Kisah Perjuangan Rahmat Shah Melawan Kanker Ganas, Meski Divonis Hidup Setahun Lagi

Kisah Perjuangan Rahmat Shah Melawan Kanker Ganas, Meski Divonis Hidup Setahun Lagi

Kisah Perjuangan Rahmat Shah Melawan Kanker Ganas, Meski Divonis Hidup Setahun Lagi

August 16, 2024
Rahmat Shah saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Ustaz Solmed. (Foto: EdShareOn.com)

JAKARTA – Dalam episode terbaru podcast EdShareOn, Eddy Wijaya berbincang dengan Rudy Alfonzo, Duta Besar Indonesia untuk Portugal, tentang hasil forum bisnis yang digelar di KBRI Portugal dan berbagai upaya diplomatik yang sedang dilakukan untuk memperkuat hubungan antara kedua negara.

Pada bulan Februari lalu, KBRI Portugal menyelenggarakan forum bisnis yang dihadiri oleh delegasi dari Kadin Indonesia, termasuk Wakil Ketua Kadin, Pak Tony Wenas, yang juga Presiden Direktur Freeport. Acara ini menjadi kesempatan pertama bagi Kadin Indonesia untuk berkunjung ke Portugal. Rudy Alfonzo menjelaskan bahwa pertemuan tersebut melibatkan interaksi antara pengusaha Indonesia dan Portugal, dengan fokus pada potensi kerjasama di berbagai sektor, termasuk pariwisata.

“Portugal memiliki pendapatan utama dari pariwisata, dengan 30 juta turis setiap tahun meskipun populasinya hanya 10 juta,” kata Rudy. Dia menekankan bahwa Indonesia perlu belajar dari Portugal dalam mengelola sektor pariwisata untuk meningkatkan jumlah wisatawan yang berkunjung ke Indonesia, yang saat ini baru mencapai sekitar 10 juta per tahun.

Rudy Alfonso Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Rudy Alfonso Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Rudy Alfonzo juga membahas faktor keamanan yang membuat Portugal menjadi salah satu negara Eropa paling aman untuk wisata. “Portugal sangat aman, tidak ada kasus pemerkosaan, penganiayaan, atau perampokan. Ini membuat turis merasa nyaman dan aman,” ujarnya. Selain itu, biaya hidup di Portugal relatif murah dibandingkan dengan negara Eropa lainnya, termasuk harga makanan pokok.

Pada 16 Mei, Rudy Alfonzo bertemu dengan Menteri Luar Negeri Portugal, Paulo Rangel, yang baru saja dilantik. Pertemuan ini berlangsung sekitar satu setengah jam, dengan diskusi yang sangat terbuka dan produktif. Rudy mengungkapkan bahwa Paulo Rangel, yang berlatar belakang sebagai advokat, sangat mudah diajak berdiskusi karena memiliki gaya komunikasi yang langsung dan to the point.

Dalam pertemuan tersebut, mereka membahas berbagai kunjungan tingkat tinggi sebelumnya, seperti kunjungan Presiden Soekarno pada tahun 1960, Presiden SBY pada tahun 2014, dan Presiden Portugal Cavaco Silva ke Indonesia pada tahun 2012. Rudy menyampaikan harapannya agar kunjungan Presiden Joko Widodo ke Portugal dapat segera terwujud. Namun, ia juga menjelaskan tantangan yang dihadapi, termasuk prioritas internal dan anggaran pemerintah Portugal serta padatnya jadwal kunjungan Presiden Joko Widodo.

Rudy Alfonso Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Rudy Alfonso Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Rudy Alfonzo optimis bahwa hubungan antara Indonesia dan Portugal dapat terus berkembang melalui berbagai upaya diplomatik dan kerjasama bisnis. Dengan memanfaatkan pengalaman Portugal dalam mengelola pariwisata dan menjalin kerjasama di sektor-sektor strategis lainnya, Indonesia dapat meningkatkan kehadirannya di pasar internasional dan menarik lebih banyak investasi asing.

