Year: 2024
Anwar Abbas Kritik Kualitas Pemilu dan Soroti Fenomena Politik Uang
Anwar Abbas Kritik Kualitas Pemilu dan Soroti Fenomena Politik Uang
Anwar Abbas. (Foto: EdShareOn.com)
JAKARTA – Dalam sebuah wawancara dengan Eddy Wijaya di podcast EdShareOn, Anwar Abbas memberikan pandangannya tentang kualitas Pemilu tahun ini. Anwar Abbas mengaku bahwa meskipun bukan seorang politikus aktif, dia memperoleh banyak informasi tentang Pemilu melalui media.
Ia menyoroti penyelenggaraan Pemilu tahun ini jauh dari harapan. Dalam pandangannya, ada banyak pelanggaran terhadap prinsip-prinsip demokrasi, seperti ketidakjujuran dan ketidakadilan. Menurut Anwar Abbas, praktik politik yang tidak sesuai dengan prinsip-prinsip demokrasi telah merajalela, seperti intimidasi terhadap pemilih dan praktik politik uang.
Meskipun dia mengakui bahwa hal ini bukanlah fenomena baru dalam politik Indonesia, namun ia menilai bahwa dalam Pemilu kali ini, praktik tersebut tampak lebih masif dan meresahkan. “Saya rasa iya, tetap ada setiap tahun dari dulu juga ada. Sejak zaman orde baru itu sudah ada, cuma yang kali ini saya lihat agak masif gitu aja ya,” ungkap Anwar Abbas.
Menurutnya, penting bagi semua pihak, baik penyelenggara maupun masyarakat, untuk mengambil pelajaran dari Pemilu ini agar Pemilu mendatang bisa menjadi lebih baik. “Dengan segala kekurangannya, mari kita mengambil ibrah, mengambil pelajaran dari pilpres dan pemilu yang kita laksanakan tahun ini supaya di Pemilu tahun 2029 semakin baik lagi kan jauh lebih baik,” tambah Anwar Abbas.
Anwar Abbas mengungkapkan pandangannya tentang pergeseran harga politik uang. “Teman saya yang mantan politisi mengatakan sekarang ini gak laku lagi 50rb. Minimal antara 200 sama 300 rb,” ujarnya.
Anwar Abbas memberikan contoh positif dengan menyebut sosok fenomenal yang tidak terlibat dalam praktik politik uang. “Komeng tidak mengeluarkan uang, bahkan dia manggung dia dibayar. Jadi bagi saya Komeng ini adalah sebuah sosok fenomenal,” jelas Anwar Abbas.
Tags :
Recent Posts
-
Eks Dubes RI Dian Wirengjurit: Serangan ke Iran adalah Cara Trump Alihkan Isu Epstein Files
-
Hinca Pandjaitan Puji Ketelitian Tim Jaksa Kasus Laptop Chromebook Nadiem
-
Makan Bergizi Gratis, Antara Niat Baik Presiden Prabowo dan Problematikanya
-
Dadan Hindayana ‘BGN’: MBG Justru Menambah Anggaran Pendidikan
-
Ulas Kasus Dugaan Korupsi Pengadaan Chromebook Nadiem Langsung dengan Jaksa Penuntut Umum Roy Riady
-
Petinggi BEI dan OJK Mundur Berjamaah, Karena Tekanan, Tanggung Jawab Moral, atau Ketidakmampuan?
-
Wamenkum Eddy Hiariej Bilang KUHP Baru Lebih Manusiawi, Lantas Kenapa Digugat ke MK?
-
Wamenkum Eddy Hiariej: Di KUHP Baru, Hukuman Penjara Bisa Diganti Kerja Sosial
Pandangan Anwar Abbas Soal Politik Uang dalam Pemilu
Pandangan Anwar Abbas Soal Politik Uang dalam Pemilu
Anwar Abbas. (Foto: EdShareOn.com)
JAKARTA – Saat berbincang-bincang dengan Eddy Wijaya di podcast EdShareOn, Anwar Abbas, seorang pengamat politik, membahas tentang praktik politik uang yang semakin merajalela dalam setiap Pemilu di Indonesia. Anwar Abbas mengungkapkan pandangannya tentang politik uang yang terjadi Pemilu 2024.
“Teman saya yang mantan politisi mengatakan sekarang ini gak laku lagi 50rb. Minimal antara 200 sama 300 rb,” ujarnya. Fenomena ini, menurutnya telah menimbulkan pengekangan kebebasan pemilih, mengarah pada hilangnya esensi demokrasi yang sejati.
Anwar Abbas memberikan contoh positif dengan menyebut sosok fenomenal yang tidak terlibat dalam praktik politik uang. “Komeng tidak mengeluarkan uang, bahkan dia manggung dia dibayar. Jadi bagi saya Komeng ini adalah sebuah sosok fenomenal,” jelas Anwar Abbas.
Anwar Abbas menggarisbawahi pentingnya reputasi dan pengakuan masyarakat terhadap calon pemimpin. “Kalau dia sudah dikenal oleh konstituennya, politik tanpa uang itu bisa,” katanya. Dalam hal ini, dia memberikan contoh tokoh agama yang populer dan dihormati, seperti Aa Gym atau Abdul Somad, yang mungkin tidak memerlukan kampanye mahal untuk terpilih.
