Jika Gibran Tersandung Masalah, Anies Bisa Menggantikan? Oegroseno: Sesuai UU-nya Saja

Jika Gibran Tersandung Masalah, Anies Bisa Menggantikan? Oegroseno: Sesuai UU-nya Saja

Jika Gibran Tersandung Masalah, Anies Bisa Menggantikan? Oegroseno: Sesuai UU-nya Saja

October 15, 2024
Oegroseno saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Ustaz Solmed. (Foto: EdShareOn.com)

JAKARTA – Dalam episode terbaru podcast EdShareOn, Eddy Wijaya berbincang dengan Rudy Alfonzo, Duta Besar Indonesia untuk Portugal, tentang hasil forum bisnis yang digelar di KBRI Portugal dan berbagai upaya diplomatik yang sedang dilakukan untuk memperkuat hubungan antara kedua negara.

Pada bulan Februari lalu, KBRI Portugal menyelenggarakan forum bisnis yang dihadiri oleh delegasi dari Kadin Indonesia, termasuk Wakil Ketua Kadin, Pak Tony Wenas, yang juga Presiden Direktur Freeport. Acara ini menjadi kesempatan pertama bagi Kadin Indonesia untuk berkunjung ke Portugal. Rudy Alfonzo menjelaskan bahwa pertemuan tersebut melibatkan interaksi antara pengusaha Indonesia dan Portugal, dengan fokus pada potensi kerjasama di berbagai sektor, termasuk pariwisata.

“Portugal memiliki pendapatan utama dari pariwisata, dengan 30 juta turis setiap tahun meskipun populasinya hanya 10 juta,” kata Rudy. Dia menekankan bahwa Indonesia perlu belajar dari Portugal dalam mengelola sektor pariwisata untuk meningkatkan jumlah wisatawan yang berkunjung ke Indonesia, yang saat ini baru mencapai sekitar 10 juta per tahun.

Rudy Alfonso Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Rudy Alfonso Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Rudy Alfonzo juga membahas faktor keamanan yang membuat Portugal menjadi salah satu negara Eropa paling aman untuk wisata. “Portugal sangat aman, tidak ada kasus pemerkosaan, penganiayaan, atau perampokan. Ini membuat turis merasa nyaman dan aman,” ujarnya. Selain itu, biaya hidup di Portugal relatif murah dibandingkan dengan negara Eropa lainnya, termasuk harga makanan pokok.

Pada 16 Mei, Rudy Alfonzo bertemu dengan Menteri Luar Negeri Portugal, Paulo Rangel, yang baru saja dilantik. Pertemuan ini berlangsung sekitar satu setengah jam, dengan diskusi yang sangat terbuka dan produktif. Rudy mengungkapkan bahwa Paulo Rangel, yang berlatar belakang sebagai advokat, sangat mudah diajak berdiskusi karena memiliki gaya komunikasi yang langsung dan to the point.

Dalam pertemuan tersebut, mereka membahas berbagai kunjungan tingkat tinggi sebelumnya, seperti kunjungan Presiden Soekarno pada tahun 1960, Presiden SBY pada tahun 2014, dan Presiden Portugal Cavaco Silva ke Indonesia pada tahun 2012. Rudy menyampaikan harapannya agar kunjungan Presiden Joko Widodo ke Portugal dapat segera terwujud. Namun, ia juga menjelaskan tantangan yang dihadapi, termasuk prioritas internal dan anggaran pemerintah Portugal serta padatnya jadwal kunjungan Presiden Joko Widodo.

Rudy Alfonso Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Rudy Alfonso Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Rudy Alfonzo optimis bahwa hubungan antara Indonesia dan Portugal dapat terus berkembang melalui berbagai upaya diplomatik dan kerjasama bisnis. Dengan memanfaatkan pengalaman Portugal dalam mengelola pariwisata dan menjalin kerjasama di sektor-sektor strategis lainnya, Indonesia dapat meningkatkan kehadirannya di pasar internasional dan menarik lebih banyak investasi asing.

