Rudy Alfonso Ungkap Strategi Kolaborasi Bisnis Indonesia-Portugal

Rudy Alfonso Ungkap Strategi Kolaborasi Bisnis Indonesia-Portugal

Rudy Alfonso Ungkap Strategi Kolaborasi Bisnis Indonesia-Portugal

July 18, 2024
Rudy Alfonso Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Rudy Alfonso. (Foto: EdShareOn.com)

JAKARTA – Dalam episode terbaru podcast EdShareOn, Eddy Wijaya berbincang dengan Rudy Alfonso, Duta Besar Indonesia untuk Portugal, mengenai berbagai pertemuan penting dan peluang kolaborasi antara Indonesia dan Portugal. Diskusi ini mencakup berbagai topik, termasuk pembangunan infrastruktur, hubungan politik, pendidikan, dan pengembangan industri.

Rudy Alfonso mengungkapkan bahwa pertemuannya dengan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Basuki Hadimuljono, adalah untuk menindaklanjuti hasil World Water Forum di Bali. Portugal, yang mendukung Indonesia sebagai tuan rumah forum tersebut, berencana untuk bekerja sama dalam pengelolaan air minum melalui perusahaan Agua Portugal. “Hal ini terkait dengan public service dan tugas Menteri PUPR,” ujar Rudy.

Dalam pertemuan dengan Menteri Luar Negeri, Retno Marsudi, Rudy membahas berbagai target kerja di bidang politik, ekonomi, sosial, dan budaya. Portugal, menurut Rudy, telah berkomitmen untuk mendukung integritas wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia, termasuk melalui dukungan di forum internasional seperti PBB dan Uni Eropa.

Rudy Alfonso Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Rudy Alfonso Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Rudy Alfonso juga mengangkat peluang ekspor wine non-alkohol dari Portugal ke Indonesia. Dengan meningkatnya permintaan wine untuk sektor pariwisata di Indonesia, Rudy melihat potensi besar dalam kerja sama ini. “Portugal memproduksi wine yang sangat bervariasi dan murah, termasuk port wine yang hanya diproduksi di Portugal,” jelasnya.

Selain itu, Rudy menyoroti kerja sama budaya yang terus berjalan antara Indonesia dan Portugal. “Kita rutin memperkenalkan budaya Indonesia di Portugal, seperti angklung, kuliner, dan seni lainnya,” tambahnya. Salah satu kolaborasi yang menarik adalah antara Borobudur dan Monastery Batalia di Portugal.

Rudy Alfonso juga membahas pentingnya kerja sama di bidang pendidikan. Universitas Hasanuddin (Unhas) telah menandatangani MOU dengan Universitas Lisboa dan Universitas Porto. Rudy menyebut Universitas Coimbra, yang didirikan pada abad ke-13, sebagai salah satu universitas tertua di Portugal yang memiliki reputasi tinggi. “Kebanyakan pemerintah atau tokoh penting di Portugal adalah lulusan dari Coimbra atau Universitas Lisboa,” ungkapnya.

Rudy Alfonso Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Rudy Alfonso Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Namun, kendala bahasa menjadi tantangan bagi mahasiswa Indonesia. “S1 di sana harus menggunakan bahasa Portugis, sehingga mahasiswa kita lebih memilih ke Inggris atau Belanda. Saat ini, hanya ada sekitar 27 mahasiswa Indonesia yang mengambil S2 dan S3 di Portugal,” jelas Rudy.

Pertemuan dengan Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang, juga menjadi topik penting dalam diskusi. Rudy Alfonso, yang juga kolega Agus di Golkar, berdiskusi mengenai regulasi dan industri pertanian di Portugal. “Hasil pertanian di Portugal terbatas, tetapi mereka menjaga industri pertaniannya dengan baik,” kata Rudy. Ia berharap ada transfer teknologi dan investasi di sektor pengolahan hasil pertanian di Indonesia.

Tags :

Recent Posts

Sutiyoso Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Sutiyoso Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Rudy Alfonso Bahas Sinergi Bisnis Indonesia-Portugal dan Tantangan Ekspor

Rudy Alfonso Bahas Sinergi Bisnis Indonesia-Portugal dan Tantangan Ekspor

Rudy Alfonso Bahas Sinergi Bisnis Indonesia-Portugal dan Tantangan Ekspor

July 17, 2024
Rudy Alfonso Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Rudy Alfonso. (Foto: EdShareOn.com)

JAKARTA – Pada episode terbaru podcast EdShareOn, Eddy Wijaya berbincang dengan Rudy Alfonso, Duta Besar Indonesia untuk Portugal, tentang potensi kolaborasi bisnis antara kedua negara. Diskusi ini mengungkap berbagai peluang dan tantangan yang dihadapi dalam mengoptimalkan hubungan ekonomi Indonesia-Portugal.

