Kritik Hikmahanto Juwana Terhadap Sikap Amerika Serikat dan Nasionalisme Indonesia

Kritik Hikmahanto Juwana Terhadap Sikap Amerika Serikat dan Nasionalisme Indonesia

Kritik Hikmahanto Juwana Terhadap Sikap Amerika Serikat dan Nasionalisme Indonesia

July 12, 2024
Hikmahanto Juwana Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Hikmahanto Juwana. (Foto: EdShareOn.com)

JAKARTA – Dalam episode terbaru podcast EdShareOn, Eddy Wijaya mengundang pakar hukum internasional, Hikmahanto Juwana, untuk membahas berbagai isu terkini, termasuk kecelakaan helikopter yang menimpa presiden Iran. Diskusi ini memberikan wawasan mendalam tentang dinamika geopolitik dan nasionalisme, serta kritik terhadap sikap Amerika Serikat dalam konteks kecelakaan tersebut.

Eddy Wijaya memulai dengan menanyakan pandangan Hikmahanto tentang kecelakaan helikopter presiden Iran. Hikmahanto menekankan pentingnya menunggu hasil investigasi sebelum mengambil kesimpulan. “Segala sesuatu harus kita serahkan kepada tim investigasi,” kata Hikmahanto. Ia mengakui bahwa tim investigasi Iran sudah dikerahkan dan akan memeriksa berbagai kemungkinan seperti human error, cuaca, masalah teknis, atau sabotase.

Hikmahanto Juwana Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Hikmahanto Juwana Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Hikmahanto juga mengkritik penolakan Amerika Serikat untuk bekerja sama dalam investigasi karena helikopter yang digunakan adalah buatan Amerika Serikat. “Langsung Joe Biden bilang enggak mau,” ungkapnya. Hikmahanto menyayangkan sikap ini, mengaitkannya dengan dukungan Amerika Serikat terhadap Israel dan menilai bahwa hal ini menunjukkan kemunafikan Amerika Serikat.

Dalam diskusi tersebut, Hikmahanto juga menekankan pentingnya Indonesia untuk berdiri sendiri dan memiliki sikap yang tegas dalam menghadapi negara-negara lain. “Kita sebagai sebuah bangsa harus berdiri sendiri,” ujarnya. Ia memuji Prabowo Subianto yang memiliki pandangan serupa, yaitu mengutamakan kemandirian dan tidak tergantung pada negara lain.

Eddy Wijaya dan Hikmahanto juga berbicara tentang pengalaman pribadi Hikmahanto yang membentuk nasionalismenya. Hikmahanto bercerita tentang masa kecilnya di Amerika Serikat, di mana ia mengalami perlakuan diskriminatif yang membuatnya lebih menghargai identitasnya sebagai orang Indonesia. “Sejak saat itu saya bilang stop saya sama Amerika Serikat. Saya kepengen sebagai orang Indonesia,” tegasnya.

Hikmahanto Juwana Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Hikmahanto Juwana Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Hikmahanto menekankan bahwa meskipun belajar di luar negeri, perspektifnya tetap harus sebagai orang Indonesia. Ia mengkritik negara-negara yang menggunakan utang sebagai alat untuk mengendalikan negara lain. “Prinsip saya adalah kita tidak boleh pinjam yang kemudian berpotensi untuk kita didikte,” jelasnya.

Diskusi ini juga menyinggung tentang peran hukum internasional dan bagaimana dalam masyarakat internasional, kekuatan masih sering kali lebih berpengaruh daripada keadilan. “Dalam masyarakat internasional yang masih berlaku adalah bukan hukum internasional tapi hukum riba. Siapa yang kuat dialah yang benar,” ujar Hikmahanto. Ia mencontohkan bagaimana Israel merasa di atas hukum karena dukungan dari Amerika Serikat.

