Novel Baswedan Berharap Para Pejabat Memahami Soal Suap

Novel Baswedan Berharap Para Pejabat Memahami Soal Suap

Novel Baswedan Berharap Para Pejabat Memahami Soal Suap

October 22, 2024
Novel Baswedan saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Novel Baswedan. (Foto: EdShareOn.com)

JAKARTA – Korupsi di Indonesia telah lama menjadi isu yang membebani perkembangan negara. Dalam sebuah wawancara di EdShareOn, Eddy Wijaya bersama Novel Baswedan membahas tentang perilaku korupsi di kalangan pejabat dan tantangan dalam pemberantasan korupsi, terutama terkait suap dan gratifikasi. Pembicaraan ini mengungkap beberapa aspek penting yang sering terlewatkan dalam pemahaman masyarakat umum mengenai korupsi dan etika pejabat.

Novel Baswedan menyoroti bagaimana pemahaman mengenai peran pejabat publik seharusnya lebih ditekankan pada pengabdian dan amanah. Namun faktanya banyak yang menganggap posisi pejabat sebagai kesempatan mendapatkan fasilitas dan kemudahan. Padahal menjadi pejabat adalah tanggung jawab besar yang menuntut integritas dan dedikasi terhadap negara. “Menjadi pejabat bukanlah soal fasilitas, tapi soal amanah untuk melayani negara dengan jujur,” ujar Novel.

Novel Baswedan saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Novel Baswedan saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Salah satu isu utama yang disoroti adalah soal suap. Menurut Novel, memberikan suap kepada pejabat adalah bentuk kejahatan terhadap pejabat itu sendiri. Ini merupakan bagian dari KUHP Pasal 209 yang menyatakan bahwa memberi suap kepada pejabat adalah tindakan kriminal yang merusak martabat pejabat tersebut. Namun di lapangan, realitasnya justru sebaliknya. Sangat jarang ada pejabat yang melaporkan suap yang diterima, menunjukkan bahwa budaya menerima suap telah mendarah daging.

Dalam diskusi tersebut, Eddy Wijaya menanyakan mengenai perbedaan antara suap dan gratifikasi, serta apakah ada ruang bagi tanda terima kasih kepada pejabat. Novel menjelaskan bahwa dalam undang-undang, suap terbagi menjadi dua jenis yaitu suap sebelum tindakan yang disebut pemberian, dan suap setelah tindakan yang disebut hadiah. Kedua jenis ini sama-sama dilarang. “Bahkan tanda terima kasih pun bisa dianggap sebagai suap,” tegas Novel.

Novel Baswedan saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Novel Baswedan saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Lebih lanjut, Novel juga membahas soal gratifikasi yang sering kali dianggap sepele. Menurutnya, gratifikasi adalah bentuk pemberian fasilitas yang diberikan kepada pejabat dengan tujuan mempengaruhi keputusan atau tindakan. Ini adalah salah satu bentuk korupsi yang kerap luput dari perhatian publik. Banyak yang tidak menyadari bahwa pemberian fasilitas, baik sebelum maupun setelah pejabat melakukan suatu tindakan, bisa masuk dalam kategori gratifikasi.

Di tengah diskusi tersebut, Eddy Wijaya juga mempertanyakan mengapa pejabat yang menerima suap tidak merasa terhina atau tersinggung. Seharusnya penerimaan suap dianggap sebagai serangan terhadap martabat pejabat. Namun realitas yang terjadi adalah kebalikannya, di mana pejabat yang menerima suap justru merasa senang. Hal ini menjadi tantangan besar dalam upaya pemberantasan korupsi di Indonesia.

Tags :

Recent Posts

Sutiyoso Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Sutiyoso Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Novel Baswedan Ungkap Alasan Korupsi di Indonesia Makin Merajalela

Novel Baswedan Ungkap Alasan Korupsi di Indonesia Makin Merajalela

Novel Baswedan Ungkap Alasan Korupsi di Indonesia Makin Merajalela

October 22, 2024
Novel Baswedan saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Novel Baswedan. (Foto: EdShareOn.com)

JAKARTA – Dalam sebuah episode podcast EdShareOn, Eddy Wijaya berbincang dengan Novel Baswedan mengenai berbagai tantangan yang dihadapi dalam pemberantasan korupsi di Indonesia. Salah satu topik utama yang dibahas adalah gugatan Novel Baswedan terhadap Mahkamah Konstitusi terkait batas usia calon pimpinan KPK. Novel dan timnya mengajukan perubahan agar batas usia minimum dari 50 tahun menjadi 40 tahun, dengan tujuan membuka peluang bagi lebih banyak calon yang kompeten untuk bergabung dengan KPK.