Rudy Alfonso memulai dengan membahas sejarah hubungan Indonesia-Portugal yang sempat tegang karena isu Timor Leste. Namun, setelah Timor Leste merdeka pada tahun 1999, hubungan kedua negara kembali normal. “Hubungan kita menjadi normal kembali sejak tahun 2000, dimulai dari zaman Pak Habibi dan Gus Dur,” ujar Rudy.

Rudy Alfonso Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Rudy Alfonso Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Dalam konteks perdagangan, Rudy menyoroti bagaimana konflik Rusia-Ukraina memberikan peluang bagi Indonesia untuk mengekspor produk minyak kelapa sawit (palm oil). “Minyak matahari dari Ukraina tidak bisa masuk sehingga bisa di-replace dengan palm oil dari Indonesia,” jelasnya. Namun, perang Israel-Palestina baru-baru ini mengubah jalur pelayaran dan membuat biaya logistik menjadi lebih mahal, mengakibatkan penundaan dalam kontrak perdagangan.

Salah satu tantangan utama yang dihadapi adalah regulasi dalam negeri yang membatasi ekspor biodiesel. Rudy menjelaskan bahwa ada peluang besar jika investor asing dapat membangun refinery di Indonesia. “Saat ini, yang menikmati itu Singapura dan Malaysia. Mereka beli limbah dari sini, produksi di sana, lalu diekspor ke Eropa dengan harga mahal,” katanya. Rudy juga menyebutkan bahwa ia akan membahas masalah ini dengan Menteri Perdagangan untuk mencari solusi.

Rudy menekankan pentingnya biodiesel dalam konteks isu lingkungan dan penggantian bahan bakar fosil. Ia berpendapat bahwa jika regulasi ekspor biodiesel bisa dilonggarkan, bukan hanya investor asing yang tertarik, tetapi juga pengusaha lokal. “Keuntungan pasti lebih besar jika refinery dibangun di sini,” ujarnya.

Rudy Alfonso Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Rudy Alfonso Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Selain biodiesel, Rudy juga membahas potensi besar kopi Indonesia di pasar Portugal. “Konsumsi kopi di Portugal sangat tinggi. Importir kopi terbesar di Portugal adalah Brazil dan Indonesia,” jelasnya. Rudy menyebutkan bahwa sudah ada penandatanganan MOU senilai 40 juta USD untuk ekspor kopi Indonesia ke Portugal.

Eddy Wijaya menyinggung asal Rudy Alfonso dari Mamasa dan potensi kopi Mamasa di pasar internasional. Rudy menyambut baik ide tersebut dan sedang mengusahakan promosi kopi Mamasa. “Saya sedang berusaha menjual kopi Mamasa dan akan ada misi yang saya undang untuk ikut dalam festival kopi Indonesia di Portugal,” katanya.

Tags :

Hikmahanto Juwana Ungkap Soal Tantangan IKN dan Strategi Politik Internasional Prabowo

Hikmahanto Juwana Ungkap Soal Tantangan IKN dan Strategi Politik Internasional Prabowo

Hikmahanto Juwana Ungkap Soal Tantangan IKN dan Strategi Politik Internasional Prabowo

July 15, 2024
Hikmahanto Juwana Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Hikmahanto Juwana. (Foto: EdShareOn.com)

JAKARTA – Pada episode terbaru podcast EdShareOn, Eddy Wijaya berbincang dengan Hikmahanto Juwana, seorang pakar hukum internasional, tentang berbagai isu strategis, termasuk pembangunan Ibu Kota Negara (IKN) dan kebijakan politik internasional di masa depan. Diskusi ini menggali pandangan Hikmahanto mengenai dinamika investasi, kebijakan luar negeri, dan pengalaman pribadinya yang mempengaruhi pemikirannya.

