Rahmat Shah, Dedikasi untuk Bangsa Indonesia dan Kemanusiaan

Rahmat Shah, Dedikasi untuk Bangsa Indonesia dan Kemanusiaan

Rahmat Shah, Dedikasi untuk Bangsa Indonesia dan Kemanusiaan

August 21, 2024
Rahmat Shah saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Rahmat Shah. (Foto: EdShareOn.com)

JAKARTA – Di episode terbaru podcast EdShareOn yang dipandu oleh Eddy Wijaya, Rahmat Shah, seorang pengusaha sukses dan filantropis, berbagi pemikirannya tentang berbagai topik. Perbincangan ini menyoroti dedikasi Rahmat Shah untuk kemanusiaan dan kontribusinya bagi bangsa Indonesia serta hubungan eratnya dengan para pemimpin nasional dan internasional.

Rahmat Shah memulai pembicaraan dengan menekankan pentingnya menghormati simbol-simbol kebangsaan, seperti bendera dan lagu kebangsaan. Rahmat Shah merasa prihatin dengan penurunan etika, terutama di kalangan generasi muda yang seringkali kurang menghargai momen-momen tersebut. Ia menyoroti pentingnya disiplin dan etika sebagai kunci menuju kesuksesan dan kebahagiaan. Rahmat Shah percaya bahwa bangsa yang kuat adalah bangsa yang menghargai etika, kejujuran, dan rasa kebersamaan. Ia sering menegur mereka yang tidak menunjukkan sikap yang pantas dalam upacara resmi, karena menurutnya, disiplin adalah fondasi dari kebangsaan yang kokoh.

Rahmat Shah saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Rahmat Shah saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Rahmat Shah juga berbicara tentang dukungannya terhadap olahraga dan para atlet muda Indonesia. Ia telah menyediakan fasilitas pelatihan yang lengkap, seperti dojo dan mes untuk atlet di kawasan Cemara Hijau, yang sepenuhnya dimiliki olehnya. Dukungan ini tidak hanya berupa fasilitas fisik, tetapi juga perhatian dan motivasi yang diberikan kepada para atlet untuk mencapai prestasi tertinggi.

Menurutnya, prestasi dalam olahraga tidak hanya meningkatkan citra bangsa, tetapi juga membuka peluang karier bagi para atlet. Banyak dari mereka yang telah berhasil menjadi anggota TNI, Polri, atau PNS berkat prestasi olahraga mereka. Ini menunjukkan bahwa dukungan yang tepat dapat memberikan harapan dan masa depan yang lebih baik bagi generasi muda.

Dalam wawancara tersebut, Rahmat Shah juga menceritakan bagaimana ia diangkat sebagai Konsul Jenderal Kehormatan Turki di Sumatera. Ia memutuskan untuk menerima peran tersebut karena melihat potensi besar dalam meningkatkan ekspor dari Sumatera ke Turki, tanpa harus melalui negara ketiga seperti Malaysia atau Singapura. Rahmat Shah dengan bangga menyatakan bahwa ia tidak pernah meminta imbalan apa pun dari peran ini, bahkan ia menanggung semua biaya operasional kantor konsulat tersebut.

Rahmat Shah saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Rahmat Shah saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Dedikasinya untuk memfasilitasi perdagangan antara Indonesia dan Turki telah memberikan dampak positif, menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan devisa negara. Penghargaan yang diterimanya dari pemerintah Turki, termasuk penghargaan yang diberikan di atas kapal perang Turki, menunjukkan pengakuan atas kontribusi besar yang telah ia berikan.

Eddy Wijaya kemudian bertanya kepada Rahmat Shah tentang penghargaan yang paling berkesan di antara hampir 1.000 penghargaan yang telah diterimanya. Rahmat Shah menjawab bahwa penghargaan tertinggi yang ia terima dari tiga Presiden Indonesia, yaitu Soeharto, Susilo Bambang Yudhoyono, dan Joko Widodo, adalah yang paling membanggakan baginya. Penghargaan Bintang Mahaputra, yang diberikan kepadanya, adalah bukti pengabdian yang luar biasa kepada bangsa dan negara.

Rahmat Shah menutup wawancara dengan menyampaikan filosofi hidupnya dalam kepemimpinan. Menurutnya, perbedaan antara seorang pejabat dan penjahat sangat tipis. Seorang pejabat yang sejati adalah mereka yang menjalankan tugasnya untuk kepentingan masyarakat, bangsa, dan negara, bukan untuk keuntungan pribadi. Ia menolak tawaran untuk menjadi menteri karena merasa tidak mampu dan lebih memilih untuk berkontribusi di bidang lain yang ia kuasai.

