Rahmat Shah Angkat Nama Indonesia di Kancah Internasional

Rahmat Shah Angkat Nama Indonesia di Kancah Internasional

Rahmat Shah Angkat Nama Indonesia di Kancah Internasional

August 15, 2024
Rahmat Shah saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Rahmat Shah. (Foto: EdShareOn.com)

JAKARTA – Pada episode terbaru podcast EdShareOn, Eddy Wijaya duduk bersama Rahmat Shah, seorang filantropis dan pencinta satwa, untuk membahas perjalanan uniknya dalam dunia konservasi yang dipadukan dengan berburu. Pembicaraan ini tidak hanya membuka wawasan mengenai aktivitas Rahmat Shah, tetapi juga bagaimana ia menggabungkan minatnya terhadap satwa dengan usaha untuk melestarikan alam.

Eddy Wijaya membuka diskusi dengan membahas koleksi Rahmat Museum yang memuat lebih dari 2.600 spesies. Rahmat Shah dengan bangga menjelaskan bahwa koleksi tersebut bukan hanya terdiri dari binatang besar, tetapi juga mencakup berbagai jenis serangga seperti nyamuk, semut, lalat, dan kumbang, serta ratusan jenis kupu-kupu. Museum ini tidak hanya menjadi tempat penyimpanan spesimen, tetapi juga simbol prestasi Rahmat Shah yang telah mendapatkan pengakuan internasional.

Rahmat Shah saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Rahmat Shah saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

“Saya jadi cover, bayangin Putra Indonesia jadi cover,” ungkap Rahmat Shah dengan penuh kebanggaan. Melalui berbagai prestasinya, termasuk menjadi cover pada majalah internasional, Rahmat Shah merasa telah membawa nama baik bangsa Indonesia di mata dunia.

Namun, Rahmat Shah tidak hanya berhenti pada pengumpulan spesimen. Ia juga mendirikan dan mengelola kebun binatang yang hidup, sebuah langkah yang didorong oleh keinginan untuk menyediakan tempat hiburan yang mendidik, sehat, dan terjangkau bagi masyarakat. “Masyarakat itu butuh tempat hiburan yang layak, sehat, mendidik dan terjangkau. Ya itu kebun binatang,” ujar Rahmat Shah.

Menurutnya, kebun binatang bukan sekadar tempat hiburan, tetapi juga menjadi sarana edukasi bagi anak-anak dan keluarga. Dengan biaya yang relatif terjangkau, masyarakat dapat menikmati waktu bersama keluarga sambil belajar mencintai dan memahami binatang.

Rahmat Shah saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Rahmat Shah saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Ketika ditanya oleh Eddy Wijaya tentang bagaimana ia bisa mengelola museum dan kebun binatang sekaligus, Rahmat Shah menjelaskan bahwa motivasinya didorong oleh keinginan untuk melihat orang lain bahagia. “Saya senang lihat orang bahagia,” katanya, menekankan bahwa kepuasan batin yang didapat dari melihat kebahagiaan orang lain jauh lebih berharga daripada keuntungan finansial.

Penutupan diskusi ditandai dengan refleksi Rahmat Shah tentang nilai harta dan kehidupan. Meskipun banyak tawaran yang datang untuk membeli koleksinya, termasuk tawaran sebesar 20 hingga 23 juta dolar dari Dubai, Rahmat Shah memilih untuk tetap mempertahankan museumnya di Indonesia sebagai bentuk kebanggaan nasional. “Harta itu bukan segalanya,” katanya, menunjukkan bahwa bagi Rahmat Shah, warisan dan kontribusi bagi bangsa jauh lebih berharga daripada kekayaan materi.

Tags :

Recent Posts

Sutiyoso Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Sutiyoso Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Rahmat Shah: Berburu Harus Punya Tata Krama

Rahmat Shah: Berburu Harus Punya Tata Krama

Rahmat Shah: Berburu Harus Punya Tata Krama

August 14, 2024
Rahmat Shah saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Rahmat Shah. (Foto: EdShareOn.com)

JAKARTA – Dalam episode terbaru podcast EdShareOn, Eddy Wijaya mengundang Rahmat Shah, seorang filantropis dan pencinta satwa, untuk membahas topik tentang berburu bisa menjadi bagian dari konservasi alam. Diskusi ini mengangkat isu yang sering disalahpahami, yaitu keterlibatan Rahmat Shah dalam aktivitas berburu yang tampaknya bertentangan dengan misinya dalam pelestarian satwa.