Novel Baswedan menegaskan bahwa KPK membutuhkan figur-figur yang berintegritas, yang sayangnya banyak terhambat oleh aturan batas usia. Dia bersama rekan-rekan yang tergabung dalam IM57, sebuah kelompok yang terdiri dari mantan pegawai KPK, berharap bahwa gugatan mereka dapat memperbaiki proses seleksi pimpinan KPK. Meski Mahkamah Konstitusi menolak gugatan tersebut, Novel tetap berkeyakinan bahwa upaya mereka adalah langkah penting dalam memperjuangkan penguatan KPK.

Novel Baswedan saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Novel Baswedan saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Novel juga menyoroti pentingnya soliditas dalam lembaga penegakan hukum. Ia menyebut bahwa Kejaksaan Agung, di bawah pimpinan Sanitiar Burhanuddin, menunjukkan komitmen yang kuat dalam memberantas korupsi. Namun menurut Novel, upaya ini tidak hanya bergantung pada satu lembaga. Pemberantasan korupsi harus melibatkan seluruh elemen bangsa, termasuk aparat penegak hukum lainnya seperti kepolisian dan kejaksaan.

Eddy Wijaya kemudian menanyakan pandangan Novel tentang bagaimana pemberantasan korupsi di Indonesia terkesan stagnan, meskipun KPK sudah dibentuk sejak era Presiden Megawati. Novel menjawab bahwa hal tersebut disebabkan oleh kurangnya dukungan politik yang kuat. Menurutnya, pemberantasan korupsi memerlukan political will dari pemerintah, terutama dari Presiden, untuk benar-benar memimpin perjuangan melawan korupsi.

Novel Baswedan saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Novel Baswedan saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Selain itu, Novel Baswedan juga mengakui bahwa korupsi di Indonesia kerap dianggap sebagai risiko yang kecil. Banyak pejabat yang merasa aman dari hukuman berat, sehingga praktik korupsi terus berlanjut. Ia percaya, jika risiko tertangkap dan hukuman yang diberikan lebih tegas, pejabat akan berpikir dua kali untuk melakukan korupsi.

Tags :

Sutiyoso Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Sutiyoso Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Kunci Sukses Kejaksaan Agung dalam Pemberantasan Korupsi di Indonesia

Kunci Sukses Kejaksaan Agung dalam Pemberantasan Korupsi di Indonesia

Kunci Sukses Kejaksaan Agung dalam Pemberantasan Korupsi di Indonesia

October 22, 2024
Harli Siregar saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Harli Siregar. (Foto: EdShareOn.com)

JAKARTA – Dalam sebuah episode menarik dari podcast EdShareOn, Eddy Wijaya berbincang dengan Harli Siregar mengenai kinerja lembaga-lembaga hukum di Indonesia, khususnya Kejaksaan dan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Topik ini relevan dengan perubahan Undang-Undang KPK pada tahun 2019 yang disebut-sebut membuat lembaga tersebut melemah. Eddy Wijaya selaku host, menanyakan pandangan Harli Siregar mengenai isu ini, menyoroti perbandingan antara KPK dan Kejaksaan Agung.

Harli Siregar memberikan perspektif menarik terkait kinerja Kejaksaan Agung yang terus mendapat kepercayaan publik, meskipun kewenangannya tidak sekuat KPK. Menurutnya kekuatan utama Kejaksaan terletak pada komitmen lembaga dan soliditas yang terjalin di bawah kepemimpinan Jaksa Agung Sanitiar Burhanuddin. Hal ini menjadikan Kejaksaan mampu melakukan penegakan hukum yang signifikan, terutama dalam kasus-kasus besar yang berdampak langsung pada kehidupan masyarakat.

Harli Siregar saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Harli Siregar saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Ketika ditanya tentang prestasi Kejaksaan Agung, Harli menjelaskan beberapa pencapaian penting, seperti pengungkapan kasus besar seperti Jiwasraya, Asabri, dan Duta Palma. Dalam kasus ini, Kejaksaan berhasil melakukan penyitaan senilai hingga 800 miliar rupiah. Eddy Wijaya menambahkan bahwa hasil penyitaan ini bukan hanya sekadar janji, melainkan uang nyata yang terlihat oleh publik.

