Todung Mulya Lubis, Kritik Putusan MK dan Pentingnya Sirkulasi Kekuasaan dalam Demokrasi

Todung Mulya Lubis, Kritik Putusan MK dan Pentingnya Sirkulasi Kekuasaan dalam Demokrasi

Todung Mulya Lubis, Kritik Putusan MK dan Pentingnya Sirkulasi Kekuasaan dalam Demokrasi

June 10, 2024
Todung Mulya Lubis Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Todung Mulya Lubis. (Foto: EdShareOn.com)

JAKARTA – Dalam sebuah episode terbaru podcast EdShareOn, Todung Mulya Lubis berbincang dengan Eddy Wijaya mengenai berbagai isu, termasuk putusan Mahkamah Konstitusi (MK) terkait sengketa Pilpres 2024 dan pandangannya sebagai kuasa hukum pasangan calon nomor tiga, Ganjar-Mahfud. Todung juga menyoroti pentingnya sirkulasi kekuasaan dan menyinggung aspek penegakan hukum di Indonesia.

Todung Mulya Lubis menjelaskan latar belakangnya memilih bergabung sebagai tim hukum untuk pasangan Ganjar-Mahfud. “Saya percaya demokrasi itu salah satu karakteristiknya adalah sirkulasi kekuasaan,” ujar Todung. Ia menekankan bahwa tidak boleh ada yang menjabat seumur hidup, sesuai dengan Undang-Undang Dasar 1945 yang membatasi masa jabatan presiden hingga dua periode. “Jokowi sudah dua kali dan sebetulnya pernah ada gagasan untuk tiga periode. Nah itu sudah menyalahi aturan,” tambahnya.

Todung Mulya Lubis Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Todung Mulya Lubis Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Todung juga menyampaikan pandangannya terhadap pemberitaan media terkait gagasan tiga periode masa jabatan presiden. “Media bisa aja bicara seperti itu tapi kan kita juga kan membaca apa yang ditulis di balik tulisan itu,” jelasnya. Ia mengingatkan pentingnya membaca dengan kritis dan memahami konteks di balik pemberitaan.

Lebih lanjut, Todung mengkritik penyaluran Bantuan Sosial (Bansos) yang dianggapnya dilakukan secara masif menjelang pemilihan dan di wilayah-wilayah yang menjadi kantong suara tertentu. “Bansos itu semua ada dalam undang-undang ada dalam APBN tapi kenapa penyalurannya seolah-olah dibuat semasif mungkin menjelang pencoblosan,” ujar Todung, menyoroti bahwa hal ini bisa mempengaruhi independensi pemilih.

Selain sebagai advokat, Todung Mulya Lubis juga dikenal sebagai penyair dan novelis. “Kalau puisi saya sudah lama sejak saya SMP,” katanya. Novel pertama yang ditulisnya di Norwegia menjadi salah satu capaian yang membanggakan dalam hidupnya. Todung mengungkapkan bahwa novel-novelnya terinspirasi oleh pengalaman pribadinya sebagai advokat dan terpengaruh oleh karya John Grisham, seorang novelis terkenal dengan latar belakang hukum.

Todung Mulya Lubis Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Todung Mulya Lubis Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Dalam wawancara tersebut, Todung juga membahas perbedaan antara teori hukum yang diajarkan di fakultas hukum dan praktik penegakan hukum di lapangan. Ia mengungkapkan kekecewaannya terhadap ketidakadilan dalam sistem hukum Indonesia. “Penegakan hukum itu di lapangan beda dengan apa yang dibaca di buku-buku hukum,” ujarnya.

Todung memberikan contoh bagaimana ketidakadilan sering kali terjadi, di mana orang-orang miskin dihukum lebih berat dibandingkan dengan koruptor yang mencuri uang negara. “Kalau beginilah saya kasih contoh, ada orang tua hidup ya di dekat hutan, kerjaannya tuh mencari kayu bakar di hutan. Hutan itu bukan milik dia, hutan itu hutan rakyat hutan milik negara. Nah itu turun temurun dilakukan dan tidak pernah dihukum. Nah ketika hutan itu diberikan HGU untuk satu perusahaan sawit. Dia kehilangan mata pencarian dan ketika dia mengambil kayu bakar dia ditangkap,” katanya.