Eddy Wijaya membuka diskusi dengan pertanyaan tajam, “Banyak orang bisa salah paham. Pak Rahmat Shah suka berburu binatang tapi dibilang konservasi, ini gimana ceritanya? Udah berburu tapi kok konservasi?”.

Rahmat Shah saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Rahmat Shah saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Rahmat Shah kemudian menjelaskan bahwa persepsi tersebut sering muncul, namun ia sendiri tidak langsung percaya hingga akhirnya menemukan solusi melalui pengalamannya di berbagai negara. Ia menceritakan bagaimana ia terlibat dalam Safari Club International (SCI) setelah berdiskusi dengan seorang diplomat Amerika. Melalui keanggotaannya di SCI, Rahmat Shah memulai perjalanan berburu di berbagai negara seperti Afrika, Amerika Serikat, Kanada, dan banyak lagi, untuk mempelajari konsep fair chase atau perburuan yang adil.

“Saya berburu di banyak negara untuk belajar kenapa boleh menembak, berburu, dan bagaimana hal itu justru menambah populasi satwa dan menjaga habitatnya,” ujar Rahmat Shah. Ia menekankan bahwa sistem perburuan di luar negeri berbeda. Di negara-negara maju, perburuan dilakukan dengan tata krama yang ketat, seperti hanya memburu pada siang hari dan memastikan bahwa tembakan langsung mematikan tanpa menyiksa hewan.

Rahmat Shah juga membahas konsep konservasi melalui pemanfaatan, di mana hewan yang diburu tidak dihabisi sembarangan, melainkan dipilih berdasarkan usia dan kondisi tertentu untuk menjaga keseimbangan populasi. “Misalnya gajah, gadingnya harus 1,5 meter baru boleh ditembak. Ini untuk memastikan hanya gajah yang sudah tua dan tidak lagi produktif yang diburu,” jelasnya.

Rahmat Shah saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Rahmat Shah saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Rahmat Shah menyoroti pentingnya regulasi dalam perburuan untuk menghindari kepunahan satwa. Ia menyayangkan praktik perburuan liar yang tidak sesuai aturan, yang menurutnya justru merusak upaya konservasi. Ia juga mengakui bahwa aktivitas berburu memiliki risiko tinggi, terutama ketika ia harus berburu di kondisi ekstrem seperti di perbatasan Rusia dengan Kazakhstan dengan suhu minus 30 derajat.

Diskusi ini kemudian ditutup dengan pengakuan Rahmat Shah bahwa meskipun berburu, ia sangat menghargai satwa liar dan berusaha menjaga keberadaan mereka melalui berbagai program konservasi. Ia juga menceritakan bahwa hasil perburuan yang legal sering kali disumbangkan ke museum sebagai bentuk edukasi kepada masyarakat tentang pentingnya konservasi.

Tags :

Rahmat Shah, Perjalanan Hidup dan Kecintaannya pada Satwa

Rahmat Shah, Perjalanan Hidup dan Kecintaannya pada Satwa

Rahmat Shah, Perjalanan Hidup dan Kecintaannya pada Satwa

August 13, 2024
Rahmat Shah saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Rahmat Shah. (Foto: EdShareOn.com)

JAKARTA – Pada episode terbaru podcast *EdShareOn*, Eddy Wijaya berbincang dengan Rahmat Shah, seorang filantropis dan pencinta satwa, yang juga dikenal luas atas dedikasinya dalam bidang konservasi alam. Diskusi ini menggali lebih dalam kisah hidup Rahmat Shah, mulai dari masa kecilnya di desa hingga perjalanannya menjadi seorang yang berpengaruh dalam pelestarian satwa di Indonesia.

Rahmat Shah, yang lahir dan dibesarkan di sebuah desa kecil di Kecamatan Perdagangan, Sumatera Utara, menceritakan bagaimana kecintaannya pada alam dan satwa tumbuh sejak kecil. “Saya dari kecil sudah sering mengantongi kelabang, kalajengking, ular dan hewan-hewan lainnya. Saya bisa marah berhari-hari jika hewan-hewan itu dibunuh,” ujarnya mengenang. Kebersamaan dengan alam yang dia rasakan sejak kecil memberikan ketenangan dan kebahagiaan, yang akhirnya membentuk dasar dari kecintaannya terhadap satwa dan alam.