Pembahasan mengenai efektivitas Kejaksaan ini mengarah pada kesimpulan bahwa penegakan hukum, terutama pemberantasan korupsi, bukan hanya tanggung jawab aparat penegak hukum saja. Harli menekankan bahwa seluruh komponen bangsa, termasuk masyarakat, memiliki peran penting dalam mencegah dan memberantas korupsi. Semua pihak harus berkolaborasi dalam mendorong pemberantasan korupsi yang efektif.

Harli Siregar saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Harli Siregar saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Selain itu, diskusi juga menyoroti bahwa pemberantasan korupsi bukan hanya soal penindakan, tetapi juga pencegahan yang perlu ditingkatkan. Dengan kolaborasi yang baik antara lembaga dan masyarakat, diharapkan kepercayaan publik terhadap lembaga hukum akan terus meningkat, dan Indonesia bisa semakin maju dalam melawan korupsi.

Tags :

Sutiyoso Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Sutiyoso Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Harli Siregar, Masa Depan Penegakan Hukum dan Pemberantasan Korupsi di Indonesia

Harli Siregar, Masa Depan Penegakan Hukum dan Pemberantasan Korupsi di Indonesia

Harli Siregar, Masa Depan Penegakan Hukum dan Pemberantasan Korupsi di Indonesia

October 18, 2024
Harli Siregar saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Harli Siregar. (Foto: EdShareOn.com)

JAKARTA – Dalam sebuah wawancara menarik di podcast EdShareOn, Eddy Wijaya dan Harli Siregar, mantan Kepala Kejaksaan Tinggi Papua Barat, membahas isu-isu penting terkait penegakan hukum dan pemberantasan korupsi di Indonesia. Diskusi tersebut menyoroti bagaimana kinerja kejaksaan semakin menonjol dalam memberantas korupsi, bahkan melampaui beberapa lembaga seperti KPK. Eddy Wijaya pun mempertanyakan apakah lembaga ad hoc seperti KPK masih dibutuhkan jika kejaksaan sudah berfungsi maksimal.

Harli Siregar menjelaskan bahwa keberadaan lembaga-lembaga seperti KPK bergantung pada politik hukum negara. Artinya keputusan untuk mempertahankan atau menghapus lembaga tersebut sangat tergantung pada kebijakan politik dari pemerintah. Menurutnya penting untuk tidak berandai-andai, tetapi menunggu kajian lebih dalam tentang kebutuhan kelembagaan hukum di masa depan.

Harli Siregar saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Harli Siregar saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Eddy Wijaya juga mengingatkan bahwa pada awal pembentukannya di era Presiden Megawati, KPK memang dirancang sebagai lembaga ad hoc, yang berarti bersifat sementara. Namun Harli Siregar menekankan bahwa segala perubahan atau pembubaran lembaga hukum harus kembali pada politik hukum negara dan kajian menyeluruh mengenai efektivitasnya.

Menariknya, Harli Siregar berbagi pengalaman pribadinya saat bertugas di Papua. Ia mengungkapkan betapa uniknya tantangan penegakan hukum di sana, tetapi juga menekankan keindahan alam Papua dan keramahan masyarakatnya. Menurutnya masyarakat Papua sangat setia dan terbuka, serta memiliki komitmen yang kuat terhadap ke-Indonesia-an.

Harli Siregar saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Harli Siregar saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Di Papua, penegakan hukum, terutama terkait korupsi, tetap menjadi prioritas. Namun Harli juga menjelaskan bahwa pendekatan yang digunakan tak hanya melalui penerapan hukum positif, tetapi juga mengakomodasi hukum adat dan budaya setempat. Ini menunjukkan bahwa penegakan hukum harus bersifat adaptif sesuai dengan karakter masyarakat di tiap daerah.

Menutup diskusi, Eddy Wijaya dan Harli Siregar membahas harapan mereka terhadap pemerintahan baru yang dipimpin oleh Prabowo-Gibran. Harli menegaskan bahwa pemberantasan korupsi harus menjadi prioritas utama bagi pemerintah ke depan. Tanpa penegakan hukum yang kuat, Indonesia tidak akan bisa mencapai target besar, seperti Indonesia Emas 2045. Kepercayaan publik adalah kunci untuk mencapai partisipasi masyarakat dalam pembangunan bangsa yang lebih baik.

