Siswanto Rusdi saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Jakarta – Pendiri sekaligus Direktur The National Maritime Institute (Namarin) Siswanto Rusdi mempertanyakan narasi yang menyatakan dua kapal tanker Indonesia sudah mendapat lampu hijau dari Iran untuk melewati jalur Selat Hormuz. Dari penelusuran Namarin, lembaga yang berfokus mengkaji isu pelayaran, pelabuhan, hingga keamanan maritim, ada perang informasi dan adu psikologis (psywar) terutama dari kalangan pemerintah Indonesia. Dalam hal ini Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Kementerian Luar Negeri, maupun Pertamina.
“Nah, mereka (pemerintah RI) ingin membangun opini bahwa kapal (Gamsunoro dan Pertamina Pride) sudah lepas, boleh lewat (Selat Hormuz). Tetapi dari berbagai sumber yang saya miliki, kapal itu belum lepas. Dari berbagai macam aplikasi ship tracking pun kapal itu masih di Selat Hormuz. Ini yang menurut saya perlu kita pertanyakan,” ujarnya saat berbincang dengan Eddy Wijaya dalam podcast EdShareOn yang tayang pada Rabu, 1 April 2026.
Iran memblokade jalur strategis Selat Hormuz di tengah konfliknya dengan Amerika Serikat-Israel sebagai bentuk perlawanan. Sikap ini memicu krisis energi global lantaran 20 persen pasokan minyak dan gas dunia melewati jalur yang masuk teritorial laut Iran dan Oman tersebut. Setidaknya hampir 2 ribu kapal dari berbagai negara tertahan di Selat Hormuz termasuk Gamsunoro dan Pertamina Pride. Belakangan Iran menjadikan kawasan itu sebagai nilai tawar dengan menahan kapal-kapal milik negara yang dianggap mendukung AS-Israel. Iran juga mengutip bea masuk senilai US$ 2 juta untuk kapal yang melewati Selat Hormuz.
Siswanto menjelaskan, walau berlabel Pertamina Pride, kapal tanker yang tertahan di Selat Hormuz berbendera Singapura. Sedangkan kapal Gamsunoro masih menjadi perdebatan apakah berbendera Indonesia, ataukah Panama. “Nah, ini saja sebetulnya sudah cukup (menjadi alasan) bagi pemerintah Iran untuk setop dulu, wait and see. Kapal ini sebetulnya milik siapa? Indonesia atau negara lain? Muatannya juga milik Indonesia atau untuk pihak ketiga? Sebab Iran ini sangat alergi dengan kapal yang izinnya bilang untuk negara X, tapi kenyataannya untuk negara Y,” kata dia.
Identitas kapal Gamsunoro memang belum terang hingga kini. Sebab, viral dibahas di media sosial, kapal yang berbendera Indonesia maupun Panama ditengarai punya nomor IMO (kode unik kapal yang dikeluarkan International Maritime Organization) sama, tapi call sign-nya berbeda. Call sign adalah kode identitas untuk komunikasi radio sebuah kapal. Kode ini bisa berubah jika kapal ganti negara/bendera, atau ada pembaruan registrasi.
Siswanto menilai, nasib kapal tanker Pride dan Gamsunoro menjadi PR tim negosiator Indonesia. Tim inilah yang idealnya melobi Iran. Tentunya dengan catatan, identitas kapal jelas milik Indonesia. “Kalau identitasnya jelas, mungkin prosesnya lebih gampang. Tapi ini kan sangat complicated baik itu benderanya, atau juga krunya yang campuran dan ada orang Indonesianya. Muatannya juga nggak jelas, menuju ke mana, milik siapa, end user-nya siapa. Jadi saya meyakini prosesnya masih akan panjang,” terangnya.
Menurutnya, tim negosiator pelepasan kapal tanker mesti melibatkan pejabat tinggi Indonesia, tak “sekadar” juru bicara Kementerian Luar Negeri. Ini penting untuk menjaga hubungan baik dengan Iran, mengingat beberapa waktu ini hubungan kedua negara kurang hangat. Mulai dari status Indonesia yang tergabung dalam Board of Peace, kapal Iran yang tak diizinkan ikut Multilateral Naval Exercise Komodo, Kapal Super Tanker MT Arman 114 berbendera Iran ditangkap Bakamla di Laut Natuna Utara pada 2023, dan telatnya ucapan belasungkawa Indonesia untuk pimpinan Iran Ayatollah Ali Khamenei. “Gimana Iran nggak kesal (dengan Indonesia)?”
Direktur The National Maritime Institute (Namarin) Siswanto Rusdi juga menyinggung dua kapal Pertamina yang berbendera Panama dan Singapura. Ia menjelaskan, dalam bisnis pengadaan crude oil biasanya Pertamina membuka tender pengadaan. “Misalnya butuh sekian juta kiloliter BBM, siapa yang bisa supply? Nanti akan ada penawaran dari X,Y, dan lainnya. Jadi sifatnya B2B, bisa saja itu broker, trader gitu. Makanya kapal itu benderanya Panama maupun Singapura,” ujarnya kepada Eddy Wijaya dalam podcast EdShareOn yang tayang pada Rabu, 1 April 2026.
Ia menilai pemerintah semestinya terbuka pada publik soal dua kapal tanker Indonesia yang tersandera di Selat Hormuz. “Kapalnya membeli atau mengangkut minyak siapa? Karena belum tentu pihak yang punya nama, dalam hal ini Pertamina, mengangkut komoditasnya Pertamina. Apalagi benderanya bukan Indonesia,” katanya.
Siswanto menjelaskan, kapal yang disebut milik Indonesia itu berstatus sewa. Kapal itu dibangun oleh konsorsium Jepang, Sumitomo. “Karena Pertamina juga trader, punya produksi, ya udah (kapalnya) mengangkut produksi Pertamina, bawa ke ekspor. Terus kita juga nanti bawa impor, bisa ke Indonesia, Singapura, India, bisa ke China, tergantung cocok-cocokan harga saja. Jadi bisnis minyak ini sangat cair,” ujarnya.
Tags : #EdShareOn #SiswantoRusdi #siapaeddywijaya #sosokeddywijaya #profileeddywijaya