Year: 2024
Siap Maju Pilgub Sumatra Utara, Nikson Nababan Fokus pada Integritas dan Pembangunan Berkelanjutan
Siap Maju Pilgub Sumatra Utara, Nikson Nababan Fokus pada Integritas dan Pembangunan Berkelanjutan
Nikson Nababan. (Foto: EdShareOn.com)
JAKARTA – Dalam episode terbaru podcast EdShareOn yang dipandu oleh Eddy Wijaya, mantan Bupati Tapanuli Utara, Nikson Nababan, mengungkapkan rencananya untuk maju dalam pemilihan Gubernur Sumatera Utara. Dua periode kepemimpinannya di Tapanuli Utara telah memberikan keyakinan kepada masyarakat untuk mendorongnya menjadi calon gubernur, sebuah tanggung jawab yang disambutnya dengan penuh keseriusan.
Nikson menegaskan bahwa keputusannya untuk maju bukan semata-mata ambisi pribadi, tetapi merupakan panggilan untuk mengabdi kepada masyarakat. “Saya siap mengabdi lagi,” ujarnya. Menurutnya, banyak urusan di Sumatera Utara yang saat ini masih dibayangi oleh praktik-praktik yang membutuhkan uang tunai untuk penyelesaiannya, sesuatu yang ia tolak mentah-mentah dalam pemerintahannya di Tapanuli Utara.
“Sumatera Utara akan saya ubah menjadi semua urusan mesti urus tuntas. Apakah nanti itu siap? Nah kalau siap Monggo, saya selama jadi Bupati saya tidak punya uang. Saya murni marhaen. Kalau mau ya ayo gotong royong,” jelasnya.
Selain isu korupsi, Nikson juga menyoroti pentingnya pembangunan sektor pertanian dan kelautan di Sumatera Utara, yang menurutnya merupakan potensi daerah tersebut. Ia mengingatkan bahwa banyak lautan di Sumatera Utara yang saat ini dalam kondisi rusak. Pengalaman Nikson belajar dari Raja Ampat menjadi contoh konkret bagaimana konservasi dapat berjalan seiring dengan kemajuan ekonomi.
“Kekayaan alam di Sumatera Utara kalau kita kembalikan lagi dengan natural, saya yakin tidak hanya berpotensi nelayan kita maju tetapi juga wisatawan,” tegasnya. Nikson percaya bahwa dengan menjaga ekosistem laut, Sumatera Utara bisa menarik lebih banyak wisatawan, seperti yang terjadi di Raja Ampat dan Labuan Bajo.
Nikson juga menyadari bahwa persaingan dalam pemilihan gubernur akan berat, dengan calon-calon kuat seperti Edy Rahmayadi dan Bobby Nasution. Namun, ia menegaskan bahwa kompetisi harus didasarkan pada program kerja dan rekam jejak, bukan hanya popularitas atau janji-janji tanpa dasar. “Artinya masyarakat juga harus menyadari bahwa masa depan kita itu jangan diukur karena segopok uang atau dengan janji-janji tapi dilihatlah dari track record dan karya-karya nyata yang sudah dikerjakan,” kata Nikson Nababan.
Tags :
Recent Posts
-
Eks Dubes RI Dian Wirengjurit: Serangan ke Iran adalah Cara Trump Alihkan Isu Epstein Files
-
Hinca Pandjaitan Puji Ketelitian Tim Jaksa Kasus Laptop Chromebook Nadiem
-
Makan Bergizi Gratis, Antara Niat Baik Presiden Prabowo dan Problematikanya
-
Dadan Hindayana ‘BGN’: MBG Justru Menambah Anggaran Pendidikan
-
Ulas Kasus Dugaan Korupsi Pengadaan Chromebook Nadiem Langsung dengan Jaksa Penuntut Umum Roy Riady
-
Petinggi BEI dan OJK Mundur Berjamaah, Karena Tekanan, Tanggung Jawab Moral, atau Ketidakmampuan?