Tags :

Recent Posts

Sutiyoso Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Sutiyoso Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Todung Mulya Lubis, Revisi UU MK Harus Jaga Independensi Hakim dan Keterlibatan Publik

Todung Mulya Lubis, Revisi UU MK Harus Jaga Independensi Hakim dan Keterlibatan Publik

Todung Mulya Lubis, Revisi UU MK Harus Jaga Independensi Hakim dan Keterlibatan Publik

June 6, 2024
Todung Mulya Lubis Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Todung Mulya Lubis. (Foto: EdShareOn.com)

JAKARTA – Dalam sebuah episode terbaru podcast EdShareOn, Todung Mulya Lubis berbincang dengan Eddy Wijaya mengenai wacana revisi Undang-Undang Mahkamah Konstitusi (UU MK). Todung memberikan pandangan kritisnya terhadap revisi yang sedang dibahas dan dampaknya terhadap independensi serta integritas Mahkamah Konstitusi.

Todung Mulya Lubis menyatakan bahwa revisi UU MK ini lebih menyasar individu-individu daripada substansi hukum itu sendiri. “Revisi undang-undang MK ini lebih menyasar individu,” ujarnya. Menurutnya, perubahan yang diusulkan terkait masa jabatan hakim MK dapat berdampak negatif pada independensi mereka. Saat ini, hakim MK memiliki masa jabatan 15 tahun atau sampai usia 70 tahun. Namun, untuk melanjutkan masa jabatan mereka, mereka harus mendapatkan persetujuan dari lembaga yang mengusulkan mereka, seperti Presiden, DPR, atau Mahkamah Agung.

Todung Mulya Lubis Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Todung Mulya Lubis Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Todung mencontohkan Saldi Isra yang harus mendapatkan persetujuan Presiden untuk melanjutkan jabatannya sebagai hakim MK. “Kalau Presiden tidak setuju ya dia out,” katanya. Hal ini, menurut Todung, dapat membuat hakim MK kehilangan kebebasan dan kemandirian mereka. “Jadi ya kebebasan dia dan kemandirian dia sudah diancam,” tambahnya.

Todung juga menyarankan agar masa jabatan hakim MK dibuat seumur hidup, seperti yang diterapkan di beberapa negara lain termasuk Amerika Serikat. “Kalau saya, di Amerika Hakim Mahkamah Agung itu seumur hidup. Di banyak negara, hakim itu seumur hidup,” jelasnya. Menurut Todung, ini akan memberikan jaminan keamanan jabatan yang pasti bagi hakim MK sehingga mereka tidak merasa terbebani atau harus berkompromi dengan pihak yang mengusulkan mereka.

Todung Mulya Lubis Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Todung Mulya Lubis Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Selain itu, Todung menyoroti proses pemilihan hakim MK yang seharusnya tidak dipengaruhi oleh eksekutif, legislatif, atau yudikatif. “Seharusnya hanya ada satu lembaga saja, satu pansel yang dibentuk oleh presiden,” usulnya. Ini untuk memastikan bahwa calon hakim MK yang terpilih adalah orang-orang yang mumpuni dan bebas dari cacat moral maupun etika.

Todung juga menekankan pentingnya partisipasi publik dalam proses pembuatan undang-undang. “Pembuatan undang-undang termasuk revisi undang-undang itu mesti membuka partisipasi yang luas dari masyarakat untuk menyampaikan aspirasi atau pendapat opini mereka,” tegasnya. Ia mengkritik proses revisi UU MK yang dilakukan dengan kurangnya keterlibatan publik dan transparansi.

Tags :

Todung Mulya Lubis, Kritik Tajam terhadap Putusan MK dan Ancaman bagi Demokrasi Indonesia

Todung Mulya Lubis, Kritik Tajam terhadap Putusan MK dan Ancaman bagi Demokrasi Indonesia

Todung Mulya Lubis, Kritik Tajam terhadap Putusan MK dan Ancaman bagi Demokrasi Indonesia

June 5, 2024
Todung Mulya Lubis Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Todung Mulya Lubis. (Foto: EdShareOn.com)

JAKARTA – Dalam sebuah episode terbaru podcast EdShareOn, Eddy Wijaya berbincang dengan Todung Mulya Lubis mengenai putusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang memenangkan pasangan calon nomor dua dalam Pemilihan Presiden 2024. Todung, yang merupakan kuasa hukum untuk pasangan calon nomor tiga, Ganjar-Mahfud, menyampaikan kekecewaannya terhadap putusan tersebut dan mengutarakan pandangannya tentang dampaknya terhadap demokrasi Indonesia.