Selain itu, Anwar Abbas juga membahas dampak sosial dan moral dari praktik politik uang, yang secara tidak langsung mereduksi peran negara dalam membangun masyarakat yang cerdas dan sejahtera. “Kalau mensejahterakan rakyat jangan dengan cara menyuap rakyat tetapi dengan cara memberdayakan mereka, memberi mereka pekerjaan sesuai dengan pasal di undang-undang memberikan pekerjaan yang layak bagi rakyat,” tuturnya.
“Jadi momen pilpres dan pemilu ini menurut saya adalah telah terjadi pengekangan kebebasan dari rakyat dan rakyat tidak lagi bisa menyampaikan karena sudah dicekokin dengan uang yang jumlahnya juga tidak seberapa,” lanjut Anwar Abbas.
Tags :
Recent Posts
-
Eks Dubes RI Dian Wirengjurit: Serangan ke Iran adalah Cara Trump Alihkan Isu Epstein Files
-
Hinca Pandjaitan Puji Ketelitian Tim Jaksa Kasus Laptop Chromebook Nadiem
-
Makan Bergizi Gratis, Antara Niat Baik Presiden Prabowo dan Problematikanya
-
Dadan Hindayana ‘BGN’: MBG Justru Menambah Anggaran Pendidikan
-
Ulas Kasus Dugaan Korupsi Pengadaan Chromebook Nadiem Langsung dengan Jaksa Penuntut Umum Roy Riady
-
Petinggi BEI dan OJK Mundur Berjamaah, Karena Tekanan, Tanggung Jawab Moral, atau Ketidakmampuan?
-
Wamenkum Eddy Hiariej Bilang KUHP Baru Lebih Manusiawi, Lantas Kenapa Digugat ke MK?
-
Wamenkum Eddy Hiariej: Di KUHP Baru, Hukuman Penjara Bisa Diganti Kerja Sosial
Ali Masykur Musa Ungkap Pemikiran Gus Dur, Dari Demokrasi Hingga Toleransi
Ali Masykur Musa Ungkap Pemikiran Gus Dur, Dari Demokrasi Hingga Toleransi
Ali Masykur Musa. (Foto: EdShareOn.com)
JAKARTA – Dalam wawancara dengan Eddy Wijaya di podcast EdShareOn, Ali Masykur Musa, Anggota Badan Pemeriksa Keuangan RI Tahun 2009-2014, membagikan pandangannya tentang pemikiran mantan Presiden RI, Abdurrahman Wahid atau yang lebih dikenal sebagai Gus Dur. Diketahui Gus Dur dikenal sebagai tokoh yang merangkul demokrasi, kemanusiaan, toleransi, dan gerakan masyarakat sipil.
Gus Dur memandang demokrasi sebagai landasan utama kesetaraan di hadapan hukum dan pemerintahan. “Beliau berpendapat bahwa tidak ada satupun kistimewaan satu orang dengan orang lain di dalam sistem demokrasi,” ujar Ali Masykur Musa.
Selain itu, kemanusiaan juga menjadi inti dari ajaran Gus Dur. Dia mempromosikan prinsip bahwa manusia terbaik adalah mereka yang paling bermanfaat bagi orang lain, tanpa memandang latar belakang atau keyakinan agama. “Sebaik-baiknya manusia adalah orang yang paling bermanfaat kepada orang lain. Orang yang berbuat baik tidak usah ditanya agamanya apa,” jelas Ali Masykur Musa.
Gus Dur juga menonjolkan toleransi sebagai pondasi penting dalam masyarakat yang beragam. Dia memandang perbedaan sebagai kekayaan, bukan sebagai alasan untuk konflik. “Toleransi itu pada prinsipnya manusia itu memang diciptakan berbeda-beda. Gus Dur mengembangkan toleransi dan akhirnya disebut sebagai Bapak Toleransi,” tutur Ali Masykur.
Ali Masykur Musa mengungkapkan betapa dekatnya hubungannya dengan Gus Dur, bahkan sampai menjadi pengemudi dan menemani beliau dalam berbagai kesempatan. “Saya mengabdi dan berbakti pada Gus Dur dengan segala hormat sampai beliau wafat,” katanya.
Sebagai penutup, Ali Masykur Musa menekankan bahwa hubungannya dengan Gus Dur tidak hanya sekadar politik, tetapi juga penuh pengabdian dan penghargaan. Ia mencatat bahwa buku-bukunya banyak mengangkat pemikiran Gus Dur sebagai bentuk penghormatan dan pengabdian yang tulus kepada sosok yang diidolakannya. “Dengan segala hormat, saya mengidolakan beliau juga. Karena itu tesis saya salah satu buku yang akhirnya turun itu yang saya bukukan adalah pemikiran gusdur tentang bangsa dan negara,” urainya.