“Kita semua harus bekerja keras untuk menjaga iklim investasi yang menarik di dalam negeri,” kata Rudy. Dengan berbagai langkah konkret yang sudah dilakukan dan rencana-rencana yang akan datang, Rudy Alfonzo yakin bahwa hubungan ekonomi dan pariwisata antara Indonesia dan Portugal akan semakin kuat dan saling menguntungkan.

Tags :

Recent Posts

Sutiyoso Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Sutiyoso Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Ikrar Nusa Bhakti Ungkap Masa Depan IKN dan Kabinet di Bawah Prabowo Subianto

Ikrar Nusa Bhakti Ungkap Masa Depan IKN dan Kabinet di Bawah Prabowo Subianto

Ikrar Nusa Bhakti Ungkap Masa Depan IKN dan Kabinet di Bawah Prabowo Subianto

October 15, 2024
Ikrar Nusa Bhakti saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Ikrar Nusa Bhakti. (Foto: EdShareOn.com)

JAKARTA – Dalam salah satu episode podcast EdShareOn yang dipandu oleh Eddy Wijaya, Profesor Ikrar Nusa Bhakti memberikan pandangan menarik tentang beberapa isu politik yang berlangsung di Indonesia. Pembicaraan mereka menyoroti masa depan pembangunan Indonesia dan jabatan politis di kabinet. Salah satu poin utama yang dibahas adalah tentang keberlanjutan proyek pembangunan Ibu Kota Negara (IKN) setelah masa jabatan Presiden Joko Widodo berakhir.

Profesor Ikrar menyebut bahwa meskipun Presiden Jokowi berharap program pembangunan IKN diteruskan oleh pemimpin berikutnya, termasuk Prabowo Subianto, kenyataan politik dan anggaran mungkin tidak mendukung impian itu sepenuhnya. Menurutnya, meskipun normal bagi seorang presiden berharap program-programnya dilanjutkan, kemungkinan besar Prabowo akan memprioritaskan hal-hal lain yang lebih sesuai dengan situasi anggaran dan kebijakan saat ia menjabat nanti. Hal ini menekankan pentingnya melihat program-program dengan perspektif pragmatis dan realistis dalam politik.

Ikrar Nusa Bhakti saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Ikrar Nusa Bhakti saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Isu lain yang dibahas dalam EdShareOn oleh Eddy Wijaya dan Profesor Ikrar adalah mengenai komposisi kabinet yang akan datang. Ikrar berpendapat bahwa saat ini banyak jabatan politis di Indonesia diisi oleh sosok-sosok dari kepolisian, namun dengan latar belakang Prabowo sebagai militer, mungkin akan terjadi perubahan di kabinet. Meski demikian, tantangan utamanya bukan hanya soal latar belakang militer atau kepolisian, melainkan soal jumlah menteri yang akan dipilih dan bagaimana mereka akan membawa visi Indonesia ke depan.

Lebih lanjut, Ikrar menyinggung soal wacana penambahan jumlah menteri di kabinet. Ia mengkritisi hal ini, dengan mengacu pada negara besar seperti Amerika Serikat yang hanya memiliki 15 menteri meski memiliki kepentingan global yang luas. Menurutnya, penambahan menteri tidak serta-merta mencerminkan luasnya negara, dan kabinet yang efisien lebih penting daripada jumlah yang besar.

Ikrar Nusa Bhakti saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Ikrar Nusa Bhakti saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Dalam percakapan ini, Profesor Ikrar juga menyoroti latar belakang Prabowo Subianto yang memiliki darah campuran Jawa, Manado, dan Tionghoa. Hal ini, menurutnya, menantang anggapan bahwa Prabowo akan memimpin dengan orientasi yang sangat Islami atau kanan. Sebaliknya, latar belakang pluralis tersebut menunjukkan bahwa Prabowo mungkin akan mengambil pendekatan yang lebih moderat dan inklusif dalam kepemimpinannya, mencerminkan keberagaman Indonesia.

