Year: 2024
Hikmahanto Juwana Ungkap Soal Tantangan IKN dan Strategi Politik Internasional Prabowo
Hikmahanto Juwana Ungkap Soal Tantangan IKN dan Strategi Politik Internasional Prabowo
Hikmahanto Juwana. (Foto: EdShareOn.com)
JAKARTA – Pada episode terbaru podcast EdShareOn, Eddy Wijaya berbincang dengan Hikmahanto Juwana, seorang pakar hukum internasional, tentang berbagai isu strategis, termasuk pembangunan Ibu Kota Negara (IKN) dan kebijakan politik internasional di masa depan. Diskusi ini menggali pandangan Hikmahanto mengenai dinamika investasi, kebijakan luar negeri, dan pengalaman pribadinya yang mempengaruhi pemikirannya.
Hikmahanto memulai dengan membahas proyek IKN yang menurutnya memerlukan waktu lama dan biaya besar. Meski begitu, ia melihat proyek ini sebagai upaya untuk menciptakan ekonomi yang berkelanjutan dan membuka lapangan pekerjaan. “IKN itu bukan urusan setahun dua tahun, ini bisa bertahun-tahun,” jelas Hikmahanto. Namun, ia juga menggarisbawahi tantangan utama dalam pembiayaan proyek ini, terutama jika hanya mengandalkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Eddy Wijaya kemudian menyinggung upaya pemerintah untuk menarik investor. Hikmahanto setuju bahwa investor adalah kunci, namun ia menekankan perlunya kepastian hukum terkait status tanah yang akan digunakan. “Investor mau investasi tidak hanya untuk satu dua tahun, tapi sampai 200-300 tahun,” ungkapnya.
Mengenai kebijakan politik internasional di bawah kepemimpinan Prabowo Subianto, Hikmahanto menyebutkan empat poin utama. Pertama, ia menegaskan pentingnya prinsip politik luar negeri yang bebas dan aktif. “Kita harus tetap berpegang teguh pada prinsip politik luar negeri bebas aktif,” kata Hikmahanto. Prabowo, menurutnya, akan menjaga jarak yang sama dengan negara-negara besar seperti Amerika Serikat dan Cina.
Kedua, Hikmahanto memuji kemampuan Prabowo dalam berkomunikasi dan berinteraksi dengan dunia internasional tanpa kendala bahasa. “Beliau sangat lihai menyampaikan apa yang ada di dalam benaknya dengan bahasa yang bisa ditangkap,” ujar Hikmahanto.
Ketiga, Hikmahanto melihat Prabowo sebagai figur yang dapat memainkan peran penting dalam mediasi konflik internasional, seperti konflik antara Ukraina dan Rusia. “Kita sebagai penyelamat muka,” katanya, menggambarkan potensi Indonesia sebagai mediator yang dihormati.
Terakhir, Hikmahanto menyoroti kemungkinan peningkatan investasi dari Timur Tengah, mengingat jaringan dan pengalaman Prabowo di kawasan tersebut. “Pak Prabowo akan bisa melihat potensi Timur Tengah yang selama ini belum kita garap secara bagus,” jelasnya.
Tags :
Recent Posts
-
Eks Dubes RI Dian Wirengjurit: Serangan ke Iran adalah Cara Trump Alihkan Isu Epstein Files
-
Hinca Pandjaitan Puji Ketelitian Tim Jaksa Kasus Laptop Chromebook Nadiem
-
Makan Bergizi Gratis, Antara Niat Baik Presiden Prabowo dan Problematikanya
-
Dadan Hindayana ‘BGN’: MBG Justru Menambah Anggaran Pendidikan
-
Ulas Kasus Dugaan Korupsi Pengadaan Chromebook Nadiem Langsung dengan Jaksa Penuntut Umum Roy Riady
-
Petinggi BEI dan OJK Mundur Berjamaah, Karena Tekanan, Tanggung Jawab Moral, atau Ketidakmampuan?
-
Wamenkum Eddy Hiariej Bilang KUHP Baru Lebih Manusiawi, Lantas Kenapa Digugat ke MK?
