Year: 2024
Alasan Indonesia Menggunakan Alat Sadap Buatan Israel
Alasan Indonesia Menggunakan Alat Sadap Buatan Israel
Hikmahanto Juwana. (Foto: EdShareOn.com)
JAKARTA – Dalam sebuah episode terbaru dari podcast EdShareOn, Eddy Wijaya berbicara dengan Hikmahanto Juwana mengenai berbagai langkah konkret yang telah diambil oleh Indonesia dalam mendukung Palestina, meskipun tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Israel. Diskusi ini mengungkapkan pandangan Hikmahanto tentang kebijakan yang diambil oleh Menteri Pertahanan Indonesia, Prabowo Subianto, dan bagaimana Indonesia tetap bisa berperan aktif di kancah internasional.
Hikmahanto menjelaskan bahwa meskipun Indonesia tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Israel, hal ini tidak menghalangi Indonesia untuk berperan aktif dalam mendukung Palestina. Menurutnya, berdasarkan prinsip yang tercantum dalam pembukaan Undang-Undang Dasar 1945, Indonesia selalu menolak penjajahan dalam bentuk apapun. “Apa yang dilakukan oleh Israel adalah penjajahan terhadap rakyat Palestina. Sebelum Israel mengakui Palestina sebagai negara dan memberikan tanah kepada rakyat Palestina, kita tidak akan membuka hubungan diplomatik,” tegasnya.
Meskipun tidak memiliki hubungan diplomatik, Indonesia tetap bisa melakukan tindakan nyata melalui berbagai forum internasional. Hikmahanto menyebutkan bahwa Menteri Luar Negeri Indonesia telah berpidato di Majelis Umum PBB dan Dewan Keamanan PBB. Selain itu, Indonesia juga turut memberikan pandangan dalam sidang Mahkamah Internasional terkait opini tentang situasi di Palestina.
Dalam diskusi tersebut, Hikmahanto juga mengapresiasi langkah konkret yang diambil oleh Prabowo Subianto. Salah satu inisiatif Prabowo adalah kesiapan Indonesia untuk mengirimkan pasukan perdamaian jika diminta oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa dan diberikan mandat. “Ini usulan yang sangat konkret dan berani. Indonesia sudah sering diminta untuk menyumbang pasukan perdamaian dan kita sudah siap,” ujarnya.
Selain itu, Prabowo juga berencana untuk mengevakuasi anak-anak Palestina yang terluka dan menyediakan rumah sakit sementara. “Kami akan kirim rumah sakit, baik itu di kapal atau di tempat-tempat sementara, untuk menolong anak-anak yang terluka,” tambah Hikmahanto.
Eddy Wijaya kemudian menyinggung tentang hubungan non-diplomatik antara Indonesia dan Israel, seperti penggunaan alat sadap buatan Israel oleh Indonesia. Hikmahanto menjelaskan bahwa meskipun tidak ada hubungan diplomatik, hubungan bisnis dan perorangan tetap terjadi. “Banyak warga negara kita yang melakukan ibadah atau wisata religi ke Israel, dan ada juga yang belajar di sana. Bisnis ke bisnis tetap berjalan,” jelasnya.
Tags :
Recent Posts
-
Eks Dubes RI Dian Wirengjurit: Serangan ke Iran adalah Cara Trump Alihkan Isu Epstein Files
-
Hinca Pandjaitan Puji Ketelitian Tim Jaksa Kasus Laptop Chromebook Nadiem
-
Makan Bergizi Gratis, Antara Niat Baik Presiden Prabowo dan Problematikanya
-
Dadan Hindayana ‘BGN’: MBG Justru Menambah Anggaran Pendidikan
-
Ulas Kasus Dugaan Korupsi Pengadaan Chromebook Nadiem Langsung dengan Jaksa Penuntut Umum Roy Riady
-
Petinggi BEI dan OJK Mundur Berjamaah, Karena Tekanan, Tanggung Jawab Moral, atau Ketidakmampuan?
-
Wamenkum Eddy Hiariej Bilang KUHP Baru Lebih Manusiawi, Lantas Kenapa Digugat ke MK?
