EdShareOn

Fithra Faisal: Perlu Rp10.000 Triliun Agar Ekonomi Tumbuh 8 Persen, Sektor Energi Bisa Jadi Penggerak

December 25, 2025
Fithra Faisal saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Fithra Faisal saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

JakartaEkonom senior dari Universitas Indonesia, Fithra Faisal Hastiadi, optimistis target pertumbuhan ekonomi sebesar 8% bisa terealisasi. Angka itu merupakan target politik Presiden RI Prabowo Subianto untuk 2029. Adapun pada kuartal ketiga 2025, ekonomi Indonesia tumbuh 5,04% year on year. “Target itu bisa kita capai, tapi memang harus kerja keras,” kata dia saat berbincang dengan Eddy Wijaya dalam podcast EdShareOn yang tayang pada Rabu, 25 Desember 2025.

Advisor di PT Samuel Sekuritas Indonesia ini menjelaskan, untuk mencapai target 8%, Indonesia memerlukan investasi sebesar Rp10.000 triliun. Nilai investasi itu bisa diserap dari sejumlah sektor infrastruktur. Yang pertama energi dengan target investasi Rp3.300 triliun, lalu teknologi komunikasi dan informasi (ICT) dengan Rp1.800 triliun, serta transportasi dengan Rp1,300 triliun. Sektor lain yang juga bisa memperkuat arus investasi adalah air bersih dan sanitasi, serta housing atau properti.

Fithra Faisal saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Fithra Faisal saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Menurut Fithra, dari target Rp10.000 triliun, sebesar Rp3.000 triliun bisa disumbang investasi dari dalam negeri. Sedangkan 70% sisanya, diupayakan datang dari mancanegara. Karena itulah, kata Fithra, selama ini Presiden Prabowo kerap bersafari ke luar negeri. “Pak Presiden mencari kesempatan ekonomi supaya investasi bisa masuk ke Indonesia. Tidak hanya ke 1-2 negara, tapi juga ke negara-negara Eropa dan Arab. Ini adalah bagian dari diversifikasi trade and investment partner kita,” ujarnya. 

Di sisi lain, Prabowo menyadari soal faktor yang sering menghambat gerak calon investor di Indonesia. Seperti kepastian hukum yang tak menentu, keamanan yang rentan, serta aturan yang berubah-ubah. Fithra menjelaskan, Prabowo menaruh perhatian untuk perbaikan regulasi yang bisa mendorong investasi, agar bisa berjalan paralel dengan “pembangunan” kualitas manusia Indonesia.

Soal itu, Indonesia disebut Fithra bisa belajar dari Vietnam. Negeri Naga Biru itu relatif agresif dalam mendorong masuknya investasi. Terbukti pada kuartal ketiga 2024, pertumbuhan ekonominya mencapai 7,4% karena sokongan investasi asing dan ekspor. “Ketika investor ingin masuk, Vietnam sudah menyediakan tanah dan sumber daya yang sudah terlatih. Jadi investor tinggal plug and play,” kata dia.

Fithra Faisal saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Fithra Faisal saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Seperti diketahui, Kementerian Investasi dan Hilirisasi atau BKPM mencatat sepanjang 2014-2024, nilai investasi yang masuk ke Indonesia sebesar Rp9.100 triliun. Sedangkan untuk tahun ini, realisasi investasi pada semester pertama mencapai Rp942,9 triliun atau hampir dari separuh target tahun 2025 yang sebesar Rp1.905,6 triliun. “Tahun depan harus lebih baik karena menjadi momentum kita melakukan ekspansi lebih lanjut,” ujar Fithra.

Ia tak memungkiri, bencana banjir bandang dan longsor Sumatera akhir 2025 ini memberi dampak pada pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 0,05-0,1%. Sehingga pertumbuhan ekonomi kuartal empat 2025 yang semula diperkirakan mencapai 5,2%, terkontraksi menjadi 5,1%. Namun Fithra meyakini kondisi ekonomi nasional akan pulih awal tahun depan, seiring dengan rekonstruksi dan rehabilitasi Sumatera. “Presiden sudah turun ke Sumatera, pemerintah, kementerian-kementerian sudah ada di sana. Bahkan rapat kabinet terakhir juga berfokus pada pemulihan Sumatera.”