Todung Mulya Lubis mengkritik MK karena menurutnya, hanya berfokus pada aspek kalkulasi angka perolehan suara. “MK itu tidak boleh hanya sebagai mahkamah kalkulator hanya melihat angka,” ujar Todung. Dia menekankan bahwa pemilu memiliki tiga tahap penting yaitu pra pemilihan, saat pemilihan, dan pasca pemilihan. Menurutnya pengondisian yang terjadi sebelum hari pemilihan sangat mempengaruhi hasil akhirnya. “Pemilih itu sudah diconditioning, sudah didikte oleh apa yang terjadi pada pra pemilihan atau pra pencoblosan,” tambahnya.

Todung Mulya Lubis Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Todung Mulya Lubis Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Todung juga menyoroti penggunaan dana Bantuan Sosial (Bansos) yang diduga digunakan untuk mempengaruhi pemilih. Ia menyatakan bahwa dalam kesaksian yang diajukan di MK, ada bukti bahwa Bansos yang dibagikan berisi foto pasangan calon tertentu. “Dalam kesaksian itu ada kok. Pemilih-pemilih yang jadi saksi di MK mengungkapkan bahwa ini dana dari Pak Jokowi untuk memilih paslon tertentu,” jelasnya.

Selain itu, Todung mengkritik adanya nepotisme dalam putusan MK, terutama dengan adanya hubungan keluarga antara hakim MK Anwar Usman dan Gibran, anak Presiden Jokowi. “Katakanlah itu kolegial kolektif, tapi kan di situ ada seorang yang namanya Anwar Usman. Dia itu kan paman dari Gibran. Nah Gibran itu adalah anaknya presiden. Itu hubungan-hubungan yang sangat kasat mata,” ujarnya.

Todung Mulya Lubis Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Todung Mulya Lubis Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Todung juga menanggapi pernyataan Prof. OC Kaligis yang menyebut gugatan dari tim Ganjar-Mahfud sebagai amburadul. Ia membantah dengan menyatakan bahwa permohonan PHPU yang diajukan timnya sangat komprehensif dan didukung oleh banyak ahli serta amicus curiae. “Permohonan PHPU yang kami ajukan itu 161 halaman dan kita punya banyak sekali keterangan ahli, ada 10,” tegas Todung.

Dalam pandangannya, demokrasi Indonesia berada dalam bahaya jika pemilu mendatang tidak dijalankan dengan prinsip kejujuran dan keadilan. “Pemilu dan pilpres akan diadakan lagi pada tahun 2029. Apakah kita akan mengulangi hal-hal yang seperti yang terjadi pada tahun 2024 ini? Itu sangat-sangat berbahaya,” tutup Todung Mulya Lubis.

Tags :

Todung Mulya Lubis, Kekhawatiran atas Koalisi Gemuk dan Ketiadaan Oposisi dalam Demokrasi Indonesia

Todung Mulya Lubis, Kekhawatiran atas Koalisi Gemuk dan Ketiadaan Oposisi dalam Demokrasi Indonesia

Todung Mulya Lubis, Kekhawatiran atas Koalisi Gemuk dan Ketiadaan Oposisi dalam Demokrasi Indonesia

June 4, 2024
Todung Mulya Lubis Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Todung Mulya Lubis. (Foto: EdShareOn.com)

JAKARTA – Dalam episode terbaru podcast EdShareOn, Eddy Wijaya berbincang dengan Todung Mulya Lubis mengenai dinamika politik terkini di Indonesia. Percakapan tersebut menyentuh isu koalisi politik yang semakin gemuk dan dampaknya terhadap demokrasi Indonesia.