Tags :

Recent Posts

Sutiyoso Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Sutiyoso Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Rahmat Shah, Dedikasi Tanpa Batas untuk Kemanusiaan

Rahmat Shah, Dedikasi Tanpa Batas untuk Kemanusiaan

Rahmat Shah, Dedikasi Tanpa Batas untuk Kemanusiaan

August 20, 2024
Rahmat Shah saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Rahmat Shah. (Foto: EdShareOn.com)

JAKARTA – Pada episode podcast EdShareOn yang dipandu oleh Eddy Wijaya, Rahmat Shah, seorang pengusaha sukses dan filantropis, berbagi cerita mengenai hubungan dekatnya dengan para pemimpin nasional dan internasional, serta dedikasinya untuk kemanusiaan melalui berbagai inisiatif sosial dan lingkungan. Rahmat Shah telah menjalin hubungan dengan hampir semua Presiden Indonesia, mulai dari Soeharto hingga Joko Widodo.

Dalam wawancara tersebut, ia mengungkapkan bahwa hubungan tersebut tidak hanya bersifat formal, tetapi juga mengandung elemen persahabatan dan penghargaan. Rahmat Shah menceritakan bahwa ia menerima berbagai penghargaan dari para Presiden, seperti penghargaan Primaniyarta dari Soeharto dan penghargaan peduli lingkungan dari Susilo Bambang Yudhoyono. Penghargaan tertinggi yang ia terima adalah Bintang Mahaputra, yang membuatnya layak dimakamkan di Taman Makam Pahlawan.

Rahmat Shah saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Rahmat Shah saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Meski demikian, Rahmat Shah memandang hidup dengan perspektif yang santai dan penuh humor. Ketika berbicara tentang kemungkinan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan, ia berkata kepada Eddy Wijaya dengan nada bercanda, “Jangan cepat-cepatlah,” menunjukkan bahwa meskipun ia telah mencapai banyak hal, ia tetap menjalani hidup dengan ringan dan penuh kebahagiaan.

Selain hubungan dengan para pemimpin nasional, Rahmat Shah juga dikenal memiliki hubungan baik dengan banyak tokoh internasional. Ia menekankan bahwa ia selalu menjalin hubungan tanpa muatan politik, tetapi lebih kepada persahabatan yang tulus. Ia juga suka memberikan oleh-oleh unik kepada sahabatnya, sesuatu yang menunjukkan sifatnya yang murah hati dan perhatian.

Salah satu inisiatif sosial yang sedang dikerjakan oleh Rahmat Shah adalah Dream Home Senior Healthy Living di Bali, sebuah kompleks hunian khusus untuk lansia yang terletak di lokasi yang indah, di mana penghuninya dapat menikmati pemandangan laut dan gunung, serta udara yang segar. Proyek ini merupakan salah satu wujud nyata dari dedikasi Rahmat Shah untuk kesejahteraan masyarakat, khususnya para lansia. Dia menekankan bahwa lokasi ini dipilih dengan sangat hati-hati dan dirancang untuk memberikan kenyamanan dan kesehatan terbaik bagi para penghuninya.

Rahmat Shah saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Rahmat Shah saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Rahmat Shah juga berbicara tentang filosofi hidupnya dalam kepemimpinan. Ia percaya bahwa untuk menjadi pemimpin yang sukses, seseorang harus siap berkorban waktu, pikiran, dana, dan bahkan perasaan. Ia mengingatkan bahwa kepemimpinan bukanlah tentang kekuasaan, tetapi tentang pengabdian kepada masyarakat. Ini terbukti dari berbagai perannya sebagai pemimpin di berbagai organisasi, termasuk PMI dan organisasi olahraga, di mana ia terus berupaya untuk memberikan yang terbaik bagi masyarakat.

Dalam kata-kata penutupnya, Rahmat Shah menegaskan bahwa seseorang tidak perlu menjadi menteri atau memegang jabatan tinggi untuk berkontribusi bagi bangsa dan negara. “Di mana pun kita bisa berbuat baik, itulah yang terpenting,” kata Rahmat, memberikan inspirasi bagi pendengar podcast EdShareOn untuk selalu menjalani hidup dengan niat tulus dan penuh dedikasi.

Tags :

Sutiyoso Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Sutiyoso Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Rahmat Shah, Mengatasi Kanker dengan Semangat dan Doa

Rahmat Shah, Mengatasi Kanker dengan Semangat dan Doa

Rahmat Shah, Mengatasi Kanker dengan Semangat dan Doa

August 16, 2024
Rahmat Shah saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Rahmat Shah. (Foto: EdShareOn.com)

JAKARTA – Dalam episode terbaru podcast EdShareOn, Eddy Wijaya berbincang bersama Rahmat Shah, seorang filantropis dan pencinta satwa, untuk membahas tentang perjalanan hidupnya yang inspiratif. Pada kesempatan ini, Rahmat Shah berbagi cerita tentang bagaimana ia menghadapi dan mengatasi vonis kanker yang mengancam nyawanya.