Tags :

Sutiyoso Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Sutiyoso Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Novel Baswedan: Private Jet Kaesang Mestinya Dikaitkan Penyelenggara Negara

Novel Baswedan: Private Jet Kaesang Mestinya Dikaitkan Penyelenggara Negara

Novel Baswedan: Private Jet Kaesang Mestinya Dikaitkan Penyelenggara Negara

October 16, 2024
Novel Baswedan saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Novel Baswedan. (Foto: EdShareOn.com)

JAKARTA – Kepada Eddy Wijaya, Novel Baswedan juga merespons sorotan penggunaan pesawat pribadi (private jet) oleh Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Kaesang Pangarep bersama istrinya Erina Gudono ke Amerika Serikat. Menurutnya, kasus putra bungsu Presiden Joko Widodo tersebut harus dikaitkan dengan latar belakang profesi keluarga, bukan semata personal Kaesang sebagai pengusaha.

“Kalau dilihat (memang) Kaesang-nya seorang pengusaha, tapi ukurnya bukan dari sana. Harus diukurnya dari Kaesang ini saudaranya penyelenggara negara siapa? Seharusnya begitu,” kata Novel. “Karena tidak boleh apabila ada pejabat, terus kemudian melalui anaknya, ada fasilitas yang diterima, itu tidak boleh. Itu bisa menjadi bagian dari gratifikasi,” ucapnya menambahkan.

Novel Baswedan saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Novel Baswedan saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Pria kelahiran Semarang, 22 Juni 1977 tersebut lantas menyesalkan pernyataan pegawai KPK yang langsung menyimpulkan kasus private jet Kaesang bukan termasuk gratifikasi. Novel menilai perlu pengusutan lebih dalam dari latar belakang Kaesang sebagai anak seorang penyelenggara negara dalam hal ini Presiden Jokowi.

“Ada beberapa statement dari KPK salah satunya Deputi Pencegahan KPK yang mengatakan Kaesang ini swasta bukan penyelenggara negara. Saya bingung, wah, sepertinya dia tidak paham soal gratifikasi,” kata dia.

Novel Baswedan saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Novel Baswedan saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Novel mengimbau agar pejabat dan keluarganya lebih berhati-hati menerima pemberian maupun fasilitas dari siapapun. “Apalagi untuk level Presiden, ya. Presiden itu diberikan fasilitas oleh negara. Bahkan keluarganya juga diberikan fasilitas. Maka mestinya lebih berhati-hati lagi. Masak, dapat fasilitas dari orang lain?” katanya.

Siapa Eddy Wijaya Sebenarnya, Begini Profilnya

Novel Baswedan saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Novel Baswedan dan Eddy Wijaya di Podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Sosok Eddy Wijaya adalah seorang podcaster dan pemerhati sosial kelahiran 17 Agustus 1972. Melalui akun YouTube @EdShareOn, Eddy mewawancarai banyak tokoh bangsa mulai dari sejumlah pejabat negara, pakar hukum, pakar politik, hingga selebritas Tanah Air. Pria dengan khas lesung pipi bagian kanan tersebut juga seorang nasionalis yang merupakan aktivis perjuangan kalangan terdiskriminasi. Gagasan-gagasannya terbentuk karena kerja kerasnya untuk mandiri sejak usia 13 tahun hingga sukses seperti sekarang. Bagi Eddy, dunia kerja tidak semulus yang dibayangkan, kegagalan dan penolakan menjadi hal biasa. Hal itulah yang membuatnya memegang teguh tagline “Sukses itu hanya masalah waktu”.

Saksikan selengkapnya dalam podcast EdShareOn yang dipandu host Eddy Wijaya!

Tags :

Sutiyoso Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Sutiyoso Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Novel Baswedan: Saya Prihatin Melihat Seleksi Capim KPK

Novel Baswedan: Saya Prihatin Melihat Seleksi Capim KPK

Novel Baswedan: Saya Prihatin Melihat Seleksi Capim KPK

October 16, 2024
Novel Baswedan saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Novel Baswedan. (Foto: EdShareOn.com)

JAKARTA – Mantan Penyidik Senior KPK, Novel Baswedan mengungkap keprihatinannya pada seleksi calon pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Menurut Novel, seleksi capim KPK tidak mempertimbangkan sejumlah masalah penting seperti pelanggaran kode etik para calon sehingga dikhawatirkan mempengaruhi kredibilitas KPK ke depannya.

