Ikrar Nusa Bhakti Tidak Yakin Prabowo Habis-habisan Gunakan APBN Mempercepat Pembanguan IKN

Ikrar Nusa Bhakti Tidak Yakin Prabowo Habis-habisan Gunakan APBN Mempercepat Pembanguan IKN

Ikrar Nusa Bhakti Tidak Yakin Prabowo Habis-habisan Gunakan APBN Mempercepat Pembanguan IKN

October 11, 2024
Ikrar Nusa Bhakti saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Ustaz Solmed. (Foto: EdShareOn.com)

JAKARTA – Dalam episode terbaru podcast EdShareOn, Eddy Wijaya berbincang dengan Rudy Alfonzo, Duta Besar Indonesia untuk Portugal, tentang hasil forum bisnis yang digelar di KBRI Portugal dan berbagai upaya diplomatik yang sedang dilakukan untuk memperkuat hubungan antara kedua negara.

Pada bulan Februari lalu, KBRI Portugal menyelenggarakan forum bisnis yang dihadiri oleh delegasi dari Kadin Indonesia, termasuk Wakil Ketua Kadin, Pak Tony Wenas, yang juga Presiden Direktur Freeport. Acara ini menjadi kesempatan pertama bagi Kadin Indonesia untuk berkunjung ke Portugal. Rudy Alfonzo menjelaskan bahwa pertemuan tersebut melibatkan interaksi antara pengusaha Indonesia dan Portugal, dengan fokus pada potensi kerjasama di berbagai sektor, termasuk pariwisata.

“Portugal memiliki pendapatan utama dari pariwisata, dengan 30 juta turis setiap tahun meskipun populasinya hanya 10 juta,” kata Rudy. Dia menekankan bahwa Indonesia perlu belajar dari Portugal dalam mengelola sektor pariwisata untuk meningkatkan jumlah wisatawan yang berkunjung ke Indonesia, yang saat ini baru mencapai sekitar 10 juta per tahun.

Rudy Alfonso Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Rudy Alfonso Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Rudy Alfonzo juga membahas faktor keamanan yang membuat Portugal menjadi salah satu negara Eropa paling aman untuk wisata. “Portugal sangat aman, tidak ada kasus pemerkosaan, penganiayaan, atau perampokan. Ini membuat turis merasa nyaman dan aman,” ujarnya. Selain itu, biaya hidup di Portugal relatif murah dibandingkan dengan negara Eropa lainnya, termasuk harga makanan pokok.

Pada 16 Mei, Rudy Alfonzo bertemu dengan Menteri Luar Negeri Portugal, Paulo Rangel, yang baru saja dilantik. Pertemuan ini berlangsung sekitar satu setengah jam, dengan diskusi yang sangat terbuka dan produktif. Rudy mengungkapkan bahwa Paulo Rangel, yang berlatar belakang sebagai advokat, sangat mudah diajak berdiskusi karena memiliki gaya komunikasi yang langsung dan to the point.

Dalam pertemuan tersebut, mereka membahas berbagai kunjungan tingkat tinggi sebelumnya, seperti kunjungan Presiden Soekarno pada tahun 1960, Presiden SBY pada tahun 2014, dan Presiden Portugal Cavaco Silva ke Indonesia pada tahun 2012. Rudy menyampaikan harapannya agar kunjungan Presiden Joko Widodo ke Portugal dapat segera terwujud. Namun, ia juga menjelaskan tantangan yang dihadapi, termasuk prioritas internal dan anggaran pemerintah Portugal serta padatnya jadwal kunjungan Presiden Joko Widodo.

Rudy Alfonso Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Rudy Alfonso Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Rudy Alfonzo optimis bahwa hubungan antara Indonesia dan Portugal dapat terus berkembang melalui berbagai upaya diplomatik dan kerjasama bisnis. Dengan memanfaatkan pengalaman Portugal dalam mengelola pariwisata dan menjalin kerjasama di sektor-sektor strategis lainnya, Indonesia dapat meningkatkan kehadirannya di pasar internasional dan menarik lebih banyak investasi asing.