Rahmat Shah saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Rahmat Shah saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Perjalanan hidup Rahmat Shah tidaklah mudah. Ia memulai kariernya dari bawah, bekerja di berbagai pekerjaan kasar sejak usia belia. “Dari umur 11 hingga 13 tahun, saya sudah bekerja memecah batu dan membantu tukang,” kenangnya. Perjalanan ini membawanya ke Medan, di mana ia melanjutkan pendidikan sambil bekerja di bengkel. Ketekunan dan dedikasi Rahmat Shah akhirnya membawanya bertemu dengan tokoh-tokoh penting, termasuk Surya Paloh yang memberikan kesempatan untuk mengembangkan kariernya di dunia bisnis otomotif.

Melalui kerja keras dan fokus, Rahmat Shah berhasil membangun kariernya, yang kemudian membawanya pada kesuksesan besar. “Alhamdulillah, dengan kerja keras dan fokus, saya akhirnya bisa membangun perusahaan sendiri dan meraih sukses,” katanya.

Rahmat Shah saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Rahmat Shah saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Namun, bukan hanya kesuksesan dalam dunia bisnis yang membuat Rahmat Shah dikenal luas. Kepeduliannya terhadap satwa dan alam menjadikannya seorang filantropis yang dihormati. Salah satu kontribusinya yang paling signifikan adalah dukungannya terhadap kebun binatang di Medan selama pandemi COVID-19, di mana ia menyumbangkan 1 miliar rupiah untuk membantu menjaga kelangsungan hidup satwa-satwa di sana.

Sebagai Ketua Lembaga Konservasi Indonesia, Rahmat Shah juga berbicara tentang pentingnya peran kebun binatang dalam pelestarian satwa langka. Ia menekankan bahwa kebun binatang tidak hanya berfungsi sebagai tempat hiburan, tetapi juga sebagai lembaga pendidikan dan konservasi yang penting bagi masa depan anak cucu. “Peran fungsi kebun binatang sangat mulia sebagai benteng terakhir penyelamatan satwa langka, anugerah Tuhan yang tak ternilai bagi bangsa kita,” tegasnya.

Tags :

Hasto Wardoyo Ungkap Tantangan Vasektomi dan Penurunan Stunting di Indonesia

Hasto Wardoyo Ungkap Tantangan Vasektomi dan Penurunan Stunting di Indonesia

Hasto Wardoyo Ungkap Tantangan Vasektomi dan Penurunan Stunting di Indonesia

August 13, 2024
dr. Hasto Wardoyo saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

dr. Hasto Wardoyo. (Foto: EdShareOn.com)

JAKARTA – Pada episode terbaru podcast EdShareOn, Eddy Wijaya berbincang dengan Hasto Wardoyo, Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN). Diskusi mereka menyoroti dua isu penting: program vasektomi sebagai salah satu metode Keluarga Berencana (KB) dan upaya pemerintah dalam menurunkan angka stunting di Indonesia.

Eddy Wijaya membuka diskusi dengan mengangkat isu rendahnya kesadaran pria untuk ikut serta dalam program KB, khususnya melalui vasektomi. Hasto Wardoyo menjelaskan bahwa saat ini hanya sekitar 5% pria yang menjadi akseptor KB, dengan sebagian besar menggunakan kondom dan sedikit sekali yang memilih vasektomi.

dr. Hasto Wardoyo saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
dr. Hasto Wardoyo saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Meskipun vasektomi telah terbukti aman dan bahkan bisa dibalik melalui operasi rekanalisasi, banyak pria masih enggan karena termakan mitos bahwa prosedur ini dapat mengurangi keperkasaan mereka. “Sebetulnya, teknologi medis saat ini sudah sangat maju. Vasektomi bisa dibalik jika diperlukan, dan prosedurnya sendiri sekarang sudah tanpa pisau, jadi minim rasa sakit,” jelas Hasto. Ia menambahkan bahwa pemerintah menyediakan layanan vasektomi secara gratis dan bahkan memberikan insentif berupa uang saku Rp300.000 bagi yang melakukannya.

Hasto Wardoyo juga mengakui perlunya kampanye yang lebih gencar untuk meningkatkan partisipasi pria dalam KB melalui vasektomi. Ia berbagi pengalaman ketika dirinya masih menjabat sebagai Bupati, di mana ia memberikan kambing sebagai insentif bagi mereka yang bersedia menjalani vasektomi. “Waktu itu, saya ditargetkan hanya 26 vasektomi, tapi setelah saya umumkan hadiah kambing, yang datang 126 orang. Ini menunjukkan bahwa dengan sosialisasi yang tepat, partisipasi bisa meningkat,” kenangnya.

