Tantowi Yahya: Prabowo Akan Jadi Pemimpin yang Baik

Tantowi Yahya: Prabowo Akan Jadi Pemimpin yang Baik

Tantowi Yahya: Prabowo Akan Jadi Pemimpin yang Baik

October 14, 2024
Tantowi Yahya saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Tantowi Yahya. (Foto: EdShareOn.com)

JAKARTA – Dalam salah satu episode EdShareOn yang dipandu oleh Eddy Wijaya, Tantowi Yahya, mantan Duta Besar Indonesia untuk Selandia Baru, membahas berbagai isu politik nasional, termasuk rumor mengenai posisinya dalam kabinet baru. Tantowi yang pernah menjadi juru bicara utama Prabowo Subianto pada Pilpres 2014, memberikan pandangan realistis dan reflektif mengenai peluang politik masa depan, terutama terkait kepemimpinan Prabowo dan tantangan kabinet pemerintahan di Indonesia.

Terkait rumor bahwa ia akan dipinang sebagai Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) oleh Prabowo-Gibran, Tantowi merespons dengan tenang. Ia menekankan bahwa dalam politik, spekulasi seringkali tidak berujung pada kenyataan. “Semakin berhembus, semakin nggak jadi biasanya,” ujarnya. Tantowi mengakui bahwa dirinya tidak terlibat secara langsung dalam kampanye Pilpres terakhir dan merasa bahwa ia belum ‘berkeringat’ dalam mendukung kemenangan Prabowo.

Tantowi Yahya saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Tantowi Yahya saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Namun dalam wawancara tersebut, Tantowi menekankan keyakinannya terhadap kemampuan Prabowo sebagai pemimpin. “Saya yakin Prabowo akan menjadi pemimpin yang baik. Pengalamannya di berbagai bidang, baik militer maupun sipil, memberinya modal yang kuat untuk memajukan Indonesia,” katanya. Tantowi juga memuji kemampuan Prabowo dalam berkomunikasi, baik di tingkat nasional maupun internasional. Menurutnya, kemampuan Prabowo dalam menguasai banyak bahasa asing menjadi salah satu kelebihan yang jarang dimiliki oleh pemimpin Indonesia.

Menurut Tantowi Yahya, Prabowo memiliki tiga fokus utama yang akan sangat menonjol yaitu pertahanan, pertanian, dan politik luar negeri. Tantowi yakin bahwa Prabowo akan memperkuat anggaran pertahanan untuk menjaga stabilitas regional, tanpa bersikap ofensif. “Kehadiran Indonesia di dunia internasional akan dihargai, terutama dengan seorang presiden yang memiliki pengalaman militer seperti Prabowo,” ujarnya.

Tantowi Yahya saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Tantowi Yahya saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Selain itu, Tantowi juga menyoroti passion Prabowo dalam bidang pertanian. Ia percaya bahwa program makan siang gratis yang telah diinisiasi pemerintah akan berdampak positif bagi kesejahteraan petani, karena peningkatan kebutuhan bahan pangan akan mendukung industri pertanian lokal. “Petani akan menjadi kelompok yang paling diuntungkan,” katanya.

Tantowi juga mengungkapkan pandangannya tentang kabinet ideal. Menurutnya, kabinet sebaiknya diisi oleh para ahli di bidangnya, yang sering disebut sebagai zaken kabinet. “Namun kita juga tidak boleh terlalu sensitif terhadap kehadiran kader partai politik di kabinet,” jelas Tantowi. Ia menegaskan bahwa banyak politisi yang juga ahli di bidangnya.

Tags :

Recent Posts

Sutiyoso Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Sutiyoso Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Tantowi Yahya, Menjembatani Diplomasi Indonesia dan Selandia Baru

Tantowi Yahya, Menjembatani Diplomasi Indonesia dan Selandia Baru

Tantowi Yahya, Menjembatani Diplomasi Indonesia dan Selandia Baru

October 14, 2024
Tantowi Yahya saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Tantowi Yahya. (Foto: EdShareOn.com)

JAKARTA – Dalam sebuah episode podcast EdShareOn yang dipandu oleh Eddy Wijaya, Tantowi Yahya, mantan Duta Besar Indonesia untuk Selandia Baru, berbagi pengalamannya dalam diplomasi internasional dan politik. Percakapan ini menyajikan pandangan unik tentang bagaimana seorang politisi Indonesia menjalankan peran strategis di luar negeri, sekaligus refleksi atas dinamika politik nasional. Artikel ini merangkum berbagai poin penting dari diskusi menarik antara Eddy Wijaya dan Tantowi Yahya.