Todung Mulya Lubis menyoroti pertemuan antara Prabowo Subianto dengan Surya Paloh dan Muhaimin Iskandar sebagai indikasi semakin menguatnya koalisi pendukung pemerintah. “Kelihatannya seperti itu, ya,” ujar Todung. “Tapi yang buat saya tidak menyenangkan adalah ketika koalisi gemuk itu terbentuk, dia akan bisa membuat apapun yang mereka kehendaki, termasuk membuat undang-undang dan kebijakan,” lanjutnya.

Todung Mulya Lubis Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Todung Mulya Lubis Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Kekhawatiran utama Todung adalah hilangnya check and balance dalam pemerintahan jika oposisi tidak ada. “Tanpa oposisi itu bukan demokrasi. Jadi itu pemerintahan yang tidak ada check and balance,” tegasnya. Menurutnya, demokrasi yang berkelanjutan membutuhkan oposisi yang kuat sebagai kekuatan penyeimbang. Tanpa oposisi, kekuasaan bisa berjalan tanpa kontrol yang memadai, yang berpotensi merusak sistem demokrasi itu sendiri.

Ketika ditanya apakah PDI-P cukup sebagai oposisi, Todung menjawab bahwa meskipun PDI-P adalah partai terbesar, keberadaannya saja tidak cukup untuk menjadi oposisi yang efektif. “Menurut saya sih perlu ada kekuatan oposisi yang meaningful. Kalau kekuatan oposisinya hanya sekedar oposisi tanpa didukung oleh jumlah suara yang memadai, itu tidak akan efektif,” ujarnya.

Todung Mulya Lubis Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Todung Mulya Lubis Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Todung juga mengungkapkan kekhawatirannya mengenai semua partai yang ingin bergabung dengan pemerintahan. “Kalau itu yang terjadi, kita akan menghadapi masa depan yang sulit kalau tidak ada oposisi sama sekali,” ungkap Todung Mulya Lubis.

Tags :

Alasan Sutiyoso Membuat Museum Bang Yos

Alasan Sutiyoso Membuat Museum Bang Yos

Alasan Sutiyoso Membuat Museum Bang Yos

May 31, 2024
Sutiyoso Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Sutiyoso. (Foto: EdShareOn.com)

JAKARTA – Sutiyoso, mantan Gubernur DKI Jakarta yang kini aktif di Partai NasDem, baru-baru ini menjadi bintang tamu di podcast EdShareOn yang dipandu oleh Eddy Wijaya. Dalam wawancara tersebut, Sutiyoso berbagi cerita tentang perjalanan politiknya, pembuatan museum pribadi, dan pesan moral untuk generasi muda.

Sutiyoso mengungkapkan bahwa meskipun telah meninggalkan politik, semangatnya untuk berkontribusi masih kuat. Ia bergabung dengan Partai NasDem atas ajakan Pak Siswono Yudo Husodo dan setelah bertemu dengan Ketua Umum NasDem, Surya Paloh. “Saya merasa nyaman di situ,” kata Sutiyoso, yang kini menjabat sebagai anggota Dewan Pertimbangan Partai.

Sutiyoso Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Sutiyoso Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Sutiyoso juga menceritakan alasan di balik pendirian Museum Bang Yos. Ia ingin mewariskan pengalamannya kepada generasi berikutnya melalui medium yang lebih mudah dipahami dan menarik. “Pengalaman adalah guru terbaik,” tegasnya, menjelaskan bahwa museum tersebut dilengkapi dengan visual dan foto-foto untuk memberikan bukti autentik dari kisah-kisahnya.

Museum ini dirancang untuk menginspirasi anak-anak dari berbagai latar belakang, khususnya mereka yang kurang beruntung. Sutiyoso berharap bahwa dengan melihat pencapaiannya, anak-anak ini akan termotivasi untuk meraih kesuksesan meskipun berasal dari latar belakang yang sederhana. “Miskin bukanlah malapetaka, itu adalah tantangan,” ujarnya.

Sutiyoso Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Sutiyoso Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Dalam wawancara tersebut, Sutiyoso juga menekankan pentingnya keyakinan dan tekad kuat bagi generasi muda. Ia berbagi kisah masa kecilnya yang penuh tantangan, dari harus berpindah-pindah sekolah hingga menjalani kehidupan dengan fasilitas yang minim. Namun, semangatnya yang pantang menyerah membawanya pada kesuksesan.

