Year: 2024
Ikut Seleksi Capim KPK, Harli Siregar Ingin Memperbaiki Kepercayaan Publik
Ikut Seleksi Capim KPK, Harli Siregar Ingin Memperbaiki Kepercayaan Publik
Ustaz Solmed. (Foto: EdShareOn.com)
JAKARTA – Dalam episode terbaru podcast EdShareOn, Eddy Wijaya berbincang dengan Rudy Alfonzo, Duta Besar Indonesia untuk Portugal, tentang hasil forum bisnis yang digelar di KBRI Portugal dan berbagai upaya diplomatik yang sedang dilakukan untuk memperkuat hubungan antara kedua negara.
Pada bulan Februari lalu, KBRI Portugal menyelenggarakan forum bisnis yang dihadiri oleh delegasi dari Kadin Indonesia, termasuk Wakil Ketua Kadin, Pak Tony Wenas, yang juga Presiden Direktur Freeport. Acara ini menjadi kesempatan pertama bagi Kadin Indonesia untuk berkunjung ke Portugal. Rudy Alfonzo menjelaskan bahwa pertemuan tersebut melibatkan interaksi antara pengusaha Indonesia dan Portugal, dengan fokus pada potensi kerjasama di berbagai sektor, termasuk pariwisata.
“Portugal memiliki pendapatan utama dari pariwisata, dengan 30 juta turis setiap tahun meskipun populasinya hanya 10 juta,” kata Rudy. Dia menekankan bahwa Indonesia perlu belajar dari Portugal dalam mengelola sektor pariwisata untuk meningkatkan jumlah wisatawan yang berkunjung ke Indonesia, yang saat ini baru mencapai sekitar 10 juta per tahun.
Rudy Alfonzo juga membahas faktor keamanan yang membuat Portugal menjadi salah satu negara Eropa paling aman untuk wisata. “Portugal sangat aman, tidak ada kasus pemerkosaan, penganiayaan, atau perampokan. Ini membuat turis merasa nyaman dan aman,” ujarnya. Selain itu, biaya hidup di Portugal relatif murah dibandingkan dengan negara Eropa lainnya, termasuk harga makanan pokok.
Pada 16 Mei, Rudy Alfonzo bertemu dengan Menteri Luar Negeri Portugal, Paulo Rangel, yang baru saja dilantik. Pertemuan ini berlangsung sekitar satu setengah jam, dengan diskusi yang sangat terbuka dan produktif. Rudy mengungkapkan bahwa Paulo Rangel, yang berlatar belakang sebagai advokat, sangat mudah diajak berdiskusi karena memiliki gaya komunikasi yang langsung dan to the point.
Dalam pertemuan tersebut, mereka membahas berbagai kunjungan tingkat tinggi sebelumnya, seperti kunjungan Presiden Soekarno pada tahun 1960, Presiden SBY pada tahun 2014, dan Presiden Portugal Cavaco Silva ke Indonesia pada tahun 2012. Rudy menyampaikan harapannya agar kunjungan Presiden Joko Widodo ke Portugal dapat segera terwujud. Namun, ia juga menjelaskan tantangan yang dihadapi, termasuk prioritas internal dan anggaran pemerintah Portugal serta padatnya jadwal kunjungan Presiden Joko Widodo.
Rudy Alfonzo optimis bahwa hubungan antara Indonesia dan Portugal dapat terus berkembang melalui berbagai upaya diplomatik dan kerjasama bisnis. Dengan memanfaatkan pengalaman Portugal dalam mengelola pariwisata dan menjalin kerjasama di sektor-sektor strategis lainnya, Indonesia dapat meningkatkan kehadirannya di pasar internasional dan menarik lebih banyak investasi asing.
“Kita semua harus bekerja keras untuk menjaga iklim investasi yang menarik di dalam negeri,” kata Rudy. Dengan berbagai langkah konkret yang sudah dilakukan dan rencana-rencana yang akan datang, Rudy Alfonzo yakin bahwa hubungan ekonomi dan pariwisata antara Indonesia dan Portugal akan semakin kuat dan saling menguntungkan.