Tags :

Recent Posts

Sutiyoso Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Sutiyoso Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Tanggapan Hikmahanto Juwana dengan Sikap Prabowo yang Melunak terhadap Tiongkok

Tanggapan Hikmahanto Juwana dengan Sikap Prabowo yang Melunak terhadap Tiongkok

Tanggapan Hikmahanto Juwana dengan Sikap Prabowo yang Melunak terhadap Tiongkok

July 11, 2024
Hikmahanto Juwana Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Hikmahanto Juwana. (Foto: EdShareOn.com)

JAKARTA – Dalam episode terbaru podcast EdShareOn, Eddy Wijaya mengundang pakar hukum internasional, Hikmahanto Juwana, untuk membahas perubahan sikap Prabowo Subianto terhadap Tiongkok serta tantangan geopolitik yang dihadapi Indonesia dalam menjaga keseimbangan hubungan dengan kekuatan besar dunia. Diskusi ini memberikan wawasan mendalam tentang bagaimana kebijakan luar negeri dan pertahanan Indonesia dipengaruhi oleh dinamika internasional.

Hikmahanto Juwana menjelaskan bahwa Prabowo, yang pada pemilihan presiden 2014 dan 2019 bersikap tegas terhadap Tiongkok, kini menunjukkan pendekatan yang lebih melunak. “Dulu Pak Prabowo sangat anti terhadap Tiongkok karena khawatir kita bisa dikuasai oleh Tiongkok melalui hutang dan ketergantungan ekonomi,” jelas Hikmahanto. Namun, kini Prabowo tampak lebih membuka diri terhadap hubungan yang baik dengan semua negara, termasuk Tiongkok.

Hikmahanto Juwana Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Hikmahanto Juwana Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Menurut Hikmahanto, salah satu alasan utama ketegangan dengan Tiongkok adalah kekhawatiran bahwa negara-negara penerima hutang, seperti Indonesia, bisa dipaksa menerima tenaga kerja dan kontraktor dari Tiongkok. Ini menimbulkan kecemburuan di kalangan pekerja lokal. “Mereka lebih terampil dan efisien, tapi ini menimbulkan ketidakpuasan di negara-negara tempat mereka bekerja, termasuk Indonesia,” tambahnya.

Prabowo kini tampak mendekati kebijakan yang lebih seimbang, berusaha menjaga hubungan baik dengan Tiongkok di bidang ekonomi namun tetap mengutamakan hubungan pertahanan dengan Amerika Serikat. “Prabowo mungkin berpikir secara ekonomi kita bisa dekat dengan Tiongkok, tapi untuk pertahanan kita lebih baik dekat dengan Amerika,” ujar Hikmahanto.

Selain itu, Hikmahanto juga membahas tantangan dalam memperoleh Transfer of Technology (TOT) dari negara-negara maju. Meskipun TOT terlihat menguntungkan, negara-negara pemilik teknologi biasanya enggan memberikan teknologi mutakhir yang dapat membuat penerima menjadi pesaing di masa depan. “Kita harus merampas teknologi dan melakukan improvisasi, seperti yang dilakukan oleh Israel dan Jepang,” tegas Hikmahanto.

Hikmahanto Juwana Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Hikmahanto Juwana Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Dalam konteks hubungan diplomatik, Indonesia mengakui People’s Republic of China (PRC) dan bukan Republic of China (Taiwan). Hubungan dengan Taiwan hanya terbatas pada perdagangan melalui Kamar Dagang. “Indonesia tidak mengakui ROC dan hanya memiliki hubungan perdagangan dengan Taiwan,” jelas Hikmahanto.

Diskusi ini juga menyentuh bagaimana Tiongkok telah berkembang pesat dalam teknologi, bahkan melampaui Amerika Serikat dalam beberapa aspek. “Cina telah maju pesat dalam teknologi, termasuk industri pertahanan. Ini membuat Amerika Serikat khawatir,” ungkap Hikmahanto Juwana.

Tags :

Hikmahanto Juwana Mengulas Konflik Tiongkok dan Taiwan

Hikmahanto Juwana Mengulas Konflik Tiongkok dan Taiwan

Hikmahanto Juwana Mengulas Konflik Tiongkok dan Taiwan

July 9, 2024
Hikmahanto Juwana Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Hikmahanto Juwana. (Foto: EdShareOn.com)

JAKARTA – Dalam episode terbaru podcast EdShareOn, Eddy Wijaya berbincang dengan pakar hukum internasional, Hikmahanto Juwana, mengenai konflik Tiongkok dengan Taiwan dan peran Amerika Serikat dalam ketegangan tersebut. Hikmahanto memberikan penjelasan historis serta konteks geopolitik yang memperjelas dinamika antara kedua negara tersebut.

