliennya dengan mencari celah hukum yang bisa meringankan tuduhan.

“Dulu buka kantor pengacara nekat sebenarnya, dulu masih gampang kan tahun 70-an pasang papan nama aja baru urus pengangkatan pada waktu itu. Tapi pikiran saya sederhana kalau orang dituduh mencuri tentu saya cari pasalnya hal-hal yang mengatakan dia bukan pencuri. Kalau orang dituduh membunuh saya cari lubang-lubang di mana pembunuhan itu bisa tidak terbukti karena membela diri. Jadi atas dasar itulah saya mulai membela perkara,” jelasnya.

Selama kariernya, OC Kaligis banyak mendapat bimbingan dari pengacara senior seperti Gani Djemat yang menasehatinya untuk lebih santun dalam berkomunikasi. Prinsip ini ia pegang teguh hingga sukses menangani berbagai kasus besar dan menjadi terkenal. “Pak Gani Djemat pernah menasehati saya ‘Pak Oce, kau bakal jadi pengacara besar tapi coba kata-katamu itu diperhalus dikit’,” ujar OC Kaligis.

OC Kaligis Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
OC Kaligis Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

OC Kaligis juga dikenal sebagai mentor bagi banyak pengacara muda. Ia menceritakan bagaimana ia membimbing Hotman Paris, yang kala itu masih berusia 21 tahun dan bekerja keras untuk belajar tentang perbankan di bawah bimbingannya. Selain Hotman Paris, Kaligis juga membimbing pengacara lainnya seperti Amir Syamsudin, yang akhirnya berhasil meraih gelar doktor dan sukses di dunia hukum.

“Mungkin saya ada bakat untuk mendidik juga ya. Semua yang pernah di sini jadi. Pertama yang datang itu Hotman Paris. Dia masih naik motor butut waktu itu. Yang kedua itu Amir Syamsudin, buka bengkel waktu itu saya suruh sekolah Pak sampai jadi Doktor,” ungkap OC Kaligis.

Tags :

Kisah Perjuangan dan Dedikasi Nikson Nababan di Daerah Terpencil Tapanuli Utara

Kisah Perjuangan dan Dedikasi Nikson Nababan di Daerah Terpencil Tapanuli Utara

Kisah Perjuangan dan Dedikasi Nikson Nababan di Daerah Terpencil Tapanuli Utara

May 20, 2024
Nikson Nababan Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Nikson Nababan. (Foto: EdShareOn.com)

JAKARTA – Dalam podcast EdShareOn yang dipandu oleh Eddy Wijaya, Nikson Nababan, mantan Bupati Tapanuli Utara, mengungkapkan pengalaman menariknya saat mengunjungi daerah-daerah terpencil menggunakan sepeda motor trail. Nikson terpaksa menggunakan motor trail karena kondisi medan yang sangat berat, termasuk jalan berlumpur dan pegunungan yang curam.

“Saya itu sebenarnya paling takut naik sepeda motor, apalagi trail digas gitu bisa langsung kenceng. Jadi awal-awal, saya naik sepeda motor trail itu karena memang berlumpur kan ke desa-desa kita buka jalan. Kadang jalan kaki kita. Kalau jalan itu belum kita buka pakai alat berat, kita jalan kaki. Setelah dibuka pakai alat berat, saya naik sepeda motor trail,” jelasnya.

Nikson Nababan Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Nikson Nababan Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Nikson mengaku bahwa langkah ini merupakan bagian dari upayanya membuka akses ke desa-desa terisolir. Selain mengunjungi langsung untuk survei, ia juga memastikan adanya pembangunan infrastruktur penting seperti jalan, jembatan, dan listrik. “Listrik itu baru semua tahun lalu. Terakhir desa di daerah Parmonangan itu terakhir kita yang nyalakan. Jadi semua sudah nyala listriknya tinggal lima dusun sekarang. Kalau dulunya ada sampai berapa 58 desa sangat terisolir, tidak ada listrik dan tidak ada akses. Selebihnya ada 30 desa terisolir jalannyanya sudah ada tapi belum bisa masuk roda empat,” ujarnya.

Tidak hanya itu, Nikson juga berbagi strategi untuk meningkatkan kesejahteraan tenaga kesehatan dan guru di daerah terpencil dengan memberikan insentif tambahan. Ini bertujuan untuk mengurangi keinginan pindah ke kota dan memastikan pelayanan di desa tetap optimal.