“Kita semua harus bekerja keras untuk menjaga iklim investasi yang menarik di dalam negeri,” kata Rudy. Dengan berbagai langkah konkret yang sudah dilakukan dan rencana-rencana yang akan datang, Rudy Alfonzo yakin bahwa hubungan ekonomi dan pariwisata antara Indonesia dan Portugal akan semakin kuat dan saling menguntungkan.

Tags :

Recent Posts

Sutiyoso Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Sutiyoso Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Rahmat Shah: Pejabat dan Penjahat Beda Tipis

Rahmat Shah: Pejabat dan Penjahat Beda Tipis

Rahmat Shah: Pejabat dan Penjahat Beda Tipis

August 16, 2024
Rahmat Shah saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Ustaz Solmed. (Foto: EdShareOn.com)

JAKARTA – Dalam episode terbaru podcast EdShareOn, Eddy Wijaya berbincang dengan Rudy Alfonzo, Duta Besar Indonesia untuk Portugal, tentang hasil forum bisnis yang digelar di KBRI Portugal dan berbagai upaya diplomatik yang sedang dilakukan untuk memperkuat hubungan antara kedua negara.

Pada bulan Februari lalu, KBRI Portugal menyelenggarakan forum bisnis yang dihadiri oleh delegasi dari Kadin Indonesia, termasuk Wakil Ketua Kadin, Pak Tony Wenas, yang juga Presiden Direktur Freeport. Acara ini menjadi kesempatan pertama bagi Kadin Indonesia untuk berkunjung ke Portugal. Rudy Alfonzo menjelaskan bahwa pertemuan tersebut melibatkan interaksi antara pengusaha Indonesia dan Portugal, dengan fokus pada potensi kerjasama di berbagai sektor, termasuk pariwisata.

“Portugal memiliki pendapatan utama dari pariwisata, dengan 30 juta turis setiap tahun meskipun populasinya hanya 10 juta,” kata Rudy. Dia menekankan bahwa Indonesia perlu belajar dari Portugal dalam mengelola sektor pariwisata untuk meningkatkan jumlah wisatawan yang berkunjung ke Indonesia, yang saat ini baru mencapai sekitar 10 juta per tahun.

Rudy Alfonso Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Rudy Alfonso Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Rudy Alfonzo juga membahas faktor keamanan yang membuat Portugal menjadi salah satu negara Eropa paling aman untuk wisata. “Portugal sangat aman, tidak ada kasus pemerkosaan, penganiayaan, atau perampokan. Ini membuat turis merasa nyaman dan aman,” ujarnya. Selain itu, biaya hidup di Portugal relatif murah dibandingkan dengan negara Eropa lainnya, termasuk harga makanan pokok.

Pada 16 Mei, Rudy Alfonzo bertemu dengan Menteri Luar Negeri Portugal, Paulo Rangel, yang baru saja dilantik. Pertemuan ini berlangsung sekitar satu setengah jam, dengan diskusi yang sangat terbuka dan produktif. Rudy mengungkapkan bahwa Paulo Rangel, yang berlatar belakang sebagai advokat, sangat mudah diajak berdiskusi karena memiliki gaya komunikasi yang langsung dan to the point.

Dalam pertemuan tersebut, mereka membahas berbagai kunjungan tingkat tinggi sebelumnya, seperti kunjungan Presiden Soekarno pada tahun 1960, Presiden SBY pada tahun 2014, dan Presiden Portugal Cavaco Silva ke Indonesia pada tahun 2012. Rudy menyampaikan harapannya agar kunjungan Presiden Joko Widodo ke Portugal dapat segera terwujud. Namun, ia juga menjelaskan tantangan yang dihadapi, termasuk prioritas internal dan anggaran pemerintah Portugal serta padatnya jadwal kunjungan Presiden Joko Widodo.

Rudy Alfonso Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Rudy Alfonso Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Rudy Alfonzo optimis bahwa hubungan antara Indonesia dan Portugal dapat terus berkembang melalui berbagai upaya diplomatik dan kerjasama bisnis. Dengan memanfaatkan pengalaman Portugal dalam mengelola pariwisata dan menjalin kerjasama di sektor-sektor strategis lainnya, Indonesia dapat meningkatkan kehadirannya di pasar internasional dan menarik lebih banyak investasi asing.