Hikmahanto memulai dengan membahas proyek IKN yang menurutnya memerlukan waktu lama dan biaya besar. Meski begitu, ia melihat proyek ini sebagai upaya untuk menciptakan ekonomi yang berkelanjutan dan membuka lapangan pekerjaan. “IKN itu bukan urusan setahun dua tahun, ini bisa bertahun-tahun,” jelas Hikmahanto. Namun, ia juga menggarisbawahi tantangan utama dalam pembiayaan proyek ini, terutama jika hanya mengandalkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Hikmahanto Juwana Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Hikmahanto Juwana Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Eddy Wijaya kemudian menyinggung upaya pemerintah untuk menarik investor. Hikmahanto setuju bahwa investor adalah kunci, namun ia menekankan perlunya kepastian hukum terkait status tanah yang akan digunakan. “Investor mau investasi tidak hanya untuk satu dua tahun, tapi sampai 200-300 tahun,” ungkapnya.

Mengenai kebijakan politik internasional di bawah kepemimpinan Prabowo Subianto, Hikmahanto menyebutkan empat poin utama. Pertama, ia menegaskan pentingnya prinsip politik luar negeri yang bebas dan aktif. “Kita harus tetap berpegang teguh pada prinsip politik luar negeri bebas aktif,” kata Hikmahanto. Prabowo, menurutnya, akan menjaga jarak yang sama dengan negara-negara besar seperti Amerika Serikat dan Cina.

Kedua, Hikmahanto memuji kemampuan Prabowo dalam berkomunikasi dan berinteraksi dengan dunia internasional tanpa kendala bahasa. “Beliau sangat lihai menyampaikan apa yang ada di dalam benaknya dengan bahasa yang bisa ditangkap,” ujar Hikmahanto.

Hikmahanto Juwana Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Hikmahanto Juwana Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Ketiga, Hikmahanto melihat Prabowo sebagai figur yang dapat memainkan peran penting dalam mediasi konflik internasional, seperti konflik antara Ukraina dan Rusia. “Kita sebagai penyelamat muka,” katanya, menggambarkan potensi Indonesia sebagai mediator yang dihormati.

Terakhir, Hikmahanto menyoroti kemungkinan peningkatan investasi dari Timur Tengah, mengingat jaringan dan pengalaman Prabowo di kawasan tersebut. “Pak Prabowo akan bisa melihat potensi Timur Tengah yang selama ini belum kita garap secara bagus,” jelasnya.

Tags :

Kritik Hikmahanto Juwana Terhadap Sikap Amerika Serikat dan Nasionalisme Indonesia

Kritik Hikmahanto Juwana Terhadap Sikap Amerika Serikat dan Nasionalisme Indonesia

Kritik Hikmahanto Juwana Terhadap Sikap Amerika Serikat dan Nasionalisme Indonesia

July 12, 2024
Hikmahanto Juwana Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Hikmahanto Juwana. (Foto: EdShareOn.com)

JAKARTA – Dalam episode terbaru podcast EdShareOn, Eddy Wijaya mengundang pakar hukum internasional, Hikmahanto Juwana, untuk membahas berbagai isu terkini, termasuk kecelakaan helikopter yang menimpa presiden Iran. Diskusi ini memberikan wawasan mendalam tentang dinamika geopolitik dan nasionalisme, serta kritik terhadap sikap Amerika Serikat dalam konteks kecelakaan tersebut.

Eddy Wijaya memulai dengan menanyakan pandangan Hikmahanto tentang kecelakaan helikopter presiden Iran. Hikmahanto menekankan pentingnya menunggu hasil investigasi sebelum mengambil kesimpulan. “Segala sesuatu harus kita serahkan kepada tim investigasi,” kata Hikmahanto. Ia mengakui bahwa tim investigasi Iran sudah dikerahkan dan akan memeriksa berbagai kemungkinan seperti human error, cuaca, masalah teknis, atau sabotase.

Hikmahanto Juwana Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Hikmahanto Juwana Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Hikmahanto juga mengkritik penolakan Amerika Serikat untuk bekerja sama dalam investigasi karena helikopter yang digunakan adalah buatan Amerika Serikat. “Langsung Joe Biden bilang enggak mau,” ungkapnya. Hikmahanto menyayangkan sikap ini, mengaitkannya dengan dukungan Amerika Serikat terhadap Israel dan menilai bahwa hal ini menunjukkan kemunafikan Amerika Serikat.