Nikson Nababan Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Nikson Nababan Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

“2015 itu saya buat keputusan Bupati yang bidan dan guru di desa sangat terisolir, kita bikin gajinya 1 setengah tambahan. Kalau desa terisolir kita bikin 1 bulan gaji tambahannya. Daripada semua saya pindah nanti kosong desanya, nggak tercapai juga visi- misinya. Saya naikkan dari insentif, nggak ada lagi mau pindah,” ungkapnya.

Sebagai penutup, Nikson memberikan pesan inspiratif kepada generasi muda Sumatera Utara, menekankan pentingnya proses dan kerja keras dalam meraih kesuksesan. “Tidak ada yang instan di dunia ini. Semua butuh proses,” kata Nikson.

Tags :

Siap Maju Pilgub Sumatra Utara, Nikson Nababan Fokus pada Integritas dan Pembangunan Berkelanjutan

Siap Maju Pilgub Sumatra Utara, Nikson Nababan Fokus pada Integritas dan Pembangunan Berkelanjutan

Siap Maju Pilgub Sumatra Utara, Nikson Nababan Fokus pada Integritas dan Pembangunan Berkelanjutan

May 16, 2024
Nikson Nababan Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Nikson Nababan. (Foto: EdShareOn.com)

JAKARTA – Dalam episode terbaru podcast EdShareOn yang dipandu oleh Eddy Wijaya, mantan Bupati Tapanuli Utara, Nikson Nababan, mengungkapkan rencananya untuk maju dalam pemilihan Gubernur Sumatera Utara. Dua periode kepemimpinannya di Tapanuli Utara telah memberikan keyakinan kepada masyarakat untuk mendorongnya menjadi calon gubernur, sebuah tanggung jawab yang disambutnya dengan penuh keseriusan.

Nikson menegaskan bahwa keputusannya untuk maju bukan semata-mata ambisi pribadi, tetapi merupakan panggilan untuk mengabdi kepada masyarakat. “Saya siap mengabdi lagi,” ujarnya. Menurutnya, banyak urusan di Sumatera Utara yang saat ini masih dibayangi oleh praktik-praktik yang membutuhkan uang tunai untuk penyelesaiannya, sesuatu yang ia tolak mentah-mentah dalam pemerintahannya di Tapanuli Utara.

Nikson Nababan Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Nikson Nababan Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

“Sumatera Utara akan saya ubah menjadi semua urusan mesti urus tuntas. Apakah nanti itu siap? Nah kalau siap Monggo, saya selama jadi Bupati saya tidak punya uang. Saya murni marhaen. Kalau mau ya ayo gotong royong,” jelasnya.

Selain isu korupsi, Nikson juga menyoroti pentingnya pembangunan sektor pertanian dan kelautan di Sumatera Utara, yang menurutnya merupakan potensi daerah tersebut. Ia mengingatkan bahwa banyak lautan di Sumatera Utara yang saat ini dalam kondisi rusak. Pengalaman Nikson belajar dari Raja Ampat menjadi contoh konkret bagaimana konservasi dapat berjalan seiring dengan kemajuan ekonomi.

“Kekayaan alam di Sumatera Utara kalau kita kembalikan lagi dengan natural, saya yakin tidak hanya berpotensi nelayan kita maju tetapi juga wisatawan,” tegasnya. Nikson percaya bahwa dengan menjaga ekosistem laut, Sumatera Utara bisa menarik lebih banyak wisatawan, seperti yang terjadi di Raja Ampat dan Labuan Bajo.

Nikson juga menyadari bahwa persaingan dalam pemilihan gubernur akan berat, dengan calon-calon kuat seperti Edy Rahmayadi dan Bobby Nasution. Namun, ia menegaskan bahwa kompetisi harus didasarkan pada program kerja dan rekam jejak, bukan hanya popularitas atau janji-janji tanpa dasar. “Artinya masyarakat juga harus menyadari bahwa masa depan kita itu jangan diukur karena segopok uang atau dengan janji-janji tapi dilihatlah dari track record dan karya-karya nyata yang sudah dikerjakan,” kata Nikson Nababan.

Nikson Nababan Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Nikson Nababan Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Tags :

Cerita Nikson Nababan Mendapat Gelar Kanjeng Pangeran Raden Aryo

Cerita Nikson Nababan Mendapat Gelar Kanjeng Pangeran Raden Aryo

Cerita Nikson Nababan Mendapat Gelar Kanjeng Pangeran Raden Aryo

May 15, 2024
Nikson Nababan Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Nikson Nababan. (Foto: EdShareOn.com)

JAKARTA – Dalam podcast EdShareOn bersama Eddy Wijaya, Nikson Hasudungan Nababan, seorang tokoh yang memiliki gelar Kanjeng Pangeran Raden Aryo dari Kesultanan Solo. Dalam kesempatan ini terungkap cerita tentang bagaimana Nikson Nababan meraih gelar tersebut dan apa arti dari gelar panjang yang melekat padanya.