Tags :

OC Kaligis Cerita Soal Produktivitas Menulis dan Pengalaman Karier Internasional

OC Kaligis Cerita Soal Produktivitas Menulis dan Pengalaman Karier Internasional

OC Kaligis Cerita Soal Produktivitas Menulis dan Pengalaman Karier Internasional

May 27, 2024
OC Kaligis Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

OC Kaligis. (Foto: EdShareOn.com)

JAKARTA – Dalam sebuah episode terbaru di podcast EdShareOn yang dipandu Eddy Wijaya, OC Kaligis berbagi kisah tentang produktivitasnya dalam menulis buku dan pengalaman karier internasionalnya. Dalam wawancara bersama Eddy Wijaya, pengacara kelahiran 19 Juni 1942 ini mengungkapkan bahwa hingga saat ini ia telah menulis 125 buku dan masih berencana untuk menulis lebih banyak lagi.

“Saya lagi bikin buku tentang pedofilia karena saya orang pertama yang membela dan membongkar kasus pedofilia JIS,” kata Kaligis. Ia menjelaskan bahwa proses penulisan buku menjadi lebih mudah karena didasarkan pada pengalaman nyata, analisis hukum, dan keputusan pengadilan yang pernah dihadapinya.

OC Kaligis Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
OC Kaligis Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Meskipun berada di penjara, Kaligis tetap produktif, menulis 17 buku selama masa tahanannya. “Gampang sih karena kan saya buat pengalaman jadi matter of fact, legal basis, legal analisis dan keputusan. Sudah ada bahannya khan,” ungkapnya. Dengan disiplin dan dedikasi, OC Kaligis mampu memanfaatkan setiap kesempatan untuk menulis.

Kaligis juga dikenal sebagai pengacara yang sering melakukan pembelaan di luar negeri. Ia menceritakan pengalaman menangani kasus Hendra Rahardja di Australia serta berbagai kasus lain yang melibatkan penanaman modal asing. “Kebanyakan kalau saya, sehubungan dengan penanaman modal asing karena kebanyakan mereka tanam modal di sini,” jelasnya.

OC Kaligis Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
OC Kaligis Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Pengalaman lainnya termasuk bertemu dengan Presiden Obama di Gedung Putih. “Saya terharu setengah mati enggak sangka seorang pengacara yang mungkin nggak ada apa-apanya bisa diterima,” kenangnya. Pertemuan ini terjadi setelah Kaligis mengirimkan buku-bukunya untuk studi perbandingan hukum Asia di Amerika Serikat.

Dalam podcast EdShareOn, OC Kaligis juga membahas berbagai kasus menarik yang pernah ditanganinya, termasuk kasus Luna Maya dan Lukas Enembe. Ia menyatakan bahwa banyak masalah hukum yang bercampur dengan politik, yang menambah kompleksitas kasus-kasus yang ditanganinya. OC Kaligis juga menekankan pentingnya integritas dalam profesi hukum. “Bagi saya uang bukan segalanya. Saya bahagia tanpa duit, tanpa cincin juga saya bahagia,” tuturnya.

Tags :

Cerita OC Kaligis Membela Tokoh-Tokoh Besar, Mulai dari Presiden Soeharto Hingga Prabowo

Cerita OC Kaligis Membela Tokoh-Tokoh Besar, Mulai dari Presiden Soeharto Hingga Prabowo

Cerita OC Kaligis Membela Tokoh-Tokoh Besar, Mulai dari Presiden Soeharto Hingga Prabowo

May 22, 2024
OC Kaligis Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

OC Kaligis. (Foto: EdShareOn.com)

JAKARTA – Dalam episode terbaru podcast EdShareOn, Eddy Wijaya berbincang dengan OC Kaligis, seorang pengacara senior yang tetap aktif membela klien di usia 82 tahun. Kaligis berbagi kisahnya tentang pengalaman di dunia hukum, termasuk saat menjalani hukuman penjara dan tetap aktif dalam berbagai kegiatan advokasi hukum.