Sebagai Duta Besar di Selandia Baru sejak 2017, Tantowi Yahya mengungkapkan kesannya terhadap peran tersebut. Ia menilai bahwa menjadi duta besar adalah salah satu pengalaman paling berkesan dalam kariernya yang beragam. “Ketika menjadi duta besar, kita adalah wakil Presiden di negara tempat kita ditempatkan,” ujarnya. Peran ini bukan hanya membawa hak diplomatik, tetapi juga tanggung jawab besar dalam menjaga hubungan antara kedua negara.

Tantowi Yahya saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Tantowi Yahya saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Selain urusan diplomasi, Tantowi Yahya juga membahas tentang kerja sama ekonomi antara Indonesia dan Selandia Baru. “New Zealand adalah salah satu mitra utama Indonesia dalam bidang pertanian, terutama impor daging biri-biri dan susu,” jelasnya. Namun, Tantowi menyoroti satu hambatan besar dalam memperdalam kerja sama ini, yaitu monopoli PLN dalam sektor energi. “Kalau undang-undangnya berubah, kerja sama kita bisa jauh lebih kuat,” ujarnya. Poin ini memberikan gambaran tantangan regulasi yang dihadapi Indonesia dalam menarik investasi luar negeri.

Isu Papua juga menjadi topik pembicaraan, di mana Tantowi Yahya menanggapi insiden tragis yang melibatkan seorang pilot dari Selandia Baru yang menjadi korban kekerasan oleh Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB). Tantowi menyebut peristiwa ini sebagai “pukulan berat” bagi hubungan kedua negara dan mengutuk keras kekerasan tersebut. Melalui perbincangan ini, *EdShareOn* menyoroti pentingnya keamanan dan stabilitas dalam menjalin hubungan diplomatik.

Tantowi Yahya juga berbagi pandangannya tentang karier politiknya. Sebagai politisi Golkar, ia mencermati betapa beratnya perjuangan untuk mendapatkan kursi di parlemen. “Saya sudah merasa lelah,” katanya, menyoroti beban logistik yang besar dalam memenangkan pemilu. Tantowi menegaskan bahwa ia lebih memilih realistis, mengingat biaya politik yang tidak sebanding dengan gaji seorang anggota DPR.

Tantowi Yahya saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Tantowi Yahya saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Sementara itu, tawaran untuk mencalonkan diri sebagai gubernur di beberapa daerah juga muncul. “Ketua Umum Golkar, Airlangga Hartarto, melihat potensi saya di Kalimantan Barat, Bali, hingga Sumatera Selatan,” ungkapnya. Namun, Tantowi merasa bahwa dirinya tidak memiliki sumber daya yang cukup untuk bersaing dalam politik daerah, meski popularitasnya di kalangan masyarakat masih kuat.

Diskusi ini juga menyoroti keputusan Airlangga Hartarto untuk mundur dari Golkar, yang menurut Tantowi, adalah hasil dari berbagai tekanan baik internal maupun eksternal. Keputusan ini mencerminkan betapa dinamisnya dunia politik, di mana setiap langkah harus diambil dengan pertimbangan matang.

Tags :

Sutiyoso Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Sutiyoso Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Ikrar Nusa Bhakti, Banyaknya Jumlah Menteri Bukan Ukuran Keberhasilan

Ikrar Nusa Bhakti, Banyaknya Jumlah Menteri Bukan Ukuran Keberhasilan

Ikrar Nusa Bhakti, Banyaknya Jumlah Menteri Bukan Ukuran Keberhasilan

October 11, 2024
Ikrar Nusa Bhakti saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Ikrar Nusa Bhakti. (Foto: EdShareOn.com)

JAKARTA – Dalam salah satu episode podcast EdShareOn yang dipandu oleh Eddy Wijaya, Prof. Ikrar Nusa Bhakti membahas isu penting terkait politik Indonesia, terutama soal komposisi kabinet pemerintahan. Diskusi ini menyoroti peran penting menteri dalam membentuk arah kebijakan negara, serta tantangan yang dihadapi Indonesia dalam menjaga efisiensi dan stabilitas politik. Topik ini semakin relevan di tengah ramainya spekulasi mengenai komposisi kabinet yang mungkin diisi oleh berbagai kalangan, termasuk dari militer dan polisi.

