Year: 2024
Alasan Sutiyoso Membuat Museum Bang Yos
Alasan Sutiyoso Membuat Museum Bang Yos
Sutiyoso. (Foto: EdShareOn.com)
JAKARTA – Sutiyoso, mantan Gubernur DKI Jakarta yang kini aktif di Partai NasDem, baru-baru ini menjadi bintang tamu di podcast EdShareOn yang dipandu oleh Eddy Wijaya. Dalam wawancara tersebut, Sutiyoso berbagi cerita tentang perjalanan politiknya, pembuatan museum pribadi, dan pesan moral untuk generasi muda.
Sutiyoso mengungkapkan bahwa meskipun telah meninggalkan politik, semangatnya untuk berkontribusi masih kuat. Ia bergabung dengan Partai NasDem atas ajakan Pak Siswono Yudo Husodo dan setelah bertemu dengan Ketua Umum NasDem, Surya Paloh. “Saya merasa nyaman di situ,” kata Sutiyoso, yang kini menjabat sebagai anggota Dewan Pertimbangan Partai.
Sutiyoso juga menceritakan alasan di balik pendirian Museum Bang Yos. Ia ingin mewariskan pengalamannya kepada generasi berikutnya melalui medium yang lebih mudah dipahami dan menarik. “Pengalaman adalah guru terbaik,” tegasnya, menjelaskan bahwa museum tersebut dilengkapi dengan visual dan foto-foto untuk memberikan bukti autentik dari kisah-kisahnya.
Museum ini dirancang untuk menginspirasi anak-anak dari berbagai latar belakang, khususnya mereka yang kurang beruntung. Sutiyoso berharap bahwa dengan melihat pencapaiannya, anak-anak ini akan termotivasi untuk meraih kesuksesan meskipun berasal dari latar belakang yang sederhana. “Miskin bukanlah malapetaka, itu adalah tantangan,” ujarnya.
Dalam wawancara tersebut, Sutiyoso juga menekankan pentingnya keyakinan dan tekad kuat bagi generasi muda. Ia berbagi kisah masa kecilnya yang penuh tantangan, dari harus berpindah-pindah sekolah hingga menjalani kehidupan dengan fasilitas yang minim. Namun, semangatnya yang pantang menyerah membawanya pada kesuksesan.
Tags :
Recent Posts
-
Eks Dubes RI Dian Wirengjurit: Serangan ke Iran adalah Cara Trump Alihkan Isu Epstein Files
-
Hinca Pandjaitan Puji Ketelitian Tim Jaksa Kasus Laptop Chromebook Nadiem
-
Makan Bergizi Gratis, Antara Niat Baik Presiden Prabowo dan Problematikanya
-
Dadan Hindayana ‘BGN’: MBG Justru Menambah Anggaran Pendidikan
-
Ulas Kasus Dugaan Korupsi Pengadaan Chromebook Nadiem Langsung dengan Jaksa Penuntut Umum Roy Riady
-
Petinggi BEI dan OJK Mundur Berjamaah, Karena Tekanan, Tanggung Jawab Moral, atau Ketidakmampuan?
-
Wamenkum Eddy Hiariej Bilang KUHP Baru Lebih Manusiawi, Lantas Kenapa Digugat ke MK?
-
Wamenkum Eddy Hiariej: Di KUHP Baru, Hukuman Penjara Bisa Diganti Kerja Sosial
Cita Rahayu, Dari Dipanggil KPK Hingga Terjun ke Politik
Cita Rahayu, Dari Dipanggil KPK Hingga Terjun ke Politik
Sutiyoso. (Foto: EdShareOn.com)
JAKARTA – Cita Citata yang kini lebih dikenal sebagai Cita Rahayu, baru-baru ini menjadi bintang tamu dalam podcast EdShareOn yang dipandu oleh Eddy Wijaya. Dalam wawancara tersebut, Cita berbagi cerita tentang berbagai aspek kehidupannya, mulai dari pengalaman kontroversial hingga pandangannya tentang politik.
Salah satu topik yang dibahas adalah insiden kontroversial di Papua. Cita mengakui bahwa masalah tersebut timbul karena salah paham dan manipulasi oleh beberapa pihak. “Waktu itu ada pemotongan video yang tidak utuh. Tapi balik lagi kepada masyarakat luas, kalau aku kemudian ngomong membela diri juga mereka enggak terima juga,” jelasnya. Meski begitu, Cita memilih untuk menerima dan tidak memperpanjang masalah.
Cita juga menceritakan pengalamannya dipanggil oleh KPK terkait kasus korupsi Bansos Covid-19. “Sebagai warga negara yang baik ya kooperatif aja,” katanya. Meskipun merasa tidak seharusnya dipanggil karena hanya tampil sebagai penyanyi, Cita tetap memenuhi panggilan tersebut. “Saya tuh kaget banget karena belum pernah merasakan masuk ke dalam ruangan kecil untuk diperiksa,” tambahnya.
Menjawab pertanyaan mengenai apakah ia akan terjun ke dunia politik seperti suaminya, Didi Mahardika, Cita menyatakan bahwa ia masih belajar dan memahami ideologi politik. “Kalau ngomongin urusan politik ya sedikit-sedik tahulah cuma belum terjun aja,” ujarnya. Jika nanti masuk ke politik, Cita ingin fokus pada isu kesenjangan dan kesejahteraan rakyat.
Dalam kehidupan sehari-hari, Cita dan Didi sering berdiskusi tentang berbagai topik, termasuk politik dan musik. Mereka menjaga agar diskusi tersebut tidak berujung pada konflik. “Diskusi itu jangan sampai ada marah gitu jadi harus selesai sampai di situ,” jelas Cita. Meskipun Didi memiliki perbedaan pendapat politik dengan keluarganya, Cita menganggap hal tersebut sebagai sesuatu yang wajar dan menyatukan.
Tags :
Recent Posts
-
Eks Dubes RI Dian Wirengjurit: Serangan ke Iran adalah Cara Trump Alihkan Isu Epstein Files
-
Hinca Pandjaitan Puji Ketelitian Tim Jaksa Kasus Laptop Chromebook Nadiem
-
Makan Bergizi Gratis, Antara Niat Baik Presiden Prabowo dan Problematikanya
-
Dadan Hindayana ‘BGN’: MBG Justru Menambah Anggaran Pendidikan
-
Ulas Kasus Dugaan Korupsi Pengadaan Chromebook Nadiem Langsung dengan Jaksa Penuntut Umum Roy Riady
-
Petinggi BEI dan OJK Mundur Berjamaah, Karena Tekanan, Tanggung Jawab Moral, atau Ketidakmampuan?
-
Wamenkum Eddy Hiariej Bilang KUHP Baru Lebih Manusiawi, Lantas Kenapa Digugat ke MK?
-
Wamenkum Eddy Hiariej: Di KUHP Baru, Hukuman Penjara Bisa Diganti Kerja Sosial