-
Wamenkum Eddy Hiariej: Di KUHP Baru, Hukuman Penjara Bisa Diganti Kerja Sosial
Hikmahanto Juwana Ungkap Langkah Berani Prabowo untuk Gaza
Hikmahanto Juwana Ungkap Langkah Berani Prabowo untuk Gaza
Hikmahanto Juwana. (Foto: EdShareOn.com)
JAKARTA – Dalam sebuah episode terbaru dari podcast EdShareOn, Eddy Wijaya berbicara dengan Hikmahanto Juwana mengenai langkah konkret yang diambil oleh Menteri Pertahanan Indonesia, Prabowo Subianto, untuk menanggapi krisis kemanusiaan di Gaza. Hikmahanto menjelaskan dua inisiatif penting yang diusulkan oleh Prabowo, yang ia nilai sebagai langkah berani dan konkret di tengah situasi global yang serba tidak pasti.
Hikmahanto memulai diskusi dengan gagasan pembentukan coalition of humanity atau koalisi untuk kemanusiaan, yang bertujuan untuk mengakhiri konflik di Gaza. “Pak Prabowo sebagai Menhan membuat kebijakan yang sangat konkret. Di Shangri-La Dialogue, beliau menyatakan kesiapannya mengirimkan pasukan perdamaian jika diminta oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan diberikan mandat,” jelas Hikmahanto.
Hikmahanto menilai usulan ini sangat berani dan konkret dibandingkan dengan tindakan negara-negara lain yang cenderung hanya mengecam tanpa tindakan nyata. “Indonesia sudah sering diminta untuk menyumbang pasukan perdamaian, dan di Sentul sudah ada pelatihan untuk pasukan perdamaian. Jadi kita siap,” tambahnya.
Inisiatif kedua dari Prabowo adalah rencana evakuasi anak-anak yang terluka dan penyediaan rumah sakit sementara. “Kami akan kirim rumah-rumah sakit, apakah itu di kapal atau tempat-tempat sementara, untuk menolong anak-anak yang terluka,” ujar Hikmahanto.
Eddy Wijaya menyoroti bahwa fasilitas rumah sakit di Gaza sudah sangat minim akibat serangan, termasuk Rumah Sakit Indonesia di Gaza. Hikmahanto menjelaskan bahwa rumah sakit sementara yang mobile akan lebih efektif karena sulit diserang dibandingkan dengan fasilitas tetap. “Rumah sakit mobile di kapal atau dievakuasi ke rumah sakit di Yordania, misalnya, adalah langkah konkret yang dilakukan oleh Pak Prabowo dalam rangka kemanusiaan,” jelas Hikmahanto.
Hikmahanto juga menyoroti dukungan dari TNI dan DPR terhadap langkah-langkah ini. “Panglima TNI dan Kepala Staf Angkatan Darat sudah menyatakan kesiapannya. Mereka meminta persetujuan dari DPR untuk legitimasi,” jelasnya. Langkah ini penting dalam konteks supremasi sipil, di mana tindakan militer memerlukan izin dari legislatif.
Hikmahanto Juwana menggarisbawahi bahwa TNI memiliki kemampuan untuk mendirikan rumah sakit sementara, sebagaimana telah dilakukan selama pandemi COVID-19 dan bencana alam sebelumnya. “Ini menunjukkan kemampuan konkret yang dimiliki oleh Angkatan Darat, bukan hanya karena saya sekarang ini jadi Rektor Universitas Jenderal Ahmad Yani yang berafiliasi dengan Angkatan Darat,” katanya.
Tags :
Recent Posts
-
Eks Dubes RI Dian Wirengjurit: Serangan ke Iran adalah Cara Trump Alihkan Isu Epstein Files
-
Hinca Pandjaitan Puji Ketelitian Tim Jaksa Kasus Laptop Chromebook Nadiem
-
Makan Bergizi Gratis, Antara Niat Baik Presiden Prabowo dan Problematikanya
-
Dadan Hindayana ‘BGN’: MBG Justru Menambah Anggaran Pendidikan
-
Ulas Kasus Dugaan Korupsi Pengadaan Chromebook Nadiem Langsung dengan Jaksa Penuntut Umum Roy Riady
-
Petinggi BEI dan OJK Mundur Berjamaah, Karena Tekanan, Tanggung Jawab Moral, atau Ketidakmampuan?