Menurut Prof. Ikrar, banyaknya jumlah menteri di kabinet bukanlah ukuran keberhasilan. Ia menyebutkan contoh dari berbagai negara seperti Amerika Serikat dan Australia yang berhasil mengelola pemerintahan dengan jumlah menteri yang lebih sedikit. Bagi Indonesia, penambahan jumlah menteri bisa berdampak pada peningkatan pengeluaran negara. Sebagai contoh, anggaran negara yang dialokasikan untuk operasional menteri dan stafnya dapat membebani APBN. Ini menjadi peringatan agar Indonesia lebih efisien dalam mengelola kabinet demi kesejahteraan rakyat.

Ikrar Nusa Bhakti saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Ikrar Nusa Bhakti saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Eddy Wijaya dengan cerdas menanyakan apakah penambahan jumlah menteri ini sebenarnya bertujuan untuk ‘bagi-bagi kekuasaan’ antara partai politik. Pertanyaan ini menggiring diskusi pada sejarah politik Indonesia, di mana pada masa Demokrasi Terpimpin di era Soekarno, jumlah menteri pernah mencapai angka fantastis, yakni 132 orang. Fakta ini menggambarkan bahwa politik sering kali menjadi alat untuk memperkuat kekuasaan dan Prof. Ikrar mengingatkan bahwa kondisi serupa dapat terjadi lagi jika pemerintah tidak berhati-hati.

Tak hanya membahas kabinet, dalam episode EdShareOn ini juga dibahas mengenai perkembangan teknologi dan pentingnya sektor cyber. Eddy mengarahkan diskusi ke topik cyber army yang dikembangkan oleh TNI sebagai salah satu matra baru. Prof. Ikrar memberikan pandangan kritis tentang bagaimana Indonesia masih tertinggal dalam pengembangan teknologi, terutama dalam hal semikonduktor dan industri digital. Hal ini berpengaruh besar pada kesiapan Indonesia dalam menghadapi era digital, terutama di sektor pertahanan.

Ikrar Nusa Bhakti saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Ikrar Nusa Bhakti saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Diskusi ini semakin menarik ketika Eddy dan Prof. Ikrar membahas ketidakmampuan Indonesia untuk menarik investor besar seperti Elon Musk. Menurut Prof. Ikrar, masalah lingkungan menjadi faktor utama yang membuat Indonesia kalah saing dengan negara lain, seperti Vietnam. Kritik ini menggambarkan tantangan besar yang dihadapi Indonesia dalam memajukan industri teknologi dan menarik investasi global.

Tags :

Sutiyoso Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Sutiyoso Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Peran Ayah di Balik Kesuksesan Tantowi Yahya

Peran Ayah di Balik Kesuksesan Tantowi Yahya

Peran Ayah di Balik Kesuksesan Tantowi Yahya

October 10, 2024
Tantowi Yahya saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Tantowi Yahya. (Foto: EdShareOn.com)

JAKARTA – Dalam wawancara inspiratif bersama Eddy Wijaya di podcast EdShareOn, Tantowi Yahya, seorang musisi country dan diplomat, menceritakan perjalanan hidupnya yang penuh perjuangan dan dedikasi. Kisah Tantowi mengajarkan banyak hal, mulai dari pentingnya visi jauh ke depan hingga semangat untuk mengejar impian, meskipun harus melalui tantangan yang tidak mudah.

Sejak kecil, Tantowi sudah dibiasakan bekerja keras oleh ayahnya, yang memiliki visi besar bagi anak-anaknya. Tantowi menceritakan bagaimana ia harus berjalan kaki sejauh 10-12 kilometer setiap minggu hanya untuk les bahasa Inggris. Meskipun ayahnya seorang pedagang kecil, akan tetapi ia memiliki pandangan yang jauh ke depan. Sang ayah mempersiapkan Tantowi dan saudaranya, Helmi Yahya, untuk menjadi pribadi yang mampu bersaing di tingkat internasional. Tantowi bersyukur atas ketegasan ayahnya yang memberinya dorongan untuk menguasai bahasa Inggris—kunci penting dalam perjalanan kariernya.

Tantowi Yahya saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Tantowi Yahya saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Selain sukses dalam karier diplomat, Tantowi juga mengembangkan kecintaannya pada musik country, sebuah genre yang jarang diminati di Indonesia. Tantowi telah merilis 11 album dan melakukan konser di dalam dan luar negeri. Salah satu albumnya yang paling berkesan adalah Aryati, yang menjadi hit besar dengan beberapa lagu populer seperti Aryati, Hidupku Sunyi, dan Patah Hati.