Pada tahun 2016, Rahmat Shah divonis menderita kanker dengan tingkat keparahan tinggi, gleason 9, oleh dokter di Singapura, Malaysia, dan Jepang. Semua dokter memberinya prognosis yang sama yaitu usianya diperkirakan tinggal satu tahun. Namun, Rahmat tidak menyerah pada vonis tersebut. “Kanker bisa mengalahkan fisik saya, tapi tidak bisa mengalahkan semangat saya untuk sembuh,” ungkap Rahmat Shah dengan penuh keyakinan.

Rahmat Shah saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Rahmat Shah saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Rahmat Shah berbicara tentang bagaimana ia menjaga kesehatan fisiknya dengan pola hidup sehat, tetapi lebih dari itu, ia menekankan pentingnya semangat dan kebaikan dalam hidup. Ia percaya bahwa amal dan doa memiliki peran besar dalam kesembuhannya. Setiap pagi, Rahmat memulai harinya dengan minuman air panas dan buah-buahan sehat seperti pepaya, pir, dan tomat yang dipercaya mengandung likopen, zat yang mampu melawan kanker. Dia juga mengurangi konsumsi makanan manis dan daging merah, serta rutin berolahraga.

Namun, yang paling mengesankan dari cerita Rahmat Shah adalah pandangannya tentang kebahagiaan dan kehidupan yang bermakna. Dalam wawancara dengan Eddy Wijaya, ia berbagi bahwa kebahagiaan sejati berasal dari berbuat kebaikan untuk orang lain dan menjaga hubungan yang baik dengan sesama. “Kebaikan kita berbuat itu yang bikin saya sehat,” kata Rahmat, menambahkan bahwa ia merasa lebih sehat dan bahagia ketika melihat orang lain bahagia karena perbuatannya.

Rahmat juga berbagi pengalamannya dalam menjaga hubungan dengan alam dan satwa, yang menurutnya merupakan bagian penting dari kesehariannya. Setiap pagi, dia memberi makan burung, kera, dan bahkan semut di sekitar rumahnya yang luas. Baginya, hubungan yang harmonis dengan alam dan semua makhluk hidup memberikan kebahagiaan yang tidak bisa diukur dengan materi.

Rahmat Shah saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Rahmat Shah saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Eddy Wijaya, sebagai host podcast EdShareOn, terkesan dengan kisah Rahmat Shah. Ia mencatat bagaimana semangat, amal, dan pola hidup sehat bisa menjadi kunci kesembuhan yang sering kali tidak disadari oleh banyak orang. Melalui podcast ini, Rahmat Shah juga mengingatkan bahwa penyakit serius seperti kanker tidak harus menjadi akhir dari segalanya, tetapi bisa menjadi awal dari kehidupan yang lebih bermakna.

Rahmat Shah, yang juga aktif dalam kegiatan sosial dan lingkungan, memberikan contoh nyata tentang bagaimana menjalani hidup dengan semangat dan dedikasi penuh. Kisahnya adalah inspirasi bagi banyak orang untuk tidak hanya menjaga kesehatan fisik, tetapi juga kesehatan spiritual dan sosial.

Tags :

Sutiyoso Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Sutiyoso Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Rahmat Shah Angkat Nama Indonesia di Kancah Internasional

Rahmat Shah Angkat Nama Indonesia di Kancah Internasional

Rahmat Shah Angkat Nama Indonesia di Kancah Internasional

August 15, 2024
Rahmat Shah saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Rahmat Shah. (Foto: EdShareOn.com)

JAKARTA – Pada episode terbaru podcast EdShareOn, Eddy Wijaya duduk bersama Rahmat Shah, seorang filantropis dan pencinta satwa, untuk membahas perjalanan uniknya dalam dunia konservasi yang dipadukan dengan berburu. Pembicaraan ini tidak hanya membuka wawasan mengenai aktivitas Rahmat Shah, tetapi juga bagaimana ia menggabungkan minatnya terhadap satwa dengan usaha untuk melestarikan alam.

Eddy Wijaya membuka diskusi dengan membahas koleksi Rahmat Museum yang memuat lebih dari 2.600 spesies. Rahmat Shah dengan bangga menjelaskan bahwa koleksi tersebut bukan hanya terdiri dari binatang besar, tetapi juga mencakup berbagai jenis serangga seperti nyamuk, semut, lalat, dan kumbang, serta ratusan jenis kupu-kupu. Museum ini tidak hanya menjadi tempat penyimpanan spesimen, tetapi juga simbol prestasi Rahmat Shah yang telah mendapatkan pengakuan internasional.

Rahmat Shah saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Rahmat Shah saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

“Saya jadi cover, bayangin Putra Indonesia jadi cover,” ungkap Rahmat Shah dengan penuh kebanggaan. Melalui berbagai prestasinya, termasuk menjadi cover pada majalah internasional, Rahmat Shah merasa telah membawa nama baik bangsa Indonesia di mata dunia.