Dalam diskusi tersebut, Hikmahanto juga menekankan pentingnya Indonesia untuk berdiri sendiri dan memiliki sikap yang tegas dalam menghadapi negara-negara lain. “Kita sebagai sebuah bangsa harus berdiri sendiri,” ujarnya. Ia memuji Prabowo Subianto yang memiliki pandangan serupa, yaitu mengutamakan kemandirian dan tidak tergantung pada negara lain.

Eddy Wijaya dan Hikmahanto juga berbicara tentang pengalaman pribadi Hikmahanto yang membentuk nasionalismenya. Hikmahanto bercerita tentang masa kecilnya di Amerika Serikat, di mana ia mengalami perlakuan diskriminatif yang membuatnya lebih menghargai identitasnya sebagai orang Indonesia. “Sejak saat itu saya bilang stop saya sama Amerika Serikat. Saya kepengen sebagai orang Indonesia,” tegasnya.

Hikmahanto Juwana Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Hikmahanto Juwana Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Hikmahanto menekankan bahwa meskipun belajar di luar negeri, perspektifnya tetap harus sebagai orang Indonesia. Ia mengkritik negara-negara yang menggunakan utang sebagai alat untuk mengendalikan negara lain. “Prinsip saya adalah kita tidak boleh pinjam yang kemudian berpotensi untuk kita didikte,” jelasnya.

Diskusi ini juga menyinggung tentang peran hukum internasional dan bagaimana dalam masyarakat internasional, kekuatan masih sering kali lebih berpengaruh daripada keadilan. “Dalam masyarakat internasional yang masih berlaku adalah bukan hukum internasional tapi hukum riba. Siapa yang kuat dialah yang benar,” ujar Hikmahanto. Ia mencontohkan bagaimana Israel merasa di atas hukum karena dukungan dari Amerika Serikat.

Tags :

Tanggapan Hikmahanto Juwana dengan Sikap Prabowo yang Melunak terhadap Tiongkok

Tanggapan Hikmahanto Juwana dengan Sikap Prabowo yang Melunak terhadap Tiongkok

Tanggapan Hikmahanto Juwana dengan Sikap Prabowo yang Melunak terhadap Tiongkok

July 11, 2024
Hikmahanto Juwana Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Hikmahanto Juwana. (Foto: EdShareOn.com)

JAKARTA – Dalam episode terbaru podcast EdShareOn, Eddy Wijaya mengundang pakar hukum internasional, Hikmahanto Juwana, untuk membahas perubahan sikap Prabowo Subianto terhadap Tiongkok serta tantangan geopolitik yang dihadapi Indonesia dalam menjaga keseimbangan hubungan dengan kekuatan besar dunia. Diskusi ini memberikan wawasan mendalam tentang bagaimana kebijakan luar negeri dan pertahanan Indonesia dipengaruhi oleh dinamika internasional.

Hikmahanto Juwana menjelaskan bahwa Prabowo, yang pada pemilihan presiden 2014 dan 2019 bersikap tegas terhadap Tiongkok, kini menunjukkan pendekatan yang lebih melunak. “Dulu Pak Prabowo sangat anti terhadap Tiongkok karena khawatir kita bisa dikuasai oleh Tiongkok melalui hutang dan ketergantungan ekonomi,” jelas Hikmahanto. Namun, kini Prabowo tampak lebih membuka diri terhadap hubungan yang baik dengan semua negara, termasuk Tiongkok.

Hikmahanto Juwana Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Hikmahanto Juwana Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Menurut Hikmahanto, salah satu alasan utama ketegangan dengan Tiongkok adalah kekhawatiran bahwa negara-negara penerima hutang, seperti Indonesia, bisa dipaksa menerima tenaga kerja dan kontraktor dari Tiongkok. Ini menimbulkan kecemburuan di kalangan pekerja lokal. “Mereka lebih terampil dan efisien, tapi ini menimbulkan ketidakpuasan di negara-negara tempat mereka bekerja, termasuk Indonesia,” tambahnya.

Prabowo kini tampak mendekati kebijakan yang lebih seimbang, berusaha menjaga hubungan baik dengan Tiongkok di bidang ekonomi namun tetap mengutamakan hubungan pertahanan dengan Amerika Serikat. “Prabowo mungkin berpikir secara ekonomi kita bisa dekat dengan Tiongkok, tapi untuk pertahanan kita lebih baik dekat dengan Amerika,” ujar Hikmahanto.