Tantowi tidak hanya menekuni karier di dunia musik, tapi juga memodifikasi lagu-lagu lama menjadi karya baru dengan sentuhan country. Hal ini memperlihatkan bagaimana Tantowi mampu membuat sesuatu yang lama terasa segar dan relevan kembali, meskipun diadaptasi ke dalam genre yang berbeda.

Tantowi Yahya saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Tantowi Yahya saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Dalam wawancara ini, Eddy Wijaya juga menanyakan tantangan terbesar yang dihadapi Tantowi dalam mengenalkan musik country kepada generasi muda, khususnya generasi Z. Tantowi mengakui bahwa country, terutama *oldies country*, mungkin terasa jauh bagi generasi muda di Indonesia. Namun, ia merasa bahwa penggemarnya dari generasi sebelumnya tetap setia, dan itu merupakan kekuatan yang selalu ia hargai.

Tags :

Sutiyoso Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Sutiyoso Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Soal Fufufafa, Ikrar Nusa Bhakti : Jejak Digital Tak Bisa Dihapus

Soal Fufufafa, Ikrar Nusa Bhakti : Jejak Digital Tak Bisa Dihapus

Soal Fufufafa, Ikrar Nusa Bhakti : Jejak Digital Tak Bisa Dihapus

October 9, 2024
Ikrar Nusa Bhakti saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Ikrar Nusa Bhakti. (Foto: EdShareOn.com)

JAKARTA – Perkembangan teknologi dan media sosial telah mengubah cara kita berkomunikasi dan mempengaruhi ranah politik. Dalam sebuah wawancara bersama Eddy Wijaya di EdShareOn, Prof. Ikrar Nusa Bhakti membahas isu yang tengah hangat, yaitu fenomena akun Fufufafa yang menyinggung pribadi tokoh politik Prabowo Subianto. Melalui diskusi ini, kita dapat melihat betapa kompleksnya interaksi antara politik, media, dan masyarakat saat ini.

Prof. Ikrar menyoroti bahwa jejak digital tidak bisa dihapus begitu saja. Meskipun Kominfo telah membantah adanya hubungan langsung, Prof. Ikrar menekankan bahwa identitas di balik akun tersebut pasti akan terungkap pada akhirnya. Dalam konteks ini, ia juga menyebut pentingnya menjaga komunikasi politik agar tidak menyerang ranah pribadi. Hal ini menjadi penting dalam menjaga etika politik di tengah derasnya arus informasi digital

Ikrar Nusa Bhakti saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Ikrar Nusa Bhakti saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Salah satu poin menarik yang disampaikan Prof. Ikrar adalah bahwa politik tidak mengenal kawan dan lawan yang abadi. Dalam situasi tertentu, seseorang yang sebelumnya dianggap lawan bisa saja menjadi sekutu. Ini adalah dinamika yang lazim dalam politik, di mana hubungan antar-tokoh bisa berubah sesuai dengan situasi. Ia mengingatkan bahwa penting bagi politisi untuk berhati-hati dalam membuat pernyataan, karena jejak digital akan terus ada dan bisa kembali menghantui.

Selain itu, Prof. Ikrar juga menekankan bagaimana pengaruh netizen dalam membentuk opini politik semakin kuat. Menurutnya, informasi di era digital adalah kekuatan besar yang bisa digunakan baik untuk tujuan politik maupun ekonomi. Netizen yang terlibat aktif di media sosial memiliki peran besar dalam membentuk narasi politik, baik secara positif maupun negatif. Ini adalah fenomena yang semakin penting diperhatikan oleh para politisi.

Ikrar Nusa Bhakti saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Ikrar Nusa Bhakti saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Dalam wawancara ini, Eddy Wijaya mengajukan pertanyaan yang menarik tentang kemungkinan adanya upaya untuk memecah belah aliansi politik. Prof. Ikrar merespons dengan menyebutkan bahwa situasi politik saat ini memang tidak stabil dan sering terjadi friksi. Namun, ia juga mencatat bahwa hubungan antar-tokoh seperti Prabowo dan Gibran bukanlah hasil dari ideologi yang sama, melainkan kepentingan politik yang bisa berubah sewaktu-waktu.

Prof. Ikrar menutup wawancara dengan membahas peran wakil presiden dalam politik Indonesia. Ia menekankan bahwa jabatan ini, meskipun terlihat penting, sering kali hanya berfungsi sebagai ban serep. Dengan demikian, Gibran sebagai wakil presiden terpilih tidak boleh terlalu berharap mendapatkan peran yang signifikan dalam pemerintahan, kecuali jika situasi mendesak presiden untuk memberikan tugas tambahan.