Percakapan dalam EdShareOn ini tidak hanya memberikan wawasan tentang politik Indonesia saat ini, tetapi juga mengajak pendengar untuk merenungkan dinamika kekuasaan dan pentingnya kebijakan yang realistis. Eddy Wijaya, sebagai host, berhasil mengangkat isu-isu penting dengan cara yang mudah dipahami dan relevan bagi masyarakat luas.

Tags :

Sutiyoso Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Sutiyoso Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Tantowi Yahya, Pengalaman Spiritual dan Pesan untuk Anak Muda

Tantowi Yahya, Pengalaman Spiritual dan Pesan untuk Anak Muda

Tantowi Yahya, Pengalaman Spiritual dan Pesan untuk Anak Muda

October 15, 2024
Tantowi Yahya saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Tantowi Yahya. (Foto: EdShareOn.com)

JAKARTA – Dalam salah satu episode podcast EdShareOn, Eddy Wijaya berbincang dengan Tantowi Yahya, seorang tokoh publik yang dikenal dengan karier cemerlangnya dari resepsionis hotel hingga duta besar. Dalam percakapan ini, Tantowi berbagi sebuah pengalaman spiritual yang terjadi saat ia melakukan umrah. Meski bersifat personal, akan tetapi pengalaman ini memberikan pelajaran mendalam yang relevan dengan kehidupan.

Saat berada di Raudhah, sebuah tempat yang dianggap suci di Madinah, Tantowi menghadapi dilema. Ia merasa tak pantas berada di sana dan merasa ada orang lain di belakangnya yang lebih berhak. Pengalaman ini mengajarkan tentang pentingnya melepaskan ego dan memberi kesempatan kepada yang lebih berhak, sebuah nilai yang relevan dalam dunia politik. Dalam politik, seperti yang dijelaskan Tantowi, sering kali seseorang harus memilih antara mengejar jabatan atau memberikan kesempatan kepada orang yang lebih mampu.

Tantowi Yahya saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Tantowi Yahya saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Lebih jauh, Tantowi menceritakan bagaimana ia bertemu seseorang yang berbicara dalam bahasa Palembang dan memberikan buku doa yang sangat membantunya. Setelah kembali ke Indonesia, ia menyadari buku tersebut hilang dan orang yang membantunya tak dapat ditemukan. Ini menambah kepercayaan Tantowi bahwa pengalaman itu adalah pertemuan dengan malaikat. Melalui cerita ini, Tantowi menunjukkan bahwa keajaiban bisa terjadi di mana saja, bahkan di tengah tantangan spiritual dan politis.

Pada akhir wawancara, Eddy Wijaya mengajukan pertanyaan tentang kunci sukses bagi anak muda. Tantowi menegaskan bahwa kemampuan berbicara di depan publik atau public speaking adalah kunci utama yang membawanya sukses dalam berbagai profesi, dari resepsionis hingga duta besar. Ia juga menekankan pentingnya memiliki kemampuan dan jaringan yang baik. Menurutnya, memiliki kedua elemen ini adalah kombinasi ideal untuk sukses dalam dunia profesional.

Tantowi Yahya saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Tantowi Yahya saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Tantowi juga menekankan bahwa, meski kondisi politik Indonesia bisa naik turun, kita harus tetap mencintai Indonesia. Ia mengingatkan bahwa dalam kehidupan politik, kesetiaan pada negara dan kemampuan untuk mencintai tanah air di tengah dinamika politik adalah hal yang penting.

Tags :

Sutiyoso Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Sutiyoso Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Merasa Bertemu ‘Malaikat’, Tantowi Yahya Tak Akan Lupa Peristiwa Saat Umrah

Merasa Bertemu ‘Malaikat’, Tantowi Yahya Tak Akan Lupa Peristiwa Saat Umrah

Merasa Bertemu ‘Malaikat’, Tantowi Yahya Tak Akan Lupa Peristiwa Saat Umrah

October 14, 2024
Tantowi Yahya saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Ustaz Solmed. (Foto: EdShareOn.com)

JAKARTA – Dalam episode terbaru podcast EdShareOn, Eddy Wijaya berbincang dengan Rudy Alfonzo, Duta Besar Indonesia untuk Portugal, tentang hasil forum bisnis yang digelar di KBRI Portugal dan berbagai upaya diplomatik yang sedang dilakukan untuk memperkuat hubungan antara kedua negara.

