Anwar Abbas Ungkap Alasan MUI Keluarkan Fatwa Haram untuk Produk Isr4el

Anwar Abbas Ungkap Alasan MUI Keluarkan Fatwa Haram untuk Produk Isr4el

Anwar Abbas Ungkap Alasan MUI Keluarkan Fatwa Haram untuk Produk Isr4el

April 9, 2024
Anwar Abbas saat di Podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Anwar Abbas. (Foto: EdShareOn.com)

JAKARTA – Dalam sebuah perbincangan dengan Eddy Wijaya di podcast EdShareOn, Anwar Abbas, Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) periode 2020–2025, memberikan pandangannya tentang konflik antara Palestina dan Isr4el serta tanggapan terhadap fatwa MUI terkait produk dari Isr4el.

Dalam konteks penilaian terhadap produk dari Isr4el, Anwar Abbas menekankan bahwa pembelian produk tersebut dapat dianggap sebagai bentuk dukungan terhadap tindakan zalim yang dilakukan oleh Isr4el terhadap rakyat Palestina. Ia menyoroti bahwa tindakan Isr4el yang menyebabkan penderitaan rakyat Palestina, termasuk tindakan menembaki warga sipil yang mencari bantuan adalah tindakan yang tidak manusiawi dan biadab.

“Kalau seandainya kita beli produknya, Isr4el untung padahal Isr4el berlaku zalim. Jadi berarti kalau seandainya kita beli berarti kita ikut membantu Isr4el berlaku zalim kepada rakyat Palestina. Oleh karena itu, kita harus kasih pelajaran kepada Isr4el ini gitu supaya bisa menghormati nilai prikemanusiaan dan prikeadilan.,” ungkap Anwar Abbas.

Anwar Abbas saat di Podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Anwar Abbas saat di Podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Tidak hanya itu, Abbas juga menekankan pentingnya penyelesaian damai antara Palestina dan Israel. Ia menegaskan bahwa tanah-tanah yang dirampas oleh Israel harus dikembalikan kepada rakyat Palestina agar terwujudnya kedamaian sesungguhnya.

“Dalam perspektif agama Islam, harta yang saya miliki yang saya dapat dengan cara yang halal menurut agama dan benar menurut hukum maka harta itu milik saya. Harta yang saya dapat dengan cara yang menentang ajaran agama dan bertentangan dengan hukum maka harta itu tak pernah diakui oleh negara menjadi milik saya. Tanah Palestina diambil oleh Isr4el dengan cara-cara yang tidak benar, tidak sesuai dengan ajaran agama, dan tidak sesuai dengan hukum berarti Isr4el tidak berhak atas tanah tersebut karena dia tidak berhak maka dia harus kembalikan kepada yang berhak memilikinya itu rakyat Palestina,” jelasnya.

Anwar Abbas saat di Podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Pada konteks tanggapan terhadap konflik antara Isr4el dan Hamas, Anwar Abbas menjelaskan bahwa reaksi yang dilakukan oleh Hamas adalah bentuk dari ketidakpuasan atas penjajahan dan penindasan yang dialami oleh rakyat Palestina.

“Negaranya dijajah lalu mau diam? tanah dia dirampok lalu mau diam? nggak mungkin. H4m4s itu juga bereaksi, saya ingin ngambil tanah saya. Dia lawan. Oleh karena itu bagi saya, kalau seandainya mau damai ya hiduplah masing-masing saling mengakui. Isr4el mengakui Palestina, Palestina mengakui Isr4el tapi kembalikan tanah-tanah yang dirampas itu,” ujar Anwar Abbas.

Tags :

Recent Posts

Anwar Abbas Ungkap Peran Kritis di Balik Persepsi Oposisi

Anwar Abbas Ungkap Peran Kritis di Balik Persepsi Oposisi

Anwar Abbas Ungkap Peran Kritis di Balik Persepsi Oposisi

April 6, 2024
Anwar Abbas saat di Podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Anwar Abbas. (Foto: EdShareOn.com)

JAKARTA – Saat berbincang dengan Eddy Wijaya di podcast EdShareOn, Anwar Abbas, Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) periode 2020–2025, membahas tentang pandangan publik terhadap dirinya yang sering dianggap sebagai golongan oposisi. Meskipun demikian, pria kelahiran 15 Februari 1955 ini mengklarifikasi bahwa ia sering memberikan masukan langsung kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi) ketika dipanggil ke istana.

“Saya kan dikategorikan oposan oleh beberapa pihak. Padahal saya kan bukan oposan. Oposan itu kan orang yang punya kepentingan bagaimana caranya menjatuhkan lawan supaya kekuasaan lawan bisa diambil. Saya kan gak ingin begitu” ungkap pria kelahiran Sumatra Barat ini.

Anwar Abbas saat di Podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Anwar Abbas saat di Podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Dalam podcast EdShareOn, Anwar Abbas menjelaskan bahwa setiap kali dia pergi ke istana, ia selalu menyampaikan kritik dan solusi. Hal ini didukung oleh pernyataan dari seorang pejabat istana yang mengonfirmasi bahwa semua yang disampaikan oleh Abbas dicatat oleh Presiden Jokowi.