Namun, Rahmat Shah tidak hanya berhenti pada pengumpulan spesimen. Ia juga mendirikan dan mengelola kebun binatang yang hidup, sebuah langkah yang didorong oleh keinginan untuk menyediakan tempat hiburan yang mendidik, sehat, dan terjangkau bagi masyarakat. “Masyarakat itu butuh tempat hiburan yang layak, sehat, mendidik dan terjangkau. Ya itu kebun binatang,” ujar Rahmat Shah.

Menurutnya, kebun binatang bukan sekadar tempat hiburan, tetapi juga menjadi sarana edukasi bagi anak-anak dan keluarga. Dengan biaya yang relatif terjangkau, masyarakat dapat menikmati waktu bersama keluarga sambil belajar mencintai dan memahami binatang.

Rahmat Shah saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Rahmat Shah saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Ketika ditanya oleh Eddy Wijaya tentang bagaimana ia bisa mengelola museum dan kebun binatang sekaligus, Rahmat Shah menjelaskan bahwa motivasinya didorong oleh keinginan untuk melihat orang lain bahagia. “Saya senang lihat orang bahagia,” katanya, menekankan bahwa kepuasan batin yang didapat dari melihat kebahagiaan orang lain jauh lebih berharga daripada keuntungan finansial.

Penutupan diskusi ditandai dengan refleksi Rahmat Shah tentang nilai harta dan kehidupan. Meskipun banyak tawaran yang datang untuk membeli koleksinya, termasuk tawaran sebesar 20 hingga 23 juta dolar dari Dubai, Rahmat Shah memilih untuk tetap mempertahankan museumnya di Indonesia sebagai bentuk kebanggaan nasional. “Harta itu bukan segalanya,” katanya, menunjukkan bahwa bagi Rahmat Shah, warisan dan kontribusi bagi bangsa jauh lebih berharga daripada kekayaan materi.

Tags :

Sutiyoso Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Sutiyoso Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Rahmat Shah: Berburu Harus Punya Tata Krama

Rahmat Shah: Berburu Harus Punya Tata Krama

Rahmat Shah: Berburu Harus Punya Tata Krama

August 14, 2024
Rahmat Shah saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Rahmat Shah. (Foto: EdShareOn.com)

JAKARTA – Dalam episode terbaru podcast EdShareOn, Eddy Wijaya mengundang Rahmat Shah, seorang filantropis dan pencinta satwa, untuk membahas topik tentang berburu bisa menjadi bagian dari konservasi alam. Diskusi ini mengangkat isu yang sering disalahpahami, yaitu keterlibatan Rahmat Shah dalam aktivitas berburu yang tampaknya bertentangan dengan misinya dalam pelestarian satwa.

Eddy Wijaya membuka diskusi dengan pertanyaan tajam, “Banyak orang bisa salah paham. Pak Rahmat Shah suka berburu binatang tapi dibilang konservasi, ini gimana ceritanya? Udah berburu tapi kok konservasi?”.

Rahmat Shah saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Rahmat Shah saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Rahmat Shah kemudian menjelaskan bahwa persepsi tersebut sering muncul, namun ia sendiri tidak langsung percaya hingga akhirnya menemukan solusi melalui pengalamannya di berbagai negara. Ia menceritakan bagaimana ia terlibat dalam Safari Club International (SCI) setelah berdiskusi dengan seorang diplomat Amerika. Melalui keanggotaannya di SCI, Rahmat Shah memulai perjalanan berburu di berbagai negara seperti Afrika, Amerika Serikat, Kanada, dan banyak lagi, untuk mempelajari konsep fair chase atau perburuan yang adil.

“Saya berburu di banyak negara untuk belajar kenapa boleh menembak, berburu, dan bagaimana hal itu justru menambah populasi satwa dan menjaga habitatnya,” ujar Rahmat Shah. Ia menekankan bahwa sistem perburuan di luar negeri berbeda. Di negara-negara maju, perburuan dilakukan dengan tata krama yang ketat, seperti hanya memburu pada siang hari dan memastikan bahwa tembakan langsung mematikan tanpa menyiksa hewan.

Rahmat Shah juga membahas konsep konservasi melalui pemanfaatan, di mana hewan yang diburu tidak dihabisi sembarangan, melainkan dipilih berdasarkan usia dan kondisi tertentu untuk menjaga keseimbangan populasi. “Misalnya gajah, gadingnya harus 1,5 meter baru boleh ditembak. Ini untuk memastikan hanya gajah yang sudah tua dan tidak lagi produktif yang diburu,” jelasnya.

