Year: 2024
Ali Masykur Musa Membongkar Program Makan Siang Gratis Prabowo Subianto
Ali Masykur Musa Membongkar Program Makan Siang Gratis Prabowo Subianto
Ali Masykur Musa. (Foto: EdShareOn.com)
JAKARTA – Dalam perbincangan bersama Eddy Wijaya di podcast EdShareOn, Ali Masykur Musa, Anggota Badan Pemeriksa Keuangan RI Tahun 2009-2014, membahas secara mendalam tentang proyek Pak Prabowo dan Gibran Rakabuming terkait program makan siang gratis untuk anak-anak sekolah di Indonesia. Tidak hanya itu, Ali Masykur Musa juga mengungkapkan pengorbanannya dalam dunia politik.
Mengenai program makan siang gratis, Ali Masykur Musa menyoroti distribusi anggaran sebesar 400 triliun rupiah yang akan dialokasikan untuk program tersebut. “Pemain utama dari pengadaan makan gratis itu adalah pengusaha-pengusaha lokal. Ini dalam rangka mempercepat pertumbuhan ekonomi dari bawah,” ungkapnya. Dengan cara ini, program tersebut diharapkan dapat menjadi dorongan ekonomi bagi masyarakat desa dan mengurangi disparitas ekonomi antar wilayah.
Menanggapi sumber pendanaan program ini, Ali Masykur Musa menyatakan bahwa meskipun kontribusi dari CSR perusahaan dapat dimungkinkan, program ini seharusnya menjadi tanggung jawab negara dan dianggarkan melalui APBN. “Sumber daya manusia adalah investasi untuk melihat Indonesia ke depan. Jadi, program ini harus menjadi bagian dari investasi negara dalam membangun karakter dan prestasi generasi muda,” paparnya.
Dengan keyakinan yang kuat, Ali Masykur Musa menegaskan bahwa program ini adalah langkah strategis dalam menyongsong Indonesia Emas 2045. “Siapkan anak-anak mudanya yang berkualitas, berkarakter baik, dan berprestasi tinggi. Ini adalah kunci untuk memastikan bahwa Indonesia maju berdasarkan pada nilai-nilai Pancasila dan karakter bangsa yang kuat,” tambahnya.
Ali Masykur Musa juga menjawab pertanyaan seputar pengorbanannya dalam dunia politik, terutama terkait dengan keputusannya untuk mundur dari jabatan komisaris utama PT Pelni. “Hidup itu memilih, hidup itu pengorbanan,” ujarnya. Ia menjelaskan bahwa keputusannya untuk bergabung dengan Tim Kampanye Nasional (TKN) Prabowo-Gibran adalah wujud dari dedikasi dan loyalitasnya terhadap negara. “Kontribusi, dedikasi, dan loyalitas saya kepada negara itu mengalahkan dari kepentingan saya pribadi,” tegasnya.
Ali Masykur Musa menegaskan bahwa pengorbanan tersebut bukanlah untuk kepentingan pribadinya, melainkan sebagai bagian dari perjuangan politik. “Saya akan menunjukkan bahwa pengorbanan itu tidak boleh menggunakan fasilitas negara. Jadi saya begitu mundur dari komisaris utama BUMN, berarti saya terhindar dari abuse of power,” katanya dengan tegas.
Tags :
Recent Posts
-
Eks Dubes RI Dian Wirengjurit: Serangan ke Iran adalah Cara Trump Alihkan Isu Epstein Files
-
Hinca Pandjaitan Puji Ketelitian Tim Jaksa Kasus Laptop Chromebook Nadiem
-
Makan Bergizi Gratis, Antara Niat Baik Presiden Prabowo dan Problematikanya
-
Dadan Hindayana ‘BGN’: MBG Justru Menambah Anggaran Pendidikan
-
Ulas Kasus Dugaan Korupsi Pengadaan Chromebook Nadiem Langsung dengan Jaksa Penuntut Umum Roy Riady
-
Petinggi BEI dan OJK Mundur Berjamaah, Karena Tekanan, Tanggung Jawab Moral, atau Ketidakmampuan?
-
Wamenkum Eddy Hiariej Bilang KUHP Baru Lebih Manusiawi, Lantas Kenapa Digugat ke MK?
-
Wamenkum Eddy Hiariej: Di KUHP Baru, Hukuman Penjara Bisa Diganti Kerja Sosial
Pandangan Ali Masykur Musa Soal Program Makan Siang Gratis Prabowo Subianto
Pandangan Ali Masykur Musa Soal Program Makan Siang Gratis Prabowo Subianto
Ali Masykur Musa. (Foto: EdShareOn.com)
JAKARTA – Dalam sebuah perbincangan dengan Eddy Wijaya di podcast EdShareOn, Ali Masykur Musa membahas proyek Pak Prabowo dan Gibran Rakabuming tentang program makan siang gratis. Menanggapi skeptisisme sebagian orang terhadap program ini, Ali Masykur Musa dengan tegas menyampaikan pandangannya.