OC Kaligis menceritakan bagaimana ia tetap berjuang di balik jeruji besi. “Saya bikin gugatan macam-macam kemudian yang di penjara saya bikinin PK (Peninjauan Kembali) kan terdaftar di pengadilan. Mesti dipanggil sidang kan? Kalau saya gugat sendiri saya enggak mau pakai kuasa jadi yang dipanggil saya. Mau enggak mau mesti saya datang,” ujarnya.

OC Kaligis Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
OC Kaligis Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Selain itu, OC Kaligis juga bercerita tentang pengalamannya membela tokoh-tokoh besar seperti Prabowo. Kaligis menggambarkan bagaimana ia menggunakan keahliannya dalam berbagai bidang hukum, termasuk hukum bisnis dan HAM. “Jadi waktu kasusnya Abilio itu saya membela karena Prabowo mau tahu apakah namanya ada di kasus itu atau tidak. Akhirnya di PK (Peninjauan Kembali), Abilo kan bebas itu saya yang keluarin. Jadi untuk undang-undang nomor 26 tahun 2000, nama Prabowo bersih” tambahnya.

OC Kaligis juga mengungkapkan pengalaman menarik saat diminta oleh mantan Presiden Soeharto untuk menjadi pengacaranya. “Pak Harto telepon saya pada waktu itu saya membela Joko Ramiaji jalan tol. Pertanyaan pertama Pak ‘Apakah Pak OC bersedia jadi pengacara saya?’ Kebanggaan, Pak. Saya bilang kehormatan bahwa saya dipercaya oleh Bapak untuk itu,” kenangnya.

OC Kaligis Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
OC Kaligis Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

“Bagaimana caranya supaya Pak Harto panggil saya di sebelahnya. Saya kan Manado, saya pukul meja ya tiga jaksa agung yang periksa sama dia kan? Yang angkat anda jadi jadi jaksa agung siapa? kliennya saya presiden Soeharto saya bilang. Terus bendahara Yayasan saya bilang siapa? bos anda, hukum dia dulu kenapa Pak Harto dipanggil sebagai tersangka,” lanjutnya.

Pengalaman lainnya termasuk membela Presiden BJ Habibie dalam kasus komisi pembelian kapal terbang yang berhasil diselesaikannya dalam waktu tiga minggu tanpa biaya sepeser pun. “Saya selesai dalam waktu 3 minggu, beres. Dia nggak usah bayar satu sen,” cerita OC Kaligis. “Saya ini enggak terlalu pintar mungkin nasib baik kali ya dapat perkara-perkara besar,” tutupnya dengan rendah hati.

Tags :

Perjuangan OC Kaligis dari Awal Karier Hingga Jadi Mentor untuk Banyak Pengacara Terkenal

Perjuangan OC Kaligis dari Awal Karier Hingga Jadi Mentor untuk Banyak Pengacara Terkenal

Perjuangan OC Kaligis dari Awal Karier Hingga Jadi Mentor untuk Banyak Pengacara Terkenal

May 21, 2024
OC Kaligis Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

OC Kaligis. (Foto: EdShareOn.com)

JAKARTA – Dalam episode terbaru podcast EdShareOn, Eddy Wijaya berbincang dengan OC Kaligis, seorang pengacara senior yang tetap aktif di usia 82 tahun. Kaligis membagikan kisahnya tentang perjalanan karier dan pengalamannya dalam dunia hukum, termasuk membela Prabowo dan Gibran.

OC Kaligis memulai kariernya dengan kondisi sulit, datang ke Jakarta hanya dengan dua celana dan dua kemeja. “Saya datang dengan membawa dua celana dan dua kemeja. Naik PPD (Pengangkutan Penumpang Djakarta) nggak pernah bayar. Oleh karena itu, ketika ada urusan 60 pegawai PPD nggak dibayar saya bela cuma-cuma,” tuturnya.

OC Kaligis Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
OC Kaligis Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Berkat dedikasi dan kerja keras, ia berhasil membuka kantor pengacara meski awalnya hanya bermodal mesin tik bekas. Kaligis selalu berpegang pada prinsip membela kliennya dengan mencari celah hukum yang bisa meringankan tuduhan.