Menurut Hikmahanto, konflik antara Tiongkok dan Taiwan berakar pada runtuhnya kekaisaran Tiongkok, yang kemudian digantikan oleh pemerintahan nasionalis. “Setelah kekaisaran Tiongkok runtuh, pemerintahan nasionalis berkuasa. Namun, pada tahun 1970-an, komunis mengambil alih pemerintahan dan pemerintahan nasionalis lari ke pulau Taiwan, mendirikan Republic of China,” jelas Hikmahanto.

Hikmahanto Juwana Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Hikmahanto Juwana Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Amerika Serikat, awalnya mengakui Republic of China (Taiwan) sebagai representasi Tiongkok. Namun, pada tahun 1971-1972, Amerika mengubah pengakuannya menjadi People’s Republic of China (China). Hikmahanto menambahkan, “Amerika mengakui China karena Tiongkok yang besar lebih signifikan secara geopolitik.”

Ketegangan semakin meningkat ketika Taiwan yang didukung Amerika Serikat, seringkali mengancam untuk mendeklarasikan kemerdekaannya. “Setiap kali ada Pemilu di Taiwan, selalu ada ancaman deklarasi kemerdekaan. Ini membuat People’s Republic of China marah dan sering melakukan latihan militer sebagai ancaman langsung,” ungkap Hikmahanto.

Hikmahanto Juwana Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Hikmahanto Juwana Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Amerika Serikat memainkan peran besar dalam mendukung Taiwan, terutama melalui penjualan senjata. “Amerika hidup dari industri pertahanan. Penjualan senjata ke Taiwan dan negara lain sangat penting bagi perekonomian mereka,” kata Hikmahanto. Ia juga menyoroti bagaimana kebijakan luar negeri Amerika terkait dengan industri pertahanan, mempengaruhi hubungan internasional dan diplomasi.

Indonesia, seperti banyak negara lain, mengakui People’s Republic of China dan bukan Republic of China. “Indonesia mengakui PRC dan bukan ROC. Kami hanya memiliki hubungan perdagangan dengan Taiwan melalui Kamar Dagang,” jelas Hikmahanto.

Tags :

Dampak Ketegangan Korea Utara-Korea Selatan Terhadap Indonesia

Dampak Ketegangan Korea Utara-Korea Selatan Terhadap Indonesia

Dampak Ketegangan Korea Utara-Korea Selatan Terhadap Indonesia

July 9, 2024
Hikmahanto Juwana Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Hikmahanto Juwana. (Foto: EdShareOn.com)

JAKARTA – Di episode terbaru podcast EdShareOn, Eddy Wijaya berbincang dengan Hikmahanto Juwana mengenai dampak ketegangan antara Korea Utara dan Korea Selatan, serta implikasinya bagi Indonesia. Diskusi yang mendalam ini membahas latar belakang historis konflik, upaya propaganda yang terjadi, serta potensi dampak dari ketegangan ini.

Hikmahanto menjelaskan bahwa konflik antara Korea Utara dan Korea Selatan adalah masalah klasik yang berakar pada perpecahan ideologi selama Perang Dingin. “Dua Korea ini terpecah karena masalah ideologi pada waktu Perang Dingin. Korea Utara menganut ideologi komunis, sementara Korea Selatan menganut ideologi liberal. Persaingan di antara mereka untuk mendapatkan kekuasaan akhirnya memicu perang saudara,” jelasnya.

Hikmahanto Juwana Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Hikmahanto Juwana Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Baru-baru ini, ketegangan meningkat setelah Korea Selatan melalui sebuah LSM, mengirimkan pesan-pesan berupa film K-pop dan materi propaganda lainnya ke Korea Utara. Hikmahanto menambahkan, “Ini adalah upaya propaganda untuk mendorong rakyat Korea Utara berpikir bahwa hidup mereka seharusnya bisa lebih baik dan mendorong perubahan pemerintahan yang sangat konservatif.”

Tindakan ini mendapat reaksi keras dari Korea Utara, yang membalas dengan mengirimkan sampah fisik ke Korea Selatan. “Pemerintah Korea Utara menganggap pengiriman materi propaganda ini sebagai ‘sampah’, sehingga mereka membalas dengan mengirimkan sampah dalam arti sebenarnya,” ujar Hikmahanto.