“Kita semua harus bekerja keras untuk menjaga iklim investasi yang menarik di dalam negeri,” kata Rudy. Dengan berbagai langkah konkret yang sudah dilakukan dan rencana-rencana yang akan datang, Rudy Alfonzo yakin bahwa hubungan ekonomi dan pariwisata antara Indonesia dan Portugal akan semakin kuat dan saling menguntungkan.

Tags :

Recent Posts

Sutiyoso Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Sutiyoso Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Tantowi Yahya Ceritakan Kesan Menjadi Duta Besar Selandia Baru

Tantowi Yahya Ceritakan Kesan Menjadi Duta Besar Selandia Baru

Tantowi Yahya Ceritakan Kesan Menjadi Duta Besar Selandia Baru

October 11, 2024
Tantowi Yahya saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Ustaz Solmed. (Foto: EdShareOn.com)

JAKARTA – Dalam episode terbaru podcast EdShareOn, Eddy Wijaya berbincang dengan Rudy Alfonzo, Duta Besar Indonesia untuk Portugal, tentang hasil forum bisnis yang digelar di KBRI Portugal dan berbagai upaya diplomatik yang sedang dilakukan untuk memperkuat hubungan antara kedua negara.

Pada bulan Februari lalu, KBRI Portugal menyelenggarakan forum bisnis yang dihadiri oleh delegasi dari Kadin Indonesia, termasuk Wakil Ketua Kadin, Pak Tony Wenas, yang juga Presiden Direktur Freeport. Acara ini menjadi kesempatan pertama bagi Kadin Indonesia untuk berkunjung ke Portugal. Rudy Alfonzo menjelaskan bahwa pertemuan tersebut melibatkan interaksi antara pengusaha Indonesia dan Portugal, dengan fokus pada potensi kerjasama di berbagai sektor, termasuk pariwisata.

“Portugal memiliki pendapatan utama dari pariwisata, dengan 30 juta turis setiap tahun meskipun populasinya hanya 10 juta,” kata Rudy. Dia menekankan bahwa Indonesia perlu belajar dari Portugal dalam mengelola sektor pariwisata untuk meningkatkan jumlah wisatawan yang berkunjung ke Indonesia, yang saat ini baru mencapai sekitar 10 juta per tahun.

Rudy Alfonso Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Rudy Alfonso Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Rudy Alfonzo juga membahas faktor keamanan yang membuat Portugal menjadi salah satu negara Eropa paling aman untuk wisata. “Portugal sangat aman, tidak ada kasus pemerkosaan, penganiayaan, atau perampokan. Ini membuat turis merasa nyaman dan aman,” ujarnya. Selain itu, biaya hidup di Portugal relatif murah dibandingkan dengan negara Eropa lainnya, termasuk harga makanan pokok.

Pada 16 Mei, Rudy Alfonzo bertemu dengan Menteri Luar Negeri Portugal, Paulo Rangel, yang baru saja dilantik. Pertemuan ini berlangsung sekitar satu setengah jam, dengan diskusi yang sangat terbuka dan produktif. Rudy mengungkapkan bahwa Paulo Rangel, yang berlatar belakang sebagai advokat, sangat mudah diajak berdiskusi karena memiliki gaya komunikasi yang langsung dan to the point.

Dalam pertemuan tersebut, mereka membahas berbagai kunjungan tingkat tinggi sebelumnya, seperti kunjungan Presiden Soekarno pada tahun 1960, Presiden SBY pada tahun 2014, dan Presiden Portugal Cavaco Silva ke Indonesia pada tahun 2012. Rudy menyampaikan harapannya agar kunjungan Presiden Joko Widodo ke Portugal dapat segera terwujud. Namun, ia juga menjelaskan tantangan yang dihadapi, termasuk prioritas internal dan anggaran pemerintah Portugal serta padatnya jadwal kunjungan Presiden Joko Widodo.