Tags :
Recent Posts
-
Eks Dubes RI Dian Wirengjurit: Serangan ke Iran adalah Cara Trump Alihkan Isu Epstein Files
-
Hinca Pandjaitan Puji Ketelitian Tim Jaksa Kasus Laptop Chromebook Nadiem
-
Makan Bergizi Gratis, Antara Niat Baik Presiden Prabowo dan Problematikanya
-
Dadan Hindayana ‘BGN’: MBG Justru Menambah Anggaran Pendidikan
-
Ulas Kasus Dugaan Korupsi Pengadaan Chromebook Nadiem Langsung dengan Jaksa Penuntut Umum Roy Riady
-
Petinggi BEI dan OJK Mundur Berjamaah, Karena Tekanan, Tanggung Jawab Moral, atau Ketidakmampuan?
-
Wamenkum Eddy Hiariej Bilang KUHP Baru Lebih Manusiawi, Lantas Kenapa Digugat ke MK?
-
Wamenkum Eddy Hiariej: Di KUHP Baru, Hukuman Penjara Bisa Diganti Kerja Sosial
Tantowi Yahya: Prabowo Akan Jadi Pemimpin yang Baik
Tantowi Yahya: Prabowo Akan Jadi Pemimpin yang Baik
Tantowi Yahya. (Foto: EdShareOn.com)
JAKARTA – Dalam salah satu episode EdShareOn yang dipandu oleh Eddy Wijaya, Tantowi Yahya, mantan Duta Besar Indonesia untuk Selandia Baru, membahas berbagai isu politik nasional, termasuk rumor mengenai posisinya dalam kabinet baru. Tantowi yang pernah menjadi juru bicara utama Prabowo Subianto pada Pilpres 2014, memberikan pandangan realistis dan reflektif mengenai peluang politik masa depan, terutama terkait kepemimpinan Prabowo dan tantangan kabinet pemerintahan di Indonesia.
Terkait rumor bahwa ia akan dipinang sebagai Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) oleh Prabowo-Gibran, Tantowi merespons dengan tenang. Ia menekankan bahwa dalam politik, spekulasi seringkali tidak berujung pada kenyataan. “Semakin berhembus, semakin nggak jadi biasanya,” ujarnya. Tantowi mengakui bahwa dirinya tidak terlibat secara langsung dalam kampanye Pilpres terakhir dan merasa bahwa ia belum ‘berkeringat’ dalam mendukung kemenangan Prabowo.
Namun dalam wawancara tersebut, Tantowi menekankan keyakinannya terhadap kemampuan Prabowo sebagai pemimpin. “Saya yakin Prabowo akan menjadi pemimpin yang baik. Pengalamannya di berbagai bidang, baik militer maupun sipil, memberinya modal yang kuat untuk memajukan Indonesia,” katanya. Tantowi juga memuji kemampuan Prabowo dalam berkomunikasi, baik di tingkat nasional maupun internasional. Menurutnya, kemampuan Prabowo dalam menguasai banyak bahasa asing menjadi salah satu kelebihan yang jarang dimiliki oleh pemimpin Indonesia.
Menurut Tantowi Yahya, Prabowo memiliki tiga fokus utama yang akan sangat menonjol yaitu pertahanan, pertanian, dan politik luar negeri. Tantowi yakin bahwa Prabowo akan memperkuat anggaran pertahanan untuk menjaga stabilitas regional, tanpa bersikap ofensif. “Kehadiran Indonesia di dunia internasional akan dihargai, terutama dengan seorang presiden yang memiliki pengalaman militer seperti Prabowo,” ujarnya.
Selain itu, Tantowi juga menyoroti passion Prabowo dalam bidang pertanian. Ia percaya bahwa program makan siang gratis yang telah diinisiasi pemerintah akan berdampak positif bagi kesejahteraan petani, karena peningkatan kebutuhan bahan pangan akan mendukung industri pertanian lokal. “Petani akan menjadi kelompok yang paling diuntungkan,” katanya.
Tantowi juga mengungkapkan pandangannya tentang kabinet ideal. Menurutnya, kabinet sebaiknya diisi oleh para ahli di bidangnya, yang sering disebut sebagai zaken kabinet. “Namun kita juga tidak boleh terlalu sensitif terhadap kehadiran kader partai politik di kabinet,” jelas Tantowi. Ia menegaskan bahwa banyak politisi yang juga ahli di bidangnya.