Hikmahanto Juwana Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Hikmahanto Juwana Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Eddy Wijaya menyoroti betapa otoriternya pemerintahan Korea Utara, dengan contoh ekstrim seperti eksekusi pejabat yang melakukan kesalahan. “Menteri pertahanan mereka saja dihukum mati karena ketiduran. Ini menunjukkan betapa kejamnya rezim tersebut,” kata Eddy Wijaya.

Hikmahanto kemudian membandingkan situasi di Korea dengan konflik Israel-Palestina. “Jika dibandingkan, kekejaman Israel tidak hanya terjadi di dalam negeri tetapi juga berdampak luas di luar negeri, yang mendapat kecaman dari masyarakat internasional, termasuk negara-negara non-Muslim seperti Inggris dan Spanyol,” jelas Hikmahanto Juwana.

Tags :

Alasan Indonesia Menggunakan Alat Sadap Buatan Israel

Alasan Indonesia Menggunakan Alat Sadap Buatan Israel

Alasan Indonesia Menggunakan Alat Sadap Buatan Israel

July 5, 2024
Hikmahanto Juwana Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Hikmahanto Juwana. (Foto: EdShareOn.com)

JAKARTA – Dalam sebuah episode terbaru dari podcast EdShareOn, Eddy Wijaya berbicara dengan Hikmahanto Juwana mengenai berbagai langkah konkret yang telah diambil oleh Indonesia dalam mendukung Palestina, meskipun tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Israel. Diskusi ini mengungkapkan pandangan Hikmahanto tentang kebijakan yang diambil oleh Menteri Pertahanan Indonesia, Prabowo Subianto, dan bagaimana Indonesia tetap bisa berperan aktif di kancah internasional.

Hikmahanto menjelaskan bahwa meskipun Indonesia tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Israel, hal ini tidak menghalangi Indonesia untuk berperan aktif dalam mendukung Palestina. Menurutnya, berdasarkan prinsip yang tercantum dalam pembukaan Undang-Undang Dasar 1945, Indonesia selalu menolak penjajahan dalam bentuk apapun. “Apa yang dilakukan oleh Israel adalah penjajahan terhadap rakyat Palestina. Sebelum Israel mengakui Palestina sebagai negara dan memberikan tanah kepada rakyat Palestina, kita tidak akan membuka hubungan diplomatik,” tegasnya.

Hikmahanto Juwana Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Hikmahanto Juwana Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Meskipun tidak memiliki hubungan diplomatik, Indonesia tetap bisa melakukan tindakan nyata melalui berbagai forum internasional. Hikmahanto menyebutkan bahwa Menteri Luar Negeri Indonesia telah berpidato di Majelis Umum PBB dan Dewan Keamanan PBB. Selain itu, Indonesia juga turut memberikan pandangan dalam sidang Mahkamah Internasional terkait opini tentang situasi di Palestina.

Dalam diskusi tersebut, Hikmahanto juga mengapresiasi langkah konkret yang diambil oleh Prabowo Subianto. Salah satu inisiatif Prabowo adalah kesiapan Indonesia untuk mengirimkan pasukan perdamaian jika diminta oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa dan diberikan mandat. “Ini usulan yang sangat konkret dan berani. Indonesia sudah sering diminta untuk menyumbang pasukan perdamaian dan kita sudah siap,” ujarnya.

Selain itu, Prabowo juga berencana untuk mengevakuasi anak-anak Palestina yang terluka dan menyediakan rumah sakit sementara. “Kami akan kirim rumah sakit, baik itu di kapal atau di tempat-tempat sementara, untuk menolong anak-anak yang terluka,” tambah Hikmahanto.

Eddy Wijaya kemudian menyinggung tentang hubungan non-diplomatik antara Indonesia dan Israel, seperti penggunaan alat sadap buatan Israel oleh Indonesia. Hikmahanto menjelaskan bahwa meskipun tidak ada hubungan diplomatik, hubungan bisnis dan perorangan tetap terjadi. “Banyak warga negara kita yang melakukan ibadah atau wisata religi ke Israel, dan ada juga yang belajar di sana. Bisnis ke bisnis tetap berjalan,” jelasnya.