“Contohnya ada pimpinan KPK (Saat ini sebagai Capim) yang pernah diperiksa terkait dengan pelanggaran etik (tapi masih bisa lolos seleksi),” kata Novel dalam podcast EdShareOn bersama host Eddy Wijaya, yang tayang pada Rabu, 16 Oktober 2024.

Novel Baswedan saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Novel Baswedan saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Dari 230 capim KPK, terdapat dua pimpinan KPK periode 2019-2024 yang lolos hingga 20 besar yakni Nurul Ghufron dan Johanis Tanak. Namun pada akhirnya yang masuk 10 besar adalah Johanis Tanak. Keduanya sempat menuai sorotan karena pernah diperiksa Dewan Pengawas KPK karena diduga melanggar etik.

Gufron disanksi etik tingkat sedang karena terbukti penggunaan pengaruh dalam mutasi seorang ASN di Kementerian Pertanian saat KPK mengusut kasus suap eks Mentan Syahrul Yasin Limpo. Sementara Johanis Tanak terkait chat-nya dengan pejabat Kementerian ESDM Muhammad Idris Froyoto Sihite saat KPK juga menyelidiki kasus di lembaga tersebut. Kendati belakangan, Dewas KPK menyatakan Tanak tidak terbukti bersalah.

“Walaupun dalam putusannya itu dikatakan tidak bisa dibuktikan karena alat buktinya dihapus, harusnya kan, tidak serta merta dianggap sebagai bukan persoalan. Dan harusnya panitia seleksi tanya ke Dewas KPK, sebenarnya faktanya bagaimana sih? Dengan begitu akan mendapatkan input yang lengkap,” kata Novel menyoroti kasus Johanis Tanak.

Novel Baswedan saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Novel Baswedan saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Novel yang kini menjabat Wakil Ketua Satuan Tugas Khusus (Satgasus) Pencegahan Korupsi Polri menyatakan hasil seleksi KPK inilah yang menjadi kekhawatirannya sejak awal, sehingga mengajukan gugatan batas usia Capim KPK dan provisi (Putusan Sela) agar seleksi Capim KPK ditunda di Mahkamah Konstitusi. Namun sayangnya, MK menolak kedua permohonan tersebut.

“Bila suatu hari kami ditanya, mengapa dengan kondisi KPK yang carut marut begini kami tidak berbuat untuk bisa membantu? Kami bisa katakan, kami telah melakukan upaya, telah berjuang, dan memang batasannya sampai pada posisi tidak memungkinkan lagi untuk bisa berbuat,” kata Novel.

Siapa Eddy Wijaya Sebenarnya, Begini Profilnya

Novel Baswedan saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Novel Baswedan dan Eddy Wijaya di Podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Sosok Eddy Wijaya adalah seorang podcaster dan pemerhati sosial kelahiran 17 Agustus 1972. Melalui akun YouTube @EdShareOn, Eddy mewawancarai banyak tokoh bangsa mulai dari sejumlah pejabat negara, pakar hukum, pakar politik, hingga selebritas Tanah Air. Pria dengan khas lesung pipi bagian kanan tersebut juga seorang nasionalis yang merupakan aktivis perjuangan kalangan terdiskriminasi. Gagasan-gagasannya terbentuk karena kerja kerasnya untuk mandiri sejak usia 13 tahun hingga sukses seperti sekarang. Bagi Eddy, dunia kerja tidak semulus yang dibayangkan, kegagalan dan penolakan menjadi hal biasa. Hal itulah yang membuatnya memegang teguh tagline “Sukses itu hanya masalah waktu”.

Saksikan selengkapnya dalam podcast EdShareOn yang dipandu host Eddy Wijaya!

Tags :

Sutiyoso Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Sutiyoso Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Jaga Pemilu, Kolaborasi untuk Mencegah Kecurangan Pilkada

Jaga Pemilu, Kolaborasi untuk Mencegah Kecurangan Pilkada

Jaga Pemilu, Kolaborasi untuk Mencegah Kecurangan Pilkada

October 16, 2024
Jaga Pemilu

Jaga Pemilu. (Foto: EdShareOn.com)

JAKARTA – Pada tanggal 16 Oktober 2024, Jaga Pemilu menyelenggarakan diskusi dan sosialisasi untuk membahas pencegahan kecurangan dalam Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada). Pertemuan ini melibatkan berbagai pihak yang berkepentingan dalam memastikan pemilu berjalan dengan jujur dan adil. Selain berfungsi sebagai ajang berbagi informasi terkait laporan sementara, acara ini juga menjadi platform untuk membangun jejaring serta membuka peluang kolaborasi antara berbagai elemen masyarakat dan lembaga terkait.