Selain itu, Hikmahanto juga membahas tantangan dalam memperoleh Transfer of Technology (TOT) dari negara-negara maju. Meskipun TOT terlihat menguntungkan, negara-negara pemilik teknologi biasanya enggan memberikan teknologi mutakhir yang dapat membuat penerima menjadi pesaing di masa depan. “Kita harus merampas teknologi dan melakukan improvisasi, seperti yang dilakukan oleh Israel dan Jepang,” tegas Hikmahanto.

Hikmahanto Juwana Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Hikmahanto Juwana Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Dalam konteks hubungan diplomatik, Indonesia mengakui People’s Republic of China (PRC) dan bukan Republic of China (Taiwan). Hubungan dengan Taiwan hanya terbatas pada perdagangan melalui Kamar Dagang. “Indonesia tidak mengakui ROC dan hanya memiliki hubungan perdagangan dengan Taiwan,” jelas Hikmahanto.

Diskusi ini juga menyentuh bagaimana Tiongkok telah berkembang pesat dalam teknologi, bahkan melampaui Amerika Serikat dalam beberapa aspek. “Cina telah maju pesat dalam teknologi, termasuk industri pertahanan. Ini membuat Amerika Serikat khawatir,” ungkap Hikmahanto Juwana.

Tags :

Hikmahanto Juwana Mengulas Konflik Tiongkok dan Taiwan

Hikmahanto Juwana Mengulas Konflik Tiongkok dan Taiwan

Hikmahanto Juwana Mengulas Konflik Tiongkok dan Taiwan

July 9, 2024
Hikmahanto Juwana Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Hikmahanto Juwana. (Foto: EdShareOn.com)

JAKARTA – Dalam episode terbaru podcast EdShareOn, Eddy Wijaya berbincang dengan pakar hukum internasional, Hikmahanto Juwana, mengenai konflik Tiongkok dengan Taiwan dan peran Amerika Serikat dalam ketegangan tersebut. Hikmahanto memberikan penjelasan historis serta konteks geopolitik yang memperjelas dinamika antara kedua negara tersebut.

Menurut Hikmahanto, konflik antara Tiongkok dan Taiwan berakar pada runtuhnya kekaisaran Tiongkok, yang kemudian digantikan oleh pemerintahan nasionalis. “Setelah kekaisaran Tiongkok runtuh, pemerintahan nasionalis berkuasa. Namun, pada tahun 1970-an, komunis mengambil alih pemerintahan dan pemerintahan nasionalis lari ke pulau Taiwan, mendirikan Republic of China,” jelas Hikmahanto.

Hikmahanto Juwana Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Hikmahanto Juwana Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Amerika Serikat, awalnya mengakui Republic of China (Taiwan) sebagai representasi Tiongkok. Namun, pada tahun 1971-1972, Amerika mengubah pengakuannya menjadi People’s Republic of China (China). Hikmahanto menambahkan, “Amerika mengakui China karena Tiongkok yang besar lebih signifikan secara geopolitik.”

Ketegangan semakin meningkat ketika Taiwan yang didukung Amerika Serikat, seringkali mengancam untuk mendeklarasikan kemerdekaannya. “Setiap kali ada Pemilu di Taiwan, selalu ada ancaman deklarasi kemerdekaan. Ini membuat People’s Republic of China marah dan sering melakukan latihan militer sebagai ancaman langsung,” ungkap Hikmahanto.

Hikmahanto Juwana Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Hikmahanto Juwana Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Amerika Serikat memainkan peran besar dalam mendukung Taiwan, terutama melalui penjualan senjata. “Amerika hidup dari industri pertahanan. Penjualan senjata ke Taiwan dan negara lain sangat penting bagi perekonomian mereka,” kata Hikmahanto. Ia juga menyoroti bagaimana kebijakan luar negeri Amerika terkait dengan industri pertahanan, mempengaruhi hubungan internasional dan diplomasi.

Indonesia, seperti banyak negara lain, mengakui People’s Republic of China dan bukan Republic of China. “Indonesia mengakui PRC dan bukan ROC. Kami hanya memiliki hubungan perdagangan dengan Taiwan melalui Kamar Dagang,” jelas Hikmahanto.