Hikmahanto Juwana Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Hikmahanto Juwana Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Tags :

Hikmahanto Juwana Ungkap Langkah Berani Prabowo untuk Gaza

Hikmahanto Juwana Ungkap Langkah Berani Prabowo untuk Gaza

Hikmahanto Juwana Ungkap Langkah Berani Prabowo untuk Gaza

July 4, 2024
Hikmahanto Juwana Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Hikmahanto Juwana. (Foto: EdShareOn.com)

JAKARTA – Dalam sebuah episode terbaru dari podcast EdShareOn, Eddy Wijaya berbicara dengan Hikmahanto Juwana mengenai langkah konkret yang diambil oleh Menteri Pertahanan Indonesia, Prabowo Subianto, untuk menanggapi krisis kemanusiaan di Gaza. Hikmahanto menjelaskan dua inisiatif penting yang diusulkan oleh Prabowo, yang ia nilai sebagai langkah berani dan konkret di tengah situasi global yang serba tidak pasti.

Hikmahanto memulai diskusi dengan gagasan pembentukan coalition of humanity atau koalisi untuk kemanusiaan, yang bertujuan untuk mengakhiri konflik di Gaza. “Pak Prabowo sebagai Menhan membuat kebijakan yang sangat konkret. Di Shangri-La Dialogue, beliau menyatakan kesiapannya mengirimkan pasukan perdamaian jika diminta oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan diberikan mandat,” jelas Hikmahanto.

Hikmahanto Juwana Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Hikmahanto Juwana Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Hikmahanto menilai usulan ini sangat berani dan konkret dibandingkan dengan tindakan negara-negara lain yang cenderung hanya mengecam tanpa tindakan nyata. “Indonesia sudah sering diminta untuk menyumbang pasukan perdamaian, dan di Sentul sudah ada pelatihan untuk pasukan perdamaian. Jadi kita siap,” tambahnya.

Inisiatif kedua dari Prabowo adalah rencana evakuasi anak-anak yang terluka dan penyediaan rumah sakit sementara. “Kami akan kirim rumah-rumah sakit, apakah itu di kapal atau tempat-tempat sementara, untuk menolong anak-anak yang terluka,” ujar Hikmahanto.

Eddy Wijaya menyoroti bahwa fasilitas rumah sakit di Gaza sudah sangat minim akibat serangan, termasuk Rumah Sakit Indonesia di Gaza. Hikmahanto menjelaskan bahwa rumah sakit sementara yang mobile akan lebih efektif karena sulit diserang dibandingkan dengan fasilitas tetap. “Rumah sakit mobile di kapal atau dievakuasi ke rumah sakit di Yordania, misalnya, adalah langkah konkret yang dilakukan oleh Pak Prabowo dalam rangka kemanusiaan,” jelas Hikmahanto.

Hikmahanto Juwana Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Hikmahanto Juwana Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Hikmahanto juga menyoroti dukungan dari TNI dan DPR terhadap langkah-langkah ini. “Panglima TNI dan Kepala Staf Angkatan Darat sudah menyatakan kesiapannya. Mereka meminta persetujuan dari DPR untuk legitimasi,” jelasnya. Langkah ini penting dalam konteks supremasi sipil, di mana tindakan militer memerlukan izin dari legislatif.

Hikmahanto Juwana menggarisbawahi bahwa TNI memiliki kemampuan untuk mendirikan rumah sakit sementara, sebagaimana telah dilakukan selama pandemi COVID-19 dan bencana alam sebelumnya. “Ini menunjukkan kemampuan konkret yang dimiliki oleh Angkatan Darat, bukan hanya karena saya sekarang ini jadi Rektor Universitas Jenderal Ahmad Yani yang berafiliasi dengan Angkatan Darat,” katanya.

Tags :

Tanggapan Hikmahanto Juwana dengan Rencana Prabowo Mengevakuasi Warga Palestina

Tanggapan Hikmahanto Juwana dengan Rencana Prabowo Mengevakuasi Warga Palestina

Tanggapan Hikmahanto Juwana dengan Rencana Prabowo Mengevakuasi Warga Palestina

July 4, 2024
Hikmahanto Juwana Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Hikmahanto Juwana. (Foto: EdShareOn.com)

JAKARTA – Dalam episode terbaru podcast EdShareOn, Eddy Wijaya dan Hikmahanto Juwana membahas rencana Menteri Pertahanan Indonesia, Prabowo Subianto, untuk mengevakuasi 1000 warga Palestina. Diskusi ini menyoroti sudut pandang Ustaz Solmed dan Hikmahanto Juwana tentang dinamika konflik di Timur Tengah, khususnya di Gaza, dan dampaknya terhadap upaya kemanusiaan.