Rahmat Shah saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Rahmat Shah saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Rahmat Shah menyoroti pentingnya regulasi dalam perburuan untuk menghindari kepunahan satwa. Ia menyayangkan praktik perburuan liar yang tidak sesuai aturan, yang menurutnya justru merusak upaya konservasi. Ia juga mengakui bahwa aktivitas berburu memiliki risiko tinggi, terutama ketika ia harus berburu di kondisi ekstrem seperti di perbatasan Rusia dengan Kazakhstan dengan suhu minus 30 derajat.

Diskusi ini kemudian ditutup dengan pengakuan Rahmat Shah bahwa meskipun berburu, ia sangat menghargai satwa liar dan berusaha menjaga keberadaan mereka melalui berbagai program konservasi. Ia juga menceritakan bahwa hasil perburuan yang legal sering kali disumbangkan ke museum sebagai bentuk edukasi kepada masyarakat tentang pentingnya konservasi.

Tags :

Rahmat Shah, Perjalanan Hidup dan Kecintaannya pada Satwa

Rahmat Shah, Perjalanan Hidup dan Kecintaannya pada Satwa

Rahmat Shah, Perjalanan Hidup dan Kecintaannya pada Satwa

August 13, 2024
Rahmat Shah saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Rahmat Shah. (Foto: EdShareOn.com)

JAKARTA – Pada episode terbaru podcast *EdShareOn*, Eddy Wijaya berbincang dengan Rahmat Shah, seorang filantropis dan pencinta satwa, yang juga dikenal luas atas dedikasinya dalam bidang konservasi alam. Diskusi ini menggali lebih dalam kisah hidup Rahmat Shah, mulai dari masa kecilnya di desa hingga perjalanannya menjadi seorang yang berpengaruh dalam pelestarian satwa di Indonesia.

Rahmat Shah, yang lahir dan dibesarkan di sebuah desa kecil di Kecamatan Perdagangan, Sumatera Utara, menceritakan bagaimana kecintaannya pada alam dan satwa tumbuh sejak kecil. “Saya dari kecil sudah sering mengantongi kelabang, kalajengking, ular dan hewan-hewan lainnya. Saya bisa marah berhari-hari jika hewan-hewan itu dibunuh,” ujarnya mengenang. Kebersamaan dengan alam yang dia rasakan sejak kecil memberikan ketenangan dan kebahagiaan, yang akhirnya membentuk dasar dari kecintaannya terhadap satwa dan alam.

Rahmat Shah saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Rahmat Shah saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Perjalanan hidup Rahmat Shah tidaklah mudah. Ia memulai kariernya dari bawah, bekerja di berbagai pekerjaan kasar sejak usia belia. “Dari umur 11 hingga 13 tahun, saya sudah bekerja memecah batu dan membantu tukang,” kenangnya. Perjalanan ini membawanya ke Medan, di mana ia melanjutkan pendidikan sambil bekerja di bengkel. Ketekunan dan dedikasi Rahmat Shah akhirnya membawanya bertemu dengan tokoh-tokoh penting, termasuk Surya Paloh yang memberikan kesempatan untuk mengembangkan kariernya di dunia bisnis otomotif.

Melalui kerja keras dan fokus, Rahmat Shah berhasil membangun kariernya, yang kemudian membawanya pada kesuksesan besar. “Alhamdulillah, dengan kerja keras dan fokus, saya akhirnya bisa membangun perusahaan sendiri dan meraih sukses,” katanya.

Rahmat Shah saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Rahmat Shah saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Namun, bukan hanya kesuksesan dalam dunia bisnis yang membuat Rahmat Shah dikenal luas. Kepeduliannya terhadap satwa dan alam menjadikannya seorang filantropis yang dihormati. Salah satu kontribusinya yang paling signifikan adalah dukungannya terhadap kebun binatang di Medan selama pandemi COVID-19, di mana ia menyumbangkan 1 miliar rupiah untuk membantu menjaga kelangsungan hidup satwa-satwa di sana.

Sebagai Ketua Lembaga Konservasi Indonesia, Rahmat Shah juga berbicara tentang pentingnya peran kebun binatang dalam pelestarian satwa langka. Ia menekankan bahwa kebun binatang tidak hanya berfungsi sebagai tempat hiburan, tetapi juga sebagai lembaga pendidikan dan konservasi yang penting bagi masa depan anak cucu. “Peran fungsi kebun binatang sangat mulia sebagai benteng terakhir penyelamatan satwa langka, anugerah Tuhan yang tak ternilai bagi bangsa kita,” tegasnya.

Tags :

Hasto Wardoyo Ungkap Tantangan Vasektomi dan Penurunan Stunting di Indonesia

Hasto Wardoyo Ungkap Tantangan Vasektomi dan Penurunan Stunting di Indonesia

Hasto Wardoyo Ungkap Tantangan Vasektomi dan Penurunan Stunting di Indonesia

August 13, 2024
dr. Hasto Wardoyo saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

dr. Hasto Wardoyo. (Foto: EdShareOn.com)

JAKARTA – Pada episode terbaru podcast EdShareOn, Eddy Wijaya berbincang dengan Hasto Wardoyo, Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN). Diskusi mereka menyoroti dua isu penting: program vasektomi sebagai salah satu metode Keluarga Berencana (KB) dan upaya pemerintah dalam menurunkan angka stunting di Indonesia.