-
Wamenkum Eddy Hiariej Bilang KUHP Baru Lebih Manusiawi, Lantas Kenapa Digugat ke MK?
-
Wamenkum Eddy Hiariej: Di KUHP Baru, Hukuman Penjara Bisa Diganti Kerja Sosial
Tanggapan Hikmahanto Juwana dengan Rencana Prabowo Mengevakuasi Warga Palestina
Tanggapan Hikmahanto Juwana dengan Rencana Prabowo Mengevakuasi Warga Palestina
Hikmahanto Juwana. (Foto: EdShareOn.com)
JAKARTA – Dalam episode terbaru podcast EdShareOn, Eddy Wijaya dan Hikmahanto Juwana membahas rencana Menteri Pertahanan Indonesia, Prabowo Subianto, untuk mengevakuasi 1000 warga Palestina. Diskusi ini menyoroti sudut pandang Ustaz Solmed dan Hikmahanto Juwana tentang dinamika konflik di Timur Tengah, khususnya di Gaza, dan dampaknya terhadap upaya kemanusiaan.
Eddy Wijaya memulai dengan mengajukan pertanyaan tentang tanggapan Hikmahanto Juwana terhadap rencana evakuasi yang diusulkan oleh Prabowo Subianto. Hikmahanto merespons dengan memberikan konteks situasi yang terjadi di Gaza. Ia menjelaskan bahwa serangan Israel di Gaza telah melebihi batas yang dianggap sebagai pembelaan diri oleh komunitas internasional.
“Israel, melalui Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, menyatakan bahwa serangan ini adalah respons terhadap serangan Hamas pada 7 Oktober 2023. Namun, serangan tersebut sudah melampaui batas dan menyebabkan ribuan korban jiwa, termasuk perempuan, anak-anak, dan orang tua yang tidak terlibat dalam perang,” jelas Hikmahanto.
Hikmahanto juga menguraikan tiga tujuan utama serangan Israel: membebaskan sandera yang ditahan Hamas, mencari petinggi Hamas yang bertanggung jawab, dan memastikan otoritas Israel menguasai Gaza untuk mencegah serangan di masa depan.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa Hamas beroperasi dengan perang gerilya, sehingga sulit bagi Israel untuk menargetkan petinggi-petinggi Hamas. “Israel menyerang masyarakat sipil karena percaya bahwa anak-anak yang tumbuh dengan dendam akan menjadi ancaman di masa depan,” tambah Hikmahanto.
Eddy Wijaya kemudian menyoroti dampak kemanusiaan dari konflik ini, mencatat bahwa banyak ibu dan anak yang menjadi korban saat menerima bantuan. Hikmahanto setuju, menegaskan bahwa tindakan Israel melanggar hak asasi manusia berat.
“Saat melihat apa yang dilakukan Israel, seolah-olah mereka berada di atas hukum internasional. Mereka merasa di atas angin karena didukung oleh Amerika Serikat,” kata Hikmahanto Juwana. Ia juga mencatat bahwa meskipun ada protes dari rakyat Amerika Serikat, pemerintahan Joe Biden tetap mendukung tindakan Israel karena pengaruh lobi Yahudi di Amerika Serikat.
Tags :
Recent Posts
-
Eks Dubes RI Dian Wirengjurit: Serangan ke Iran adalah Cara Trump Alihkan Isu Epstein Files
-
Hinca Pandjaitan Puji Ketelitian Tim Jaksa Kasus Laptop Chromebook Nadiem
-
Makan Bergizi Gratis, Antara Niat Baik Presiden Prabowo dan Problematikanya
-
Dadan Hindayana ‘BGN’: MBG Justru Menambah Anggaran Pendidikan
-
Ulas Kasus Dugaan Korupsi Pengadaan Chromebook Nadiem Langsung dengan Jaksa Penuntut Umum Roy Riady
-
Petinggi BEI dan OJK Mundur Berjamaah, Karena Tekanan, Tanggung Jawab Moral, atau Ketidakmampuan?
-
Wamenkum Eddy Hiariej Bilang KUHP Baru Lebih Manusiawi, Lantas Kenapa Digugat ke MK?