Pada bulan Februari lalu, KBRI Portugal menyelenggarakan forum bisnis yang dihadiri oleh delegasi dari Kadin Indonesia, termasuk Wakil Ketua Kadin, Pak Tony Wenas, yang juga Presiden Direktur Freeport. Acara ini menjadi kesempatan pertama bagi Kadin Indonesia untuk berkunjung ke Portugal. Rudy Alfonzo menjelaskan bahwa pertemuan tersebut melibatkan interaksi antara pengusaha Indonesia dan Portugal, dengan fokus pada potensi kerjasama di berbagai sektor, termasuk pariwisata.

“Portugal memiliki pendapatan utama dari pariwisata, dengan 30 juta turis setiap tahun meskipun populasinya hanya 10 juta,” kata Rudy. Dia menekankan bahwa Indonesia perlu belajar dari Portugal dalam mengelola sektor pariwisata untuk meningkatkan jumlah wisatawan yang berkunjung ke Indonesia, yang saat ini baru mencapai sekitar 10 juta per tahun.

Rudy Alfonso Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Rudy Alfonso Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Rudy Alfonzo juga membahas faktor keamanan yang membuat Portugal menjadi salah satu negara Eropa paling aman untuk wisata. “Portugal sangat aman, tidak ada kasus pemerkosaan, penganiayaan, atau perampokan. Ini membuat turis merasa nyaman dan aman,” ujarnya. Selain itu, biaya hidup di Portugal relatif murah dibandingkan dengan negara Eropa lainnya, termasuk harga makanan pokok.

Pada 16 Mei, Rudy Alfonzo bertemu dengan Menteri Luar Negeri Portugal, Paulo Rangel, yang baru saja dilantik. Pertemuan ini berlangsung sekitar satu setengah jam, dengan diskusi yang sangat terbuka dan produktif. Rudy mengungkapkan bahwa Paulo Rangel, yang berlatar belakang sebagai advokat, sangat mudah diajak berdiskusi karena memiliki gaya komunikasi yang langsung dan to the point.

Dalam pertemuan tersebut, mereka membahas berbagai kunjungan tingkat tinggi sebelumnya, seperti kunjungan Presiden Soekarno pada tahun 1960, Presiden SBY pada tahun 2014, dan Presiden Portugal Cavaco Silva ke Indonesia pada tahun 2012. Rudy menyampaikan harapannya agar kunjungan Presiden Joko Widodo ke Portugal dapat segera terwujud. Namun, ia juga menjelaskan tantangan yang dihadapi, termasuk prioritas internal dan anggaran pemerintah Portugal serta padatnya jadwal kunjungan Presiden Joko Widodo.

Rudy Alfonso Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Rudy Alfonso Saat di podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Rudy Alfonzo optimis bahwa hubungan antara Indonesia dan Portugal dapat terus berkembang melalui berbagai upaya diplomatik dan kerjasama bisnis. Dengan memanfaatkan pengalaman Portugal dalam mengelola pariwisata dan menjalin kerjasama di sektor-sektor strategis lainnya, Indonesia dapat meningkatkan kehadirannya di pasar internasional dan menarik lebih banyak investasi asing.

“Kita semua harus bekerja keras untuk menjaga iklim investasi yang menarik di dalam negeri,” kata Rudy. Dengan berbagai langkah konkret yang sudah dilakukan dan rencana-rencana yang akan datang, Rudy Alfonzo yakin bahwa hubungan ekonomi dan pariwisata antara Indonesia dan Portugal akan semakin kuat dan saling menguntungkan.

Tags :