“Kita semua harus bekerja keras untuk menjaga iklim investasi yang menarik di dalam negeri,” kata Rudy. Dengan berbagai langkah konkret yang sudah dilakukan dan rencana-rencana yang akan datang, Rudy Alfonzo yakin bahwa hubungan ekonomi dan pariwisata antara Indonesia dan Portugal akan semakin kuat dan saling menguntungkan.

Tags :

Rahmat Shah, Mengatasi Kanker dengan Semangat dan Doa

Rahmat Shah, Mengatasi Kanker dengan Semangat dan Doa

Rahmat Shah, Mengatasi Kanker dengan Semangat dan Doa

August 16, 2024
Rahmat Shah saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Rahmat Shah. (Foto: EdShareOn.com)

JAKARTA – Dalam episode terbaru podcast EdShareOn, Eddy Wijaya berbincang bersama Rahmat Shah, seorang filantropis dan pencinta satwa, untuk membahas tentang perjalanan hidupnya yang inspiratif. Pada kesempatan ini, Rahmat Shah berbagi cerita tentang bagaimana ia menghadapi dan mengatasi vonis kanker yang mengancam nyawanya.

Pada tahun 2016, Rahmat Shah divonis menderita kanker dengan tingkat keparahan tinggi, gleason 9, oleh dokter di Singapura, Malaysia, dan Jepang. Semua dokter memberinya prognosis yang sama yaitu usianya diperkirakan tinggal satu tahun. Namun, Rahmat tidak menyerah pada vonis tersebut. “Kanker bisa mengalahkan fisik saya, tapi tidak bisa mengalahkan semangat saya untuk sembuh,” ungkap Rahmat Shah dengan penuh keyakinan.

Rahmat Shah saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Rahmat Shah saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Rahmat Shah berbicara tentang bagaimana ia menjaga kesehatan fisiknya dengan pola hidup sehat, tetapi lebih dari itu, ia menekankan pentingnya semangat dan kebaikan dalam hidup. Ia percaya bahwa amal dan doa memiliki peran besar dalam kesembuhannya. Setiap pagi, Rahmat memulai harinya dengan minuman air panas dan buah-buahan sehat seperti pepaya, pir, dan tomat yang dipercaya mengandung likopen, zat yang mampu melawan kanker. Dia juga mengurangi konsumsi makanan manis dan daging merah, serta rutin berolahraga.

Namun, yang paling mengesankan dari cerita Rahmat Shah adalah pandangannya tentang kebahagiaan dan kehidupan yang bermakna. Dalam wawancara dengan Eddy Wijaya, ia berbagi bahwa kebahagiaan sejati berasal dari berbuat kebaikan untuk orang lain dan menjaga hubungan yang baik dengan sesama. “Kebaikan kita berbuat itu yang bikin saya sehat,” kata Rahmat, menambahkan bahwa ia merasa lebih sehat dan bahagia ketika melihat orang lain bahagia karena perbuatannya.

Rahmat juga berbagi pengalamannya dalam menjaga hubungan dengan alam dan satwa, yang menurutnya merupakan bagian penting dari kesehariannya. Setiap pagi, dia memberi makan burung, kera, dan bahkan semut di sekitar rumahnya yang luas. Baginya, hubungan yang harmonis dengan alam dan semua makhluk hidup memberikan kebahagiaan yang tidak bisa diukur dengan materi.

Rahmat Shah saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Rahmat Shah saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Eddy Wijaya, sebagai host podcast EdShareOn, terkesan dengan kisah Rahmat Shah. Ia mencatat bagaimana semangat, amal, dan pola hidup sehat bisa menjadi kunci kesembuhan yang sering kali tidak disadari oleh banyak orang. Melalui podcast ini, Rahmat Shah juga mengingatkan bahwa penyakit serius seperti kanker tidak harus menjadi akhir dari segalanya, tetapi bisa menjadi awal dari kehidupan yang lebih bermakna.