-
Wamenkum Eddy Hiariej Bilang KUHP Baru Lebih Manusiawi, Lantas Kenapa Digugat ke MK?
-
Wamenkum Eddy Hiariej: Di KUHP Baru, Hukuman Penjara Bisa Diganti Kerja Sosial
Cerita Nikson Nababan Mendapat Gelar Kanjeng Pangeran Raden Aryo
Cerita Nikson Nababan Mendapat Gelar Kanjeng Pangeran Raden Aryo
Nikson Nababan. (Foto: EdShareOn.com)
JAKARTA – Dalam podcast EdShareOn bersama Eddy Wijaya, Nikson Hasudungan Nababan, seorang tokoh yang memiliki gelar Kanjeng Pangeran Raden Aryo dari Kesultanan Solo. Dalam kesempatan ini terungkap cerita tentang bagaimana Nikson Nababan meraih gelar tersebut dan apa arti dari gelar panjang yang melekat padanya.
Gelar panjang Nikson Nababan, yang meliputi Kanjeng Pangeran Raden Aryo Dr. Drs. Nikson Nababan Darmonagoro M.Si, memiliki cerita yang menarik. Sebagai seorang yang diundang oleh Kesultanan Solo pada tahun 2015, Nikson dianugerahi gelar tersebut dengan tingkat awal sebagai Kanjeng Raden Tumenggung.
“Jadi Kanjeng Pangeran Raden Aryo Dr. Drs. Nikson Nababan Darmonagoro M.Si. Ceritanya itu saya diundang oleh Kesultanan Solo untuk diberikan gelar itu 2015,” tutur Nikson.
Namun gelar tersebut tidak berhenti di situ, karena setiap tahunnya Nikson meraih predikat yang semakin tinggi, dari Kanjeng Raden hingga mencapai puncaknya sebagai Kanjeng Pangeran. “Nah tingkatannya waktu itu masih Kanjeng Raden Tumenggung. Di belakangnya tetap Darmonagoro karena menurut beliau-beliau itu di sana gelar itu boleh naik terus predikat tapi Darmonagoro itu nggak bisa. Kemudian tahun berikutnya naik lagi menjadi Kanjeng Raden kemudian naik lagi menjadi Kanjeng Raden Aryo. Nah terakhir puncaknya itu adalah Kanjeng Pangeran itu sudah enggak ada lagi level tertinggi,” lanjutnya.
Pembahasan tentang gelar Darmonagoro, yang melekat pada nama Nikson, juga menjadi sorotan dalam podcast EdShareOn. “Artinya Darmonagoro itu adalah bahwa hidup saya itu selalu mendarma baktikan hidup untuk negara,” ungkapnya.
Nikson juga mengungkapkan bagaimana ia bisa mendapatkan penghargaan yang diberikan oleh Kesultanan Solo. “Menurut susunan dari Kesultanan Solo di undangan itu bahwa saya sebagai kepala daerah dilihat dari visi misi dan kinerja jadi layak diapresiasi dan diberi penghargaan kira-kira seperti itu,” ujar Kanjeng Pangeran Raden Aryo Dr. Drs. Nikson Nababan Darmonagoro M.Si.
Tags :
Recent Posts
-
Eks Dubes RI Dian Wirengjurit: Serangan ke Iran adalah Cara Trump Alihkan Isu Epstein Files
-
Hinca Pandjaitan Puji Ketelitian Tim Jaksa Kasus Laptop Chromebook Nadiem
-
Makan Bergizi Gratis, Antara Niat Baik Presiden Prabowo dan Problematikanya
-
Dadan Hindayana ‘BGN’: MBG Justru Menambah Anggaran Pendidikan
-
Ulas Kasus Dugaan Korupsi Pengadaan Chromebook Nadiem Langsung dengan Jaksa Penuntut Umum Roy Riady
-
Petinggi BEI dan OJK Mundur Berjamaah, Karena Tekanan, Tanggung Jawab Moral, atau Ketidakmampuan?