Tags :

Dampak Ketegangan Korea Utara-Korea Selatan Terhadap Indonesia

Dampak Ketegangan Korea Utara-Korea Selatan Terhadap Indonesia

Dampak Ketegangan Korea Utara-Korea Selatan Terhadap Indonesia

July 9, 2024
Hikmahanto Juwana Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Hikmahanto Juwana. (Foto: EdShareOn.com)

JAKARTA – Di episode terbaru podcast EdShareOn, Eddy Wijaya berbincang dengan Hikmahanto Juwana mengenai dampak ketegangan antara Korea Utara dan Korea Selatan, serta implikasinya bagi Indonesia. Diskusi yang mendalam ini membahas latar belakang historis konflik, upaya propaganda yang terjadi, serta potensi dampak dari ketegangan ini.

Hikmahanto menjelaskan bahwa konflik antara Korea Utara dan Korea Selatan adalah masalah klasik yang berakar pada perpecahan ideologi selama Perang Dingin. “Dua Korea ini terpecah karena masalah ideologi pada waktu Perang Dingin. Korea Utara menganut ideologi komunis, sementara Korea Selatan menganut ideologi liberal. Persaingan di antara mereka untuk mendapatkan kekuasaan akhirnya memicu perang saudara,” jelasnya.

Hikmahanto Juwana Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Hikmahanto Juwana Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Baru-baru ini, ketegangan meningkat setelah Korea Selatan melalui sebuah LSM, mengirimkan pesan-pesan berupa film K-pop dan materi propaganda lainnya ke Korea Utara. Hikmahanto menambahkan, “Ini adalah upaya propaganda untuk mendorong rakyat Korea Utara berpikir bahwa hidup mereka seharusnya bisa lebih baik dan mendorong perubahan pemerintahan yang sangat konservatif.”

Tindakan ini mendapat reaksi keras dari Korea Utara, yang membalas dengan mengirimkan sampah fisik ke Korea Selatan. “Pemerintah Korea Utara menganggap pengiriman materi propaganda ini sebagai ‘sampah’, sehingga mereka membalas dengan mengirimkan sampah dalam arti sebenarnya,” ujar Hikmahanto.

Hikmahanto Juwana Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Hikmahanto Juwana Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Eddy Wijaya menyoroti betapa otoriternya pemerintahan Korea Utara, dengan contoh ekstrim seperti eksekusi pejabat yang melakukan kesalahan. “Menteri pertahanan mereka saja dihukum mati karena ketiduran. Ini menunjukkan betapa kejamnya rezim tersebut,” kata Eddy Wijaya.

Hikmahanto kemudian membandingkan situasi di Korea dengan konflik Israel-Palestina. “Jika dibandingkan, kekejaman Israel tidak hanya terjadi di dalam negeri tetapi juga berdampak luas di luar negeri, yang mendapat kecaman dari masyarakat internasional, termasuk negara-negara non-Muslim seperti Inggris dan Spanyol,” jelas Hikmahanto Juwana.

Tags :

Alasan Indonesia Menggunakan Alat Sadap Buatan Israel

Alasan Indonesia Menggunakan Alat Sadap Buatan Israel

Alasan Indonesia Menggunakan Alat Sadap Buatan Israel

July 5, 2024
Hikmahanto Juwana Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Hikmahanto Juwana. (Foto: EdShareOn.com)

JAKARTA – Dalam sebuah episode terbaru dari podcast EdShareOn, Eddy Wijaya berbicara dengan Hikmahanto Juwana mengenai berbagai langkah konkret yang telah diambil oleh Indonesia dalam mendukung Palestina, meskipun tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Israel. Diskusi ini mengungkapkan pandangan Hikmahanto tentang kebijakan yang diambil oleh Menteri Pertahanan Indonesia, Prabowo Subianto, dan bagaimana Indonesia tetap bisa berperan aktif di kancah internasional.

Hikmahanto menjelaskan bahwa meskipun Indonesia tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Israel, hal ini tidak menghalangi Indonesia untuk berperan aktif dalam mendukung Palestina. Menurutnya, berdasarkan prinsip yang tercantum dalam pembukaan Undang-Undang Dasar 1945, Indonesia selalu menolak penjajahan dalam bentuk apapun. “Apa yang dilakukan oleh Israel adalah penjajahan terhadap rakyat Palestina. Sebelum Israel mengakui Palestina sebagai negara dan memberikan tanah kepada rakyat Palestina, kita tidak akan membuka hubungan diplomatik,” tegasnya.