“Setiap pergi ke istana, saya selalu menyampaikan kritik dan menyampaikan solusi. Pak Jokowi ini sangat mendengar kritik dan saran. Ketika saya pidato di depan beliau, bagi saya itu hal yang biasa saja gitu. Tapi bagi teman-teman beliau itu dianggap sebagai suatu yang tidak biasa,” tambah Abbas.

Anwar Abbas saat di Podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Salah satu momen menarik adalah saat Abbas memberikan kritik langsung kepada Jokowi di depan umum saat kongres ekonomi umat Islam MUI kedua. Meskipun demikian, Jokowi mengakui kebenaran dari kritik yang disampaikan oleh Abbas.

“Kalau bagi saya begini ya, ada seorang imam besar Namanya Imam Al-Ghazali, kata Imam Al-Ghazali itu gini suatu masyarakat akan rusak kalau pemerintahnya rusak. Suatu pemerintah akan rusak kalau ulamanya rusak. Kapan ulama itu akan rusak? Kalau dia tidak berani menyampaikan kebenaran kepada sang penguasa. Saya sudah menyampaikan tugas sebagai pimpinan di MUI. Dakwah amar ma’ruf nahi mungkar, kalau baik saya dukung kalau tidak baik saya ingatkan” jelas Abbas.

Tags :

Pesan Anwar Abbas kepada Anies Baswedan Saat Jadi Menteri Pendidikan

Pesan Anwar Abbas kepada Anies Baswedan Saat Jadi Menteri Pendidikan

Pesan Anwar Abbas kepada Anies Baswedan Saat Jadi Menteri Pendidikan

April 5, 2024
Anwar Abbas saat di Podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Anwar Abbas. (Foto: EdShareOn.com)

JAKARTA – Dalam sebuah wawancara dengan Eddy Wijaya di podcast EdShareOn, Anwar Abbas, Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) periode 2020–2025, memberikan pandangannya soal dinamika Pilpres 2024. Dalam perbincangan tersebut, ia memberikan pandangannya tentang toleransi beragama dan masalah ekonomi rakyat yang jadi sorotan dalam konteks Pilpres kali ini.

Menurut Anwar Abbas, Pilpres kali ini menarik karena adanya tiga pasangan calon yang memiliki karakteristik dan gaya kepemimpinan masing-masing. Ia menegaskan bahwa dulu kental dengan politik identitas (SARA) dan kini isu tersebut tidak sekuat seperti sebelumnya. “Nuansa seperti pemilu sebelumnya yang katanya diwarnai oleh SARA itu 5 tahun yang lalu agak kental. Tapi kalau tahun ini nggak, boleh dikatakan tidak ada,” ungkap pria kelahiran 15 Februari 1955 ini.

Tentang dukungannya terhadap pasangan calon Presiden nomor urut 1, Abbas menjelaskan bahwa nilai-nilai yang dijunjung tinggi menjadi faktor penentu. Ia membahas pentingnya persatuan antara NU dan Muhammadiyah dalam mewujudkan kekuatan umat Islam di Indonesia. “Jadi orang luar melihat jika seandainya NU dan Muhammadiyah bersatu maka umat Islam di Indonesia ini akan kuat,” tegasnya.

Anwar Abbas saat di Podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)
Anwar Abbas saat di Podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Selain itu, Abbas menggarisbawahi tentang masalah ekonomi rakyat. Menurutnya, ekonomi Indonesia cenderung liberalistik dan kapitalistik, menyebabkan kesenjangan sosial ekonomi semakin dalam. Ia mengusulkan perubahan kebijakan dari trickle-down effect ke bottom-up untuk mensejahterakan mereka yang berada di bawah.

“Pertanyaan saya, siapa yang perhatikan mereka? Negara semestinya. Tugas negara semestinya. Kebijakannya harus diuubah dari trickle down effect ke bottom up. Trickle down effect itu adalah biaya yang di atas maka dia akan menetes ke bawah,” katanya.

Abbas juga berbagi pengalaman terkait upayanya untuk mendorong pembentukan mental wirausaha sejak dini. “Saya ini punya sejarah dengan saudara Anies, ketika beliau menjadi menteri pendidikan, saya menyampaikan saran untuk mencetak entrepreneur itu harus perlu proses pembiasaan,” ungkapnya.

Anwar Abbas saat di Podcast EdShareOn. (Foto: EdShareOn.com)

Abbas juga berbagi pengalaman terkait upayanya untuk mendorong pembentukan mental wirausaha sejak dini. “Saya ini punya sejarah dengan saudara Anies, ketika beliau menjadi menteri pendidikan, saya menyampaikan saran untuk mencetak entrepreneur itu harus perlu proses pembiasaan,” ungkapnya.

“Jadi anak-anak ini dibiasakan berbisnis. Saya menawarkan supaya anak-anak SD kelas 1 itu diajari berbisnis. Semisal satu kali seminggu dia berdagang di kantin atau di halaman sekolah. Jadi satu tahun, dia berarti punya pengalaman 50 hari berbisnis. Tamat SD, dia punya pengalaman 300 hari berbisnis. Tamat SMA, dia punya pengalaman 600 hari berbisnis. Tamat perguruan tinggi, dia punya pengalaman 800 hari berbisnis. Kalau ada seorang anak punya pengalaman 800 hari berbisnis saya yakin mentality-nya bukan lagi employee mentality tapi menjadi entrepreneur mentality,” tutupnya.

Tags :