Eddy Wijaya membuka diskusi dengan mengangkat isu rendahnya kesadaran pria untuk ikut serta dalam program KB, khususnya melalui vasektomi. Hasto Wardoyo menjelaskan bahwa saat ini hanya sekitar 5% pria yang menjadi akseptor KB, dengan sebagian besar menggunakan kondom dan sedikit sekali yang memilih vasektomi.

dr. Hasto Wardoyo saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
dr. Hasto Wardoyo saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Meskipun vasektomi telah terbukti aman dan bahkan bisa dibalik melalui operasi rekanalisasi, banyak pria masih enggan karena termakan mitos bahwa prosedur ini dapat mengurangi keperkasaan mereka. “Sebetulnya, teknologi medis saat ini sudah sangat maju. Vasektomi bisa dibalik jika diperlukan, dan prosedurnya sendiri sekarang sudah tanpa pisau, jadi minim rasa sakit,” jelas Hasto. Ia menambahkan bahwa pemerintah menyediakan layanan vasektomi secara gratis dan bahkan memberikan insentif berupa uang saku Rp300.000 bagi yang melakukannya.

Hasto Wardoyo juga mengakui perlunya kampanye yang lebih gencar untuk meningkatkan partisipasi pria dalam KB melalui vasektomi. Ia berbagi pengalaman ketika dirinya masih menjabat sebagai Bupati, di mana ia memberikan kambing sebagai insentif bagi mereka yang bersedia menjalani vasektomi. “Waktu itu, saya ditargetkan hanya 26 vasektomi, tapi setelah saya umumkan hadiah kambing, yang datang 126 orang. Ini menunjukkan bahwa dengan sosialisasi yang tepat, partisipasi bisa meningkat,” kenangnya.

Selain membahas vasektomi, Eddy Wijaya juga mengangkat isu stunting yang menjadi perhatian besar pemerintah saat ini. Hasto Wardoyo menjelaskan bahwa meskipun data survei menunjukkan angka stunting masih di sekitar 21%, data real di lapangan dari posyandu menunjukkan angka yang jauh lebih rendah, bahkan hingga 6%.

dr. Hasto Wardoyo saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
dr. Hasto Wardoyo saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Menurut Hasto, stunting tidak hanya disebabkan oleh kurangnya asupan gizi, tetapi juga oleh faktor lingkungan seperti sanitasi yang buruk dan air yang tidak bersih. “Kita harus mendekatkan angka real dengan survei, salah satunya dengan memastikan lebih banyak anak datang ke posyandu untuk penimbangan dan pengukuran secara rutin,” ujarnya. Ia juga menegaskan bahwa target penurunan stunting ke 14% pada tahun 2024 merupakan tantangan besar, tetapi optimis bisa dicapai, setidaknya mendekati angka 20% sesuai standar WHO.

Menanggapi pertanyaan Eddy Wijaya tentang alokasi anggaran Rp30 triliun yang disebutkan oleh Menteri PPN, Hasto Wardoyo menjelaskan bahwa sebagian besar anggaran tersebut digunakan untuk program Keluarga Harapan (PKH) dan BPJS Kesehatan. Sisa anggaran yang lebih kecil kemudian digunakan untuk program-program pendukung yang berfokus pada peningkatan sanitasi dan kebersihan lingkungan, yang secara tidak langsung berdampak pada penurunan angka stunting. “Sebanyak 70% faktor penyebab stunting adalah lingkungan yang tidak bersih. Jadi, program pendukung seperti membangun sumur bersih atau memperbaiki sanitasi sangat penting,” katanya.

Tags :

Hasto Wardoyo Ungkap Kekhawatiran Terhadap Seks Bebas

Hasto Wardoyo Ungkap Kekhawatiran Terhadap Seks Bebas

Hasto Wardoyo Ungkap Kekhawatiran Terhadap Seks Bebas

August 8, 2024
dr. Hasto Wardoyo saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

dr. Hasto Wardoyo. (Foto: EdShareOn.com)

JAKARTA – Pada episode terbaru podcast EdShareOn, Eddy Wijaya mengundang Hasto Wardoyo untuk berdiskusi mengenai isu-isu terkini terkait perilaku seksual remaja dan kebijakan BKKBN. Hasto Wardoyo, Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), menyampaikan keprihatinannya terhadap fenomena pergeseran perilaku seksual di kalangan remaja Indonesia.