Tags :

Sutiyoso Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Sutiyoso Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Ikrar Nusa Bhakti, Transisi dari Presiden Jokowi ke Prabowo Subianto

Ikrar Nusa Bhakti, Transisi dari Presiden Jokowi ke Prabowo Subianto

Ikrar Nusa Bhakti, Transisi dari Presiden Jokowi ke Prabowo Subianto

October 8, 2024
Ikrar Nusa Bhakti saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Ikrar Nusa Bhakti. (Foto: EdShareOn.com)

JAKARTA – Dalam salah satu episode podcast EdShareOn yang dipandu oleh Eddy Wijaya, Prof. Ikrar Nusa Bhakti memberikan pandangannya yang menarik tentang politik Indonesia, terutama terkait transisi kekuasaan dari Presiden Jokowi ke Prabowo Subianto. Salah satu isu yang diangkat adalah keberlanjutan pembangunan Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara. Menurut Prof. Ikrar, meskipun Jokowi berharap IKN dilanjutkan oleh Prabowo, kenyataannya masih banyak tantangan, baik dari segi anggaran maupun potensi pengembangan ekonomi di wilayah tersebut.

Prof. Ikrar juga menyoroti bahwa meskipun IKN dirancang untuk menjadi pusat pemerintahan, kenyataannya lahan tersebut belum siap secara sosial dan ekonomi. Wilayah Penajam Paser Utara, yang menjadi lokasi IKN, masih minim penduduk. Hal ini menimbulkan keraguan apakah IKN dapat berkembang seperti Canberra di Australia atau Washington DC di Amerika Serikat, yang keduanya merupakan ibu kota yang dirancang dengan matang dan bertumbuh seiring waktu.

Ikrar Nusa Bhakti saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Ikrar Nusa Bhakti saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Pembahasan menarik lainnya adalah soal potensi ‘pecah kongsi’ antara Jokowi dan Prabowo setelah Prabowo dilantik. Menurut Prof. Ikrar, hubungan politik mereka didasari oleh kepentingan, bukan keyakinan yang mendalam. Sebagai dua rival politik, Jokowi dan Prabowo tetap memiliki potensi untuk berseberangan di masa depan, mengingat sejarah mereka sebagai kontestan sengit di Pemilu 2019.

Hal yang lebih menarik adalah spekulasi bahwa Jokowi telah merancang masa depan politik putranya, Gibran Rakabuming Raka, yang kini diposisikan sebagai calon wakil presiden. Prof. Ikrar menilai Jokowi telah berupaya menciptakan peluang bagi Gibran melalui berbagai langkah, termasuk intervensi terkait batas usia calon wakil presiden di Mahkamah Konstitusi. Langkah ini dianggap sebagai strategi jangka panjang Jokowi untuk mempertahankan pengaruh politiknya.

Ikrar Nusa Bhakti saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Ikrar Nusa Bhakti saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Prof. Ikrar juga membahas bagaimana Jokowi berperan dalam memfasilitasi pertemuan antara Prabowo dan Ganjar, dua tokoh politik yang sempat diisukan akan menjadi pasangan capres-cawapres. Namun kenyataannya, Jokowi tidak memiliki kendali penuh atas partai politik. Hal ini memperlihatkan dinamika politik yang rumit di Indonesia, di mana konsensus politik sulit dicapai meskipun ada campur tangan dari pemimpin negara.

Tags :

Sutiyoso Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Sutiyoso Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Tantangan Politik di Era Jokowi Menurut Prof. Ikrar Nusa Bhakti

Tantangan Politik di Era Jokowi Menurut Prof. Ikrar Nusa Bhakti

Tantangan Politik di Era Jokowi Menurut Prof. Ikrar Nusa Bhakti

October 4, 2024
Ikrar Nusa Bhakti saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Ikrar Nusa Bhakti. (Foto: EdShareOn.com)

JAKARTA – Dalam salah satu episode podcast EdShareOn yang dipandu oleh Eddy Wijaya, topik menarik terkait politik Indonesia dibahas bersama Prof. Ikrar Nusa Bhakti. Salah satu sorotan utama adalah kegagalan Anies Baswedan dalam mencalonkan diri sebagai Gubernur DKI Jakarta dan bagaimana strategi politik di era Presiden Jokowi mempengaruhi dinamika politik tanah air. Diskusi ini mengungkapkan bagaimana kekuasaan dijaga melalui taktik-taktik politik yang terkadang tak kasat mata bagi masyarakat luas.