Jaga Pemilu sendiri merupakan sebuah platform digital yang dirancang khusus untuk memudahkan masyarakat dalam melaporkan dugaan pelanggaran selama proses Pilkada. Dengan kemudahan teknologi, Jaga Pemilu bertujuan untuk meningkatkan transparansi dan integritas dalam setiap tahapan Pilkada. Hal ini penting untuk memastikan bahwa seluruh kegiatan pemilihan berlangsung secara akuntabel, sehingga publik dapat berpartisipasi secara aktif dalam menjaga kualitas demokrasi di Indonesia.

Salah satu aspek paling penting dari pelaksanaan Pilkada adalah pemantauan yang efektif. Melalui pemantauan ini, transparansi dan kejujuran dalam proses pemilihan dapat terjaga dengan baik. Pemantauan yang ketat juga membantu dalam mendeteksi dan mencegah berbagai bentuk kecurangan yang mungkin terjadi. Dengan adanya pemantauan, masyarakat akan lebih percaya pada integritas hasil Pilkada, yang pada akhirnya dapat memperkuat demokrasi dan mendorong perbaikan dalam penyelenggaraan pemilu di masa mendatang.

Selain menjadi alat pengawasan, Jaga Pemilu juga mendorong partisipasi aktif masyarakat dalam proses pelaporan dugaan pelanggaran. Masyarakat yang melihat adanya indikasi pelanggaran dapat dengan cepat mengirimkan bukti berupa foto atau video melalui nomor WhatsApp yang telah disediakan, yaitu 0852.8282.5268. Proses pelaporannya sederhana: mulai dari percakapan awal, pengisian identitas diri, hingga pengiriman bukti. Fitur ini memudahkan siapa saja untuk berperan dalam menjaga integritas pemilu, kapan saja dan di mana saja.

Jaga Pemilu juga menyediakan opsi pelaporan secara anonim untuk melindungi pelapor dari kemungkinan intimidasi atau tekanan. Ini merupakan salah satu fitur penting yang memastikan keamanan dan kenyamanan bagi mereka yang ingin melaporkan dugaan pelanggaran, tanpa harus takut akan adanya dampak negatif. Dengan adanya opsi ini, diharapkan lebih banyak masyarakat yang bersedia berpartisipasi dalam pemantauan Pilkada.

Secara keseluruhan, Jaga Pemilu telah menjadi salah satu langkah inovatif dalam menjaga kualitas demokrasi di Indonesia. Melalui platform ini, masyarakat tidak hanya menjadi penonton pasif, tetapi juga dapat mengambil peran aktif dalam mencegah kecurangan dan memastikan setiap suara dihitung secara adil. Dengan kolaborasi dan partisipasi dari berbagai pihak, masa depan demokrasi Indonesia diharapkan akan semakin transparan, jujur, dan berkeadilan.

Tags :

Sutiyoso Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Sutiyoso Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Alasan Harli Siregar Ikut Seleksi Capim KPK

Alasan Harli Siregar Ikut Seleksi Capim KPK

Alasan Harli Siregar Ikut Seleksi Capim KPK

October 16, 2024
Harli Siregar saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Harli Siregar. (Foto: EdShareOn.com)

JAKARTA – Dalam sebuah episode podcast EdShareOn yang dipandu oleh Eddy Wijaya, Harli Siregar, salah satu kandidat pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) periode 2024-2029, membahas motivasi dan pandangannya tentang masa depan KPK. Meski tidak lolos ke 10 besar calon pimpinan KPK, Harli tetap memiliki komitmen besar untuk perbaikan lembaga tersebut.

Harli Siregar mengungkapkan bahwa motivasinya mendaftar sebagai pimpinan KPK didorong oleh sejarah panjang karirnya dan keinginan memperbaiki kinerja KPK yang kini dianggapnya mengalami penurunan. Menurutnya, kepercayaan publik terhadap KPK terus menurun, dan disharmoni di antara pimpinan KPK telah menjadi isu serius yang mempengaruhi kinerja lembaga tersebut.