Tags :
Tantowi Yahya, Menjembatani Diplomasi Indonesia dan Selandia Baru
Tantowi Yahya, Menjembatani Diplomasi Indonesia dan Selandia Baru
Tantowi Yahya. (Foto: EdShareOn.com)
JAKARTA – Dalam sebuah episode podcast EdShareOn yang dipandu oleh Eddy Wijaya, Tantowi Yahya, mantan Duta Besar Indonesia untuk Selandia Baru, berbagi pengalamannya dalam diplomasi internasional dan politik. Percakapan ini menyajikan pandangan unik tentang bagaimana seorang politisi Indonesia menjalankan peran strategis di luar negeri, sekaligus refleksi atas dinamika politik nasional. Artikel ini merangkum berbagai poin penting dari diskusi menarik antara Eddy Wijaya dan Tantowi Yahya.
Sebagai Duta Besar di Selandia Baru sejak 2017, Tantowi Yahya mengungkapkan kesannya terhadap peran tersebut. Ia menilai bahwa menjadi duta besar adalah salah satu pengalaman paling berkesan dalam kariernya yang beragam. “Ketika menjadi duta besar, kita adalah wakil Presiden di negara tempat kita ditempatkan,” ujarnya. Peran ini bukan hanya membawa hak diplomatik, tetapi juga tanggung jawab besar dalam menjaga hubungan antara kedua negara.
Selain urusan diplomasi, Tantowi Yahya juga membahas tentang kerja sama ekonomi antara Indonesia dan Selandia Baru. “New Zealand adalah salah satu mitra utama Indonesia dalam bidang pertanian, terutama impor daging biri-biri dan susu,” jelasnya. Namun, Tantowi menyoroti satu hambatan besar dalam memperdalam kerja sama ini, yaitu monopoli PLN dalam sektor energi. “Kalau undang-undangnya berubah, kerja sama kita bisa jauh lebih kuat,” ujarnya. Poin ini memberikan gambaran tantangan regulasi yang dihadapi Indonesia dalam menarik investasi luar negeri.
Isu Papua juga menjadi topik pembicaraan, di mana Tantowi Yahya menanggapi insiden tragis yang melibatkan seorang pilot dari Selandia Baru yang menjadi korban kekerasan oleh Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB). Tantowi menyebut peristiwa ini sebagai “pukulan berat” bagi hubungan kedua negara dan mengutuk keras kekerasan tersebut. Melalui perbincangan ini, *EdShareOn* menyoroti pentingnya keamanan dan stabilitas dalam menjalin hubungan diplomatik.
Tantowi Yahya juga berbagi pandangannya tentang karier politiknya. Sebagai politisi Golkar, ia mencermati betapa beratnya perjuangan untuk mendapatkan kursi di parlemen. “Saya sudah merasa lelah,” katanya, menyoroti beban logistik yang besar dalam memenangkan pemilu. Tantowi menegaskan bahwa ia lebih memilih realistis, mengingat biaya politik yang tidak sebanding dengan gaji seorang anggota DPR.
Sementara itu, tawaran untuk mencalonkan diri sebagai gubernur di beberapa daerah juga muncul. “Ketua Umum Golkar, Airlangga Hartarto, melihat potensi saya di Kalimantan Barat, Bali, hingga Sumatera Selatan,” ungkapnya. Namun, Tantowi merasa bahwa dirinya tidak memiliki sumber daya yang cukup untuk bersaing dalam politik daerah, meski popularitasnya di kalangan masyarakat masih kuat.
Diskusi ini juga menyoroti keputusan Airlangga Hartarto untuk mundur dari Golkar, yang menurut Tantowi, adalah hasil dari berbagai tekanan baik internal maupun eksternal. Keputusan ini mencerminkan betapa dinamisnya dunia politik, di mana setiap langkah harus diambil dengan pertimbangan matang.
Tags :
Tantowi Yahya Puji Kerja Jokowi, Indonesia Dipimpin Prabowo Akan Lebih Baik
Tantowi Yahya Puji Kerja Jokowi, Indonesia Dipimpin Prabowo Akan Lebih Baik
Ustaz Solmed. (Foto: EdShareOn.com)
JAKARTA – Dalam episode terbaru podcast EdShareOn, Eddy Wijaya berbincang dengan Rudy Alfonzo, Duta Besar Indonesia untuk Portugal, tentang hasil forum bisnis yang digelar di KBRI Portugal dan berbagai upaya diplomatik yang sedang dilakukan untuk memperkuat hubungan antara kedua negara.