Prof. Ikrar mencurigai bahwa perhitungan suara Anies Baswedan dalam pemilihan presiden sebelumnya mungkin tidak mencerminkan hasil sesungguhnya. Beliau menyoroti kejanggalan dalam penghitungan suara elektronik Komisi Pemilihan Umum (KPU), yang menurutnya menunjukkan ketidakwajaran. Meskipun Anies menempati posisi kedua di bawah Prabowo Subianto, sistem perhitungan yang aneh menimbulkan pertanyaan besar, terutama dalam konteks pengaruh politik Jokowi.

Ikrar Nusa Bhakti saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Ikrar Nusa Bhakti saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Pembahasan ini juga mengungkap bagaimana Presiden Jokowi diduga berperan besar dalam memastikan anaknya, Gibran Rakabuming Raka, masuk ke kancah politik nasional. Prof. Ikrar menyebutkan adanya intervensi politik dalam keputusan Mahkamah Konstitusi terkait batas usia calon wakil presiden. Intervensi ini diduga bertujuan untuk memuluskan jalan Gibran ke panggung politik nasional, meskipun banyak ahli hukum mengkritik langkah tersebut.

Menurut Ikrar, Anies Baswedan tetap menjadi ancaman bagi kekuatan politik Jokowi, terutama menjelang pemilu 2029. Meski survei menunjukkan popularitas Anies cukup tinggi, dukungan politik Jokowi terhadap Gibran diperkirakan dapat menghalangi jalan Anies. Prof. Ikrar juga menyoroti betapa pentingnya posisi Gubernur DKI Jakarta, yang memungkinkan sosok seperti Anies mendapatkan perhatian besar dari media massa.

Ikrar Nusa Bhakti saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Ikrar Nusa Bhakti saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Prof. Ikrar tak segan untuk mengkritik peran Jokowi dalam politik Indonesia, bahkan menyebutkan bahwa upaya Jokowi untuk memperkuat posisi keluarganya di politik bisa menjadi bumerang di masa depan. Prabowo Subianto, meskipun saat ini mendapat dukungan dari Jokowi, juga berpotensi masuk dalam perangkap politik yang sama, terutama saat Gibran siap bersaing sebagai calon presiden pada 2029.

Selain itu, Prof. Ikrar menekankan pentingnya membaca, baik secara harfiah maupun kontekstual. Ia menilai bahwa budaya membaca yang kurang dalam keluarga Jokowi, khususnya Gibran, dapat menjadi kelemahan besar dalam menghadapi tantangan politik yang kompleks. Sebaliknya, pemimpin yang memiliki wawasan luas dan kemampuan membaca situasi dengan baik akan lebih siap dalam mengambil keputusan yang berdampak pada publik.

Tags :

Sutiyoso Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Sutiyoso Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Ikrar Nusa Bhakti, Politik Sandra dan Strategi Kekuasaan Jokowi

Ikrar Nusa Bhakti, Politik Sandra dan Strategi Kekuasaan Jokowi

Ikrar Nusa Bhakti, Politik Sandra dan Strategi Kekuasaan Jokowi

October 3, 2024
Ikrar Nusa Bhakti saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Ikrar Nusa Bhakti. (Foto: EdShareOn.com)

JAKARTA – Dalam salah satu episode menarik dari podcast EdShareOn, Eddy Wijaya berbincang dengan pakar politik Prof. Ikrar Nusa Bhakti mengenai isu-isu politik terkini. Salah satu topik yang mencuat adalah fenomena nepotisme dan kekuatan politik yang dipertahankan melalui berbagai strategi, termasuk apa yang disebut sebagai ‘politik sandra’. Pembahasan ini menyajikan pandangan kritis terhadap kondisi politik di Indonesia, terutama di bawah pemerintahan Jokowi.

Prof. Ikrar mengawali pembahasan dengan menggarisbawahi bagaimana kekuasaan dapat dimiliki melalui berbagai jalur, mulai dari kekuatan ekonomi hingga penguasaan informasi. Di era modern, kata Ikrar, penguasaan atas informasi penting menjadi senjata ampuh bagi pemegang kekuasaan, termasuk dalam konteks politik di Indonesia. Hal ini terlihat dalam cara Presiden Jokowi memanfaatkan jaringan informasi dan kekuatan fisik, khususnya dalam hubungannya dengan TNI dan Polri, untuk mempertahankan kekuasaannya.