Hasto Wardoyo memulai dengan mengungkapkan data dari Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI), yang menunjukkan bahwa hubungan seks pertama di kalangan remaja terjadi pada usia 15 hingga 19 tahun. “Laki-laki sekitar 74% dan perempuan sekitar 60% melaporkan hubungan seks pertama pada usia 15 hingga 19 tahun,” jelasnya. Namun, usia pernikahan pertama rata-rata terjadi pada usia 22 tahun. Hasto menekankan bahwa perbedaan ini menunjukkan peningkatan perzinaan dan seks bebas di kalangan remaja.

dr. Hasto Wardoyo saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
dr. Hasto Wardoyo saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Eddy Wijaya kemudian menanyakan tentang pendidikan moral di keluarga dan agama sebagai solusi. Hasto setuju bahwa data ini perlu dipahami oleh masyarakat luas, termasuk oleh pemuka agama dan orangtua, untuk meningkatkan kesadaran dan pengawasan terhadap perilaku seksual remaja. Ia juga mengungkapkan bahwa pacaran di masa kini jauh lebih bebas dibandingkan dengan masa lalu, di mana hubungan lebih terbatas dan lebih banyak melalui surat menyurat.

Hasto Wardoyo juga menjelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku ini, termasuk kemudahan akses komunikasi melalui media sosial. “Komunikasi sekarang bisa dilakukan kapan saja, yang memberikan keleluasaan lebih besar dalam pergaulan,” ujarnya. Ia juga menggambarkan bagaimana perubahan budaya pacaran telah mengubah cara remaja berinteraksi, yang dapat meningkatkan syahwat dan emosional seks.

dr. Hasto Wardoyo saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
dr. Hasto Wardoyo saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Untuk mengatasi masalah ini, BKKBN memiliki beberapa inisiatif. Program Bina Keluarga Remaja bertujuan memberikan pendidikan seks yang komprehensif kepada orangtua remaja, membantu mereka memahami perubahan-perubahan masa puber dan bagaimana mengawasi anak-anak mereka. Selain itu, BKKBN juga membentuk Generasi Berencana (Genre), sebuah kelompok anak muda yang memberikan edukasi kepada teman sebaya mereka. “Anak muda lebih percaya pada teman sebaya mereka daripada pada orang dewasa,” jelas Hasto.

Eddy Wijaya juga menyinggung tentang tren pasangan yang memilih memiliki sedikit anak, mengingat program Keluarga Berencana pada masa Orde Baru yang mendorong “Dua Anak Cukup”. Hasto menjelaskan bahwa saat ini BKKBN lebih fokus pada kualitas daripada kuantitas. “Dua anak tetap menjadi tujuan, tetapi lebih penting lagi adalah kualitas hidup mereka,” katanya. Ia menekankan pentingnya jarak yang sehat antara kelahiran anak dan usia ideal orangtua saat melahirkan untuk mencegah masalah kesehatan seperti stunting.

Tags :

Tanggapan Hasto Wardoyo Soal Fenomena Childfree di Indonesia

Tanggapan Hasto Wardoyo Soal Fenomena Childfree di Indonesia

Tanggapan Hasto Wardoyo Soal Fenomena Childfree di Indonesia

August 7, 2024
dr. Hasto Wardoyo saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

dr. Hasto Wardoyo. (Foto: EdShareOn.com)

JAKARTA – Dalam sebuah episode podcast EdShareOn, Eddy Wijaya mengundang Hasto Wardoyo untuk membahas isu-isu terkini mengenai fenomena childfree dan dampaknya di Indonesia. Hasto Wardoyo, yang dikenal sebagai Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), memberikan wawasan mendalam tentang fenomena ini.

Eddy Wijaya membuka diskusi dengan mengangkat isu meningkatnya jumlah perempuan yang memilih childfree di Indonesia, yang dikabarkan mencapai 71.000 orang. Hasto Wardoyo mengakui belum mengetahui data tersebut, tetapi menjelaskan bahwa data empiris menunjukkan adanya penurunan animo pernikahan. “Pada tahun 2013, pernikahan di Indonesia mencapai sekitar 2,2 juta per tahun, tetapi pada tahun 2023 jumlahnya turun menjadi 1,5 juta. Ini adalah penurunan yang signifikan,” ungkapnya.

dr. Hasto Wardoyo saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
dr. Hasto Wardoyo saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Hasto juga menyebutkan bahwa meskipun usia pernikahan bergeser ke arah yang lebih dewasa, jumlah pernikahan seharusnya tidak menurun secara drastis. “Jika semua orang tetap ingin menikah meskipun di usia yang lebih tua, seharusnya jumlah pernikahan tetap tinggi,” tambahnya.