Selain membahas vasektomi, Eddy Wijaya juga mengangkat isu stunting yang menjadi perhatian besar pemerintah saat ini. Hasto Wardoyo menjelaskan bahwa meskipun data survei menunjukkan angka stunting masih di sekitar 21%, data real di lapangan dari posyandu menunjukkan angka yang jauh lebih rendah, bahkan hingga 6%.

dr. Hasto Wardoyo saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
dr. Hasto Wardoyo saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Menurut Hasto, stunting tidak hanya disebabkan oleh kurangnya asupan gizi, tetapi juga oleh faktor lingkungan seperti sanitasi yang buruk dan air yang tidak bersih. “Kita harus mendekatkan angka real dengan survei, salah satunya dengan memastikan lebih banyak anak datang ke posyandu untuk penimbangan dan pengukuran secara rutin,” ujarnya. Ia juga menegaskan bahwa target penurunan stunting ke 14% pada tahun 2024 merupakan tantangan besar, tetapi optimis bisa dicapai, setidaknya mendekati angka 20% sesuai standar WHO.

Menanggapi pertanyaan Eddy Wijaya tentang alokasi anggaran Rp30 triliun yang disebutkan oleh Menteri PPN, Hasto Wardoyo menjelaskan bahwa sebagian besar anggaran tersebut digunakan untuk program Keluarga Harapan (PKH) dan BPJS Kesehatan. Sisa anggaran yang lebih kecil kemudian digunakan untuk program-program pendukung yang berfokus pada peningkatan sanitasi dan kebersihan lingkungan, yang secara tidak langsung berdampak pada penurunan angka stunting. “Sebanyak 70% faktor penyebab stunting adalah lingkungan yang tidak bersih. Jadi, program pendukung seperti membangun sumur bersih atau memperbaiki sanitasi sangat penting,” katanya.

Tags :

Hasto Wardoyo Ungkap Kekhawatiran Terhadap Seks Bebas

Hasto Wardoyo Ungkap Kekhawatiran Terhadap Seks Bebas

Hasto Wardoyo Ungkap Kekhawatiran Terhadap Seks Bebas

August 8, 2024
dr. Hasto Wardoyo saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

dr. Hasto Wardoyo. (Foto: EdShareOn.com)

JAKARTA – Pada episode terbaru podcast EdShareOn, Eddy Wijaya mengundang Hasto Wardoyo untuk berdiskusi mengenai isu-isu terkini terkait perilaku seksual remaja dan kebijakan BKKBN. Hasto Wardoyo, Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), menyampaikan keprihatinannya terhadap fenomena pergeseran perilaku seksual di kalangan remaja Indonesia.

Hasto Wardoyo memulai dengan mengungkapkan data dari Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI), yang menunjukkan bahwa hubungan seks pertama di kalangan remaja terjadi pada usia 15 hingga 19 tahun. “Laki-laki sekitar 74% dan perempuan sekitar 60% melaporkan hubungan seks pertama pada usia 15 hingga 19 tahun,” jelasnya. Namun, usia pernikahan pertama rata-rata terjadi pada usia 22 tahun. Hasto menekankan bahwa perbedaan ini menunjukkan peningkatan perzinaan dan seks bebas di kalangan remaja.

dr. Hasto Wardoyo saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
dr. Hasto Wardoyo saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Eddy Wijaya kemudian menanyakan tentang pendidikan moral di keluarga dan agama sebagai solusi. Hasto setuju bahwa data ini perlu dipahami oleh masyarakat luas, termasuk oleh pemuka agama dan orangtua, untuk meningkatkan kesadaran dan pengawasan terhadap perilaku seksual remaja. Ia juga mengungkapkan bahwa pacaran di masa kini jauh lebih bebas dibandingkan dengan masa lalu, di mana hubungan lebih terbatas dan lebih banyak melalui surat menyurat.

Hasto Wardoyo juga menjelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku ini, termasuk kemudahan akses komunikasi melalui media sosial. “Komunikasi sekarang bisa dilakukan kapan saja, yang memberikan keleluasaan lebih besar dalam pergaulan,” ujarnya. Ia juga menggambarkan bagaimana perubahan budaya pacaran telah mengubah cara remaja berinteraksi, yang dapat meningkatkan syahwat dan emosional seks.

dr. Hasto Wardoyo saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
dr. Hasto Wardoyo saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Untuk mengatasi masalah ini, BKKBN memiliki beberapa inisiatif. Program Bina Keluarga Remaja bertujuan memberikan pendidikan seks yang komprehensif kepada orangtua remaja, membantu mereka memahami perubahan-perubahan masa puber dan bagaimana mengawasi anak-anak mereka. Selain itu, BKKBN juga membentuk Generasi Berencana (Genre), sebuah kelompok anak muda yang memberikan edukasi kepada teman sebaya mereka. “Anak muda lebih percaya pada teman sebaya mereka daripada pada orang dewasa,” jelas Hasto.