Harli Siregar saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Harli Siregar saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Dalam podcast EdShareOn, Eddy Wijaya mengangkat isu terkait seleksi calon pimpinan KPK yang mendapat kritikan dari ICW karena dianggap tertutup. Harli menjelaskan bahwa dalam proses seleksi, masyarakat juga turut dilibatkan dan memberikan pertanyaan-pertanyaan kritis. Hal ini membuktikan bahwa keterlibatan publik sangat diutamakan dalam proses seleksi, meskipun dilakukan dalam format tertutup di ruang tertentu.

Selain itu, Harli menyoroti pentingnya kolaborasi antara KPK dan aparat penegak hukum lain, termasuk BPK, PPATK, serta kelompok-kelompok masyarakat. Baginya, kolaborasi ini penting untuk membangun kembali kepercayaan publik terhadap KPK dan memperkuat upaya pemberantasan korupsi di Indonesia. Ia juga menekankan perlunya pimpinan KPK memiliki integritas tinggi untuk menghadapi berbagai tantangan ke depan.

Harli Siregar saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Harli Siregar saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Dalam perbincangan lebih lanjut, Harli Siregar juga menyebutkan dua nama calon pimpinan KPK dari Kejaksaan yang masuk dalam 10 besar, yakni Johanis Tanak dan Fitroh Rohcahyanto. Harli berharap mereka dapat memperbaiki citra KPK dan membangun sinergi yang lebih baik dengan institusi penegak hukum lain. Harapannya, pimpinan KPK ke depan dapat mengembalikan kepercayaan publik dengan meningkatkan kinerja dan integritas lembaga.

Tags :

Sutiyoso Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Sutiyoso Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Ikrar Nusa Bhakti Ungkap Masa Depan IKN dan Kabinet di Bawah Prabowo Subianto

Ikrar Nusa Bhakti Ungkap Masa Depan IKN dan Kabinet di Bawah Prabowo Subianto

Ikrar Nusa Bhakti Ungkap Masa Depan IKN dan Kabinet di Bawah Prabowo Subianto

October 15, 2024
Ikrar Nusa Bhakti saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Ikrar Nusa Bhakti. (Foto: EdShareOn.com)

JAKARTA – Dalam salah satu episode podcast EdShareOn yang dipandu oleh Eddy Wijaya, Profesor Ikrar Nusa Bhakti memberikan pandangan menarik tentang beberapa isu politik yang berlangsung di Indonesia. Pembicaraan mereka menyoroti masa depan pembangunan Indonesia dan jabatan politis di kabinet. Salah satu poin utama yang dibahas adalah tentang keberlanjutan proyek pembangunan Ibu Kota Negara (IKN) setelah masa jabatan Presiden Joko Widodo berakhir.

Profesor Ikrar menyebut bahwa meskipun Presiden Jokowi berharap program pembangunan IKN diteruskan oleh pemimpin berikutnya, termasuk Prabowo Subianto, kenyataan politik dan anggaran mungkin tidak mendukung impian itu sepenuhnya. Menurutnya, meskipun normal bagi seorang presiden berharap program-programnya dilanjutkan, kemungkinan besar Prabowo akan memprioritaskan hal-hal lain yang lebih sesuai dengan situasi anggaran dan kebijakan saat ia menjabat nanti. Hal ini menekankan pentingnya melihat program-program dengan perspektif pragmatis dan realistis dalam politik.

Ikrar Nusa Bhakti saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Ikrar Nusa Bhakti saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Isu lain yang dibahas dalam EdShareOn oleh Eddy Wijaya dan Profesor Ikrar adalah mengenai komposisi kabinet yang akan datang. Ikrar berpendapat bahwa saat ini banyak jabatan politis di Indonesia diisi oleh sosok-sosok dari kepolisian, namun dengan latar belakang Prabowo sebagai militer, mungkin akan terjadi perubahan di kabinet. Meski demikian, tantangan utamanya bukan hanya soal latar belakang militer atau kepolisian, melainkan soal jumlah menteri yang akan dipilih dan bagaimana mereka akan membawa visi Indonesia ke depan.