Rahmat Shah, yang juga aktif dalam kegiatan sosial dan lingkungan, memberikan contoh nyata tentang bagaimana menjalani hidup dengan semangat dan dedikasi penuh. Kisahnya adalah inspirasi bagi banyak orang untuk tidak hanya menjaga kesehatan fisik, tetapi juga kesehatan spiritual dan sosial.

Tags :

Sutiyoso Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Sutiyoso Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Rahmat Shah Angkat Nama Indonesia di Kancah Internasional

Rahmat Shah Angkat Nama Indonesia di Kancah Internasional

Rahmat Shah Angkat Nama Indonesia di Kancah Internasional

August 15, 2024
Rahmat Shah saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Rahmat Shah. (Foto: EdShareOn.com)

JAKARTA – Pada episode terbaru podcast EdShareOn, Eddy Wijaya duduk bersama Rahmat Shah, seorang filantropis dan pencinta satwa, untuk membahas perjalanan uniknya dalam dunia konservasi yang dipadukan dengan berburu. Pembicaraan ini tidak hanya membuka wawasan mengenai aktivitas Rahmat Shah, tetapi juga bagaimana ia menggabungkan minatnya terhadap satwa dengan usaha untuk melestarikan alam.

Eddy Wijaya membuka diskusi dengan membahas koleksi Rahmat Museum yang memuat lebih dari 2.600 spesies. Rahmat Shah dengan bangga menjelaskan bahwa koleksi tersebut bukan hanya terdiri dari binatang besar, tetapi juga mencakup berbagai jenis serangga seperti nyamuk, semut, lalat, dan kumbang, serta ratusan jenis kupu-kupu. Museum ini tidak hanya menjadi tempat penyimpanan spesimen, tetapi juga simbol prestasi Rahmat Shah yang telah mendapatkan pengakuan internasional.

Rahmat Shah saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Rahmat Shah saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

“Saya jadi cover, bayangin Putra Indonesia jadi cover,” ungkap Rahmat Shah dengan penuh kebanggaan. Melalui berbagai prestasinya, termasuk menjadi cover pada majalah internasional, Rahmat Shah merasa telah membawa nama baik bangsa Indonesia di mata dunia.

Namun, Rahmat Shah tidak hanya berhenti pada pengumpulan spesimen. Ia juga mendirikan dan mengelola kebun binatang yang hidup, sebuah langkah yang didorong oleh keinginan untuk menyediakan tempat hiburan yang mendidik, sehat, dan terjangkau bagi masyarakat. “Masyarakat itu butuh tempat hiburan yang layak, sehat, mendidik dan terjangkau. Ya itu kebun binatang,” ujar Rahmat Shah.

Menurutnya, kebun binatang bukan sekadar tempat hiburan, tetapi juga menjadi sarana edukasi bagi anak-anak dan keluarga. Dengan biaya yang relatif terjangkau, masyarakat dapat menikmati waktu bersama keluarga sambil belajar mencintai dan memahami binatang.

Rahmat Shah saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Rahmat Shah saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Ketika ditanya oleh Eddy Wijaya tentang bagaimana ia bisa mengelola museum dan kebun binatang sekaligus, Rahmat Shah menjelaskan bahwa motivasinya didorong oleh keinginan untuk melihat orang lain bahagia. “Saya senang lihat orang bahagia,” katanya, menekankan bahwa kepuasan batin yang didapat dari melihat kebahagiaan orang lain jauh lebih berharga daripada keuntungan finansial.

Penutupan diskusi ditandai dengan refleksi Rahmat Shah tentang nilai harta dan kehidupan. Meskipun banyak tawaran yang datang untuk membeli koleksinya, termasuk tawaran sebesar 20 hingga 23 juta dolar dari Dubai, Rahmat Shah memilih untuk tetap mempertahankan museumnya di Indonesia sebagai bentuk kebanggaan nasional. “Harta itu bukan segalanya,” katanya, menunjukkan bahwa bagi Rahmat Shah, warisan dan kontribusi bagi bangsa jauh lebih berharga daripada kekayaan materi.