Rudy Alfonso Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Rudy Alfonso Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Rudy Alfonzo optimis bahwa hubungan antara Indonesia dan Portugal dapat terus berkembang melalui berbagai upaya diplomatik dan kerjasama bisnis. Dengan memanfaatkan pengalaman Portugal dalam mengelola pariwisata dan menjalin kerjasama di sektor-sektor strategis lainnya, Indonesia dapat meningkatkan kehadirannya di pasar internasional dan menarik lebih banyak investasi asing.

“Kita semua harus bekerja keras untuk menjaga iklim investasi yang menarik di dalam negeri,” kata Rudy. Dengan berbagai langkah konkret yang sudah dilakukan dan rencana-rencana yang akan datang, Rudy Alfonzo yakin bahwa hubungan ekonomi dan pariwisata antara Indonesia dan Portugal akan semakin kuat dan saling menguntungkan.

Tags :

Ikrar Nusa Bhakti, Banyaknya Jumlah Menteri Bukan Ukuran Keberhasilan

Ikrar Nusa Bhakti, Banyaknya Jumlah Menteri Bukan Ukuran Keberhasilan

Ikrar Nusa Bhakti, Banyaknya Jumlah Menteri Bukan Ukuran Keberhasilan

October 11, 2024
Ikrar Nusa Bhakti saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Ikrar Nusa Bhakti. (Foto: EdShareOn.com)

JAKARTA – Dalam salah satu episode podcast EdShareOn yang dipandu oleh Eddy Wijaya, Prof. Ikrar Nusa Bhakti membahas isu penting terkait politik Indonesia, terutama soal komposisi kabinet pemerintahan. Diskusi ini menyoroti peran penting menteri dalam membentuk arah kebijakan negara, serta tantangan yang dihadapi Indonesia dalam menjaga efisiensi dan stabilitas politik. Topik ini semakin relevan di tengah ramainya spekulasi mengenai komposisi kabinet yang mungkin diisi oleh berbagai kalangan, termasuk dari militer dan polisi.

Menurut Prof. Ikrar, banyaknya jumlah menteri di kabinet bukanlah ukuran keberhasilan. Ia menyebutkan contoh dari berbagai negara seperti Amerika Serikat dan Australia yang berhasil mengelola pemerintahan dengan jumlah menteri yang lebih sedikit. Bagi Indonesia, penambahan jumlah menteri bisa berdampak pada peningkatan pengeluaran negara. Sebagai contoh, anggaran negara yang dialokasikan untuk operasional menteri dan stafnya dapat membebani APBN. Ini menjadi peringatan agar Indonesia lebih efisien dalam mengelola kabinet demi kesejahteraan rakyat.

Ikrar Nusa Bhakti saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Ikrar Nusa Bhakti saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Eddy Wijaya dengan cerdas menanyakan apakah penambahan jumlah menteri ini sebenarnya bertujuan untuk ‘bagi-bagi kekuasaan’ antara partai politik. Pertanyaan ini menggiring diskusi pada sejarah politik Indonesia, di mana pada masa Demokrasi Terpimpin di era Soekarno, jumlah menteri pernah mencapai angka fantastis, yakni 132 orang. Fakta ini menggambarkan bahwa politik sering kali menjadi alat untuk memperkuat kekuasaan dan Prof. Ikrar mengingatkan bahwa kondisi serupa dapat terjadi lagi jika pemerintah tidak berhati-hati.

Tak hanya membahas kabinet, dalam episode EdShareOn ini juga dibahas mengenai perkembangan teknologi dan pentingnya sektor cyber. Eddy mengarahkan diskusi ke topik cyber army yang dikembangkan oleh TNI sebagai salah satu matra baru. Prof. Ikrar memberikan pandangan kritis tentang bagaimana Indonesia masih tertinggal dalam pengembangan teknologi, terutama dalam hal semikonduktor dan industri digital. Hal ini berpengaruh besar pada kesiapan Indonesia dalam menghadapi era digital, terutama di sektor pertahanan.