-
Wamenkum Eddy Hiariej: Di KUHP Baru, Hukuman Penjara Bisa Diganti Kerja Sosial
Ustaz Solmed, Dari Latar Belakang Sederhana ke Dunia Bisnis yang Sukses
Ustaz Solmed, Dari Latar Belakang Sederhana ke Dunia Bisnis yang Sukses
Ustaz Solmed. (Foto: EdShareOn.com)
JAKARTA – Dalam episode terbaru podcast EdShareOn, Eddy Wijaya berbincang dengan Ustaz Solmed tentang perjalanan dan tantangan dalam membangun bisnis di tengah aktivitas dakwahnya. Percakapan ini memberikan pandangan mendalam tentang bagaimana Ustaz Solmed memulai karir bisnisnya dan pelajaran hidup yang ia dapatkan di sepanjang jalan.
Eddy Wijaya membuka diskusi dengan menanyakan cara Ustaz Solmed membangun bisnisnya yang meliputi rokok herbal, kecantikan, dan kuliner. Ustaz Solmed merespons dengan rendah hati, menyatakan bahwa ia masih banyak belajar dan perjalanan menuju kesuksesan tidak pernah instan.
“Saya ini anak yang lahir dari keluarga sederhana, mungkin di bawah sederhana. Bapak saya ngewarung di kampung, dan saya hidup dari warung itu. Proses perjalanan hidup di perkampungan dan perjuangan orangtua saya berjualan sangat panjang,” ungkap Ustaz Solmed.
Ustaz Solmed menceritakan masa kecilnya yang penuh tantangan. Dari membantu orangtuanya menjual pisang goreng hingga nitip-nitip es mambo di warung-warung kecil. “Dulu, melihat teman-teman bisa beli buku dan jajan dengan mudah. Saya hanya bisa melihat dari kejauhan sambil meneteskan air mata. Tapi saya harus jalanin karena kondisi orangtua saya begitu,” kenangnya.
Ia menekankan pentingnya pendidikan dan kerja keras sejak dini. Ketika lulus dari Aliah, ayahnya memberi tanggung jawab untuk belanja kebutuhan warung. “Bapak saya mulai mendidik saya untuk jajan tapi sambil bekerja. Itu basic bisnisnya,” kata Ustaz Solmed.
Pengalaman bisnis pertamanya adalah menjual sarung. Dari membeli lima biji sarung di Tanah Abang, ia mendapatkan kepercayaan dari penjual untuk konsinyasi hingga puluhan ribu sarung. “Kepercayaan itu lebih dari modal. Saya dikasih pinjam puluhan ribu sarung tanpa modal, hanya dengan kejujuran,” jelasnya.
Ustaz Solmed juga berbicara tentang pentingnya menjaga hubungan baik dan kepercayaan dalam bisnis. “Setiap kita harus menghargai karakter orang lain. Jangan ngambekan atau baperan, karena kita belajar bukan dari sifat negatifnya tapi dari ilmunya,” tegasnya.
Ia menambahkan bahwa perjalanan bisnisnya mengajarkan banyak pelajaran hidup. “Banyak ilmu yang saya dapat dari berbagai orang. Kalau kita ngambekan, kita putus hubungan dan kehilangan peluang belajar dan rezeki,” ujarnya.
Tags :
Recent Posts
-
Eks Dubes RI Dian Wirengjurit: Serangan ke Iran adalah Cara Trump Alihkan Isu Epstein Files
-
Hinca Pandjaitan Puji Ketelitian Tim Jaksa Kasus Laptop Chromebook Nadiem
-
Makan Bergizi Gratis, Antara Niat Baik Presiden Prabowo dan Problematikanya
-
Dadan Hindayana ‘BGN’: MBG Justru Menambah Anggaran Pendidikan
-
Ulas Kasus Dugaan Korupsi Pengadaan Chromebook Nadiem Langsung dengan Jaksa Penuntut Umum Roy Riady
-
Petinggi BEI dan OJK Mundur Berjamaah, Karena Tekanan, Tanggung Jawab Moral, atau Ketidakmampuan?
-
Wamenkum Eddy Hiariej Bilang KUHP Baru Lebih Manusiawi, Lantas Kenapa Digugat ke MK?