Eddy Wijaya menanyakan tentang risiko kesehatan yang mungkin dihadapi oleh perempuan yang memilih untuk tidak memiliki anak. Hasto Wardoyo, sebagai seorang dokter kebidanan, menjelaskan bahwa ada risiko kesehatan yang terkait dengan keputusan ini. “Perempuan yang tidak memiliki anak cenderung memiliki risiko lebih tinggi terhadap kanker rahim (endometrium) dan kanker payudara,” jelasnya. Ia menambahkan bahwa fungsi alami tubuh, seperti menyusui, memiliki peran penting dalam melindungi kesehatan reproduksi perempuan.

dr. Hasto Wardoyo saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
dr. Hasto Wardoyo saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Hasto menguraikan beberapa faktor yang mendorong orang untuk memilih childfree. Pertama, urbanisasi dan kehidupan di perkotaan. “Semakin orang tinggal di kota, semakin sedikit jumlah anak yang mereka miliki dan semakin mundur usia pernikahan mereka,” katanya. Faktor kedua adalah status ekonomi. “Orang dengan status ekonomi lebih tinggi cenderung memiliki lebih sedikit anak dan menunda pernikahan,” jelasnya. Faktor ketiga adalah pendidikan. “Semakin tinggi pendidikan seseorang, semakin mundur usia pernikahannya. Orang-orang yang mengejar pendidikan tinggi cenderung menunda pernikahan untuk fokus pada pendidikan mereka,” tambahnya.

Hasto Wardoyo menyimpulkan bahwa tiga faktor utama yaitu tempat tinggal, status ekonomi, dan tingkat pendidikan adalah pendorong utama fenomena childfree di Indonesia. Ia juga menekankan pentingnya edukasi tentang kesehatan reproduksi untuk menginformasikan masyarakat tentang konsekuensi dari memilih childfree.

Tags :

Hasto Wardoyo Klarifikasi Soal Pernyataannya yang Menuai Kontroversi

Hasto Wardoyo Klarifikasi Soal Pernyataannya yang Menuai Kontroversi

Hasto Wardoyo Klarifikasi Soal Pernyataannya yang Menuai Kontroversi

August 6, 2024
dr. Hasto Wardoyo saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

dr. Hasto Wardoyo. (Foto: EdShareOn.com)

JAKARTA – Dalam episode terbaru podcast EdShareOn, Eddy Wijaya berbincang dengan Hasto Wardoyo, kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), mengenai beberapa pernyataannya yang menuai kontroversi, termasuk tentang kebahagiaan meski dalam kemiskinan. Hasto menguraikan bahwa BKKBN memiliki dua tugas utama: menjaga pertumbuhan penduduk seimbang dan mewujudkan keluarga berkualitas. Kedua visi ini diukur melalui Indeks Pembangunan Keluarga atau ibangga, yang mencakup tiga dimensi yaitu tentram, mandiri, dan bahagia.

Hasto menjelaskan dalam pengukuran terakhir pada akhir 2023, dimensi kebahagiaan memperoleh skor tertinggi yaitu 71, sementara kemandirian mendapat skor terendah 51, dan ketentraman 59. “Ini menunjukkan bahwa meskipun kemandirian ekonomi kita rendah, kebahagiaan masyarakat masih tinggi,” tuturnya. Menurut Hasto, ini dapat dijelaskan oleh budaya dan filosofi masyarakat Indonesia yang cenderung mensyukuri keadaan apa adanya.

dr. Hasto Wardoyo saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
dr. Hasto Wardoyo saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Eddy Wijaya menyoroti aspek tentram dalam pernikahan resmi. Hasto menjelaskan bahwa status keluarga yang jelas berkontribusi terhadap ketentraman keluarga. Namun, ia juga menekankan bahwa dimensi ini mencakup lebih dari sekadar status resmi, seperti tidak adanya percekcokan dalam keluarga dan stabilitas rumah tangga.

Kontroversi lainnya yang dibahas adalah pernyataan Hasto mengenai pentingnya memiliki anak perempuan. Hasto meluruskan bahwa pernyataannya dipelintir. “Saya berharap setiap perempuan bisa melahirkan rata-rata satu anak perempuan. Ini untuk menjaga keseimbangan populasi. Jika rata-rata setiap perempuan melahirkan satu anak perempuan, maka populasi perempuan di masa depan akan tetap stabil,” jelas Hasto.

dr. Hasto Wardoyo saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
dr. Hasto Wardoyo saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Dia menambahkan bahwa ini penting untuk mencegah penurunan populasi di masa depan, yang bisa mengganggu kestabilan bangsa. Hasto mencatat bahwa beberapa negara maju seperti Jepang dan Singapura menghadapi tantangan besar dengan populasi yang menurun karena banyak perempuan yang memilih untuk tidak memiliki anak.

Eddy Wijaya juga menanyakan tentang budaya modern seringkali membuat perempuan memilih untuk childfree. Hasto menekankan bahwa Indonesia harus belajar dari pengalaman negara-negara ini dan berupaya menjaga keseimbangan populasi dengan mendorong kelahiran anak perempuan.

Tags :