“Dulu buka kantor pengacara nekat sebenarnya, dulu masih gampang kan tahun 70-an pasang papan nama aja baru urus pengangkatan pada waktu itu. Tapi pikiran saya sederhana kalau orang dituduh mencuri tentu saya cari pasalnya hal-hal yang mengatakan dia bukan pencuri. Kalau orang dituduh membunuh saya cari lubang-lubang di mana pembunuhan itu bisa tidak terbukti karena membela diri. Jadi atas dasar itulah saya mulai membela perkara,” jelasnya.

Selama kariernya, OC Kaligis banyak mendapat bimbingan dari pengacara senior seperti Gani Djemat yang menasehatinya untuk lebih santun dalam berkomunikasi. Prinsip ini ia pegang teguh hingga sukses menangani berbagai kasus besar dan menjadi terkenal. “Pak Gani Djemat pernah menasehati saya ‘Pak Oce, kau bakal jadi pengacara besar tapi coba kata-katamu itu diperhalus dikit’,” ujar OC Kaligis.

OC Kaligis Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
OC Kaligis Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

OC Kaligis juga dikenal sebagai mentor bagi banyak pengacara muda. Ia menceritakan bagaimana ia membimbing Hotman Paris, yang kala itu masih berusia 21 tahun dan bekerja keras untuk belajar tentang perbankan di bawah bimbingannya. Selain Hotman Paris, Kaligis juga membimbing pengacara lainnya seperti Amir Syamsudin, yang akhirnya berhasil meraih gelar doktor dan sukses di dunia hukum.

“Mungkin saya ada bakat untuk mendidik juga ya. Semua yang pernah di sini jadi. Pertama yang datang itu Hotman Paris. Dia masih naik motor butut waktu itu. Yang kedua itu Amir Syamsudin, buka bengkel waktu itu saya suruh sekolah Pak sampai jadi Doktor,” ungkap OC Kaligis.

Tags :

Kisah Perjuangan dan Dedikasi Nikson Nababan di Daerah Terpencil Tapanuli Utara

Kisah Perjuangan dan Dedikasi Nikson Nababan di Daerah Terpencil Tapanuli Utara

Kisah Perjuangan dan Dedikasi Nikson Nababan di Daerah Terpencil Tapanuli Utara

May 20, 2024
Nikson Nababan Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Nikson Nababan. (Foto: EdShareOn.com)

JAKARTA – Dalam podcast EdShareOn yang dipandu oleh Eddy Wijaya, Nikson Nababan, mantan Bupati Tapanuli Utara, mengungkapkan pengalaman menariknya saat mengunjungi daerah-daerah terpencil menggunakan sepeda motor trail. Nikson terpaksa menggunakan motor trail karena kondisi medan yang sangat berat, termasuk jalan berlumpur dan pegunungan yang curam.

“Saya itu sebenarnya paling takut naik sepeda motor, apalagi trail digas gitu bisa langsung kenceng. Jadi awal-awal, saya naik sepeda motor trail itu karena memang berlumpur kan ke desa-desa kita buka jalan. Kadang jalan kaki kita. Kalau jalan itu belum kita buka pakai alat berat, kita jalan kaki. Setelah dibuka pakai alat berat, saya naik sepeda motor trail,” jelasnya.

Nikson Nababan Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Nikson Nababan Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Nikson mengaku bahwa langkah ini merupakan bagian dari upayanya membuka akses ke desa-desa terisolir. Selain mengunjungi langsung untuk survei, ia juga memastikan adanya pembangunan infrastruktur penting seperti jalan, jembatan, dan listrik. “Listrik itu baru semua tahun lalu. Terakhir desa di daerah Parmonangan itu terakhir kita yang nyalakan. Jadi semua sudah nyala listriknya tinggal lima dusun sekarang. Kalau dulunya ada sampai berapa 58 desa sangat terisolir, tidak ada listrik dan tidak ada akses. Selebihnya ada 30 desa terisolir jalannyanya sudah ada tapi belum bisa masuk roda empat,” ujarnya.

Tidak hanya itu, Nikson juga berbagi strategi untuk meningkatkan kesejahteraan tenaga kesehatan dan guru di daerah terpencil dengan memberikan insentif tambahan. Ini bertujuan untuk mengurangi keinginan pindah ke kota dan memastikan pelayanan di desa tetap optimal.