Eddy Wijaya memulai dengan mengajukan pertanyaan tentang tanggapan Hikmahanto Juwana terhadap rencana evakuasi yang diusulkan oleh Prabowo Subianto. Hikmahanto merespons dengan memberikan konteks situasi yang terjadi di Gaza. Ia menjelaskan bahwa serangan Israel di Gaza telah melebihi batas yang dianggap sebagai pembelaan diri oleh komunitas internasional.

Hikmahanto Juwana Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Hikmahanto Juwana Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

“Israel, melalui Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, menyatakan bahwa serangan ini adalah respons terhadap serangan Hamas pada 7 Oktober 2023. Namun, serangan tersebut sudah melampaui batas dan menyebabkan ribuan korban jiwa, termasuk perempuan, anak-anak, dan orang tua yang tidak terlibat dalam perang,” jelas Hikmahanto.

Hikmahanto juga menguraikan tiga tujuan utama serangan Israel: membebaskan sandera yang ditahan Hamas, mencari petinggi Hamas yang bertanggung jawab, dan memastikan otoritas Israel menguasai Gaza untuk mencegah serangan di masa depan.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa Hamas beroperasi dengan perang gerilya, sehingga sulit bagi Israel untuk menargetkan petinggi-petinggi Hamas. “Israel menyerang masyarakat sipil karena percaya bahwa anak-anak yang tumbuh dengan dendam akan menjadi ancaman di masa depan,” tambah Hikmahanto.

Hikmahanto Juwana Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Hikmahanto Juwana Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Eddy Wijaya kemudian menyoroti dampak kemanusiaan dari konflik ini, mencatat bahwa banyak ibu dan anak yang menjadi korban saat menerima bantuan. Hikmahanto setuju, menegaskan bahwa tindakan Israel melanggar hak asasi manusia berat.

“Saat melihat apa yang dilakukan Israel, seolah-olah mereka berada di atas hukum internasional. Mereka merasa di atas angin karena didukung oleh Amerika Serikat,” kata Hikmahanto Juwana. Ia juga mencatat bahwa meskipun ada protes dari rakyat Amerika Serikat, pemerintahan Joe Biden tetap mendukung tindakan Israel karena pengaruh lobi Yahudi di Amerika Serikat.

Tags :

Ustaz Solmed, Dari Latar Belakang Sederhana ke Dunia Bisnis yang Sukses

Ustaz Solmed, Dari Latar Belakang Sederhana ke Dunia Bisnis yang Sukses

Ustaz Solmed, Dari Latar Belakang Sederhana ke Dunia Bisnis yang Sukses

July 3, 2024
Ustaz Solmed Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Ustaz Solmed. (Foto: EdShareOn.com)

JAKARTA – Dalam episode terbaru podcast EdShareOn, Eddy Wijaya berbincang dengan Ustaz Solmed tentang perjalanan dan tantangan dalam membangun bisnis di tengah aktivitas dakwahnya. Percakapan ini memberikan pandangan mendalam tentang bagaimana Ustaz Solmed memulai karir bisnisnya dan pelajaran hidup yang ia dapatkan di sepanjang jalan.

Eddy Wijaya membuka diskusi dengan menanyakan cara Ustaz Solmed membangun bisnisnya yang meliputi rokok herbal, kecantikan, dan kuliner. Ustaz Solmed merespons dengan rendah hati, menyatakan bahwa ia masih banyak belajar dan perjalanan menuju kesuksesan tidak pernah instan.

Ustaz Solmed Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Ustaz Solmed Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

“Saya ini anak yang lahir dari keluarga sederhana, mungkin di bawah sederhana. Bapak saya ngewarung di kampung, dan saya hidup dari warung itu. Proses perjalanan hidup di perkampungan dan perjuangan orangtua saya berjualan sangat panjang,” ungkap Ustaz Solmed.