Menurut Ali Masykur Musa, program memberikan makan gratis kepada anak-anak sekolah adalah langkah yang sangat Islami dan kemanusiaan yang baik. Ia menjelaskan, “Tugas pokok seorang pemimpin adalah memberikan makan bagi orang yang lapar dan memberikan rasa aman bagi orang yang takut. Program ini merupakan wujud dari komitmen untuk kemaslahatan, kedamaian, dan kesejahteraan masyarakat.”
Ali Masykur Musa juga menyoroti keterkaitan program ini dengan anggaran negara. Meskipun beberapa pihak khawatir akan menjadi beban APBN, Ali Masykur Musa menjelaskan bahwa program ini seharusnya dianggarkan melalui APBN sebagai bagian dari program kemanusiaan. “Indonesia adalah negara kesejahteraan. Apa salahnya presiden memberi makan pada anak-anak sekolah yang akan menjadi pemimpin Indonesia di masa depan?” ujarnya.
Menanggapi sumber pendanaan program ini, Ali Masykur Musa menyatakan bahwa meskipun kontribusi dari CSR perusahaan dapat dimungkinkan, program ini seharusnya menjadi tanggung jawab negara dan dianggarkan melalui APBN. “Sumber daya manusia adalah investasi untuk melihat Indonesia ke depan. Jadi, program ini harus menjadi bagian dari investasi negara dalam membangun karakter dan prestasi generasi muda,” paparnya.
Dengan keyakinan yang kuat, Ali Masykur Musa menegaskan bahwa program ini adalah langkah strategis dalam menyongsong Indonesia Emas 2045. “Siapkan anak-anak mudanya yang berkualitas, berkarakter baik, dan berprestasi tinggi. Ini adalah kunci untuk memastikan bahwa Indonesia maju berdasarkan pada nilai-nilai Pancasila dan karakter bangsa yang kuat,” tambahnya.
Tags :
Recent Posts
-
Eks Dubes RI Dian Wirengjurit: Serangan ke Iran adalah Cara Trump Alihkan Isu Epstein Files
-
Hinca Pandjaitan Puji Ketelitian Tim Jaksa Kasus Laptop Chromebook Nadiem
-
Makan Bergizi Gratis, Antara Niat Baik Presiden Prabowo dan Problematikanya
-
Dadan Hindayana ‘BGN’: MBG Justru Menambah Anggaran Pendidikan
-
Ulas Kasus Dugaan Korupsi Pengadaan Chromebook Nadiem Langsung dengan Jaksa Penuntut Umum Roy Riady
-
Petinggi BEI dan OJK Mundur Berjamaah, Karena Tekanan, Tanggung Jawab Moral, atau Ketidakmampuan?
-
Wamenkum Eddy Hiariej Bilang KUHP Baru Lebih Manusiawi, Lantas Kenapa Digugat ke MK?
-
Wamenkum Eddy Hiariej: Di KUHP Baru, Hukuman Penjara Bisa Diganti Kerja Sosial
Idrus Marham Bahas Soal Strategi Pengkaderan Partai Golkar dan Harapan pada Pemimpin Baru
Idrus Marham Bahas Soal Strategi Pengkaderan Partai Golkar dan Harapan pada Pemimpin Baru
Idrus Marham. (Foto: EdShareOn.com)
JAKARTA – Dalam sebuah wawancara di podcast EdShareOn bersama Eddy Wijaya, Idrus Marham, salah satu tokoh utama dari Partai Golkar, memberikan pandangannya tentang pengkaderan partai yang efektif. Dalam kesempatan ini, Idrus Marham menyuarakan pemikirannya tentang bagaimana melahirkan kader-kader yang militan dan memiliki daya juang tinggi.
Menurut Idrus Marham, pengkaderan partai harus memperhatikan sejumlah aspek penting. “Kaderisasi ke depan ini untuk melahirkan kader-kader militan, kader-kader memiliki daya juang, kader-kader yang memahami sejarah lahirnya Golkar, ideologi Golkar, paradigma Golkar, dan arah perjuangan Golkar ke depan,” ungkapnya.
Namun dalam realitas politik saat ini, uang sering kali menjadi faktor penentu bagi calon legislatif. Idrus Marham menyatakan bahwa penting untuk menyeimbangkan aspek finansial dengan pengkaderan yang berkualitas. “Mestinya diseimbangkan. Realitas yang tidak bisa kita hindari, tapi pada saat yang sama kita harus imbangi dengan kaderisasi,” paparnya.