Fithra Faisal: Anggaran MBG Akan Dievaluasi

Program makan bergizi gratis dalam setahun pertama pelaksanaannya melahirkan sejumlah polemik. Selain standar menunya yang berbeda di sejumlah daerah, kegagalan distribusi, isu keracunan, hingga soal transparansi pemerintah dalam pemilihan vendor dan anggarannya. Belakangan ini pun pemerintah dikritik lantaran tetap memberikan MBG pada masa libur sekolah. Kebijakan ini dipandang tidak efisien dan memboroskan anggaran.

Ekonom senior dari Universitas Indonesia, Fithra Faisal Hastiadi, mengklaim pemerintah menaruh perhatian pada pelaksanaan MBG termasuk kontroversi yang menyelimutinya. “Yang paling penting adalah kendali institusional. Jadi dalam konteks ini Pak Presiden selalu melihat dan mengevaluasi lebih dulu apa yang perlu diperbaiki,” ujarnya kepada Eddy Wijaya dalam podcast EdShareOn yang tayang pada Rabu, 25 Desember 2025.

Fithra Faisal saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Fithra Faisal saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Salah satu upaya yang sudah dilakukan pemerintah adalah menerapkan sertifikasi pada Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dan menambah dapur-dapur mulai pertengahan 2025. Langkah itu diambil sebagai jawaban atas kritik masyarakat yang ingin menu MBG lebih steril dan segar, mengikuti model dapur sekolah yang ada di Jepang. Sampai Maret 2025, tercatat ada 726 SPPG di 38 provinsi yang melayani 2,5 juta penerima manfaat. Pemerintah menargetkan jumlahnya akan bertambah hingga 32 ribu SPPG agar bisa menjangkau lebih banyak siswa.

Fithra menyebut, pemerintah juga menimbang masukan soal aturan yang bisa membatasi pengelolaan SPPG agar tidak dikuasai satu orang atau kelompok saja. Seperti diketahui, masyarakat sempat dikagetkan oleh kabar adanya anak anggota DPRD Sulawesi Selatan, Yasir Machmud, yang memiliki 41 dapur SPPG untuk MBG. Walau Badan Gizi Nasional sudah membatasi satu yayasan hanya bisa memiliki 10 SPPG per provinsi, tapi aturan ini masih punya celah untuk dimasuki. “Dalam beberapa kesempatan, Pak Presiden sangat mempertimbangkan bagaimana kue-kue ekonomi ini tidak hanya digunakan atau dikuasai oleh sekelompok orang,” kata dia. 

Karena itulah ia kembali menekankan soal evaluasi setahun berjalannya MBG, termasuk soal anggarannya. Tahun ini, anggaran MBG Rp171 triliun ternyata baru terpakai Rp71 triliun. “Nah untuk tahun depan, anggaran Rp335 triliun itu juga tentunya akan selalu dievaluasi. Apakah terjadi penumpukan di satu kelas saja, atau adakah faktor-faktor yang lebih inklusif sebagaimana cita-cita dari Pak Presiden di awal,” ujarnya.

Siapa Eddy Wijaya Sebenarnya, Begini Profilnya

Sosok Eddy Wijaya adalah seorang podcaster kelahiran 17 Agustus 1972. Melalui akun YouTube @EdShareOn, Eddy mewawancarai banyak tokoh bangsa mulai dari pejabat negara, pakar hukum, pakar politik, politisi nasional, hingga selebritas Tanah Air. Pria dengan khas lesung pipi bagian kanan tersebut juga seorang nasionalis yang merupakan aktivis perjuangan kalangan terdiskriminasi dan pemerhati sosial dengan membantu masyarakat lewat yayasan Wijaya Peduli Bangsa. Ia juga aktif di bidang olahraga dengan menjabat Ketua Harian Persatuan Olahraga Berkuda Seluruh Indonesia (Pordasi) Pacu dan juga pernah menjabat Wakil Ketua Umum Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PBSI) Jakarta Timur. Eddy juga menjabat sebagai Dewan Penasehat Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia, masa bakti 2022-2026. Gagasan-gagasannya terbentuk karena kerja kerasnya untuk mandiri sejak usia 13 tahun hingga sukses seperti sekarang. Bagi Eddy, dunia kerja tidak semulus yang dibayangkan, kegagalan dan penolakan menjadi hal biasa. Hal itulah yang membuatnya memegang teguh tagline “Sukses itu hanya masalah waktu”.

Tags : #EdShareOn #FithraFaisal #siapaeddywijaya #sosokeddywijaya #profileeddywijaya

Recent Posts

Sutiyoso Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Sutiyoso Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)