Eddy Wijaya juga menyinggung tentang tren pasangan yang memilih memiliki sedikit anak, mengingat program Keluarga Berencana pada masa Orde Baru yang mendorong “Dua Anak Cukup”. Hasto menjelaskan bahwa saat ini BKKBN lebih fokus pada kualitas daripada kuantitas. “Dua anak tetap menjadi tujuan, tetapi lebih penting lagi adalah kualitas hidup mereka,” katanya. Ia menekankan pentingnya jarak yang sehat antara kelahiran anak dan usia ideal orangtua saat melahirkan untuk mencegah masalah kesehatan seperti stunting.

Tags :

Tanggapan Hasto Wardoyo Soal Fenomena Childfree di Indonesia

Tanggapan Hasto Wardoyo Soal Fenomena Childfree di Indonesia

Tanggapan Hasto Wardoyo Soal Fenomena Childfree di Indonesia

August 7, 2024
dr. Hasto Wardoyo saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

dr. Hasto Wardoyo. (Foto: EdShareOn.com)

JAKARTA – Dalam sebuah episode podcast EdShareOn, Eddy Wijaya mengundang Hasto Wardoyo untuk membahas isu-isu terkini mengenai fenomena childfree dan dampaknya di Indonesia. Hasto Wardoyo, yang dikenal sebagai Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), memberikan wawasan mendalam tentang fenomena ini.

Eddy Wijaya membuka diskusi dengan mengangkat isu meningkatnya jumlah perempuan yang memilih childfree di Indonesia, yang dikabarkan mencapai 71.000 orang. Hasto Wardoyo mengakui belum mengetahui data tersebut, tetapi menjelaskan bahwa data empiris menunjukkan adanya penurunan animo pernikahan. “Pada tahun 2013, pernikahan di Indonesia mencapai sekitar 2,2 juta per tahun, tetapi pada tahun 2023 jumlahnya turun menjadi 1,5 juta. Ini adalah penurunan yang signifikan,” ungkapnya.

dr. Hasto Wardoyo saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
dr. Hasto Wardoyo saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Hasto juga menyebutkan bahwa meskipun usia pernikahan bergeser ke arah yang lebih dewasa, jumlah pernikahan seharusnya tidak menurun secara drastis. “Jika semua orang tetap ingin menikah meskipun di usia yang lebih tua, seharusnya jumlah pernikahan tetap tinggi,” tambahnya.

Eddy Wijaya menanyakan tentang risiko kesehatan yang mungkin dihadapi oleh perempuan yang memilih untuk tidak memiliki anak. Hasto Wardoyo, sebagai seorang dokter kebidanan, menjelaskan bahwa ada risiko kesehatan yang terkait dengan keputusan ini. “Perempuan yang tidak memiliki anak cenderung memiliki risiko lebih tinggi terhadap kanker rahim (endometrium) dan kanker payudara,” jelasnya. Ia menambahkan bahwa fungsi alami tubuh, seperti menyusui, memiliki peran penting dalam melindungi kesehatan reproduksi perempuan.

dr. Hasto Wardoyo saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
dr. Hasto Wardoyo saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Hasto menguraikan beberapa faktor yang mendorong orang untuk memilih childfree. Pertama, urbanisasi dan kehidupan di perkotaan. “Semakin orang tinggal di kota, semakin sedikit jumlah anak yang mereka miliki dan semakin mundur usia pernikahan mereka,” katanya. Faktor kedua adalah status ekonomi. “Orang dengan status ekonomi lebih tinggi cenderung memiliki lebih sedikit anak dan menunda pernikahan,” jelasnya. Faktor ketiga adalah pendidikan. “Semakin tinggi pendidikan seseorang, semakin mundur usia pernikahannya. Orang-orang yang mengejar pendidikan tinggi cenderung menunda pernikahan untuk fokus pada pendidikan mereka,” tambahnya.

Hasto Wardoyo menyimpulkan bahwa tiga faktor utama yaitu tempat tinggal, status ekonomi, dan tingkat pendidikan adalah pendorong utama fenomena childfree di Indonesia. Ia juga menekankan pentingnya edukasi tentang kesehatan reproduksi untuk menginformasikan masyarakat tentang konsekuensi dari memilih childfree.