Dalam konteks pembentukan pemimpin baru, Idrus Marham menyoroti pentingnya komitmen bersama. “Pak Prabowo tidak mikirin apa-apa lagi tapi betul-betul ingin mengabdi kepada bangsa ini. Dan hari ini Pak Prabowo ditantang untuk membuktikan komitmennya bahwa ingin mendedikasikan seluruh hidupnya untuk bangsa,” tegasnya.
Terkait peran dan harapan terhadap pemimpin baru, Idrus Marham mengungkapkan bahwa keberhasilan pemimpin haruslah didasarkan pada kemampuan profesionalitas. “Keberhasilan Pak Prabowo nanti adalah keberhasilannya untuk menyeleksi orang yang nanti menjadi anggota kabinetnya pembantunya. Dan saya kalau diminta bagaimana pikirannya produktivitas itu sangat tergantung pada kemampuan profesional, kemampuan profesionalitas harus dikedepankan karena ini yang menentukan produktivitas,” jelasnya.
Tags :
Recent Posts
-
Eks Dubes RI Dian Wirengjurit: Serangan ke Iran adalah Cara Trump Alihkan Isu Epstein Files
-
Hinca Pandjaitan Puji Ketelitian Tim Jaksa Kasus Laptop Chromebook Nadiem
-
Makan Bergizi Gratis, Antara Niat Baik Presiden Prabowo dan Problematikanya
-
Dadan Hindayana ‘BGN’: MBG Justru Menambah Anggaran Pendidikan
-
Ulas Kasus Dugaan Korupsi Pengadaan Chromebook Nadiem Langsung dengan Jaksa Penuntut Umum Roy Riady
-
Petinggi BEI dan OJK Mundur Berjamaah, Karena Tekanan, Tanggung Jawab Moral, atau Ketidakmampuan?
-
Wamenkum Eddy Hiariej Bilang KUHP Baru Lebih Manusiawi, Lantas Kenapa Digugat ke MK?
-
Wamenkum Eddy Hiariej: Di KUHP Baru, Hukuman Penjara Bisa Diganti Kerja Sosial
Pandangan Idrus Marham Soal Hak Angket dan Pemakzulan Jokowi
Pandangan Idrus Marham Soal Hak Angket dan Pemakzulan Jokowi
Idrus Marham. (Foto: EdShareOn.com)
JAKARTA – Dalam percakapan di podcast EdShareOn dengan Eddy Wijaya, Idrus Marham, mantan Menteri Sosial Indonesia, menyoroti beragam isu politik yang sering menjadi perdebatan publik. Dalam diskusi tersebut, Idrus memberikan wawasan yang mendalam tentang hak angket dan dinamika politik yang berkembang.
Ketika ditanya tentang kemungkinan wacana hak angket sebagai alat bargaining politik, Idrus menegaskan bahwa pendekatan yang lebih bijaksana perlu diterapkan. “Tetapi untuk melakukan evaluasi, niatnya bagus, kemudian pikiran-pikiran juga seperti itu adalah bagaimana memformalkan gerakan-gerakan yang ada jangan di jalan tetapi melalui jalur politik jalur hukum niatnya,” ungkapnya.
Ia juga menyoroti jalur yang panjang dan kompleks untuk memakzulkan seorang presiden melalui hak angket. “Ini kan prosesnya ada. Katakan ada persoalan, kemudian DPR membuat pernyataan pendapat lalu kemudian disampaikan kepada MK. Kemudian MK mengatakan iya, lalu dikembalikan lagi sampai kepada MPR. Ini berapa waktunya? Lama,” jelasnya.
Selain itu, Idrus Marham menekankan pentingnya menjaga suasana kebatinan dan menghindari aksi-reaksi yang tidak konstruktif dalam komunikasi politik. “Di dalam komunikasi politik, ada dua hal benar dan pener,” ujarnya. Tentang perannya dalam politik dan penawaran menjadi menteri, Idrus dengan bijak menolaknya, ia lebih memilih fokus pada kontribusi yang bisa diberikannya dalam partai. “Memang saya menghindari, gak usah untuk apa? gitu loh Pak Eddy,” katanya.
Meski menolak menjadi menteri, Idrus menyadari bahwa hidup manusia adalah tentang mengalir, dan takdir yang ditentukan oleh Allah. “Kita di dalam menjalani jalan hidup ini, kita harus selalu waspada. Kita selalu ini tetapi kalau ada apa-apa kejadian itu Itulah takdir yang tidak bisa kita oleh Allah dan semua ditentukan,” tutur Idrus Marham.