Ikrar Nusa Bhakti saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Ikrar Nusa Bhakti saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Salah satu isu yang menonjol dalam diskusi ini adalah apa yang disebut sebagai ‘politik sandra’. Menurut Prof. Ikrar, di era Jokowi, beberapa keputusan politik besar, seperti pergantian Ketua Umum Golkar, sering kali didorong oleh informasi rahasia atau tekanan tertentu. Ini menggambarkan bagaimana kekuasaan sering kali dikaitkan dengan kemampuan untuk menyimpan dan memanfaatkan informasi sensitif yang dapat digunakan untuk ‘menyandera’ lawan politik.

Selain itu, Ikrar juga menyinggung keterlibatan institusi-institusi besar, seperti Polri dan KPK, dalam menjaga stabilitas kekuasaan. Menurutnya, Jokowi sangat berhati-hati dalam mengatur posisi strategis ini, misalnya dengan mempertahankan Kapolri Sigit dan pengangkatan komisioner baru KPK sebelum masa jabatan berakhir. Hal ini mencerminkan strategi jangka panjang Jokowi untuk menjaga kekuasaan dan mencegah potensi ancaman di masa depan.

Ikrar Nusa Bhakti saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Ikrar Nusa Bhakti saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Diskusi juga mencakup kritik terhadap perubahan undang-undang yang dianggap mengurangi kekuatan KPK. Ikrar Nusa Bhakti menyatakan bahwa revisi undang-undang KPK pada 2019, khususnya terkait pembentukan dewan pengawas dan kewenangan penyadapan, telah melemahkan kemampuan lembaga ini dalam memberantas korupsi. Menurutnya, KPK perlu dikembalikan kepada marwahnya yang asli agar dapat berfungsi efektif sebagai lembaga independen.

Tags :

Sutiyoso Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Sutiyoso Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Kritik Prof. Ikrar Nusa Bhakti Soal Lokasi IKN

Kritik Prof. Ikrar Nusa Bhakti Soal Lokasi IKN

Kritik Prof. Ikrar Nusa Bhakti Soal Lokasi IKN

October 2, 2024
Ikrar Nusa Bhakti saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Ikrar Nusa Bhakti. (Foto: EdShareOn.com)

JAKARTA – Dalam salah satu episode podcast EdShareOn, Eddy Wijaya berbincang dengan Prof. Ikrar Nusa Bhakti mengenai berbagai isu politik, termasuk pemindahan Ibu Kota Negara (IKN) dan pengaruh budaya Jawa dalam politik Indonesia. Wawancara ini memberikan pandangan yang menarik tentang rencana besar pemerintah dan tantangan yang dihadapi terkait keberlanjutan IKN.

Prof. Ikrar memulai dengan mengkritik lokasi IKN yang dianggapnya kurang tepat. Menurutnya, Penajam Pasir Utara di Kalimantan Timur menghadapi kendala besar dalam hal infrastruktur dan lingkungan. Salah satu faktor utama yang diangkat adalah masalah air yang sulit didapat di daerah tersebut. Kondisi lahan gambut serta kualitas air yang rendah menjadi tantangan serius untuk kebutuhan pertanian dan perikanan, dua sektor penting yang mendukung kehidupan di wilayah tersebut.

Ikrar Nusa Bhakti saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Ikrar Nusa Bhakti saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Dalam perbincangan itu, Prof. Ikrar juga mengkritisi dari sisi pertahanan negara. Ia menyoroti bahwa lokasi IKN di Kalimantan Timur membuat sistem pertahanan Indonesia seperti ‘telanjang’, berbeda dengan Jakarta yang sejak zaman kolonial Belanda sudah dirancang dengan sistem pertahanan yang matang. Kondisi geografis dan struktur tanah di Kalimantan Timur juga dinilai tidak memadai untuk mendukung pembangunan infrastruktur yang berkelanjutan, terutama jika dibandingkan dengan ibu kota yang sudah memiliki sejarah panjang dalam hal pertahanan.

Eddy Wijaya juga mengangkat pembahasan tentang bagaimana pengaruh budaya Jawa terus hadir dalam politik Indonesia. Prof. Ikrar menyebut bahwa sejak awal pemerintahan, Presiden Jokowi sering diibaratkan sebagai ‘raja kecil Jawa’, namun kritik dari rekan-rekannya justru melihat Jokowi sebagai sosok yang ingin menjadi ‘Raja Nusantara’. Hal ini menjadi simbol dari ambisi politik Jokowi, termasuk dalam memindahkan Ibu Kota.