Nikson Nababan Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Nikson Nababan Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

“2015 itu saya buat keputusan Bupati yang bidan dan guru di desa sangat terisolir, kita bikin gajinya 1 setengah tambahan. Kalau desa terisolir kita bikin 1 bulan gaji tambahannya. Daripada semua saya pindah nanti kosong desanya, nggak tercapai juga visi- misinya. Saya naikkan dari insentif, nggak ada lagi mau pindah,” ungkapnya.

Sebagai penutup, Nikson memberikan pesan inspiratif kepada generasi muda Sumatera Utara, menekankan pentingnya proses dan kerja keras dalam meraih kesuksesan. “Tidak ada yang instan di dunia ini. Semua butuh proses,” kata Nikson.

Tags :

Siap Maju Pilgub Sumatra Utara, Nikson Nababan Fokus pada Integritas dan Pembangunan Berkelanjutan

Siap Maju Pilgub Sumatra Utara, Nikson Nababan Fokus pada Integritas dan Pembangunan Berkelanjutan

Siap Maju Pilgub Sumatra Utara, Nikson Nababan Fokus pada Integritas dan Pembangunan Berkelanjutan

May 16, 2024
Nikson Nababan Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Nikson Nababan. (Foto: EdShareOn.com)

JAKARTA – Dalam episode terbaru podcast EdShareOn yang dipandu oleh Eddy Wijaya, mantan Bupati Tapanuli Utara, Nikson Nababan, mengungkapkan rencananya untuk maju dalam pemilihan Gubernur Sumatera Utara. Dua periode kepemimpinannya di Tapanuli Utara telah memberikan keyakinan kepada masyarakat untuk mendorongnya menjadi calon gubernur, sebuah tanggung jawab yang disambutnya dengan penuh keseriusan.

Nikson menegaskan bahwa keputusannya untuk maju bukan semata-mata ambisi pribadi, tetapi merupakan panggilan untuk mengabdi kepada masyarakat. “Saya siap mengabdi lagi,” ujarnya. Menurutnya, banyak urusan di Sumatera Utara yang saat ini masih dibayangi oleh praktik-praktik yang membutuhkan uang tunai untuk penyelesaiannya, sesuatu yang ia tolak mentah-mentah dalam pemerintahannya di Tapanuli Utara.

Nikson Nababan Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Nikson Nababan Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

“Sumatera Utara akan saya ubah menjadi semua urusan mesti urus tuntas. Apakah nanti itu siap? Nah kalau siap Monggo, saya selama jadi Bupati saya tidak punya uang. Saya murni marhaen. Kalau mau ya ayo gotong royong,” jelasnya.

Selain isu korupsi, Nikson juga menyoroti pentingnya pembangunan sektor pertanian dan kelautan di Sumatera Utara, yang menurutnya merupakan potensi daerah tersebut. Ia mengingatkan bahwa banyak lautan di Sumatera Utara yang saat ini dalam kondisi rusak. Pengalaman Nikson belajar dari Raja Ampat menjadi contoh konkret bagaimana konservasi dapat berjalan seiring dengan kemajuan ekonomi.

“Kekayaan alam di Sumatera Utara kalau kita kembalikan lagi dengan natural, saya yakin tidak hanya berpotensi nelayan kita maju tetapi juga wisatawan,” tegasnya. Nikson percaya bahwa dengan menjaga ekosistem laut, Sumatera Utara bisa menarik lebih banyak wisatawan, seperti yang terjadi di Raja Ampat dan Labuan Bajo.

Nikson juga menyadari bahwa persaingan dalam pemilihan gubernur akan berat, dengan calon-calon kuat seperti Edy Rahmayadi dan Bobby Nasution. Namun, ia menegaskan bahwa kompetisi harus didasarkan pada program kerja dan rekam jejak, bukan hanya popularitas atau janji-janji tanpa dasar. “Artinya masyarakat juga harus menyadari bahwa masa depan kita itu jangan diukur karena segopok uang atau dengan janji-janji tapi dilihatlah dari track record dan karya-karya nyata yang sudah dikerjakan,” kata Nikson Nababan.

Nikson Nababan Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Nikson Nababan Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Tags :