Tags :
Recent Posts
-
Eks Dubes RI Dian Wirengjurit: Serangan ke Iran adalah Cara Trump Alihkan Isu Epstein Files
-
Hinca Pandjaitan Puji Ketelitian Tim Jaksa Kasus Laptop Chromebook Nadiem
-
Makan Bergizi Gratis, Antara Niat Baik Presiden Prabowo dan Problematikanya
-
Dadan Hindayana ‘BGN’: MBG Justru Menambah Anggaran Pendidikan
-
Ulas Kasus Dugaan Korupsi Pengadaan Chromebook Nadiem Langsung dengan Jaksa Penuntut Umum Roy Riady
-
Petinggi BEI dan OJK Mundur Berjamaah, Karena Tekanan, Tanggung Jawab Moral, atau Ketidakmampuan?
-
Wamenkum Eddy Hiariej Bilang KUHP Baru Lebih Manusiawi, Lantas Kenapa Digugat ke MK?
-
Wamenkum Eddy Hiariej: Di KUHP Baru, Hukuman Penjara Bisa Diganti Kerja Sosial
Ali Masykur Musa Ungkap Dinamika Politik NU dan Kenangan dengan Gus Dur
Ali Masykur Musa Ungkap Dinamika Politik NU dan Kenangan dengan Gus Dur
Ali Masykur Musa. (Foto: EdShareOn.com)
JAKARTA – Dalam sebuah perbincangan dengan Eddy Wijaya di podcast EdShareOn, Ali Masykur Musa, Anggota Badan Pemeriksa Keuangan RI Tahun 2009-2014, membahas tentang dinamika politik yang melibatkan NU (Nahdlatul Ulama) dan kenangan indahnya bersama Gus Dur. Eddy Wijaya membuka diskusi dengan menanyakan pandangan Ali Masykur Musa mengenai dukungan NU terhadap paslon dalam pemilihan presiden.
Ali Masykur Musa menjelaskan bahwa NU adalah kelompok yang dinamis dan fleksibel dalam politik. “Dinamika politik warga NU itu sangat dinamis dan fleksibel,” katanya. Menurutnya, mayoritas warga NU cenderung mendukung pasangan calon 02, Prabowo-Gibran, karena melihat adanya keselarasan nilai dan pandangan antara NU dengan pasangan tersebut.
Ali Masykur Musa menyoroti pentingnya memperkuat nilai Pancasila dan agama dalam politik. Dia menegaskan bahwa NU merasa nyaman dan terhubung dengan pasangan 02 karena melihat kesamaan nilai kemanusiaan, ajaran NU, dan kebangsaan. “Ideologi Pancasila itu lebih terjaga dengan Pak Prabowo Mas Gibran,” ungkapnya.
Ketika ditanya mengenai peran Mahfud MD yang juga berasal dari NU dan tergabung dalam pasangan 03, Ali Masykur Musa menyatakan bahwa mayoritas warga NU memilih 02. “Kenyaataannya orang Madura memilih 02,” jelasnya. Namun, dia menekankan bahwa itu adalah pandangan berdasarkan fakta, bukan penilaian terhadap individu.
Pembicaraan kemudian berpindah pada kenangan Ali Masykur Musa bersama Gus Dur, tokoh pendiri NU dan mantan Presiden RI. Ali Masykur Musa mengungkapkan betapa dekatnya hubungannya dengan Gus Dur, bahkan sampai menjadi pengemudi dan menemani beliau dalam berbagai kesempatan. “Saya mengabdi dan berbakti pada Gus Dur dengan segala hormat sampai beliau wafat,” tuturnya.
Sebagai penutup, Ali Masykur Musa menekankan bahwa hubungannya dengan Gus Dur tidak hanya sekadar politik, tetapi juga penuh pengabdian dan penghargaan. Ia mencatat bahwa buku-bukunya banyak mengangkat pemikiran Gus Dur sebagai bentuk penghormatan dan pengabdian yang tulus kepada sosok yang diidolakannya. “Dengan segala hormat, saya mengidolakan beliau juga. Karena itu tesis saya salah satu buku yang akhirnya turun itu yang saya bukukan adalah pemikiran gusdur tentang bangsa dan negara,” jelasnya.
Tags :
Recent Posts
-
Eks Dubes RI Dian Wirengjurit: Serangan ke Iran adalah Cara Trump Alihkan Isu Epstein Files
-
Hinca Pandjaitan Puji Ketelitian Tim Jaksa Kasus Laptop Chromebook Nadiem
-
Makan Bergizi Gratis, Antara Niat Baik Presiden Prabowo dan Problematikanya
-
Dadan Hindayana ‘BGN’: MBG Justru Menambah Anggaran Pendidikan
-
Ulas Kasus Dugaan Korupsi Pengadaan Chromebook Nadiem Langsung dengan Jaksa Penuntut Umum Roy Riady
-
Petinggi BEI dan OJK Mundur Berjamaah, Karena Tekanan, Tanggung Jawab Moral, atau Ketidakmampuan?
-
Wamenkum Eddy Hiariej Bilang KUHP Baru Lebih Manusiawi, Lantas Kenapa Digugat ke MK?
-
Wamenkum Eddy Hiariej: Di KUHP Baru, Hukuman Penjara Bisa Diganti Kerja Sosial