Tags :

Hasto Wardoyo Klarifikasi Soal Pernyataannya yang Menuai Kontroversi

Hasto Wardoyo Klarifikasi Soal Pernyataannya yang Menuai Kontroversi

Hasto Wardoyo Klarifikasi Soal Pernyataannya yang Menuai Kontroversi

August 6, 2024
dr. Hasto Wardoyo saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

dr. Hasto Wardoyo. (Foto: EdShareOn.com)

JAKARTA – Dalam episode terbaru podcast EdShareOn, Eddy Wijaya berbincang dengan Hasto Wardoyo, kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), mengenai beberapa pernyataannya yang menuai kontroversi, termasuk tentang kebahagiaan meski dalam kemiskinan. Hasto menguraikan bahwa BKKBN memiliki dua tugas utama: menjaga pertumbuhan penduduk seimbang dan mewujudkan keluarga berkualitas. Kedua visi ini diukur melalui Indeks Pembangunan Keluarga atau ibangga, yang mencakup tiga dimensi yaitu tentram, mandiri, dan bahagia.

Hasto menjelaskan dalam pengukuran terakhir pada akhir 2023, dimensi kebahagiaan memperoleh skor tertinggi yaitu 71, sementara kemandirian mendapat skor terendah 51, dan ketentraman 59. “Ini menunjukkan bahwa meskipun kemandirian ekonomi kita rendah, kebahagiaan masyarakat masih tinggi,” tuturnya. Menurut Hasto, ini dapat dijelaskan oleh budaya dan filosofi masyarakat Indonesia yang cenderung mensyukuri keadaan apa adanya.

dr. Hasto Wardoyo saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
dr. Hasto Wardoyo saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Eddy Wijaya menyoroti aspek tentram dalam pernikahan resmi. Hasto menjelaskan bahwa status keluarga yang jelas berkontribusi terhadap ketentraman keluarga. Namun, ia juga menekankan bahwa dimensi ini mencakup lebih dari sekadar status resmi, seperti tidak adanya percekcokan dalam keluarga dan stabilitas rumah tangga.

Kontroversi lainnya yang dibahas adalah pernyataan Hasto mengenai pentingnya memiliki anak perempuan. Hasto meluruskan bahwa pernyataannya dipelintir. “Saya berharap setiap perempuan bisa melahirkan rata-rata satu anak perempuan. Ini untuk menjaga keseimbangan populasi. Jika rata-rata setiap perempuan melahirkan satu anak perempuan, maka populasi perempuan di masa depan akan tetap stabil,” jelas Hasto.

dr. Hasto Wardoyo saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
dr. Hasto Wardoyo saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Dia menambahkan bahwa ini penting untuk mencegah penurunan populasi di masa depan, yang bisa mengganggu kestabilan bangsa. Hasto mencatat bahwa beberapa negara maju seperti Jepang dan Singapura menghadapi tantangan besar dengan populasi yang menurun karena banyak perempuan yang memilih untuk tidak memiliki anak.

Eddy Wijaya juga menanyakan tentang budaya modern seringkali membuat perempuan memilih untuk childfree. Hasto menekankan bahwa Indonesia harus belajar dari pengalaman negara-negara ini dan berupaya menjaga keseimbangan populasi dengan mendorong kelahiran anak perempuan.

Tags :

Visi Dedie Rachim untuk Memajukan Kota Bogor

Visi Dedie Rachim untuk Memajukan Kota Bogor

Visi Dedie Rachim untuk Memajukan Kota Bogor

August 4, 2024
Dedie Rachim saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Dedie Rachim. (Foto: EdShareOn.com)

JAKARTA – Dalam episode terbaru podcast EdShareOn, Eddy Wijaya berbincang dengan Dedie Rachim mengenai visinya untuk memajukan Kota Bogor jika terpilih sebagai walikota. Dengan latar belakang pengalamannya yang luas, Dedie membagikan pandangan dan rencananya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat Bogor melalui berbagai inisiatif.

Dedie menekankan bahwa tujuan utama dari segala upayanya adalah mensejahterakan masyarakat. Ia menyatakan, “Ultimate goals-nya itu apa sih? Ujung-ujungnya itu masyarakat sejahtera.” Untuk mencapai ini, Dedie berencana memberikan insentif pemerintah, memudahkan akses berusaha, dan memperbaiki infrastruktur lalu lintas serta permodalan.