Lebih lanjut, Ikrar menyinggung soal wacana penambahan jumlah menteri di kabinet. Ia mengkritisi hal ini, dengan mengacu pada negara besar seperti Amerika Serikat yang hanya memiliki 15 menteri meski memiliki kepentingan global yang luas. Menurutnya, penambahan menteri tidak serta-merta mencerminkan luasnya negara, dan kabinet yang efisien lebih penting daripada jumlah yang besar.

Ikrar Nusa Bhakti saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Ikrar Nusa Bhakti saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Dalam percakapan ini, Profesor Ikrar juga menyoroti latar belakang Prabowo Subianto yang memiliki darah campuran Jawa, Manado, dan Tionghoa. Hal ini, menurutnya, menantang anggapan bahwa Prabowo akan memimpin dengan orientasi yang sangat Islami atau kanan. Sebaliknya, latar belakang pluralis tersebut menunjukkan bahwa Prabowo mungkin akan mengambil pendekatan yang lebih moderat dan inklusif dalam kepemimpinannya, mencerminkan keberagaman Indonesia.

Percakapan dalam EdShareOn ini tidak hanya memberikan wawasan tentang politik Indonesia saat ini, tetapi juga mengajak pendengar untuk merenungkan dinamika kekuasaan dan pentingnya kebijakan yang realistis. Eddy Wijaya, sebagai host, berhasil mengangkat isu-isu penting dengan cara yang mudah dipahami dan relevan bagi masyarakat luas.

Tags :

Sutiyoso Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Sutiyoso Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Tantowi Yahya, Pengalaman Spiritual dan Pesan untuk Anak Muda

Tantowi Yahya, Pengalaman Spiritual dan Pesan untuk Anak Muda

Tantowi Yahya, Pengalaman Spiritual dan Pesan untuk Anak Muda

October 15, 2024
Tantowi Yahya saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Tantowi Yahya. (Foto: EdShareOn.com)

JAKARTA – Dalam salah satu episode podcast EdShareOn, Eddy Wijaya berbincang dengan Tantowi Yahya, seorang tokoh publik yang dikenal dengan karier cemerlangnya dari resepsionis hotel hingga duta besar. Dalam percakapan ini, Tantowi berbagi sebuah pengalaman spiritual yang terjadi saat ia melakukan umrah. Meski bersifat personal, akan tetapi pengalaman ini memberikan pelajaran mendalam yang relevan dengan kehidupan.

Saat berada di Raudhah, sebuah tempat yang dianggap suci di Madinah, Tantowi menghadapi dilema. Ia merasa tak pantas berada di sana dan merasa ada orang lain di belakangnya yang lebih berhak. Pengalaman ini mengajarkan tentang pentingnya melepaskan ego dan memberi kesempatan kepada yang lebih berhak, sebuah nilai yang relevan dalam dunia politik. Dalam politik, seperti yang dijelaskan Tantowi, sering kali seseorang harus memilih antara mengejar jabatan atau memberikan kesempatan kepada orang yang lebih mampu.

Tantowi Yahya saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Tantowi Yahya saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Lebih jauh, Tantowi menceritakan bagaimana ia bertemu seseorang yang berbicara dalam bahasa Palembang dan memberikan buku doa yang sangat membantunya. Setelah kembali ke Indonesia, ia menyadari buku tersebut hilang dan orang yang membantunya tak dapat ditemukan. Ini menambah kepercayaan Tantowi bahwa pengalaman itu adalah pertemuan dengan malaikat. Melalui cerita ini, Tantowi menunjukkan bahwa keajaiban bisa terjadi di mana saja, bahkan di tengah tantangan spiritual dan politis.

Pada akhir wawancara, Eddy Wijaya mengajukan pertanyaan tentang kunci sukses bagi anak muda. Tantowi menegaskan bahwa kemampuan berbicara di depan publik atau public speaking adalah kunci utama yang membawanya sukses dalam berbagai profesi, dari resepsionis hingga duta besar. Ia juga menekankan pentingnya memiliki kemampuan dan jaringan yang baik. Menurutnya, memiliki kedua elemen ini adalah kombinasi ideal untuk sukses dalam dunia profesional.

Tantowi Yahya saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Tantowi Yahya saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Tantowi juga menekankan bahwa, meski kondisi politik Indonesia bisa naik turun, kita harus tetap mencintai Indonesia. Ia mengingatkan bahwa dalam kehidupan politik, kesetiaan pada negara dan kemampuan untuk mencintai tanah air di tengah dinamika politik adalah hal yang penting.

Tags :

Sutiyoso Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Sutiyoso Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)