Hikmahanto Juwana Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Hikmahanto Juwana Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Meskipun tidak memiliki hubungan diplomatik, Indonesia tetap bisa melakukan tindakan nyata melalui berbagai forum internasional. Hikmahanto menyebutkan bahwa Menteri Luar Negeri Indonesia telah berpidato di Majelis Umum PBB dan Dewan Keamanan PBB. Selain itu, Indonesia juga turut memberikan pandangan dalam sidang Mahkamah Internasional terkait opini tentang situasi di Palestina.

Dalam diskusi tersebut, Hikmahanto juga mengapresiasi langkah konkret yang diambil oleh Prabowo Subianto. Salah satu inisiatif Prabowo adalah kesiapan Indonesia untuk mengirimkan pasukan perdamaian jika diminta oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa dan diberikan mandat. “Ini usulan yang sangat konkret dan berani. Indonesia sudah sering diminta untuk menyumbang pasukan perdamaian dan kita sudah siap,” ujarnya.

Selain itu, Prabowo juga berencana untuk mengevakuasi anak-anak Palestina yang terluka dan menyediakan rumah sakit sementara. “Kami akan kirim rumah sakit, baik itu di kapal atau di tempat-tempat sementara, untuk menolong anak-anak yang terluka,” tambah Hikmahanto.

Eddy Wijaya kemudian menyinggung tentang hubungan non-diplomatik antara Indonesia dan Israel, seperti penggunaan alat sadap buatan Israel oleh Indonesia. Hikmahanto menjelaskan bahwa meskipun tidak ada hubungan diplomatik, hubungan bisnis dan perorangan tetap terjadi. “Banyak warga negara kita yang melakukan ibadah atau wisata religi ke Israel, dan ada juga yang belajar di sana. Bisnis ke bisnis tetap berjalan,” jelasnya.

Hikmahanto Juwana Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Hikmahanto Juwana Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Tags :

Hikmahanto Juwana Ungkap Langkah Berani Prabowo untuk Gaza

Hikmahanto Juwana Ungkap Langkah Berani Prabowo untuk Gaza

Hikmahanto Juwana Ungkap Langkah Berani Prabowo untuk Gaza

July 4, 2024
Hikmahanto Juwana Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Hikmahanto Juwana. (Foto: EdShareOn.com)

JAKARTA – Dalam sebuah episode terbaru dari podcast EdShareOn, Eddy Wijaya berbicara dengan Hikmahanto Juwana mengenai langkah konkret yang diambil oleh Menteri Pertahanan Indonesia, Prabowo Subianto, untuk menanggapi krisis kemanusiaan di Gaza. Hikmahanto menjelaskan dua inisiatif penting yang diusulkan oleh Prabowo, yang ia nilai sebagai langkah berani dan konkret di tengah situasi global yang serba tidak pasti.

Hikmahanto memulai diskusi dengan gagasan pembentukan coalition of humanity atau koalisi untuk kemanusiaan, yang bertujuan untuk mengakhiri konflik di Gaza. “Pak Prabowo sebagai Menhan membuat kebijakan yang sangat konkret. Di Shangri-La Dialogue, beliau menyatakan kesiapannya mengirimkan pasukan perdamaian jika diminta oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan diberikan mandat,” jelas Hikmahanto.

Hikmahanto Juwana Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Hikmahanto Juwana Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Hikmahanto menilai usulan ini sangat berani dan konkret dibandingkan dengan tindakan negara-negara lain yang cenderung hanya mengecam tanpa tindakan nyata. “Indonesia sudah sering diminta untuk menyumbang pasukan perdamaian, dan di Sentul sudah ada pelatihan untuk pasukan perdamaian. Jadi kita siap,” tambahnya.

Inisiatif kedua dari Prabowo adalah rencana evakuasi anak-anak yang terluka dan penyediaan rumah sakit sementara. “Kami akan kirim rumah-rumah sakit, apakah itu di kapal atau tempat-tempat sementara, untuk menolong anak-anak yang terluka,” ujar Hikmahanto.

Eddy Wijaya menyoroti bahwa fasilitas rumah sakit di Gaza sudah sangat minim akibat serangan, termasuk Rumah Sakit Indonesia di Gaza. Hikmahanto menjelaskan bahwa rumah sakit sementara yang mobile akan lebih efektif karena sulit diserang dibandingkan dengan fasilitas tetap. “Rumah sakit mobile di kapal atau dievakuasi ke rumah sakit di Yordania, misalnya, adalah langkah konkret yang dilakukan oleh Pak Prabowo dalam rangka kemanusiaan,” jelas Hikmahanto.