-
Wamenkum Eddy Hiariej: Di KUHP Baru, Hukuman Penjara Bisa Diganti Kerja Sosial
Kritik Hikmahanto Juwana Terhadap Sikap Amerika Serikat dan Nasionalisme Indonesia
Kritik Hikmahanto Juwana Terhadap Sikap Amerika Serikat dan Nasionalisme Indonesia
Hikmahanto Juwana. (Foto: EdShareOn.com)
JAKARTA – Dalam episode terbaru podcast EdShareOn, Eddy Wijaya mengundang pakar hukum internasional, Hikmahanto Juwana, untuk membahas berbagai isu terkini, termasuk kecelakaan helikopter yang menimpa presiden Iran. Diskusi ini memberikan wawasan mendalam tentang dinamika geopolitik dan nasionalisme, serta kritik terhadap sikap Amerika Serikat dalam konteks kecelakaan tersebut.
Eddy Wijaya memulai dengan menanyakan pandangan Hikmahanto tentang kecelakaan helikopter presiden Iran. Hikmahanto menekankan pentingnya menunggu hasil investigasi sebelum mengambil kesimpulan. “Segala sesuatu harus kita serahkan kepada tim investigasi,” kata Hikmahanto. Ia mengakui bahwa tim investigasi Iran sudah dikerahkan dan akan memeriksa berbagai kemungkinan seperti human error, cuaca, masalah teknis, atau sabotase.
Hikmahanto juga mengkritik penolakan Amerika Serikat untuk bekerja sama dalam investigasi karena helikopter yang digunakan adalah buatan Amerika Serikat. “Langsung Joe Biden bilang enggak mau,” ungkapnya. Hikmahanto menyayangkan sikap ini, mengaitkannya dengan dukungan Amerika Serikat terhadap Israel dan menilai bahwa hal ini menunjukkan kemunafikan Amerika Serikat.
Dalam diskusi tersebut, Hikmahanto juga menekankan pentingnya Indonesia untuk berdiri sendiri dan memiliki sikap yang tegas dalam menghadapi negara-negara lain. “Kita sebagai sebuah bangsa harus berdiri sendiri,” ujarnya. Ia memuji Prabowo Subianto yang memiliki pandangan serupa, yaitu mengutamakan kemandirian dan tidak tergantung pada negara lain.
Eddy Wijaya dan Hikmahanto juga berbicara tentang pengalaman pribadi Hikmahanto yang membentuk nasionalismenya. Hikmahanto bercerita tentang masa kecilnya di Amerika Serikat, di mana ia mengalami perlakuan diskriminatif yang membuatnya lebih menghargai identitasnya sebagai orang Indonesia. “Sejak saat itu saya bilang stop saya sama Amerika Serikat. Saya kepengen sebagai orang Indonesia,” tegasnya.
Hikmahanto menekankan bahwa meskipun belajar di luar negeri, perspektifnya tetap harus sebagai orang Indonesia. Ia mengkritik negara-negara yang menggunakan utang sebagai alat untuk mengendalikan negara lain. “Prinsip saya adalah kita tidak boleh pinjam yang kemudian berpotensi untuk kita didikte,” jelasnya.
Diskusi ini juga menyinggung tentang peran hukum internasional dan bagaimana dalam masyarakat internasional, kekuatan masih sering kali lebih berpengaruh daripada keadilan. “Dalam masyarakat internasional yang masih berlaku adalah bukan hukum internasional tapi hukum riba. Siapa yang kuat dialah yang benar,” ujar Hikmahanto. Ia mencontohkan bagaimana Israel merasa di atas hukum karena dukungan dari Amerika Serikat.
Tags :
Recent Posts
-
Eks Dubes RI Dian Wirengjurit: Serangan ke Iran adalah Cara Trump Alihkan Isu Epstein Files
-
Hinca Pandjaitan Puji Ketelitian Tim Jaksa Kasus Laptop Chromebook Nadiem
-
Makan Bergizi Gratis, Antara Niat Baik Presiden Prabowo dan Problematikanya
-
Dadan Hindayana ‘BGN’: MBG Justru Menambah Anggaran Pendidikan
-
Ulas Kasus Dugaan Korupsi Pengadaan Chromebook Nadiem Langsung dengan Jaksa Penuntut Umum Roy Riady
-
Petinggi BEI dan OJK Mundur Berjamaah, Karena Tekanan, Tanggung Jawab Moral, atau Ketidakmampuan?
-
Wamenkum Eddy Hiariej Bilang KUHP Baru Lebih Manusiawi, Lantas Kenapa Digugat ke MK?
-
Wamenkum Eddy Hiariej: Di KUHP Baru, Hukuman Penjara Bisa Diganti Kerja Sosial