Dedie Rachim saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Dedie Rachim saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Menurut Dedie, Kota Bogor memiliki keunikan yang tidak dimiliki kota lain, yaitu Kebun Raya dan Istana Bogor. “Kita harus mempertahankan sampai kapan pun Bogor ini sebagai Green City atau kota yang hijau,” tegasnya. Dedie berkomitmen untuk menurunkan tingkat polusi dan meningkatkan kesehatan masyarakat dengan memperbaiki lalu lintas dan beralih ke transportasi umum yang lebih ramah lingkungan.

Dedie juga melihat potensi besar dari berbagai lembaga riset di Bogor, seperti IPB dan berbagai universitas lainnya. “Bogor ini banyak sekali lembaga-lembaga riset. Riset pertanian, perkebunan, bahkan perikanan ada di Bogor semua,” ujarnya. Dedie berencana untuk memanfaatkan potensi ini sebagai sumber pendapatan masyarakat, menjadikan Bogor sebagai kota riset, pendidikan, dan wisata yang dapat menunjang kesejahteraan masyarakat.

Dedie Rachim memiliki pandangan jelas tentang bagaimana mempersiapkan generasi muda menghadapi Indonesia Emas 2045. Ia menekankan pentingnya menjaga reputasi sejak dini. “Yang pertama yang harus generasi muda pegang itu adalah bagaimana mereka menjaga reputasi nomor satu itu,” katanya. Dedie mengingatkan bahwa reputasi buruk di masa kecil bisa berdampak hingga dewasa, sehingga penting untuk menjaga nama baik diri dan keluarga.

Dedie Rachim saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Dedie Rachim saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Dedie juga menyarankan generasi muda untuk fokus pada minat dan keahlian mereka. “Cintai apa yang kalian minati dan kuasai. Jadi enggak usah pengin ahli di semua bidang. Kalian ahli di bidang fotografi, jalanin itu aja sampai dengan kalian ahli,” tuturnya. Ia juga menekankan pentingnya konsistensi dan pendidikan akademis yang memadai untuk mencapai kesuksesan.

Menurut Dedie, integritas adalah kunci untuk menjadi pribadi yang hebat dan dipercaya. Ia mengingatkan pentingnya karakter seperti jujur, mandiri, disiplin, peduli, dan tanggung jawab. “Orang-orang besar itu dimulai dari kamarnya dulu diberesin dirapihin hal-hal kecil,” ungkapnya. Dedie percaya bahwa nilai-nilai integritas ini akan menjadi modal penting bagi generasi muda untuk maju dan sukses.

Tags :

Mewujudkan Pemerintahan yang Bersih Ala Dedie Rachim

Mewujudkan Pemerintahan yang Bersih Ala Dedie Rachim

Mewujudkan Pemerintahan yang Bersih Ala Dedie Rachim

August 1, 2024
Dedie Rachim saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Dedie Rachim. (Foto: EdShareOn.com)

JAKARTA – Di episode terbaru podcast EdShareOn, Eddy Wijaya berbincang dengan Dedie Rachim, mantan anggota Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) selama hampir 13 tahun, yang kini membidik kursi Walikota Bogor. Dedie memaparkan pengalamannya di KPK dan bagaimana ia berencana mengimplementasikan prinsip-prinsip pemerintahan bersih dan akuntabel di Kota Bogor.

Dedie menjelaskan bahwa bekerja di KPK memberikan perspektif yang berharga mengenai bagaimana teori pemerintahan yang bersih dapat diterapkan dalam praktik. “KPK dengan pemerintah daerah ibaratnya yang satu itu teori tetapi di pemerintah daerah ini praktiknya ujiannya,” katanya. Menurut Dedie, membangun pemerintahan yang bersih memerlukan upaya bersama, integritas, dan contoh nyata dari para pemimpin.

Dedie Rachim saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Dedie Rachim saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Sebagai calon Walikota Bogor, Dedie berkomitmen untuk menerapkan pengalaman dan pelajaran yang didapat dari KPK untuk memastikan birokrasi yang bersih dan transparan. Ia menyoroti bahwa Kota Bogor telah menerima predikat Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) sebanyak tujuh kali berturut-turut, lima tahun terakhir di mana Dedie turut serta dalam pemerintahan kota. “Ini menjadi dorongan bagi birokrasi untuk ikut. Bukan hanya status WTP yang menjadi tujuan akhir tetapi sebagai kesempatan untuk memperbaiki sistem,” jelasnya.

Dedie juga menekankan bahwa integritas adalah kunci dalam birokrasi yang bersih. “Dengan manajemen birokrasi yang bersih transparan akuntabel, ada pembelajaran dari para birokrat ini untuk bagaimana mengelola integritas,” tuturnya. Menurutnya, memberikan contoh teladan adalah cara terbaik untuk mendorong integritas. “Enggak usah diomongin ‘Oh kamu jangan korupsi ya kamu jangan korupsi’ tapi bagaimana kita mencontohkan aja,” tambahnya.