Ustaz Solmed menceritakan masa kecilnya yang penuh tantangan. Dari membantu orangtuanya menjual pisang goreng hingga nitip-nitip es mambo di warung-warung kecil. “Dulu, melihat teman-teman bisa beli buku dan jajan dengan mudah. Saya hanya bisa melihat dari kejauhan sambil meneteskan air mata. Tapi saya harus jalanin karena kondisi orangtua saya begitu,” kenangnya.

Ia menekankan pentingnya pendidikan dan kerja keras sejak dini. Ketika lulus dari Aliah, ayahnya memberi tanggung jawab untuk belanja kebutuhan warung. “Bapak saya mulai mendidik saya untuk jajan tapi sambil bekerja. Itu basic bisnisnya,” kata Ustaz Solmed.

Ustaz Solmed Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Ustaz Solmed Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Pengalaman bisnis pertamanya adalah menjual sarung. Dari membeli lima biji sarung di Tanah Abang, ia mendapatkan kepercayaan dari penjual untuk konsinyasi hingga puluhan ribu sarung. “Kepercayaan itu lebih dari modal. Saya dikasih pinjam puluhan ribu sarung tanpa modal, hanya dengan kejujuran,” jelasnya.

Ustaz Solmed juga berbicara tentang pentingnya menjaga hubungan baik dan kepercayaan dalam bisnis. “Setiap kita harus menghargai karakter orang lain. Jangan ngambekan atau baperan, karena kita belajar bukan dari sifat negatifnya tapi dari ilmunya,” tegasnya.

Ia menambahkan bahwa perjalanan bisnisnya mengajarkan banyak pelajaran hidup. “Banyak ilmu yang saya dapat dari berbagai orang. Kalau kita ngambekan, kita putus hubungan dan kehilangan peluang belajar dan rezeki,” ujarnya.

Tags :

Ustaz Solmed Ungkap Tantangan Dakwah di Era Digital

Ustaz Solmed Ungkap Tantangan Dakwah di Era Digital

Ustaz Solmed Ungkap Tantangan Dakwah di Era Digital

July 3, 2024
Ustaz Solmed Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Ustaz Solmed. (Foto: EdShareOn.com)

JAKARTA – Pada episode terbaru podcast EdShareOn, Eddy Wijaya berbincang dengan Ustaz Solmed mengenai tantangan berdakwah di era digital seperti saat ini. Diskusi ini memberikan wawasan mendalam tentang bagaimana teknologi memengaruhi dakwah dan pentingnya tanggung jawab dalam menggunakan media.

Eddy Wijaya membuka diskusi dengan menanyakan tantangan berdakwah di zaman sekarang. Ustaz Solmed menjelaskan bahwa setiap zaman memiliki tantangan tersendiri, mulai dari zaman manusia pertama diciptakan hingga era Nabi Muhammad SAW. Tantangan-tantangan tersebut mencakup ancaman, pengusiran, pemboikotan, hingga ancaman pembunuhan yang akhirnya memaksa Nabi Muhammad untuk berhijrah.

Ustaz Solmed Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Ustaz Solmed Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

“Tantangan saat ini berbeda tapi sama beratnya. Dengan luasnya media yang bisa diakses siapa saja, setiap orang bisa mengupload, memposting, dan menarasikan pembicaraan. Setiap kalimat bisa dipotong, ditambah, dan diubah, apalagi dengan adanya teknologi AI (Artificial Intelligence),” ujar Ustaz Solmed.

Ustaz Solmed menekankan bahwa tantangan di era digital bukan hanya untuk para dai tetapi juga untuk semua orang. “Kita hidup di zaman teknologi yang bisa memberikan arti positif tapi juga aspek negatifnya banyak,” jelasnya. “Ibarat mata pisau, teknologi bisa digunakan untuk hal baik atau buruk. Ini ujian berat karena bisa menyebabkan perpecahan dan kehancuran bangsa,” lanjutnya.

Menurut Ustaz Solmed, penting bagi semua pihak untuk menjalankan tugas mereka dengan baik. “Kementerian Informatika, pemuka agama, orang tua, dan anak-anak, semua punya tugas masing-masing. Jika semua melaksanakan tugas dengan baik, fitnah dan informasi palsu tidak akan mudah dipercaya,” tegasnya.