Ikrar Nusa Bhakti saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Ikrar Nusa Bhakti saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Selain itu, perbincangan ini juga menyentuh mengenai sejarah kerajaan-kerajaan besar seperti Majapahit dan Sriwijaya. Kedua kerajaan ini digambarkan sebagai penguasa yang memiliki sistem pertahanan laut dan darat yang kuat. Prof. Ikrar menyoroti bahwa warisan kerajaan ini masih menjadi bagian dari kebanggaan Indonesia, meskipun banyak bagian dari sejarah mereka yang justru diakui di luar negeri, seperti di Thailand.

Tags :

Sutiyoso Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Sutiyoso Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Ikrar Nusa Bhakti, Dari Pendukung Setia Jokowi Hingga Berbalik Jadi Kritikus

Ikrar Nusa Bhakti, Dari Pendukung Setia Jokowi Hingga Berbalik Jadi Kritikus

Ikrar Nusa Bhakti, Dari Pendukung Setia Jokowi Hingga Berbalik Jadi Kritikus

September 30, 2024
Ikrar Nusa Bhakti saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Ikrar Nusa Bhakti. (Foto: EdShareOn.com)

JAKARTA – Dalam salah satu episode menarik podcast EdShareOn, Eddy Wijaya mewawancarai Prof. Ikrar Nusa Bhakti, seorang akademisi sekaligus mantan Duta Besar Indonesia untuk Tunisia. Wawancara tersebut mengangkat tema yang cukup sensitif, yaitu pandangan Prof. Ikrar terhadap Presiden Jokowi. Prof. Ikrar yang dulu merupakan pendukung setia Jokowi, kini berbalik menjadi salah satu kritikus terbesarnya. Ia bahkan mengungkapkan perasaan emosional hingga menangis ketika menulis tentang Jokowi di tahun 2023.

Prof. Ikrar memulai ceritanya dengan pengalaman kagetnya saat kembali ke Indonesia pada 2021 setelah bertugas di Tunisia. Menurutnya, teman-teman yang dulu bersama-sama mendukung Jokowi kini bersikap berbeda. Kehangatan dan semangat kebersamaan yang dulu ada, kini seolah menghilang. Rasa keterasingan ini membuat Prof. Ikrar merasa seperti ‘alien’ di antara teman-temannya sendiri.

Ikrar Nusa Bhakti saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Ikrar Nusa Bhakti saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Salah satu tokoh yang menjadi sorotan dalam kritik Prof. Ikrar adalah Rocky Gerung. Ia menyebutkan bahwa Rocky, yang juga teman lamanya, memberikan kritik keras terhadap Jokowi. Selain itu, Prof. Ikrar juga menyebutkan Fadli Zon, tokoh politik yang selalu memberikan kritik pedas terhadap Jokowi, khususnya mengenai pembangunan infrastruktur seperti jalan tol.

Dalam percakapannya dengan Eddy Wijaya, Prof. Ikrar menjelaskan bahwa setelah merenung, ia mulai menyadari bahwa beberapa kritik yang dilontarkan Rocky Gerung dan Fadli Zon memang ada benarnya. Ia menyadari bahwa keberhasilan pemerintah tidak bisa hanya diukur dari jumlah jalan tol yang dibangun, terutama karena banyak di antaranya dibangun oleh swasta dan bersifat berbayar.

Ikrar Nusa Bhakti saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Ikrar Nusa Bhakti saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Namun, kekecewaan terbesar Prof. Ikrar muncul ketika ia melihat degradasi demokrasi di Indonesia di bawah kepemimpinan Jokowi. Menurutnya, Jokowi bukan hanya gagal menjaga semangat demokrasi, tetapi juga justru membangkitkan kembali nepotisme yang dulu menjadi momok di era Orde Baru. Hal ini terlihat dari bagaimana Jokowi mencoba menjadikan anak-anaknya seperti Kaesang dan Bobby Nasution untuk terjun ke panggung politik.

Dalam wawancara tersebut, Prof. Ikrar tidak bisa menyembunyikan emosinya. Ia mengakui bahwa pandangannya terhadap Jokowi telah berubah drastis. Sosok yang dulu ia dukung kini dianggapnya telah lupa akan asal-usulnya dan orang-orang yang dulu membantunya mencapai kekuasaan. Dengan kata lain, Jokowi dianggap terlalu sibuk mengejar kekuasaan hingga mengesampingkan prinsip-prinsip demokrasi dan keadilan.

Tags :

Sutiyoso Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Sutiyoso Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)