-
Wamenkum Eddy Hiariej: Di KUHP Baru, Hukuman Penjara Bisa Diganti Kerja Sosial
Ustaz Solmed Ungkap Tantangan Dakwah di Era Digital
Ustaz Solmed Ungkap Tantangan Dakwah di Era Digital
Ustaz Solmed. (Foto: EdShareOn.com)
JAKARTA – Pada episode terbaru podcast EdShareOn, Eddy Wijaya berbincang dengan Ustaz Solmed mengenai tantangan berdakwah di era digital seperti saat ini. Diskusi ini memberikan wawasan mendalam tentang bagaimana teknologi memengaruhi dakwah dan pentingnya tanggung jawab dalam menggunakan media.
Eddy Wijaya membuka diskusi dengan menanyakan tantangan berdakwah di zaman sekarang. Ustaz Solmed menjelaskan bahwa setiap zaman memiliki tantangan tersendiri, mulai dari zaman manusia pertama diciptakan hingga era Nabi Muhammad SAW. Tantangan-tantangan tersebut mencakup ancaman, pengusiran, pemboikotan, hingga ancaman pembunuhan yang akhirnya memaksa Nabi Muhammad untuk berhijrah.
“Tantangan saat ini berbeda tapi sama beratnya. Dengan luasnya media yang bisa diakses siapa saja, setiap orang bisa mengupload, memposting, dan menarasikan pembicaraan. Setiap kalimat bisa dipotong, ditambah, dan diubah, apalagi dengan adanya teknologi AI (Artificial Intelligence),” ujar Ustaz Solmed.
Ustaz Solmed menekankan bahwa tantangan di era digital bukan hanya untuk para dai tetapi juga untuk semua orang. “Kita hidup di zaman teknologi yang bisa memberikan arti positif tapi juga aspek negatifnya banyak,” jelasnya. “Ibarat mata pisau, teknologi bisa digunakan untuk hal baik atau buruk. Ini ujian berat karena bisa menyebabkan perpecahan dan kehancuran bangsa,” lanjutnya.
Menurut Ustaz Solmed, penting bagi semua pihak untuk menjalankan tugas mereka dengan baik. “Kementerian Informatika, pemuka agama, orang tua, dan anak-anak, semua punya tugas masing-masing. Jika semua melaksanakan tugas dengan baik, fitnah dan informasi palsu tidak akan mudah dipercaya,” tegasnya.
Eddy Wijaya menambahkan bahwa teknologi memiliki potensi besar untuk memberikan dampak positif, namun juga membawa risiko yang tidak bisa diabaikan. Ustaz Solmed sepakat dan menekankan pentingnya kesadaran dan tanggung jawab dalam menggunakan teknologi.
“Setiap kita harus bertanggung jawab dengan apa yang kita gunakan dan pakai. Dengan keilmuan dan kesadaran yang tepat, kita bisa mengurangi dampak negatif dari teknologi dan memanfaatkannya untuk kebaikan,” kata Ustaz Solmed.
Tags :
Recent Posts
-
Eks Dubes RI Dian Wirengjurit: Serangan ke Iran adalah Cara Trump Alihkan Isu Epstein Files
-
Hinca Pandjaitan Puji Ketelitian Tim Jaksa Kasus Laptop Chromebook Nadiem
-
Makan Bergizi Gratis, Antara Niat Baik Presiden Prabowo dan Problematikanya
-
Dadan Hindayana ‘BGN’: MBG Justru Menambah Anggaran Pendidikan
-
Ulas Kasus Dugaan Korupsi Pengadaan Chromebook Nadiem Langsung dengan Jaksa Penuntut Umum Roy Riady
-
Petinggi BEI dan OJK Mundur Berjamaah, Karena Tekanan, Tanggung Jawab Moral, atau Ketidakmampuan?
-
Wamenkum Eddy Hiariej Bilang KUHP Baru Lebih Manusiawi, Lantas Kenapa Digugat ke MK?