Tags :
Recent Posts
-
Eks Dubes RI Dian Wirengjurit: Serangan ke Iran adalah Cara Trump Alihkan Isu Epstein Files
-
Hinca Pandjaitan Puji Ketelitian Tim Jaksa Kasus Laptop Chromebook Nadiem
-
Makan Bergizi Gratis, Antara Niat Baik Presiden Prabowo dan Problematikanya
-
Dadan Hindayana ‘BGN’: MBG Justru Menambah Anggaran Pendidikan
-
Ulas Kasus Dugaan Korupsi Pengadaan Chromebook Nadiem Langsung dengan Jaksa Penuntut Umum Roy Riady
-
Petinggi BEI dan OJK Mundur Berjamaah, Karena Tekanan, Tanggung Jawab Moral, atau Ketidakmampuan?
-
Wamenkum Eddy Hiariej Bilang KUHP Baru Lebih Manusiawi, Lantas Kenapa Digugat ke MK?
-
Wamenkum Eddy Hiariej: Di KUHP Baru, Hukuman Penjara Bisa Diganti Kerja Sosial
Idrus Marham Ungkap Perspektif Terhadap Hak Angket dan Dinamika Politik
Idrus Marham Ungkap Perspektif Terhadap Hak Angket dan Dinamika Politik
Idrus Marham. (Foto: EdShareOn.com)
JAKARTA – Perbincangan seputar hak angket dan dinamika politik sering menjadi topik yang membingungkan. Namun dalam sebuah podcast EdShareOn bersama Eddy Wijaya, Idrus Marham, Menteri Sosial Indonesia periode 2018-2018, menyajikan pandangannya tentang permasalahan tersebut.
Pertanyaan Eddy Wijaya tentang hak angket menjadi pemicu bagi Idrus Marham untuk mengungkapkan ketidaknyamanannya terhadap perdebatan yang cenderung subjektif. “Saya khawatir setelah itu timbul fitnah, saling menyoroti, dan saling membongkar persoalan hukum. Dan itu belum tentu benar,” ungkapnya.
Marham menyoroti betapa pentingnya menata mentalitas dalam menghadapi masalah politik. Ketika berbicara tentang dugaan kecurangan dalam pemilu, Idrus menekankan perlunya objektivitas dan kesadaran. “Justru kenapa dugaan itu muncul? Karena mereka sudah membuat satu framing bahwa si A menang dan apabila ini tidak menang dan suaranya rendah lalu kemudian diframing bahwa pasti terjadi kecurangan,” ujarnya.
Tak hanya itu, Idrus Marham juga membahas tentang efektivitas hak angket dan pendekatan yang lebih bijaksana dalam menyelesaikan masalah politik. “Mari kita berpikir lebih jauh lagi efektivitas, fungsinya seperti apa, niat kita apa, mau terkenal atau menyelesaikan masalah,” paparnya. Dengan bijak, Marham mengajak untuk menghindari sikap aksi-reaksi yang tidak konstruktif, dan merujuk pada proses yang lebih terukur dan objektif.
Dalam menjawab pertanyaan tentang langkah-langkah yang diambil untuk menyelesaikan permasalah ini, Idrus Marham menekankan pentingnya pendekatan yang terarah dan efektif. Dia mengingatkan bahwa setiap langkah yang diambil harus bertujuan untuk menyelesaikan masalah, bukan untuk kepentingan pribadi atau politik semata.
“Yang paling ideal mari kita saling duduk bersama. Saya setuju dengan Pak Surya Paloh komitmennya dengan Pak Prabowo. Ketika Pak Surya Paloh beberapa minggu lalu ketemu dengan Pak Jokowi. Segera setelah ketemu membuat sebuah pernyataan. Pernyataannya apa? Pak Surya Paloh membuat bocoran. Bocorannya apa? Sebelum ini saya sudah membuat komitmen bersama dengan Prabowo apa bahwa kita memiliki semangat yang sama,” kata Idrus Marham.
Tags :
Recent Posts
-
Eks Dubes RI Dian Wirengjurit: Serangan ke Iran adalah Cara Trump Alihkan Isu Epstein Files
-
Hinca Pandjaitan Puji Ketelitian Tim Jaksa Kasus Laptop Chromebook Nadiem
-
Makan Bergizi Gratis, Antara Niat Baik Presiden Prabowo dan Problematikanya
-
Dadan Hindayana ‘BGN’: MBG Justru Menambah Anggaran Pendidikan
-
Ulas Kasus Dugaan Korupsi Pengadaan Chromebook Nadiem Langsung dengan Jaksa Penuntut Umum Roy Riady
-
Petinggi BEI dan OJK Mundur Berjamaah, Karena Tekanan, Tanggung Jawab Moral, atau Ketidakmampuan?
-
Wamenkum Eddy Hiariej Bilang KUHP Baru Lebih Manusiawi, Lantas Kenapa Digugat ke MK?
-
Wamenkum Eddy Hiariej: Di KUHP Baru, Hukuman Penjara Bisa Diganti Kerja Sosial