-
Wamenkum Eddy Hiariej Bilang KUHP Baru Lebih Manusiawi, Lantas Kenapa Digugat ke MK?
-
Wamenkum Eddy Hiariej: Di KUHP Baru, Hukuman Penjara Bisa Diganti Kerja Sosial
Cara Nikson Nababan Memaksimalkan Potensi Wisata Sumatra Utara
Cara Nikson Nababan Memaksimalkan Potensi Wisata Sumatra Utara
Nikson Nababan. (Foto: EdShareOn.com)
JAKARTA – Dalam podcast EdShareOn dengan Eddy Wijaya, Nikson Nababan memberikan pandangannya tentang potensi wisata di Indonesia terutama di Sumatra Utara. Terungkap berbagai ide brilian tentang bagaimana mengembangkan pariwisata, khususnya terkait Danau Toba.
Nikson Nababan membahas konsep yang menarik tentang bagaimana Danau Toba dapat ditingkatkan menjadi tujuan utama bagi wisatawan, sambil mempertimbangkan konektivitasnya dengan tempat wisata lain di sekitarnya. Menurutnya dari hasil riset dan survei, wisatawan pertama kali tertarik pada pantai, diikuti oleh pusat perbelanjaan, kuliner, agrowisata, dan baru kemudian wisata alam seperti danau.
“Dari hasil riset dan survei, urutan pertama diminati oleh para wisatawan adalah pantai. Setelah pantai adalah pusat perbelanjaan, setelah pusat perbelanjaan itu pusat kuliner, agrowisata, wisata alam baru danau. Terakhir danau ini. Maka pertanyaannya danau ini kalau dinaikkan jadi nomor satu berarti dia harus juga membuat konektivitas terhadap pantai, pusat perbelanjaan, kuliner, agrowisata, dan wisata alam,” ujar Nikson.
Hal ini menunjukkan bahwa untuk menarik lebih banyak pengunjung ke Danau Toba, perlu ada upaya untuk menghubungkan dan mengintegrasikan pengalaman wisata yang berbeda di sekitarnya. “Dikoneksikan dengan transportasi dan promosi. Apa yang bisa dilihat, apa yang bisa dibeli, apa yang bisa dimakan, itu harus dicari investor juga. Kita harus memikirkan bagaimana program tersebut dapat menarik investor dari luar negeri, seperti Inggris Raya atau Eropa Timur sehingga wisatawan tidak terpecah,” tutur Nikson.
Eddy Wijaya sempat bertanya ke Nikson Nababan soal maksud dari wisatawan tidak terpecah. “Misal kita undanglah wisata apa namanya investor untuk bikin Hotel atau bikin pantai apa seperti di Bali itu dari pengusaha yang sudah ada di Bali. Dia sudah bisnisnya sudah di Bali tapi kita undang lagi ke Sumatera Utara dia pasti akan terpecah,” ungkap Nikson.
Tags :
Recent Posts
-
Eks Dubes RI Dian Wirengjurit: Serangan ke Iran adalah Cara Trump Alihkan Isu Epstein Files
-
Hinca Pandjaitan Puji Ketelitian Tim Jaksa Kasus Laptop Chromebook Nadiem
-
Makan Bergizi Gratis, Antara Niat Baik Presiden Prabowo dan Problematikanya
-
Dadan Hindayana ‘BGN’: MBG Justru Menambah Anggaran Pendidikan
-
Ulas Kasus Dugaan Korupsi Pengadaan Chromebook Nadiem Langsung dengan Jaksa Penuntut Umum Roy Riady
-
Petinggi BEI dan OJK Mundur Berjamaah, Karena Tekanan, Tanggung Jawab Moral, atau Ketidakmampuan?
-
Wamenkum Eddy Hiariej Bilang KUHP Baru Lebih Manusiawi, Lantas Kenapa Digugat ke MK?
-
Wamenkum Eddy Hiariej: Di KUHP Baru, Hukuman Penjara Bisa Diganti Kerja Sosial