-
Wamenkum Eddy Hiariej: Di KUHP Baru, Hukuman Penjara Bisa Diganti Kerja Sosial
Ustaz Solmed Ungkap Keikhlasan dan Pengorbanan dalam Kisah Nabi Ibrahim
Ustaz Solmed Ungkap Keikhlasan dan Pengorbanan dalam Kisah Nabi Ibrahim
Ustaz Solmed. (Foto: EdShareOn.com)
JAKARTA – Dalam episode terbaru podcast EdShareOn, Eddy Wijaya berbincang dengan Ustaz Solmed tentang kisah Nabi Ibrahim dan putranya Ismail, yang merupakan contoh pengorbanan dan keikhlasan. Percakapan tersebut memberikan wawasan mendalam tentang makna Iduladha dan pentingnya komunikasi antara orangtua dan anak.
Eddy Wijaya membuka diskusi dengan menanyakan kepada Ustaz Solmed tentang makna keikhlasan dalam kisah Nabi Ibrahim yang diperintahkan untuk mengorbankan putranya, Ismail. Ustaz Solmed menjelaskan bahwa Nabi Ibrahim menunggu lama untuk mendapatkan keturunan hingga akhirnya menikah dengan Siti Hajar atas izin istri pertamanya, Siti Sarah. Dari pernikahan ini, lahirlah Nabi Ismail saat Nabi Ibrahim sudah tua.
“Nabi Ibrahim sudah menunggu lama untuk mendapatkan anak. Ketika Ismail lahir, beliau sangat bahagia. Namun, ketika Ismail sudah memasuki usia remaja, datang perintah Allah untuk mengorbankan putranya. Hebatnya, Nabi Ibrahim tidak langsung melaksanakan perintah itu tanpa bicara dengan Ismail. Dia bertanya, ‘Anakku, apa pendapatmu dengan perintah Allah lewat mimpiku ini?’,” jelas Ustaz Solmed.
Ustaz Solmed menekankan bahwa pendidikan dan komunikasi yang baik antara orangtua dan anak sangat penting dalam membentuk karakter anak. “Nabi Ibrahim memberikan contoh yang baik dengan mendidik Ismail sehingga ketika diuji, Ismail menjawab tegas dan lugas, ‘Kalau itu perintah Allah, laksanakan saja, Ayah’,” katanya.
Ia juga menyampaikan bahwa banyak orangtua saat ini yang kurang berdialog dengan anak-anak mereka. “Banyak anak sekarang yang tidak mau disuruh membantu orangtua, seperti pergi ke pasar atau membeli obat. Ini bisa menjadi renungan bagi kita, apakah kita sudah memberikan pendidikan yang cukup kepada anak-anak tentang hormat, taat, dan patuh kepada orang tua,” tambahnya.
Ustaz Solmed menjelaskan bahwa kurban berasal dari kata Taqarrub yang berarti proses mendekatkan diri kepada Allah. “Iduladha ini adalah momen untuk mendekatkan diri dengan mengeluarkan harta dan membeli hewan kurban. Tujuannya adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala,” ungkapnya.
Ustaz Solmed juga menekankan bahwa mendekatkan diri kepada Allah akan membawa keberkahan dan kemudahan dalam hidup. “Kalau kita dekat dengan seseorang, pasti ada rasa saling peduli dan membantu. Begitu juga dengan Allah, yang Maha Kaya dan tahu kebutuhan hamba-Nya tanpa diminta,” ujarnya.
Tags :
Recent Posts
-
Eks Dubes RI Dian Wirengjurit: Serangan ke Iran adalah Cara Trump Alihkan Isu Epstein Files
-
Hinca Pandjaitan Puji Ketelitian Tim Jaksa Kasus Laptop Chromebook Nadiem
-
Makan Bergizi Gratis, Antara Niat Baik Presiden Prabowo dan Problematikanya
-
Dadan Hindayana ‘BGN’: MBG Justru Menambah Anggaran Pendidikan
-
Ulas Kasus Dugaan Korupsi Pengadaan Chromebook Nadiem Langsung dengan Jaksa Penuntut Umum Roy Riady
-
Petinggi BEI dan OJK Mundur Berjamaah, Karena Tekanan, Tanggung Jawab Moral, atau Ketidakmampuan?
-
Wamenkum Eddy Hiariej Bilang KUHP Baru Lebih Manusiawi, Lantas Kenapa Digugat ke MK?
-
Wamenkum Eddy Hiariej: Di KUHP Baru, Hukuman Penjara Bisa Diganti Kerja Sosial