Tags :

Sutiyoso Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Sutiyoso Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Rahmat Shah: Kebun Binatang, Tempat Hiburan Layak, Sehat, Mendidik, dan Terjangkau

Rahmat Shah: Kebun Binatang, Tempat Hiburan Layak, Sehat, Mendidik, dan Terjangkau

Rahmat Shah: Kebun Binatang, Tempat Hiburan Layak, Sehat, Mendidik, dan Terjangkau

August 14, 2024
Rahmat Shah saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Ustaz Solmed. (Foto: EdShareOn.com)

JAKARTA – Dalam episode terbaru podcast EdShareOn, Eddy Wijaya berbincang dengan Rudy Alfonzo, Duta Besar Indonesia untuk Portugal, tentang hasil forum bisnis yang digelar di KBRI Portugal dan berbagai upaya diplomatik yang sedang dilakukan untuk memperkuat hubungan antara kedua negara.

Pada bulan Februari lalu, KBRI Portugal menyelenggarakan forum bisnis yang dihadiri oleh delegasi dari Kadin Indonesia, termasuk Wakil Ketua Kadin, Pak Tony Wenas, yang juga Presiden Direktur Freeport. Acara ini menjadi kesempatan pertama bagi Kadin Indonesia untuk berkunjung ke Portugal. Rudy Alfonzo menjelaskan bahwa pertemuan tersebut melibatkan interaksi antara pengusaha Indonesia dan Portugal, dengan fokus pada potensi kerjasama di berbagai sektor, termasuk pariwisata.

“Portugal memiliki pendapatan utama dari pariwisata, dengan 30 juta turis setiap tahun meskipun populasinya hanya 10 juta,” kata Rudy. Dia menekankan bahwa Indonesia perlu belajar dari Portugal dalam mengelola sektor pariwisata untuk meningkatkan jumlah wisatawan yang berkunjung ke Indonesia, yang saat ini baru mencapai sekitar 10 juta per tahun.

Rudy Alfonso Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Rudy Alfonso Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Rudy Alfonzo juga membahas faktor keamanan yang membuat Portugal menjadi salah satu negara Eropa paling aman untuk wisata. “Portugal sangat aman, tidak ada kasus pemerkosaan, penganiayaan, atau perampokan. Ini membuat turis merasa nyaman dan aman,” ujarnya. Selain itu, biaya hidup di Portugal relatif murah dibandingkan dengan negara Eropa lainnya, termasuk harga makanan pokok.

Pada 16 Mei, Rudy Alfonzo bertemu dengan Menteri Luar Negeri Portugal, Paulo Rangel, yang baru saja dilantik. Pertemuan ini berlangsung sekitar satu setengah jam, dengan diskusi yang sangat terbuka dan produktif. Rudy mengungkapkan bahwa Paulo Rangel, yang berlatar belakang sebagai advokat, sangat mudah diajak berdiskusi karena memiliki gaya komunikasi yang langsung dan to the point.

Dalam pertemuan tersebut, mereka membahas berbagai kunjungan tingkat tinggi sebelumnya, seperti kunjungan Presiden Soekarno pada tahun 1960, Presiden SBY pada tahun 2014, dan Presiden Portugal Cavaco Silva ke Indonesia pada tahun 2012. Rudy menyampaikan harapannya agar kunjungan Presiden Joko Widodo ke Portugal dapat segera terwujud. Namun, ia juga menjelaskan tantangan yang dihadapi, termasuk prioritas internal dan anggaran pemerintah Portugal serta padatnya jadwal kunjungan Presiden Joko Widodo.

Rudy Alfonso Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Rudy Alfonso Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Rudy Alfonzo optimis bahwa hubungan antara Indonesia dan Portugal dapat terus berkembang melalui berbagai upaya diplomatik dan kerjasama bisnis. Dengan memanfaatkan pengalaman Portugal dalam mengelola pariwisata dan menjalin kerjasama di sektor-sektor strategis lainnya, Indonesia dapat meningkatkan kehadirannya di pasar internasional dan menarik lebih banyak investasi asing.