Ikrar Nusa Bhakti saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Ikrar Nusa Bhakti saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Diskusi ini semakin menarik ketika Eddy dan Prof. Ikrar membahas ketidakmampuan Indonesia untuk menarik investor besar seperti Elon Musk. Menurut Prof. Ikrar, masalah lingkungan menjadi faktor utama yang membuat Indonesia kalah saing dengan negara lain, seperti Vietnam. Kritik ini menggambarkan tantangan besar yang dihadapi Indonesia dalam memajukan industri teknologi dan menarik investasi global.

Tags :

Sutiyoso Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Sutiyoso Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Pendapat Ikrar Nusa Bhakti: Jumlah Menteri yang Banyak Belum Tentu Urusan Indonesia Tertangani

Pendapat Ikrar Nusa Bhakti: Jumlah Menteri yang Banyak Belum Tentu Urusan Indonesia Tertangani

Pendapat Ikrar Nusa Bhakti: Jumlah Menteri yang Banyak Belum Tentu Urusan Indonesia Tertangani

October 10, 2024
Ikrar Nusa Bhakti saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Ustaz Solmed. (Foto: EdShareOn.com)

JAKARTA – Dalam episode terbaru podcast EdShareOn, Eddy Wijaya berbincang dengan Rudy Alfonzo, Duta Besar Indonesia untuk Portugal, tentang hasil forum bisnis yang digelar di KBRI Portugal dan berbagai upaya diplomatik yang sedang dilakukan untuk memperkuat hubungan antara kedua negara.

Pada bulan Februari lalu, KBRI Portugal menyelenggarakan forum bisnis yang dihadiri oleh delegasi dari Kadin Indonesia, termasuk Wakil Ketua Kadin, Pak Tony Wenas, yang juga Presiden Direktur Freeport. Acara ini menjadi kesempatan pertama bagi Kadin Indonesia untuk berkunjung ke Portugal. Rudy Alfonzo menjelaskan bahwa pertemuan tersebut melibatkan interaksi antara pengusaha Indonesia dan Portugal, dengan fokus pada potensi kerjasama di berbagai sektor, termasuk pariwisata.

“Portugal memiliki pendapatan utama dari pariwisata, dengan 30 juta turis setiap tahun meskipun populasinya hanya 10 juta,” kata Rudy. Dia menekankan bahwa Indonesia perlu belajar dari Portugal dalam mengelola sektor pariwisata untuk meningkatkan jumlah wisatawan yang berkunjung ke Indonesia, yang saat ini baru mencapai sekitar 10 juta per tahun.

Rudy Alfonso Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Rudy Alfonso Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Rudy Alfonzo juga membahas faktor keamanan yang membuat Portugal menjadi salah satu negara Eropa paling aman untuk wisata. “Portugal sangat aman, tidak ada kasus pemerkosaan, penganiayaan, atau perampokan. Ini membuat turis merasa nyaman dan aman,” ujarnya. Selain itu, biaya hidup di Portugal relatif murah dibandingkan dengan negara Eropa lainnya, termasuk harga makanan pokok.

Pada 16 Mei, Rudy Alfonzo bertemu dengan Menteri Luar Negeri Portugal, Paulo Rangel, yang baru saja dilantik. Pertemuan ini berlangsung sekitar satu setengah jam, dengan diskusi yang sangat terbuka dan produktif. Rudy mengungkapkan bahwa Paulo Rangel, yang berlatar belakang sebagai advokat, sangat mudah diajak berdiskusi karena memiliki gaya komunikasi yang langsung dan to the point.

Dalam pertemuan tersebut, mereka membahas berbagai kunjungan tingkat tinggi sebelumnya, seperti kunjungan Presiden Soekarno pada tahun 1960, Presiden SBY pada tahun 2014, dan Presiden Portugal Cavaco Silva ke Indonesia pada tahun 2012. Rudy menyampaikan harapannya agar kunjungan Presiden Joko Widodo ke Portugal dapat segera terwujud. Namun, ia juga menjelaskan tantangan yang dihadapi, termasuk prioritas internal dan anggaran pemerintah Portugal serta padatnya jadwal kunjungan Presiden Joko Widodo.