Pada bulan Februari lalu, KBRI Portugal menyelenggarakan forum bisnis yang dihadiri oleh delegasi dari Kadin Indonesia, termasuk Wakil Ketua Kadin, Pak Tony Wenas, yang juga Presiden Direktur Freeport. Acara ini menjadi kesempatan pertama bagi Kadin Indonesia untuk berkunjung ke Portugal. Rudy Alfonzo menjelaskan bahwa pertemuan tersebut melibatkan interaksi antara pengusaha Indonesia dan Portugal, dengan fokus pada potensi kerjasama di berbagai sektor, termasuk pariwisata.
“Portugal memiliki pendapatan utama dari pariwisata, dengan 30 juta turis setiap tahun meskipun populasinya hanya 10 juta,” kata Rudy. Dia menekankan bahwa Indonesia perlu belajar dari Portugal dalam mengelola sektor pariwisata untuk meningkatkan jumlah wisatawan yang berkunjung ke Indonesia, yang saat ini baru mencapai sekitar 10 juta per tahun.
Rudy Alfonzo juga membahas faktor keamanan yang membuat Portugal menjadi salah satu negara Eropa paling aman untuk wisata. “Portugal sangat aman, tidak ada kasus pemerkosaan, penganiayaan, atau perampokan. Ini membuat turis merasa nyaman dan aman,” ujarnya. Selain itu, biaya hidup di Portugal relatif murah dibandingkan dengan negara Eropa lainnya, termasuk harga makanan pokok.
Pada 16 Mei, Rudy Alfonzo bertemu dengan Menteri Luar Negeri Portugal, Paulo Rangel, yang baru saja dilantik. Pertemuan ini berlangsung sekitar satu setengah jam, dengan diskusi yang sangat terbuka dan produktif. Rudy mengungkapkan bahwa Paulo Rangel, yang berlatar belakang sebagai advokat, sangat mudah diajak berdiskusi karena memiliki gaya komunikasi yang langsung dan to the point.
Dalam pertemuan tersebut, mereka membahas berbagai kunjungan tingkat tinggi sebelumnya, seperti kunjungan Presiden Soekarno pada tahun 1960, Presiden SBY pada tahun 2014, dan Presiden Portugal Cavaco Silva ke Indonesia pada tahun 2012. Rudy menyampaikan harapannya agar kunjungan Presiden Joko Widodo ke Portugal dapat segera terwujud. Namun, ia juga menjelaskan tantangan yang dihadapi, termasuk prioritas internal dan anggaran pemerintah Portugal serta padatnya jadwal kunjungan Presiden Joko Widodo.
Rudy Alfonzo optimis bahwa hubungan antara Indonesia dan Portugal dapat terus berkembang melalui berbagai upaya diplomatik dan kerjasama bisnis. Dengan memanfaatkan pengalaman Portugal dalam mengelola pariwisata dan menjalin kerjasama di sektor-sektor strategis lainnya, Indonesia dapat meningkatkan kehadirannya di pasar internasional dan menarik lebih banyak investasi asing.
“Kita semua harus bekerja keras untuk menjaga iklim investasi yang menarik di dalam negeri,” kata Rudy. Dengan berbagai langkah konkret yang sudah dilakukan dan rencana-rencana yang akan datang, Rudy Alfonzo yakin bahwa hubungan ekonomi dan pariwisata antara Indonesia dan Portugal akan semakin kuat dan saling menguntungkan.
Tags :
Recent Posts
-
Eks Dubes RI Dian Wirengjurit: Serangan ke Iran adalah Cara Trump Alihkan Isu Epstein Files
-
Hinca Pandjaitan Puji Ketelitian Tim Jaksa Kasus Laptop Chromebook Nadiem
-
Makan Bergizi Gratis, Antara Niat Baik Presiden Prabowo dan Problematikanya
-
Dadan Hindayana ‘BGN’: MBG Justru Menambah Anggaran Pendidikan
-
Ulas Kasus Dugaan Korupsi Pengadaan Chromebook Nadiem Langsung dengan Jaksa Penuntut Umum Roy Riady
-
Petinggi BEI dan OJK Mundur Berjamaah, Karena Tekanan, Tanggung Jawab Moral, atau Ketidakmampuan?
-
Wamenkum Eddy Hiariej Bilang KUHP Baru Lebih Manusiawi, Lantas Kenapa Digugat ke MK?
-
Wamenkum Eddy Hiariej: Di KUHP Baru, Hukuman Penjara Bisa Diganti Kerja Sosial