“Kita semua harus bekerja keras untuk menjaga iklim investasi yang menarik di dalam negeri,” kata Rudy. Dengan berbagai langkah konkret yang sudah dilakukan dan rencana-rencana yang akan datang, Rudy Alfonzo yakin bahwa hubungan ekonomi dan pariwisata antara Indonesia dan Portugal akan semakin kuat dan saling menguntungkan.

Tags :

Rahmat Shah: Berburu Harus Punya Tata Krama

Rahmat Shah: Berburu Harus Punya Tata Krama

Rahmat Shah: Berburu Harus Punya Tata Krama

August 14, 2024
Rahmat Shah saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Rahmat Shah. (Foto: EdShareOn.com)

JAKARTA – Dalam episode terbaru podcast EdShareOn, Eddy Wijaya mengundang Rahmat Shah, seorang filantropis dan pencinta satwa, untuk membahas topik tentang berburu bisa menjadi bagian dari konservasi alam. Diskusi ini mengangkat isu yang sering disalahpahami, yaitu keterlibatan Rahmat Shah dalam aktivitas berburu yang tampaknya bertentangan dengan misinya dalam pelestarian satwa.

Eddy Wijaya membuka diskusi dengan pertanyaan tajam, “Banyak orang bisa salah paham. Pak Rahmat Shah suka berburu binatang tapi dibilang konservasi, ini gimana ceritanya? Udah berburu tapi kok konservasi?”.

Rahmat Shah saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Rahmat Shah saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Rahmat Shah kemudian menjelaskan bahwa persepsi tersebut sering muncul, namun ia sendiri tidak langsung percaya hingga akhirnya menemukan solusi melalui pengalamannya di berbagai negara. Ia menceritakan bagaimana ia terlibat dalam Safari Club International (SCI) setelah berdiskusi dengan seorang diplomat Amerika. Melalui keanggotaannya di SCI, Rahmat Shah memulai perjalanan berburu di berbagai negara seperti Afrika, Amerika Serikat, Kanada, dan banyak lagi, untuk mempelajari konsep fair chase atau perburuan yang adil.

“Saya berburu di banyak negara untuk belajar kenapa boleh menembak, berburu, dan bagaimana hal itu justru menambah populasi satwa dan menjaga habitatnya,” ujar Rahmat Shah. Ia menekankan bahwa sistem perburuan di luar negeri berbeda. Di negara-negara maju, perburuan dilakukan dengan tata krama yang ketat, seperti hanya memburu pada siang hari dan memastikan bahwa tembakan langsung mematikan tanpa menyiksa hewan.

Rahmat Shah juga membahas konsep konservasi melalui pemanfaatan, di mana hewan yang diburu tidak dihabisi sembarangan, melainkan dipilih berdasarkan usia dan kondisi tertentu untuk menjaga keseimbangan populasi. “Misalnya gajah, gadingnya harus 1,5 meter baru boleh ditembak. Ini untuk memastikan hanya gajah yang sudah tua dan tidak lagi produktif yang diburu,” jelasnya.

Rahmat Shah saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Rahmat Shah saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Rahmat Shah menyoroti pentingnya regulasi dalam perburuan untuk menghindari kepunahan satwa. Ia menyayangkan praktik perburuan liar yang tidak sesuai aturan, yang menurutnya justru merusak upaya konservasi. Ia juga mengakui bahwa aktivitas berburu memiliki risiko tinggi, terutama ketika ia harus berburu di kondisi ekstrem seperti di perbatasan Rusia dengan Kazakhstan dengan suhu minus 30 derajat.

Diskusi ini kemudian ditutup dengan pengakuan Rahmat Shah bahwa meskipun berburu, ia sangat menghargai satwa liar dan berusaha menjaga keberadaan mereka melalui berbagai program konservasi. Ia juga menceritakan bahwa hasil perburuan yang legal sering kali disumbangkan ke museum sebagai bentuk edukasi kepada masyarakat tentang pentingnya konservasi.

Tags :