Hikmahanto Juwana Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Hikmahanto Juwana Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Hikmahanto juga menyoroti dukungan dari TNI dan DPR terhadap langkah-langkah ini. “Panglima TNI dan Kepala Staf Angkatan Darat sudah menyatakan kesiapannya. Mereka meminta persetujuan dari DPR untuk legitimasi,” jelasnya. Langkah ini penting dalam konteks supremasi sipil, di mana tindakan militer memerlukan izin dari legislatif.

Hikmahanto Juwana menggarisbawahi bahwa TNI memiliki kemampuan untuk mendirikan rumah sakit sementara, sebagaimana telah dilakukan selama pandemi COVID-19 dan bencana alam sebelumnya. “Ini menunjukkan kemampuan konkret yang dimiliki oleh Angkatan Darat, bukan hanya karena saya sekarang ini jadi Rektor Universitas Jenderal Ahmad Yani yang berafiliasi dengan Angkatan Darat,” katanya.

Tags :

Tanggapan Hikmahanto Juwana dengan Rencana Prabowo Mengevakuasi Warga Palestina

Tanggapan Hikmahanto Juwana dengan Rencana Prabowo Mengevakuasi Warga Palestina

Tanggapan Hikmahanto Juwana dengan Rencana Prabowo Mengevakuasi Warga Palestina

July 4, 2024
Hikmahanto Juwana Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Hikmahanto Juwana. (Foto: EdShareOn.com)

JAKARTA – Dalam episode terbaru podcast EdShareOn, Eddy Wijaya dan Hikmahanto Juwana membahas rencana Menteri Pertahanan Indonesia, Prabowo Subianto, untuk mengevakuasi 1000 warga Palestina. Diskusi ini menyoroti sudut pandang Ustaz Solmed dan Hikmahanto Juwana tentang dinamika konflik di Timur Tengah, khususnya di Gaza, dan dampaknya terhadap upaya kemanusiaan.

Eddy Wijaya memulai dengan mengajukan pertanyaan tentang tanggapan Hikmahanto Juwana terhadap rencana evakuasi yang diusulkan oleh Prabowo Subianto. Hikmahanto merespons dengan memberikan konteks situasi yang terjadi di Gaza. Ia menjelaskan bahwa serangan Israel di Gaza telah melebihi batas yang dianggap sebagai pembelaan diri oleh komunitas internasional.

Hikmahanto Juwana Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Hikmahanto Juwana Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

“Israel, melalui Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, menyatakan bahwa serangan ini adalah respons terhadap serangan Hamas pada 7 Oktober 2023. Namun, serangan tersebut sudah melampaui batas dan menyebabkan ribuan korban jiwa, termasuk perempuan, anak-anak, dan orang tua yang tidak terlibat dalam perang,” jelas Hikmahanto.

Hikmahanto juga menguraikan tiga tujuan utama serangan Israel: membebaskan sandera yang ditahan Hamas, mencari petinggi Hamas yang bertanggung jawab, dan memastikan otoritas Israel menguasai Gaza untuk mencegah serangan di masa depan.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa Hamas beroperasi dengan perang gerilya, sehingga sulit bagi Israel untuk menargetkan petinggi-petinggi Hamas. “Israel menyerang masyarakat sipil karena percaya bahwa anak-anak yang tumbuh dengan dendam akan menjadi ancaman di masa depan,” tambah Hikmahanto.

Hikmahanto Juwana Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Hikmahanto Juwana Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Eddy Wijaya kemudian menyoroti dampak kemanusiaan dari konflik ini, mencatat bahwa banyak ibu dan anak yang menjadi korban saat menerima bantuan. Hikmahanto setuju, menegaskan bahwa tindakan Israel melanggar hak asasi manusia berat.

“Saat melihat apa yang dilakukan Israel, seolah-olah mereka berada di atas hukum internasional. Mereka merasa di atas angin karena didukung oleh Amerika Serikat,” kata Hikmahanto Juwana. Ia juga mencatat bahwa meskipun ada protes dari rakyat Amerika Serikat, pemerintahan Joe Biden tetap mendukung tindakan Israel karena pengaruh lobi Yahudi di Amerika Serikat.

Tags :