Ustaz Solmed Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Ustaz Solmed Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Eddy Wijaya menambahkan bahwa teknologi memiliki potensi besar untuk memberikan dampak positif, namun juga membawa risiko yang tidak bisa diabaikan. Ustaz Solmed sepakat dan menekankan pentingnya kesadaran dan tanggung jawab dalam menggunakan teknologi.

“Setiap kita harus bertanggung jawab dengan apa yang kita gunakan dan pakai. Dengan keilmuan dan kesadaran yang tepat, kita bisa mengurangi dampak negatif dari teknologi dan memanfaatkannya untuk kebaikan,” kata Ustaz Solmed.

Tags :

Ustaz Solmed Ungkap Keikhlasan dan Pengorbanan dalam Kisah Nabi Ibrahim

Ustaz Solmed Ungkap Keikhlasan dan Pengorbanan dalam Kisah Nabi Ibrahim

Ustaz Solmed Ungkap Keikhlasan dan Pengorbanan dalam Kisah Nabi Ibrahim

July 1, 2024
Ustaz Solmed Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Ustaz Solmed. (Foto: EdShareOn.com)

JAKARTA – Dalam episode terbaru podcast EdShareOn, Eddy Wijaya berbincang dengan Ustaz Solmed tentang kisah Nabi Ibrahim dan putranya Ismail, yang merupakan contoh pengorbanan dan keikhlasan. Percakapan tersebut memberikan wawasan mendalam tentang makna Iduladha dan pentingnya komunikasi antara orangtua dan anak.

Eddy Wijaya membuka diskusi dengan menanyakan kepada Ustaz Solmed tentang makna keikhlasan dalam kisah Nabi Ibrahim yang diperintahkan untuk mengorbankan putranya, Ismail. Ustaz Solmed menjelaskan bahwa Nabi Ibrahim menunggu lama untuk mendapatkan keturunan hingga akhirnya menikah dengan Siti Hajar atas izin istri pertamanya, Siti Sarah. Dari pernikahan ini, lahirlah Nabi Ismail saat Nabi Ibrahim sudah tua.

Ustaz Solmed Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Ustaz Solmed Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

“Nabi Ibrahim sudah menunggu lama untuk mendapatkan anak. Ketika Ismail lahir, beliau sangat bahagia. Namun, ketika Ismail sudah memasuki usia remaja, datang perintah Allah untuk mengorbankan putranya. Hebatnya, Nabi Ibrahim tidak langsung melaksanakan perintah itu tanpa bicara dengan Ismail. Dia bertanya, ‘Anakku, apa pendapatmu dengan perintah Allah lewat mimpiku ini?’,” jelas Ustaz Solmed.

Ustaz Solmed menekankan bahwa pendidikan dan komunikasi yang baik antara orangtua dan anak sangat penting dalam membentuk karakter anak. “Nabi Ibrahim memberikan contoh yang baik dengan mendidik Ismail sehingga ketika diuji, Ismail menjawab tegas dan lugas, ‘Kalau itu perintah Allah, laksanakan saja, Ayah’,” katanya.

Ia juga menyampaikan bahwa banyak orangtua saat ini yang kurang berdialog dengan anak-anak mereka. “Banyak anak sekarang yang tidak mau disuruh membantu orangtua, seperti pergi ke pasar atau membeli obat. Ini bisa menjadi renungan bagi kita, apakah kita sudah memberikan pendidikan yang cukup kepada anak-anak tentang hormat, taat, dan patuh kepada orang tua,” tambahnya.

Ustaz Solmed Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Ustaz Solmed Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Ustaz Solmed menjelaskan bahwa kurban berasal dari kata Taqarrub yang berarti proses mendekatkan diri kepada Allah. “Iduladha ini adalah momen untuk mendekatkan diri dengan mengeluarkan harta dan membeli hewan kurban. Tujuannya adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala,” ungkapnya.

Ustaz Solmed juga menekankan bahwa mendekatkan diri kepada Allah akan membawa keberkahan dan kemudahan dalam hidup. “Kalau kita dekat dengan seseorang, pasti ada rasa saling peduli dan membantu. Begitu juga dengan Allah, yang Maha Kaya dan tahu kebutuhan hamba-Nya tanpa diminta,” ujarnya.

Tags :