Gelar panjang Nikson Nababan, yang meliputi Kanjeng Pangeran Raden Aryo Dr. Drs. Nikson Nababan Darmonagoro M.Si, memiliki cerita yang menarik. Sebagai seorang yang diundang oleh Kesultanan Solo pada tahun 2015, Nikson dianugerahi gelar tersebut dengan tingkat awal sebagai Kanjeng Raden Tumenggung.

Nikson Nababan Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Nikson Nababan Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

“Jadi Kanjeng Pangeran Raden Aryo Dr. Drs. Nikson Nababan Darmonagoro M.Si. Ceritanya itu saya diundang oleh Kesultanan Solo untuk diberikan gelar itu 2015,” tutur Nikson.

Namun gelar tersebut tidak berhenti di situ, karena setiap tahunnya Nikson meraih predikat yang semakin tinggi, dari Kanjeng Raden hingga mencapai puncaknya sebagai Kanjeng Pangeran. “Nah tingkatannya waktu itu masih Kanjeng Raden Tumenggung. Di belakangnya tetap Darmonagoro karena menurut beliau-beliau itu di sana gelar itu boleh naik terus predikat tapi Darmonagoro itu nggak bisa. Kemudian tahun berikutnya naik lagi menjadi Kanjeng Raden kemudian naik lagi menjadi Kanjeng Raden Aryo. Nah terakhir puncaknya itu adalah Kanjeng Pangeran itu sudah enggak ada lagi level tertinggi,” lanjutnya.

Nikson Nababan Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Nikson Nababan Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Pembahasan tentang gelar Darmonagoro, yang melekat pada nama Nikson, juga menjadi sorotan dalam podcast EdShareOn. “Artinya Darmonagoro itu adalah bahwa hidup saya itu selalu mendarma baktikan hidup untuk negara,” ungkapnya.

Nikson juga mengungkapkan bagaimana ia bisa mendapatkan penghargaan yang diberikan oleh Kesultanan Solo. “Menurut susunan dari Kesultanan Solo di undangan itu bahwa saya sebagai kepala daerah dilihat dari visi misi dan kinerja jadi layak diapresiasi dan diberi penghargaan kira-kira seperti itu,” ujar Kanjeng Pangeran Raden Aryo Dr. Drs. Nikson Nababan Darmonagoro M.Si.

Tags :

Cara Nikson Nababan Memaksimalkan Potensi Wisata Sumatra Utara

Cara Nikson Nababan Memaksimalkan Potensi Wisata Sumatra Utara

Cara Nikson Nababan Memaksimalkan Potensi Wisata Sumatra Utara

May 15, 2024
Nikson Nababan Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Nikson Nababan. (Foto: EdShareOn.com)

JAKARTA – Dalam podcast EdShareOn dengan Eddy Wijaya, Nikson Nababan memberikan pandangannya tentang potensi wisata di Indonesia terutama di Sumatra Utara. Terungkap berbagai ide brilian tentang bagaimana mengembangkan pariwisata, khususnya terkait Danau Toba.

Nikson Nababan membahas konsep yang menarik tentang bagaimana Danau Toba dapat ditingkatkan menjadi tujuan utama bagi wisatawan, sambil mempertimbangkan konektivitasnya dengan tempat wisata lain di sekitarnya. Menurutnya dari hasil riset dan survei, wisatawan pertama kali tertarik pada pantai, diikuti oleh pusat perbelanjaan, kuliner, agrowisata, dan baru kemudian wisata alam seperti danau.

Nikson Nababan Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Nikson Nababan Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

“Dari hasil riset dan survei, urutan pertama diminati oleh para wisatawan adalah pantai. Setelah pantai adalah pusat perbelanjaan, setelah pusat perbelanjaan itu pusat kuliner, agrowisata, wisata alam baru danau. Terakhir danau ini. Maka pertanyaannya danau ini kalau dinaikkan jadi nomor satu berarti dia harus juga membuat konektivitas terhadap pantai, pusat perbelanjaan, kuliner, agrowisata, dan wisata alam,” ujar Nikson.