Dedie Rachim saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Dedie Rachim saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Selain itu, Dedie Rachim juga pernah menjabat sebagai Pelaksana Tugas (PLT) Direktur Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN) di KPK. Ia menggarisbawahi pentingnya fungsi kontrol dan akuntabilitas dalam pelaporan kekayaan pejabat publik. “Setiap orang itu tentu harus mempertanggungjawabkan hasil-hasil kekayaan yang mereka peroleh dari sumber-sumber pendapatan yang sah,” jelas Dedie. Fungsi kontrol ini, menurut Dedie, bertujuan untuk mencegah praktik-praktik koruptif dan memastikan bahwa birokrasi berjalan sesuai aturan.

Namun, Dedie juga mengakui bahwa dalam sistem hukum Indonesia belum ada mekanisme pembuktian terbalik yang efektif. “Di hukum kita belum ada pembuktian terbalik. Tetapi nomor satu bagaimana fungsi kontrol dan juga setiap orang itu bisa mempertanggungjawabkan saja itu sudah cukup untuk tahapan ini,” ujarnya.

Tags :

Dedie Rachim Ungkap Visi Sinergi dan Inovasi untuk Kota Bogor

Dedie Rachim Ungkap Visi Sinergi dan Inovasi untuk Kota Bogor

Dedie Rachim Ungkap Visi Sinergi dan Inovasi untuk Kota Bogor

July 31, 2024
Dedie Rachim saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Dedie Rachim. (Foto: EdShareOn.com)

JAKARTA – Pada episode terbaru podcast EdShareOn, Eddy Wijaya berbincang dengan Dedie Rachim yang memaparkan visinya untuk Kota Bogor. Sebagai kota yang dikenal dengan perdagangan dan jasa, Dedie menyoroti berbagai upaya yang telah dan akan dilakukan untuk meningkatkan potensi kota ini, terutama melalui sinergi dengan berbagai institusi dan inovasi dalam berbagai sektor.

Dedie Rachim menekankan bahwa Kota Bogor memiliki keunggulan dalam bidang pendidikan, dengan keberadaan Institut Pertanian Bogor (IPB) sebagai salah satu perguruan tinggi ternama. “IPB merupakan partner strategis pemerintah kota dalam mengembangkan produk-produk turunan pertanian, riset, packaging, dan pemasaran,” ujarnya. Kerja sama lintas bidang ini menjadi kunci dalam mendukung sektor jasa dan perdagangan yang menjadi tulang punggung pendapatan asli daerah Kota Bogor.

Dedie Rachim saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Dedie Rachim saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Meskipun Kota Bogor tidak memiliki banyak lahan pertanian, Dedie melihat potensi besar dalam mengolah dan memasarkan produk-produk pertanian dari daerah sekitar. “Ada pusat riset pengembangan produk-produk pertanian di Taman Kencana yang mengolah produk pertanian hingga mencapai kualitas ekspor. Ini adalah salah satu contoh kolaborasi yang perlu terus dikembangkan,” kata Dedie. Dengan memperkuat kerja sama dengan kabupaten sekitar, potensi pertanian dapat dioptimalkan untuk kepentingan masyarakat dan pelaku usaha.

Dalam sektor pariwisata, Dedie Rachim memiliki visi untuk menjadikan Bogor tidak hanya sebagai Kota Pendidikan, tetapi juga sebagai Kota Wisata dan Kota Riset. “Kota dan Kabupaten Bogor merupakan tujuan pariwisata utama di wilayah Jabodetabek. Kita harus inovatif dalam mengembangkan destinasi wisata yang lebih variatif,” tuturnya. Dedie menyebutkan beberapa destinasi yang dapat dikembangkan, seperti wilayah Bogor Barat dengan hutan Cifor dan Situ Gede, Bogor Timur dengan konsep urban farming, serta Bogor Selatan dengan sentra tanaman hias yang berkontribusi pada pemasaran nasional.

Dedie Rachim saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Dedie Rachim saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Dedie juga menekankan pentingnya kampung-kampung wisata dan tematik yang sedang dibangun sebagai bagian dari pengembangan pariwisata. “Potensi wisata masa depan Bogor terletak pada pengembangan kampung-kampung tematik yang dapat menarik wisatawan dengan keunikan dan kekhasan masing-masing,” ujarnya.

Tags :