Rudy Alfonso Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Rudy Alfonso Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Rudy Alfonzo optimis bahwa hubungan antara Indonesia dan Portugal dapat terus berkembang melalui berbagai upaya diplomatik dan kerjasama bisnis. Dengan memanfaatkan pengalaman Portugal dalam mengelola pariwisata dan menjalin kerjasama di sektor-sektor strategis lainnya, Indonesia dapat meningkatkan kehadirannya di pasar internasional dan menarik lebih banyak investasi asing.

“Kita semua harus bekerja keras untuk menjaga iklim investasi yang menarik di dalam negeri,” kata Rudy. Dengan berbagai langkah konkret yang sudah dilakukan dan rencana-rencana yang akan datang, Rudy Alfonzo yakin bahwa hubungan ekonomi dan pariwisata antara Indonesia dan Portugal akan semakin kuat dan saling menguntungkan.

Tags :

Peran Ayah di Balik Kesuksesan Tantowi Yahya

Peran Ayah di Balik Kesuksesan Tantowi Yahya

Peran Ayah di Balik Kesuksesan Tantowi Yahya

October 10, 2024
Tantowi Yahya saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Tantowi Yahya. (Foto: EdShareOn.com)

JAKARTA – Dalam wawancara inspiratif bersama Eddy Wijaya di podcast EdShareOn, Tantowi Yahya, seorang musisi country dan diplomat, menceritakan perjalanan hidupnya yang penuh perjuangan dan dedikasi. Kisah Tantowi mengajarkan banyak hal, mulai dari pentingnya visi jauh ke depan hingga semangat untuk mengejar impian, meskipun harus melalui tantangan yang tidak mudah.

Sejak kecil, Tantowi sudah dibiasakan bekerja keras oleh ayahnya, yang memiliki visi besar bagi anak-anaknya. Tantowi menceritakan bagaimana ia harus berjalan kaki sejauh 10-12 kilometer setiap minggu hanya untuk les bahasa Inggris. Meskipun ayahnya seorang pedagang kecil, akan tetapi ia memiliki pandangan yang jauh ke depan. Sang ayah mempersiapkan Tantowi dan saudaranya, Helmi Yahya, untuk menjadi pribadi yang mampu bersaing di tingkat internasional. Tantowi bersyukur atas ketegasan ayahnya yang memberinya dorongan untuk menguasai bahasa Inggris—kunci penting dalam perjalanan kariernya.

Tantowi Yahya saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Tantowi Yahya saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Selain sukses dalam karier diplomat, Tantowi juga mengembangkan kecintaannya pada musik country, sebuah genre yang jarang diminati di Indonesia. Tantowi telah merilis 11 album dan melakukan konser di dalam dan luar negeri. Salah satu albumnya yang paling berkesan adalah Aryati, yang menjadi hit besar dengan beberapa lagu populer seperti Aryati, Hidupku Sunyi, dan Patah Hati.

Tantowi tidak hanya menekuni karier di dunia musik, tapi juga memodifikasi lagu-lagu lama menjadi karya baru dengan sentuhan country. Hal ini memperlihatkan bagaimana Tantowi mampu membuat sesuatu yang lama terasa segar dan relevan kembali, meskipun diadaptasi ke dalam genre yang berbeda.

Tantowi Yahya saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Tantowi Yahya saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Dalam wawancara ini, Eddy Wijaya juga menanyakan tantangan terbesar yang dihadapi Tantowi dalam mengenalkan musik country kepada generasi muda, khususnya generasi Z. Tantowi mengakui bahwa country, terutama *oldies country*, mungkin terasa jauh bagi generasi muda di Indonesia. Namun, ia merasa bahwa penggemarnya dari generasi sebelumnya tetap setia, dan itu merupakan kekuatan yang selalu ia hargai.

Tags :

Sutiyoso Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Sutiyoso Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)