Hal ini menunjukkan bahwa untuk menarik lebih banyak pengunjung ke Danau Toba, perlu ada upaya untuk menghubungkan dan mengintegrasikan pengalaman wisata yang berbeda di sekitarnya. “Dikoneksikan dengan transportasi dan promosi. Apa yang bisa dilihat, apa yang bisa dibeli, apa yang bisa dimakan, itu harus dicari investor juga. Kita harus memikirkan bagaimana program tersebut dapat menarik investor dari luar negeri, seperti Inggris Raya atau Eropa Timur sehingga wisatawan tidak terpecah,” tutur Nikson.

Nikson Nababan Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Nikson Nababan Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Eddy Wijaya sempat bertanya ke Nikson Nababan soal maksud dari wisatawan tidak terpecah. “Misal kita undanglah wisata apa namanya investor untuk bikin Hotel atau bikin pantai apa seperti di Bali itu dari pengusaha yang sudah ada di Bali. Dia sudah bisnisnya sudah di Bali tapi kita undang lagi ke Sumatera Utara dia pasti akan terpecah,” ungkap Nikson.

Tags :

Berbagi Makanan untuk Mengurangi Pemborosan Pangan

Berbagi Makanan untuk Mengurangi Pemborosan Pangan

Berbagi Makanan untuk Mengurangi Pemborosan Pangan

May 13, 2024
Nita Yulianis Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Nita Yulianis. (Foto: EdShareOn.com)

JAKARTA – Dalam podcast di EdShareOn, Eddy Wijaya berbincang dengan Nita Yulianis, Direktur Kewaspadaan Pangan dan Gizi Badan Pangan Nasional, tentang upaya memerangi pemborosan pangan di Indonesia. Diskusi ini memperlihatkan pentingnya upaya bersama dalam menangani masalah ketahanan pangan dan distribusi makanan yang tepat.

Ketika ditanya tentang tanggung jawab pemerintah terkait akses pangan, Nita Yulianis menyoroti berbagai program yang diluncurkan untuk membantu masyarakat miskin, termasuk stunting dan kemiskinan ekstrim. Salah satu inisiatif yang disebutkan adalah gerakan ‘Selamatkan Pangan’ yang bertujuan untuk mengurangi pemborosan makanan yang masih layak konsumsi.

Nita Yulianis Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Nita Yulianis Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

“Tanggung jawab negara adalah memastikan seluruh masyarakatnya memiliki akses terhadap pangan sehingga memang berbagai program diluncurkan oleh pemerintah. Tentunya kalau yang ditujukan kepada masyarakat miskin tentunya juga kemiskinan ekstrem dan juga stunting itu sudah banyak. Kita ketahui yang kita lihat berita sehari-hari tetapi memang kita memanfaatkan yang belum banyak tersentuh, salah satunya adalah gerakan selamatkan pangan,” jelas Nita.

Dalam konteks ini, pentingnya kolektifitas dalam mengumpulkan dan mendistribusikan makanan menjadi sorotan. Nita menjelaskan bahwa berbagai inisiatif, seperti Foodbank of Indonesia dan FoodCycle Indonesia, telah aktif sejak sebelum pandemi COVID-19.

“Kita patut apresiasi ternyata sudah banyak inisiatif-inisiatif sejak zaman pandemi. Jadi memang ini bahkan ada sebelum pandemi gitu seperti Foodbank of Indonesia dan FoodCycle Indonesia itu jadi salah satu founding father untuk gerakan bank pangan ini dan semakin banyak setelah itu. Karena berbagi itu menjadi sesuatu yang sifatnya menggerakkan digerakkan oleh hati,” tuturnya.

Nita Yulianis Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Nita Yulianis Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Eddy Wijaya juga membahas kendala dalam implementasi program donasi makanan, terutama terkait biaya distribusi dan kurangnya kesadaran masyarakat. Nita setuju bahwa masih banyak yang belum terjangkau oleh program ini, dan pentingnya untuk terus mengembangkan sosialisasi dan edukasi.

“Di badan pangan nasional juga kita bermitra dengan bank-bank pangan karena setelah didonasikan itu kan perlu disortir. Sehingga memang kita mendorong daerah-daerah itu menumbuhkan upaya-upaya ini. Termasuk nanti kita bisa perluas lewat Yayasan dan NGO. Jadi memang kita dorong semua agar yang membutuhkan masyarakat untuk berbagi, pemerintah hanya memfasilitasi karena akan jauh lebih sustainable,” ungkapnya.

Tags :